BIMA – Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dirundung duka dan keprihatinan mendalam pada Sabtu (21/3/2026) sore. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari memicu terjadinya banjir bandang yang melanda sejumlah kawasan, memaksa warga untuk berjuang menyelamatkan diri dan harta benda di tengah momen sakral keagamaan. Bencana hidrometeorologi ini menerjang tiga kecamatan utama, yaitu Soromandi, Wera, dan Woha, meninggalkan jejak kerusakan dan kerugian material yang signifikan.

Kronologi Kejadian: Hujan Deras Picu Banjir di Sore Hari Raya

Menurut laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat/petir dan angin kencang, mulai mengguyur wilayah Kabupaten Bima pada pukul 13.50 WITA. Intensitas hujan terus meningkat, menyebabkan aliran air di sungai-sungai meluap dan merendam kawasan pemukiman serta lahan pertanian. Banjir mencapai puncaknya pada pukul 16.00 WITA, sebelum berangsur-angsur surut.

Peristiwa ini terjadi pada momen yang sangat tidak terduga, bertepatan dengan hari raya Idulfitri, yang seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan dan kebersamaan bagi umat Muslim. Kondisi ini menambah beban emosional bagi para korban, yang harus menghadapi bencana alam di tengah perayaan hari besar keagamaan.

Wilayah Terdampak dan Kerusakan yang Dihitung

BPBD Provinsi NTB merinci dampak banjir di tiga kecamatan yang menjadi prioritas penanganan:

Kecamatan Soromandi: Kerusakan Infrastruktur Sungai dan Akses Jalan

Di Kecamatan Soromandi, Desa Sai menjadi salah satu titik yang paling merasakan dampak banjir. Bronjong penahan sungai yang berfungsi sebagai pengaman jembatan limpas mengalami kerusakan parah. Kerusakan ini mengindikasikan besarnya kekuatan arus air yang menerjang. Selain itu, akses jalan lintas Sai–Sampungu sempat tergenang air, mengganggu mobilitas warga dan potensi terhambatnya penyaluran bantuan awal.

Pendataan mengenai luas lahan pertanian yang rusak dan infrastruktur lainnya yang terdampak masih terus dilakukan oleh tim BPBD. Potensi kerugian di sektor pertanian ini diperkirakan cukup besar, mengingat banyak lahan produktif yang berada di dekat aliran sungai.

Kecamatan Wera: Rumah Terendam dan Warga Terpaksa Mengungsi

Kecamatan Wera, khususnya Desa Bala, menjadi wilayah yang terdampak paling parah dalam hal kerugian hunian. Data sementara mencatat sedikitnya tiga unit rumah dilaporkan terendam banjir, memaksa tiga kepala keluarga atau total 11 jiwa untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Tidak hanya itu, satu unit rumah yang juga berfungsi sebagai bengkel mengalami kerusakan sedang, termasuk peralatan kerjanya. Hal ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya merendam, tetapi juga menghancurkan aset produktif milik warga. Satu keluarga yang terdiri dari empat jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan sementara.

Akses jalan di Dusun Bala juga sempat tergenang, menimbulkan kesulitan bagi warga untuk beraktivitas dan mengakses kebutuhan dasar. Dampak pada sektor pertanian di desa ini juga masih dalam proses pendataan mendalam.

Kecamatan Woha: Kerusakan pada Bendungan La Nonu

Di Kecamatan Woha, Desa Talabiu melaporkan adanya kerusakan pada bagian sayap bendungan La Nonu. Bendungan ini merupakan infrastruktur vital yang berfungsi untuk irigasi dan pengendalian banjir di wilayah sekitarnya. Kerusakan pada bendungan dapat menimbulkan dampak lanjutan yang lebih luas, termasuk risiko banjir yang lebih besar di masa mendatang jika tidak segera ditangani.

Seperti di kecamatan lainnya, pendataan lebih lanjut mengenai dampak kerusakan pada lahan pertanian dan infrastruktur lainnya di Desa Talabiu masih terus dilakukan oleh petugas BPBD dan tim terkait.

Respons Cepat dan Penanganan Darurat

Menyadari skala bencana, BPBD Provinsi NTB, bersama dengan BPBD Kabupaten Bima dan unsur pemerintah daerah lainnya, serta elemen masyarakat, segera bergerak melakukan koordinasi dan penanganan di lapangan. Tim gabungan langsung membentuk posko tanggap darurat dan melakukan asesmen cepat terhadap kondisi di lokasi terdampak.

Upaya penanganan darurat yang dilakukan meliputi:

  • Kaji Cepat (Rapid Assessment): Tim melakukan penilaian cepat untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan, jumlah korban, dan kebutuhan mendesak di setiap lokasi terdampak.
  • Pendataan Korban dan Kerusakan: Petugas secara sistematis mendata jumlah warga yang terdampak, rumah yang rusak, serta aset publik yang mengalami kerusakan.
  • Langkah Penanganan Darurat: Prioritas diberikan pada upaya penyelamatan jiwa, evakuasi warga yang terisolasi, dan penyediaan kebutuhan dasar bagi pengungsi.
  • Koordinasi Lintas Sektoral: Koordinasi intensif dilakukan dengan camat, kepala desa, personel TNI-Polri, serta dinas-dinas terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Dinas Sosial. Tujuannya adalah memastikan penanganan berjalan sinergis dan efektif sesuai dengan kewenangan masing-masing instansi.

Kebutuhan Mendesak dan Dukungan Logistik

Berdasarkan hasil asesmen awal, beberapa kebutuhan mendesak yang teridentifikasi meliputi:

  • Bantuan Tanggap Darurat: Paket sembako, air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan sanitasi menjadi prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban.
  • Logistik dan Peralatan: Peralatan kebersihan, selimut, pakaian layak pakai, serta perlengkapan bayi dan balita juga sangat dibutuhkan.
  • Alat Berat: Ketersediaan alat berat, khususnya excavator, sangat krusial untuk membantu proses pembersihan sedimen dan material lumpur yang menumpuk di jembatan limpas Desa Sai, Kecamatan Soromandi. Alat berat ini juga diperlukan untuk membersihkan material longsoran yang mungkin terjadi di area lain.

Kondisi Pascabanjir dan Imbauan Kewaspadaan

Saat ini, dilaporkan bahwa kondisi banjir di sebagian besar wilayah terdampak telah berangsur surut. Warga yang rumahnya terendam mulai kembali ke kediaman mereka dan secara mandiri melakukan upaya pembersihan sisa lumpur dan puing-puing yang ditinggalkan oleh banjir.

Meskipun banjir telah surut, BPBD Provinsi NTB tetap menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi. Wilayah Nusa Tenggara Barat, termasuk Kabupaten Bima, diketahui masih berada dalam periode musim hujan. Bahkan, sebagian daerah diprediksi akan memasuki puncak musim hujan pada dasarian ketiga bulan Maret 2026 ini.

Prakiraan cuaca menunjukkan bahwa peluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi masih cukup besar di sebagian wilayah NTB. Fenomena ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi susulan, seperti banjir bandang, angin puting beliung, tanah longsor, dan berbagai jenis bencana alam lainnya.

Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk:

  • Tetap Waspada: Memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG dan BPBD.
  • Siaga Bencana: Menyiapkan diri dan keluarga dalam menghadapi potensi bencana, termasuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisi perlengkapan penting.
  • Melaporkan Kejadian Darurat: Segera melaporkan setiap kejadian darurat atau tanda-tanda awal bencana kepada pihak berwenang terdekat, seperti pemerintah desa, aparat desa, atau langsung ke BPBD, agar penanganan cepat dan tepat dapat dilakukan.

Konteks Bencana Hidrometeorologi di NTB

Kabupaten Bima dan wilayah NTB pada umumnya memang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Topografi daerah yang sebagian besar berbukit dan memiliki banyak aliran sungai, dikombinasikan dengan curah hujan yang tinggi selama musim hujan, menciptakan kondisi yang kondusif bagi terjadinya banjir dan longsor.

Insiden banjir di hari raya Idulfitri ini kembali mengingatkan pentingnya mitigasi bencana yang berkelanjutan. Upaya-upaya seperti normalisasi sungai, pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang memadai, reboisasi di daerah hulu, serta peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak bencana di masa depan. Keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat, sangat dibutuhkan untuk membangun ketahanan bencana yang lebih kuat di NTB.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *