Ketua Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Bambang Patijaya, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap PT PLN (Persero) atas upaya inovatifnya dalam mengoptimalkan pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), atau abu sisa pembakaran batubara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), di Bangka Belitung (Babel). Inisiatif ini dinilai sangat krusial dalam mendukung sektor pertanian, konservasi lingkungan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Kunjungan kerja Bambang Patijaya ke PLTU Air Anyir pada Kamis (13/8) menjadi momen penting untuk meninjau langsung berbagai produk bernilai guna yang dihasilkan dari FABA. Dalam kesempatan tersebut, ia didampingi oleh Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, dan General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan (UIK) Dwipantara, Rita Triani. Bambang secara spesifik menyoroti potensi FABA yang diolah menjadi pupuk, yang tidak hanya efektif tetapi juga memiliki biaya produksi yang terjangkau.

Inovasi FABA: Solusi Multifaset untuk Pembangunan Berkelanjutan

Bambang Patijaya menegaskan bahwa pemanfaatan FABA memiliki potensi besar untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan secara simultan. Mulai dari pemulihan lahan pascatambang yang kritis, peningkatan produktivitas sektor pertanian yang krusial bagi ketahanan pangan, hingga penciptaan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

"Kami mengapresiasi inovasi pemanfaatan FABA yang dilakukan PLN. FABA yang tadinya merupakan residu, ternyata bisa kita pergunakan untuk pupuk. Pupuk yang dihasilkan ini bagus, hasilnya juga menunjukkan yang menggembirakan, kemudian biayanya murah. Ini sangat bagus dengan judul yang namanya pemberdayaan dan ketahanan pangan," ujar Bambang.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengembangan FABA untuk sektor pertanian sangat sejalan dengan agenda strategis Pemerintah Indonesia dalam memperkuat swasembada pangan nasional. Penggunaan sumber daya lokal yang inovatif untuk meningkatkan kesuburan dan produktivitas lahan diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan sektor pertanian, tidak hanya di Bangka Belitung tetapi juga di seluruh Indonesia.

"Swasembada pangan ini jadi agenda strategis nasional. Untuk itu, kami berharap kita dapat menjadikan pemanfaatan FABA ini jadi satu program nasional, bahwa PLN dapat melakukan optimalisasi, hilirisasi daripada FABA itu untuk mendukung ketahanan pangan," tambahnya.

Pemberdayaan Masyarakat Lokal dan Ekonomi Sirkuler

Selain manfaat lingkungan dan pertanian, Bambang Patijaya juga mendorong agar pengembangan ekosistem pemanfaatan FABA dapat melibatkan lebih banyak sumber daya manusia dan pelaku usaha lokal. Ia berpandangan bahwa masyarakat tidak hanya harus menjadi penerima manfaat akhir, tetapi juga dapat secara aktif terlibat dalam seluruh rantai nilai pemanfaatan FABA, mulai dari pengolahan hingga distribusinya.

Ketua Komisi XII DPR RI Apresiasi Pemanfaatan FABA PLN di Bangka, Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Sirkuler

"Yang tidak kalah penting adalah bagaimana program ini mampu menggerakkan SDM lokal. Kita ingin masyarakat Bangka Belitung terlibat, memiliki kompetensi, dan mendapatkan nilai ekonomi dari proses pemanfaatannya. Dengan begitu, ekonomi sirkuler benar-benar tumbuh," katanya.

Komitmen PLN dalam Transformasi Pengelolaan Limbah

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menjelaskan bahwa PLN secara konsisten mendorong transformasi pengelolaan FABA dari sekadar limbah menjadi sumber daya yang memberikan nilai tambah signifikan bagi masyarakat dan lingkungan.

"Pemanfaatan FABA di Bangka menunjukkan efektivitas pengelolaan dan tingginya pemanfaatan oleh masyarakat dalam sektor pertanian, konservasi lingkungan, dan konstruksi," ucap Rizal.

Ia memaparkan data yang mengagumkan, di mana rata-rata pemanfaatan FABA di wilayah Bangka Belitung mencapai hampir 90 persen. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pemanfaatan FABA tercatat mampu melampaui angka produksi tahunan, menunjukkan efisiensi dan efektivitas program.

Selain dimanfaatkan secara luas untuk sektor pertanian sebagai pupuk dan pembenah tanah, FABA juga memiliki aplikasi lain yang tak kalah penting. FABA digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan batako dan paving block, yang berkontribusi pada sektor konstruksi dan infrastruktur lokal. Lebih jauh lagi, FABA berperan penting dalam stabilisasi lahan, sebuah aspek krusial dalam mitigasi bencana dan pemulihan lingkungan. Inovasi terbaru bahkan menunjukkan potensi FABA sebagai media konservasi terumbu karang dan fish shelter di kawasan pesisir Bangka, sebuah langkah maju dalam pelestarian ekosistem laut.

"PLN tidak hanya memastikan pembangkit mampu menghasilkan listrik yang andal, tetapi juga bagaimana seluruh proses bisnisnya dapat memberikan manfaat yang lebih luas. FABA memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna. Karena itu, kami terus mendorong kolaborasi agar pemanfaatannya memberikan manfaat bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat," ujar Rizal.

Dampak Nyata pada Sektor Pertanian Lokal

Kolaborasi PLN dengan Forum Masyarakat Petani (Formap) Bangka Belitung telah terjalin selama lebih dari tiga tahun dan menunjukkan hasil yang sangat positif. Melalui kemitraan ini, penyerapan FABA untuk keperluan pertanian mencapai sekitar 100 ton per bulan. Sepanjang tahun 2026, program ini berhasil menghasilkan lebih dari 25 ribu karung pupuk FABA yang didistribusikan ke berbagai wilayah di Babel, memberikan manfaat langsung kepada para petani.

Manfaat FABA sebagai pupuk dan pembenah tanah tidak hanya sebatas konsep ekonomi sirkuler. Bukti nyata di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan produk FABA ini mampu membantu petani menekan biaya produksi hingga 58,3 persen. Penghematan ini terutama terasa pada kebutuhan perbaikan unsur hara tanah dan pengapuran lahan, yang merupakan elemen vital dalam meningkatkan kesuburan dan produktivitas tanaman.

Ketua Komisi XII DPR RI Apresiasi Pemanfaatan FABA PLN di Bangka, Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Sirkuler

General Manager PLN UIK Dwipantara, Rita Triani, menjelaskan bahwa karakteristik geologis dan geografis Bangka Belitung membuka peluang yang sangat besar bagi pengembangan pemanfaatan FABA. Material yang dulunya dianggap limbah kini telah bertransformasi menjadi sumber harapan baru bagi para petani di daerah tersebut.

"Bagi petani Bangka Belitung, manfaat FABA tidak berhenti pada konsep ekonomi sirkuler. Material ini dimanfaatkan sebagai pembenah tanah untuk membantu meningkatkan pH lahan yang cenderung asam, sehingga lebih baik untuk budidaya pertanian," ujar Rita.

Lebih lanjut, Rita menambahkan bahwa PLN secara aktif membina kelompok masyarakat bernama "FABA KITE LESTARI". Kelompok ini berfokus pada pengolahan limbah organik, termasuk FABA, menjadi pupuk siap pakai. Program ini memberikan dampak sosial yang signifikan dengan melibatkan 25 penerima manfaat, mayoritas berusia di atas 40 tahun. Keterlibatan mereka tidak hanya memperkuat ekonomi masyarakat produktif dan pra-lansia di sekitar wilayah operasional pembangkit, tetapi juga memberikan rasa kebanggaan dan kontribusi positif.

"Kami ingin FABA memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Babel. Tidak berhenti pada pemanfaatan materialnya, tetapi bagaimana dari sana dapat tercipta peluang usaha, meningkatnya kompetensi masyarakat lokal, hingga lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat kembali memberikan manfaat," kata Rita.

Dukungan Petani dan Standarisasi Menuju Keberlanjutan

Ketua Umum Forum Masyarakat Petani Babel, Arif, turut memberikan apresiasi mendalam atas kontribusi nyata PLN kepada masyarakat di Bangka Belitung. Ia menegaskan dampak positif yang dirasakan langsung oleh para petani.

"Alhamdulillah sudah ribuan hektar masyarakat menggunakan olahan pupuk dari FABA dan semua petani mengatakan sangat dibutuhkan dan berhasil," ungkap Arif, menggarisbawahi keberhasilan program ini dalam memenuhi kebutuhan petani.

Pengembangan FABA untuk sektor pertanian kini memiliki landasan yang semakin kuat dan terjamin dengan terbitnya Standar Nasional Indonesia (SNI) 9387:2025. Standar ini secara spesifik mengatur FABA sebagai pembenah tanah dan bahan baku pupuk untuk tanaman. Kehadiran standar ini menjadi salah satu landasan fundamental yang memastikan pemanfaatan FABA dapat dilakukan secara aman, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas dan terpercaya.

Dengan adanya SNI ini, FABA tidak hanya sekadar produk daur ulang, tetapi telah menjadi komoditas pertanian yang diakui secara resmi, membuka jalan bagi regulasi yang lebih baik, investasi yang lebih besar, dan tentunya, manfaat yang lebih luas bagi lingkungan, pertanian, dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Inisiatif PLN di Bangka Belitung ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi pengelolaan limbah dapat menjadi pendorong utama pembangunan berkelanjutan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *