SELONG – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengambil langkah strategis untuk memperkuat sektor pertanian bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Program pendampingan yang intensif ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan volume produksi komoditas unggulan daerah, tetapi juga memiliki mandat penting dalam upaya pengendalian inflasi di NTB. Melalui pengembangan klaster bawang putih, BI NTB berupaya membangkitkan kembali kejayaan komoditas ini dan menopang kesejahteraan petani lokal.

Pengembangan Klaster: Pilar Strategis BI NTB

Sejak tahun 2026, BI NTB secara resmi meluncurkan program pengembangan klaster bawang putih yang melibatkan empat kelompok tani terkemuka di Sembalun. Keempat kelompok tani tersebut adalah Kelompok Tani Lendang Luar, Kelompok Tani Pelangi, Kelompok Tani Gumilang, dan Kelompok Tani Maju Wangi. Pemilihan Sembalun sebagai lokasi pengembangan klaster ini didasari oleh potensi geografis dan historisnya sebagai sentra produksi bawang putih berkualitas di NTB.

Rahardian Lithfan Intifazuddin, Manager Kantor Perwakilan BI NTB, menjelaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada dua alasan fundamental. Pertama, bawang putih diakui sebagai salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensi pasar yang signifikan. Kedua, bawang putih merupakan salah satu komoditas yang kerap menjadi penyumbang utama dalam angka inflasi, terutama di daerah yang bergantung pada pasokan dari luar. Dengan meningkatkan produksi lokal, diharapkan ketergantungan pada pasokan impor dapat dikurangi, sehingga fluktuasi harga dapat lebih terkendali.

"Tujuan kita mengembangkan klaster bawang putih ini pertama karena bawang putih merupakan komoditas unggulan. Kedua, berkaitan dengan inflasi karena bawang putih salah satu komoditas penyumbang inflasi," ujar Rahardian dalam keterangan persnya pada Jumat (2/10/2026).

Pendampingan Komprehensif: Dari Benih Hingga Panen Berkualitas

Pendekatan yang diterapkan oleh BI NTB dalam program ini jauh melampaui sekadar penyediaan benih. Melalui kolaborasi erat dengan Universitas Mataram (Unram), program ini berfokus pada peningkatan kapasitas petani secara menyeluruh. Fokus utamanya adalah membimbing petani agar mampu menghasilkan umbi bawang putih dengan ukuran yang lebih besar dan kualitas yang lebih baik, sehingga mampu memenuhi standar kebutuhan pasar konsumsi yang terus meningkat.

Pendampingan teknis ini mencakup berbagai aspek penting dalam budidaya bawang putih, mulai dari pemilihan varietas unggul yang sesuai dengan kondisi lokal, teknik penanaman yang optimal, manajemen irigasi yang efisien, pengendalian hama dan penyakit terpadu, hingga praktik panen dan pascapanen yang dapat menjaga kualitas produk. Para akademisi dari Unram diharapkan dapat mentransfer pengetahuan dan teknologi terkini kepada petani, menjadikan mereka lebih mandiri dan adaptif terhadap tantangan agrikultur modern.

Bantuan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) untuk Efisiensi Produksi

Menyadari bahwa tingginya biaya produksi menjadi salah satu kendala utama bagi petani, BI NTB juga menyalurkan bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) atau yang dikenal sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) kepada keempat kelompok tani tersebut. Bantuan ini secara spesifik dialokasikan untuk pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Rahardian menekankan bahwa bantuan alsintan ini memiliki tujuan ganda: meningkatkan efisiensi kerja petani dan menekan biaya operasional, terutama biaya pengolahan lahan. Selama ini, banyak petani masih mengandalkan jasa sewa traktor tangan (hand tractor) untuk mengolah lahan mereka, yang memakan biaya cukup signifikan.

"Tujuannya untuk mengurangi cost biaya. Biasanya kelompok di sini untuk menggarap tanah harus menyewa hand tractor. Biayanya bisa sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per hektare," ungkap Rahardian. Dengan kepemilikan alsintan, petani dapat melakukan pengolahan lahan secara mandiri, menghemat biaya, dan mempercepat waktu tanam. Ini akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan profitabilitas petani.

Demonstration Plot (Demplot) untuk Pembelajaran dan Inovasi

Sebagai bagian dari upaya transfer pengetahuan dan percontohan praktik terbaik, BI NTB bersama Unram juga merencanakan pembukaan demonstration plot (demplot) pengembangan bawang putih. Total luas lahan yang disiapkan untuk demplot ini mencapai dua hektare, di mana masing-masing kelompok tani akan mengelola sekitar setengah hektare lahan. Demplot ini akan menjadi pusat pembelajaran dan inovasi, di mana petani dapat melihat langsung penerapan teknologi budidaya bawang putih yang direkomendasikan.

Namun, pelaksanaan demplot ini mengalami penyesuaian jadwal. Pelaksanaan yang semula direncanakan pada November 2026 terpaksa digeser ke awal tahun 2027. Pergeseran ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi iklim dan musim.

"November bukan bulan yang optimal untuk menanam bawang putih karena musim penghujan. Kita undur sampai awal tahun depan, menunggu musim yang memang optimal," jelas Rahardian. Pemilihan waktu tanam yang tepat sangat krusial dalam budidaya bawang putih untuk memaksimalkan pertumbuhan dan meminimalkan risiko kegagalan panen akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung.

BI NTB Gandeng Unram Perkuat Klaster Bawang Putih Sembalun untuk Konsumsi

Harapan Petani dan Potensi Swasembada

Dukungan dari Bank Indonesia dan Universitas Mataram disambut baik oleh para petani bawang putih di Sembalun. Rusfaini Efendi Sembahulun, Ketua Kelompok Tani Bawang Putih Lendang Luar, mengungkapkan rasa syukurnya atas program pendampingan dan bantuan yang diberikan.

"Yang paling terasa secara langsung, yang semula kita menggunakan cangkul, sekarang dengan traktor jauh lebih cepat. Kalau menggunakan traktor, dari pagi sampai sore bisa mengolah sekitar dua hektare," ujar Rusfaini, menggambarkan dampak positif bantuan alsintan.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar masyarakat Sembalun menggantungkan mata pencaharian mereka pada sektor pertanian, dengan komoditas utama bawang putih, cabai, dan berbagai jenis sayuran. Keberadaan bawang putih sebagai komoditas unggulan memiliki peran vital dalam perekonomian lokal.

Kelompok Tani Lendang Luar sendiri saat ini memiliki cakupan lahan seluas 45-50 hektare dengan jumlah anggota sekitar 60-70 orang. Produktivitas bawang putih di lahan petani rata-rata mencapai 13-14 ton basah per hektare, meskipun angka ini dapat bervariasi tergantung pada kondisi spesifik lahan dan praktik budidaya yang diterapkan.

Rusfaini berharap program pendampingan yang dilakukan BI bersama Unram dapat membawa kembali masa kejayaan bawang putih Sembalun. Ia yakin bahwa dengan dukungan yang berkelanjutan dan peningkatan kapasitas petani, swasembada bawang putih di NTB dapat terwujud.

"Kalau semua menanam bawang putih seperti dulu, insyaallah swasembada itu di depan mata," tuturnya penuh optimisme.

Konteks Latar Belakang: Sejarah Kejayaan Bawang Putih Sembalun dan Tantangan Modern

Sembalun, dengan kondisi geografisnya yang khas di kaki Gunung Rinjani, telah lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bawang putih terbaik di Indonesia. Dulu, bawang putih Sembalun pernah mencapai puncak kejayaannya, menjadi komoditas ekspor yang diperhitungkan. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai tantangan mulai muncul, seperti perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, serta persaingan dengan bawang putih impor yang harganya terkadang lebih kompetitif. Fluktuasi harga di pasar juga seringkali membuat petani merugi, yang berdampak pada penurunan minat untuk menanam komoditas ini.

Oleh karena itu, program pengembangan klaster yang digagas oleh BI NTB ini menjadi sangat relevan. Program ini tidak hanya berupaya mengatasi masalah produksi, tetapi juga aspek kelembagaan dan kemitraan, serta memastikan rantai pasok yang lebih stabil dan menguntungkan bagi petani. Dengan memberdayakan kelompok tani dan menggandeng akademisi, diharapkan bawang putih Sembalun dapat bangkit kembali dan berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi daerah.

Implikasi Lebih Luas: Pengendalian Inflasi dan Kesejahteraan Petani

Dampak dari program ini meluas lebih dari sekadar peningkatan hasil panen. Penguatan produksi bawang putih lokal secara signifikan berkontribusi pada upaya pengendalian inflasi. Kenaikan harga bawang putih seringkali menjadi salah satu pendorong utama inflasi bahan makanan, yang secara langsung membebani rumah tangga. Dengan pasokan yang mencukupi dari petani lokal, NTB dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah atau bahkan luar negeri, sehingga lebih mampu mengendalikan gejolak harga.

Selain itu, program ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, ditambah dengan efisiensi biaya melalui penggunaan alsintan, akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani. Hal ini akan mendorong revitalisasi sektor pertanian di Sembalun dan daerah sekitarnya, serta menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi baru.

Bank Indonesia, melalui program-program seperti ini, menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Pengembangan klaster komoditas unggulan seperti bawang putih Sembalun menjadi salah satu strategi efektif untuk mencapai tujuan tersebut, di mana pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Garis Waktu dan Progres Program

  • 2026: Peluncuran program pengembangan klaster bawang putih yang melibatkan empat kelompok tani di Sembalun. Pendampingan awal dan penyaluran bantuan PSBI/CSR berupa alsintan dilaksanakan.
  • November 2026: Rencana awal pelaksanaan demonstration plot (demplot).
  • Awal 2027: Pelaksanaan demplot ditunda ke awal tahun untuk menyesuaikan dengan musim tanam yang optimal bagi bawang putih.
  • Periode Selanjutnya (2027 dan seterusnya): Pendampingan teknis berkelanjutan dari BI NTB dan Unram, pemantauan perkembangan demplot, serta evaluasi dampak program terhadap produksi, pendapatan petani, dan inflasi daerah.

Dengan adanya sinergi antara pemerintah, institusi keuangan, akademisi, dan petani, masa depan bawang putih Sembalun tampak lebih cerah. Program ini tidak hanya berinvestasi pada komoditas pertanian, tetapi juga pada pemberdayaan sumber daya manusia dan penguatan ketahanan ekonomi lokal.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *