Program Profesor Berdampak yang diinisiasi oleh Universitas Mataram (Unram) kini tengah menjadi sorotan utama dalam upaya transformasi sektor pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Melalui pendekatan yang berbasis pada hasil riset dan inovasi teknologi, tim pakar dari Unram terjun langsung ke tengah masyarakat untuk memberikan solusi nyata atas kendala produktivitas lahan. Salah satu implementasi krusial dari program ini dilaksanakan di Dusun Sumur Mual, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Fokus utama kegiatan ini adalah penguatan kapasitas masyarakat tani melalui penerapan inovasi bioamelioran, sebuah terobosan untuk mengubah karakteristik lahan pasiran yang marginal menjadi lahan produktif untuk pengembangan sentra jagung ketan berkelanjutan. Langkah strategis ini bukan sekadar bantuan teknis sesaat, melainkan bagian dari desain besar Model Transformasi Masyarakat dan Wilayah Binaan Berbasis Bioamelioran. Dengan menargetkan kelompok tani lokal, Universitas Mataram berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan di laboratorium kampus dapat memberikan dampak ekonomi dan ekologis yang signifikan bagi masyarakat pedesaan. Kabupaten Lombok Utara, yang memiliki garis pantai panjang dan lahan kering yang luas, menjadi laboratorium alam yang ideal untuk menguji efektivitas teknologi ini. Tantangan Agronomis di Lahan Pasiran Lombok Utara Kabupaten Lombok Utara (KLU) dikenal memiliki potensi lahan kering yang sangat luas, namun sebagian besar wilayah pesisirnya didominasi oleh tanah pasiran. Secara agronomis, tanah pasiran memiliki tantangan yang sangat besar bagi petani. Karakteristik utamanya adalah tekstur yang kasar, porositas yang sangat tinggi, serta kandungan bahan organik yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan tanah memiliki kemampuan yang sangat lemah dalam menyimpan air (water holding capacity) dan menahan unsur hara. Akibatnya, pupuk kimia yang diaplikasikan petani seringkali hilang tercuci oleh air sebelum sempat diserap oleh akar tanaman. Kondisi inilah yang selama ini menghambat produktivitas tanaman pangan, termasuk jagung ketan yang menjadi salah satu komoditas unggulan di daerah tersebut. Petani di Dusun Sumur Mual seringkali menghadapi risiko gagal panen atau hasil yang tidak optimal karena tanaman mengalami stres kekeringan atau defisiensi hara, meskipun pemupukan telah dilakukan. Menyadari urgensi tersebut, Tim Profesor Berdampak Unram hadir dengan solusi bioamelioran untuk merekayasa kualitas fisik, kimia, dan biologi tanah pasiran tersebut agar lebih akomodatif bagi pertumbuhan tanaman. Mengenal Bioamelioran: Inovasi Penyehat Tanah Bioamelioran merupakan bahan pembenah tanah yang menggabungkan komponen organik dan agen hayati (mikroorganisme) untuk memperbaiki kesuburan tanah secara menyeluruh. Berbeda dengan pupuk kimia yang hanya menyediakan unsur hara secara instan, bioamelioran bekerja dengan cara memperbaiki struktur tanah agar mampu menyediakan lingkungan tumbuh yang optimal dalam jangka panjang. Ketua Tim Profesor Berdampak, Prof. Dr. Ir. Wahyu Astiko, M.P., menjelaskan bahwa inovasi ini dikembangkan secara khusus untuk menjawab problematika spesifik di lahan pasiran. Komponen utama dari bioamelioran yang diperkenalkan kepada petani meliputi biochar sekam padi, pupuk kandang atau kompos, serta inokulum mikoriza lokal. Biochar, atau arang hayati yang dihasilkan dari pembakaran terbatas sekam padi, berfungsi sebagai "spons" yang mampu memerangkap air dan nutrisi di dalam pori-porinya, sehingga tidak mudah hilang di tanah berpasir. Sementara itu, inokulum mikoriza lokal berperan sebagai agen hayati yang bersimbiosis dengan akar jagung ketan. Mikoriza membantu memperluas jangkauan serapan akar dalam mencari air dan unsur hara, terutama fosfor, di lapisan tanah yang lebih dalam. Penggunaan bahan organik seperti pupuk kandang melengkapi formula ini dengan menyediakan nutrisi dasar dan memperbaiki aktivitas biologi tanah yang selama ini mati akibat penggunaan bahan kimia berlebihan. Kronologi dan Metodologi Pelatihan Masyarakat Kegiatan pengabdian ini disusun dengan struktur yang sistematis, memadukan penyampaian teori di kelas dengan praktik lapangan yang intensif. Tahapan kegiatan dimulai dengan sesi penyuluhan mendalam. Pada tahap ini, para petani diberikan pemahaman mengenai siklus hara dan pentingnya ekosistem mikroba di dalam tanah. Para profesor menjelaskan mengapa selama ini penggunaan pupuk urea atau NPK saja tidak cukup untuk lahan pasiran, serta bagaimana bioamelioran dapat menjadi solusi jangka panjang yang ramah lingkungan. Setelah pemahaman teoretis terbentuk, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan bioamelioran. Lokasi praktik dipusatkan di area Kelompok Tani Loang Landak, di mana para petani diajak untuk meramu bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar mereka. Proses ini meliputi: Penyiapan Bahan Baku: Petani diajarkan cara memproses sekam padi menjadi biochar yang berkualitas melalui metode pirolisis sederhana. Pencampuran Proporsional: Tim Unram memberikan instruksi mengenai takaran yang tepat antara biochar, pupuk kandang, dan inokulum mikoriza agar menghasilkan efek maksimal pada tanaman jagung ketan. Inokulasi: Penjelasan mengenai cara memasukkan mikroorganisme (mikoriza) ke dalam campuran pembenah tanah agar tetap hidup dan aktif saat diaplikasikan ke lahan. Teknik Aplikasi: Petani mempraktikkan cara meletakkan bioamelioran pada lubang tanam atau larikan agar bersentuhan langsung dengan zona perakaran tanaman. Selama proses praktik, antusiasme terlihat jelas dari para anggota Kelompok Tani Loang Landak. Terjadi diskusi dua arah yang produktif mengenai efisiensi biaya produksi. Dengan membuat bioamelioran secara mandiri, petani dapat menekan ketergantungan pada pupuk subsidi yang seringkali langka di pasaran, sekaligus memanfaatkan limbah pertanian seperti sekam padi yang selama ini sering terbuang atau hanya dibakar tanpa manfaat maksimal. Analisis Implikasi: Kemandirian dan Keberlanjutan Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari terselenggaranya acara, tetapi dari perubahan paradigma petani. Prof. Wahyu Astiko menekankan bahwa target utama dari "Profesor Berdampak" adalah kemandirian. "Target kita bukan sekadar memberikan bantuan barang jadi. Petani harus memiliki pengetahuan dan keterampilan sehingga setelah program selesai, mereka tetap mampu memproduksi dan menggunakan bioamelioran secara mandiri," tegasnya. Secara ekonomi, penerapan teknologi bioamelioran pada budidaya jagung ketan memiliki potensi keuntungan ganda. Pertama, peningkatan hasil panen per hektar karena kondisi tanah yang lebih subur dan ketersediaan air yang lebih stabil di zona perakaran. Kedua, efisiensi biaya input pertanian. Dengan tanah yang sehat, kebutuhan akan pupuk kimia sintetis dapat dikurangi secara bertahap, yang berarti penghematan pengeluaran bagi rumah tangga petani. Dari sisi lingkungan, penggunaan bioamelioran merupakan langkah konkret menuju pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Penggunaan biochar membantu dalam sekuestrasi karbon, yaitu mengunci karbon di dalam tanah dalam waktu yang sangat lama, sehingga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Selain itu, perbaikan aktivitas biologis tanah akan mengembalikan keragaman mikroba tanah yang bermanfaat, menciptakan ekosistem pertanian yang lebih tangguh terhadap serangan hama dan penyakit. Sinergi Akademisi untuk Pembangunan Daerah Program ini mencerminkan kekuatan kolaborasi multidisiplin ilmu di Universitas Mataram. Tim yang terlibat terdiri dari pakar-pakar senior yang memiliki reputasi nasional, antara lain Prof. Dr. Ir. Wahyu Astiko, M.P. (Pakar Kesuburan Tanah), Prof. Sukardi, M.Pd. (Pakar Pendidikan dan Pemberdayaan), Prof. Tajidan (Pakar Ekonomi Pertanian), Prof. Arifuddin (Pakar Sosiologi Pertanian), dan Prof. Lolita Endang Susilowati (Pakar Biologi Tanah). Keterlibatan lintas disiplin ini memastikan bahwa pendekatan yang diambil tidak hanya menyentuh aspek teknis budidaya, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Dukungan dari pemerintah desa Pemenang Barat serta penyuluh pertanian lapangan (PPL) setempat memperkuat jembatan komunikasi antara akademisi dan praktisi di lapangan. Pemerintah daerah Kabupaten Lombok Utara menyambut baik inisiatif ini, mengingat visi daerah untuk menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi selain pariwisata. Jagung ketan dipilih sebagai komoditas fokus karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan permintaan pasar yang stabil di NTB, baik untuk kebutuhan konsumsi lokal maupun industri olahan makanan. Menuju Sentra Jagung Ketan Berkelanjutan Dengan adanya pendampingan berkelanjutan dari Universitas Mataram, Dusun Sumur Mual diproyeksikan akan menjadi model percontohan (pilot project) bagi desa-desa lain di Lombok Utara dalam mengelola lahan pasiran. Transformasi wilayah binaan ini diharapkan mampu menciptakan efek domino yang positif. Ketika satu kelompok tani berhasil membuktikan peningkatan hasil dengan teknologi bioamelioran, maka kelompok tani lainnya akan terdorong untuk mengadopsi hal serupa. Upaya ini juga sejalan dengan program ketahanan pangan nasional yang mendorong pemanfaatan lahan marginal secara optimal. Universitas Mataram melalui Program Profesor Berdampak membuktikan bahwa inovasi perguruan tinggi tidak boleh berhenti dalam bentuk jurnal ilmiah atau laporan penelitian di rak perpustakaan saja. Inovasi tersebut harus "membumi", dirasakan manfaatnya oleh petani kecil, dan mampu menggerakkan roda ekonomi di tingkat tapak. Sebagai penutup, komitmen Universitas Mataram dalam menghadirkan solusi berbasis sains di Lombok Utara diharapkan dapat terus berlanjut hingga terciptanya kemandirian pangan yang sejati. Model kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah desa ini menjadi preseden penting bahwa kemajuan teknologi pertanian adalah kunci utama dalam membangun pedesaan yang produktif, mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan di masa depan. Melalui bioamelioran, lahan pasiran yang dulunya dianggap sebagai hambatan, kini berpotensi menjadi sumber kemakmuran baru bagi masyarakat Lombok Utara. Post navigation Pemerintah Provinsi NTB Matangkan Raperda Sumbangan Dana Pendidikan untuk Menjamin Transparansi dan Melindungi Hak Siswa di Satuan Pendidikan Menengah