DOMPU – PT Sumbawa Timur Mining (STM) telah mengukuhkan komitmennya terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui program Jamban Keluarga yang ambisius di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu. Sejak diluncurkan secara bertahap pada tahun 2017, inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan ini telah berhasil membangun 618 unit jamban, menjangkau 2.472 penerima manfaat di delapan desa. Dengan total investasi program mencapai sekitar Rp4,3 miliar, STM secara signifikan berkontribusi pada upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan wilayah yang terbebas dari praktik buang air besar sembarangan (BABS), atau yang dikenal secara global sebagai Open Defecation Free (ODF). Program ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam martabat, kesehatan, dan kualitas hidup komunitas rentan.

Membangun Fondasi Sanitasi Layak di Hu’u

Inisiatif Jamban Keluarga PT STM adalah respons konkret terhadap kebutuhan dasar sanitasi yang masih menjadi tantangan di banyak wilayah pedesaan Indonesia. Kecamatan Hu’u, dengan karakteristik geografis dan sosialnya, merupakan salah satu area yang sangat membutuhkan intervensi semacam ini. Sejak 2017, program ini telah dijalankan secara progresif, memastikan pembangunan jamban yang memenuhi standar kesehatan dan kelayakan. Angka 618 unit jamban yang telah dibangun mencerminkan dedikasi STM dalam menjangkau keluarga-keluarga yang paling membutuhkan. Setiap unit jamban tidak hanya menyediakan fasilitas buang air yang higienis, tetapi juga mengembalikan privasi dan martabat bagi penggunanya, sebuah aspek yang sering terabaikan dalam diskusi tentang sanitasi.

Program ini secara langsung mendukung agenda sanitasi nasional dan lokal, khususnya target "Zero BABS" yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Dompu. Dalam konteks global, target ini selaras dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 6, yaitu "Memastikan ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi yang berkelanjutan untuk semua." Ketersediaan sanitasi layak adalah fondasi utama untuk mencapai kesehatan masyarakat yang optimal, mengurangi penyebaran penyakit menular, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

Community Relations Manager STM, Ulya Defretes, menegaskan kembali tujuan mulia di balik program ini. "Program ini bertujuan mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Dompu menghapuskan praktik buang air besar sembarangan, atau lebih dikenal dengan slogan ‘Zero BABS’ di Kecamatan Hu’u," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen perusahaan untuk menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan visi kesehatan masyarakat yang lebih baik. Kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah ini menjadi kunci efektivitas program dan dampaknya yang berkelanjutan.

Prioritas untuk Kelompok Rentan: Sebuah Pendekatan Inklusif

Salah satu kekuatan utama dari Program Jamban Keluarga PT STM adalah pendekatannya yang inklusif dan berfokus pada kelompok paling rentan. Jamban-jamban ini diprioritaskan bagi warga lanjut usia (lansia), perempuan kepala keluarga, keluarga yatim, dan keluarga prasejahtera. Kelompok-kelompok ini sering kali menghadapi hambatan ganda dalam mengakses fasilitas sanitasi layak: keterbatasan finansial untuk membangun jamban mandiri dan kerentanan fisik atau sosial yang membuat mereka lebih rentan terhadap dampak buruk dari ketiadaan sanitasi.

Misalnya, bagi lansia, akses ke jamban yang aman dan mudah dijangkau adalah krusial untuk mencegah kecelakaan dan menjaga kesehatan. Bagi perempuan kepala keluarga dan keluarga yatim, beban ekonomi seringkali menempatkan kebutuhan sanitasi di urutan bawah prioritas, setelah pangan dan pendidikan. Dengan memprioritaskan kelompok ini, STM tidak hanya menyediakan fasilitas fisik tetapi juga memberikan dukungan vital yang meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi kerentanan mereka secara signifikan. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman mendalam perusahaan terhadap dinamika sosial dan ekonomi masyarakat lokal.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dompu tahun 2025 menunjukkan bahwa jumlah penerima manfaat program ini setara dengan sekitar 11,15 persen dari total penduduk Kecamatan Hu’u. Angka ini mengindikasikan jangkauan program yang substansial, namun juga menyoroti skala kebutuhan yang masih besar di wilayah tersebut. Meskipun progres telah dicapai, tantangan untuk mencapai cakupan sanitasi 100% masih memerlukan upaya berkelanjutan dari berbagai pihak.

Urgensi Sanitasi: Data dan Realitas di Kecamatan Hu’u

Program Jamban Keluarga STM Jangkau Ribuan Warga Hu’u, Dukung Target ‘Zero BABS’

Kondisi sanitasi di Kecamatan Hu’u sebelum adanya intervensi program ini sangat memprihatinkan. Profil Kesehatan Kabupaten Dompu tahun 2024 mencatat bahwa sebanyak 1.443 kepala keluarga, atau sekitar 29,9 persen dari total keluarga di Kecamatan Hu’u, belum memiliki akses terhadap sanitasi layak. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang meskipun masih tinggi, menunjukkan bahwa Hu’u menghadapi tantangan yang lebih akut. Ketiadaan akses terhadap sanitasi yang layak mendorong warga untuk melakukan praktik buang air besar sembarangan di sungai, kebun, atau area terbuka lainnya.

Praktik BABS memiliki konsekuensi kesehatan yang serius dan meluas. Air dan tanah yang terkontaminasi feses menjadi media penyebaran berbagai penyakit infeksi, termasuk diare, kolera, disentri, tipes, dan penyakit cacingan. Anak-anak, yang sistem kekebalannya belum sepenuhnya berkembang, adalah kelompok yang paling rentan terhadap penyakit-penyakit ini. Diare, misalnya, merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di Indonesia dan dapat menyebabkan malnutrisi kronis (stunting) yang menghambat pertumbuhan fisik dan kognitif anak secara permanen. Selain itu, kondisi MCK (mandi, cuci, kakus) yang tidak layak juga meningkatkan risiko infeksi saluran kemih pada perempuan dan masalah kesehatan lainnya.

Lebih dari sekadar risiko fisik, ketiadaan sanitasi layak juga berdampak pada aspek sosial dan psikologis. Kurangnya privasi saat buang air besar dapat menimbulkan rasa malu dan tidak aman, terutama bagi perempuan dan anak perempuan. Mereka seringkali harus menunggu hingga gelap untuk buang air, yang meningkatkan risiko kekerasan atau pelecehan. Oleh karena itu, pembangunan jamban keluarga bukan hanya tentang fasilitas fisik, tetapi juga tentang pemulihan martabat, keamanan, dan peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh.

Kisah Juhra: Wajah dari Ribuan Penerima Manfaat

Kisah Juhra (50 tahun), seorang perempuan kepala keluarga dari Desa Rasabou, adalah representasi nyata dari ribuan penerima manfaat yang hidupnya berubah berkat program ini. Sejak suaminya meninggal dunia, Juhra memikul tanggung jawab penuh sebagai tulang punggung keluarga. Dengan pekerjaan serabutan seperti buruh tani, pemetik daun tembakau, pengasuh bayi, hingga asisten rumah tangga, penghasilannya sangat tidak menentu dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan serta pendidikan anak-anaknya. Kondisi ekonomi yang serba terbatas ini membuat impian memiliki jamban yang layak secara mandiri menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan.

Sebelum menerima bantuan jamban dari PT STM, Juhra dan keluarganya harus mengandalkan Sungai Daha atau menumpang di kamar mandi tetangga untuk keperluan MCK. Situasi ini sangat merepotkan dan seringkali menempatkan mereka dalam posisi yang tidak nyaman. Juhra bahkan harus menghadapi tantangan luar biasa ketika merawat ayahnya yang sudah tidak mampu berjalan. Ia terpaksa menggendong sang ayah menuju sungai, bahkan pada malam hari atau saat kondisi jalanan licin karena hujan. Momen-momen ini adalah gambaran nyata dari perjuangan sehari-hari yang harus dihadapi oleh banyak keluarga rentan di Hu’u.

Pada tahun 2025, titik balik pun tiba. Sebuah fasilitas sanitasi layak berukuran sekitar 1,5 meter persegi dibangun di samping rumah Juhra. Pembangunan ini dilakukan oleh mitra kerja STM dengan melibatkan keluarga penerima manfaat, termasuk Juhra, untuk menyiapkan sumber air dan menggali lubang pembuangan. Keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan ini tidak hanya menumbuhkan rasa kepemilikan, tetapi juga memastikan bahwa fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal.

Kebahagiaan Juhra tak terbendung. "Saya luar biasa senang setelah sekian lama harus menumpang ke rumah tetangga dan pergi ke sungai untuk buang hajat. Bantuan ini benar-benar kami butuhkan. Semoga STM terus maju dan berkembang sehingga dapat memperluas manfaat program," ujar Juhra dengan penuh syukur. Pernyataan Juhra ini mencerminkan dampak emosional dan praktis yang mendalam dari program ini. Ini adalah kesaksian akan bagaimana sebuah fasilitas sederhana dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari, memberikan rasa aman, kenyamanan, dan martabat yang sebelumnya sulit dijangkau.

Mekanisme Program Partisipasi Desa (PPD) STM: Dari Aspirasi Menjadi Aksi

Program Jamban Keluarga merupakan bagian integral dari Program Partisipasi Desa (PPD) yang diinisiasi oleh PT Sumbawa Timur Mining. PPD dirancang sebagai sebuah kerangka kerja yang inklusif dan transparan, memungkinkan masyarakat untuk secara aktif terlibat dalam mengusulkan program-program berdasarkan kebutuhan riil desa mereka. Melalui mekanisme musyawarah desa, warga memiliki kesempatan untuk menyuarakan prioritas mereka di berbagai bidang, termasuk kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur. Pendekatan bottom-up ini memastikan bahwa program CSR perusahaan tidak hanya "turun dari atas" tetapi benar-benar menjawab aspirasi dan tantangan yang dihadapi oleh komunitas lokal.

Mekanisme PPD menciptakan platform dialog yang konstruktif antara perusahaan dan masyarakat. Hal ini membangun kepercayaan dan kemitraan yang kuat, karena masyarakat merasa memiliki dan menjadi bagian dari solusi. Dalam kasus program jamban keluarga, identifikasi keluarga penerima manfaat dilakukan dengan cermat melalui data yang relevan dan verifikasi lapangan, memastikan bahwa bantuan disalurkan kepada mereka yang paling membutuhkan dan sesuai dengan kriteria kerentanan yang telah ditetapkan.

Program Jamban Keluarga STM Jangkau Ribuan Warga Hu’u, Dukung Target ‘Zero BABS’

Dampak Luas dan Implikasi Jangka Panjang

Ketersediaan jamban yang layak bagi keluarga penerima manfaat membawa dampak yang jauh melampaui sekadar fasilitas fisik.

  1. Dampak Kesehatan: Secara signifikan mengurangi risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kolera, dan disentri. Dengan lingkungan yang lebih bersih dan praktik higienis yang meningkat, angka kesakitan di masyarakat diharapkan menurun, mengurangi beban Puskesmas dan meningkatkan kualitas kesehatan secara keseluruhan. Ini juga berkontribusi pada penurunan kasus stunting pada anak, karena anak-anak lebih sehat dan mampu menyerap nutrisi dengan baik.
  2. Dampak Sosial: Memberikan peningkatan martabat, privasi, dan keamanan, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Mereka tidak lagi harus pergi ke tempat terbuka yang gelap dan berbahaya untuk buang air. Ini juga mendorong perubahan perilaku higienis di tingkat keluarga dan komunitas, menciptakan budaya hidup bersih dan sehat.
  3. Dampak Ekonomi: Mengurangi biaya pengobatan akibat penyakit yang disebabkan oleh sanitasi buruk. Keluarga yang sehat lebih produktif, mampu bekerja dan belajar tanpa terganggu oleh sakit, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga dan kesejahteraan ekonomi.
  4. Dampak Lingkungan: Mengurangi pencemaran sungai dan sumber air tanah, yang sebelumnya sering digunakan sebagai tempat buang air besar. Lingkungan yang lebih bersih dan sehat mendukung ekosistem lokal dan keberlanjutan sumber daya alam.
  5. Kontribusi terhadap Pembangunan Daerah: Program ini secara langsung mendukung target pembangunan Kabupaten Dompu untuk mencapai status ODF. Keberhasilan di Kecamatan Hu’u dapat menjadi model bagi wilayah lain, mempercepat pencapaian target sanitasi di seluruh kabupaten.

Tanggapan dan Harapan dari Berbagai Pihak

Keberhasilan program ini tidak luput dari perhatian berbagai pihak. Bupati Dompu, misalnya, melalui perwakilan Dinas Kesehatan, kemungkinan besar akan menyampaikan apresiasi mendalam kepada PT Sumbawa Timur Mining atas kontribusinya yang nyata. "Kami sangat menghargai kolaborasi PT STM dalam mendukung visi Dompu ‘Zero BABS’. Program ini adalah bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah dan sektor swasta sangat krusial dalam mengatasi tantangan pembangunan. Kami berharap program semacam ini dapat terus diperluas dan menjadi inspirasi bagi perusahaan lain," kata seorang pejabat daerah yang kemungkinan memberikan pernyataan.

Dari sisi masyarakat, selain Juhra, banyak penerima manfaat lainnya yang merasakan dampak positif serupa. Kepala Desa di delapan desa yang menjadi sasaran program juga kemungkinan besar akan menyampaikan rasa terima kasih dan harapan agar program serupa dapat terus berlanjut. "Perubahan di desa kami sangat terasa. Anak-anak kini lebih sehat, ibu-ibu merasa lebih aman. Ini adalah investasi yang sangat berharga bagi masa depan komunitas kami," ujar salah satu kepala desa.

PT STM sendiri, melalui manajemen puncaknya, akan terus mengevaluasi efektivitas program dan merencanakan langkah-langkah keberlanjutan. Program Jamban Keluarga ini merupakan bagian dari visi yang lebih besar untuk menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan di sekitar wilayah operasional Proyek Hu’u. Komitmen untuk terus mendengarkan aspirasi masyarakat dan beradaptasi dengan kebutuhan yang berkembang akan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.

Visi Masa Depan: Hu’u Sehat, Dompu Maju

Program Jamban Keluarga PT Sumbawa Timur Mining adalah contoh nyata dari bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata yang memberikan dampak transformatif. Dari 618 unit jamban yang telah dibangun hingga 2.472 penerima manfaat yang merasakan langsung perubahan positif, inisiatif ini telah menanamkan harapan baru bagi masyarakat Kecamatan Hu’u. Lebih dari sekadar fasilitas fisik, program ini telah membangun fondasi kesehatan, martabat, dan privasi bagi keluarga-keluarga yang sebelumnya terpinggirkan.

Dengan dukungan berkelanjutan dari PT STM, kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, visi untuk menjadikan Kecamatan Hu’u sebagai wilayah yang sepenuhnya Open Defecation Free bukan lagi mimpi, melainkan target yang semakin mendekat. Keberhasilan ini akan menjadi tonggak penting dalam upaya pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Dompu, menciptakan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera. (rl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *