Selong, Lombok Timur – Upaya nyata untuk membangun kemandirian pangan dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga tengah digalakkan di Dusun Dasan Tinggi, Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Inisiatif ini diinisiasi oleh dosen dan mahasiswa STMIK Lombok melalui program pengabdian masyarakat bertajuk "Penguatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Pertanian Pekarangan Rumah." Program ini secara khusus menyasar para ibu rumah tangga dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan yang selama ini cenderung terbengkalai, mengubahnya menjadi sumber pangan produktif sekaligus penopang ekonomi keluarga.

Ketua Tim Pengabdian, Mardi, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap kerentanan ekonomi yang dihadapi sebagian besar masyarakat di Dusun Dasan Tinggi. "Kami melihat potensi besar pada lahan-lahan pekarangan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui program ini, kami ingin mentransformasi lahan kosong menjadi lumbung pangan yang mampu menekan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan pokok, sekaligus meningkatkan kualitas gizi keluarga," ujar Mardi pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Program ini merupakan bagian integral dari skema "Program Pengabdian kepada Masyarakat Reguler dengan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat" yang mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pengajuan proposal program ini dilakukan pada tahun 2025 dan mulai diimplementasikan pada tahun 2026. Dengan dukungan dari Kemendikti Saintek, program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang seringkali menghadapi tantangan ganda terkait ekonomi dan ketahanan pangan.

Pemberdayaan Perempuan Melalui Keterampilan Praktis

Fokus utama program ini adalah pemberdayaan ibu rumah tangga sebagai garda terdepan dalam pengelolaan rumah tangga. Melalui pendekatan "learning by doing" atau belajar sambil praktik, para ibu rumah tangga dibekali dengan serangkaian keterampilan praktis yang esensial. Keterampilan tersebut mencakup pencatatan keuangan sederhana untuk manajemen anggaran keluarga yang lebih baik, teknik budidaya sayuran yang efisien menggunakan polybag dan sistem vertikultur, serta cara mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos bernutrisi. Pendekatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas mereka dalam mengelola sumber daya keluarga secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan kesadaran kritis mengenai pentingnya kemandirian pangan dan ekonomi di tingkat rumah tangga.

Rangkaian kegiatan pelatihan intensif telah dilaksanakan selama periode Mei hingga Juni 2026 di Dusun Dasan Tinggi. Empat pilar utama pelatihan yang diusung meliputi: manajemen keuangan keluarga, budidaya sayuran di pekarangan, pengolahan sampah organik menjadi kompos, dan dasar-dasar kewirausahaan mikro berbasis rumah tangga. Pemilihan keempat tema ini didasarkan pada hasil identifikasi mendalam yang dilakukan melalui survei lapangan komprehensif serta wawancara langsung dengan perangkat desa dan warga setempat. Tujuannya adalah memastikan bahwa materi yang disampaikan benar-benar relevan dan menjawab kebutuhan konkret para mitra sasaran.

Mardi menekankan bahwa metode pelatihan yang diterapkan bersifat partisipatif dan sangat aplikatif. "Peserta tidak hanya pasif menerima materi teoritis, tetapi mereka secara aktif terlibat dalam praktik langsung. Mulai dari menanam bibit di polybag, merakit sistem vertikultur sederhana menggunakan bahan-bahan daur ulang, hingga mempraktikkan metode pembuatan kompos Takakura yang dikenal mudah dan hemat biaya. Kami ingin memastikan bahwa setiap peserta benar-benar menguasai dan mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diberikan dalam kehidupan sehari-hari mereka," jelas Mardi.

Konteks Sosial-Ekonomi Dusun Dasan Tinggi

Kondisi sosial-ekonomi Dusun Dasan Tinggi memberikan gambaran yang jelas mengenai urgensi program pengabdian ini. Berdasarkan keterangan Kepala Dusun setempat, Bapak Hapni, Dusun Dasan Tinggi memiliki total 212 Kepala Keluarga (KK). Mayoritas dari jumlah tersebut teridentifikasi sebagai penerima bantuan sosial reguler dari pemerintah, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Status penerima bantuan sosial ini mengindikasikan tingkat kerentanan ekonomi yang cukup tinggi di kalangan masyarakat, yang secara langsung berdampak pada stabilitas ketahanan pangan keluarga mereka.

Hasil survei lapangan yang dilakukan oleh tim pengabdian menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran harian keluarga untuk kebutuhan sayur dan lauk-pauk berkisar antara Rp25.000 hingga Rp100.000. Sementara itu, pendapatan para suami yang mayoritas berprofesi sebagai buruh tani cenderung tidak stabil dan sangat bergantung pada siklus musim tanam. Situasi ekonomi yang rentan ini diperparah dengan tingkat literasi keuangan yang masih rendah di kalangan ibu rumah tangga. Akibatnya, banyak keluarga kesulitan mengalokasikan pendapatan mereka yang terbatas secara efektif untuk memenuhi kebutuhan pokok prioritas.

Menyikapi tantangan ini, program pengabdian secara proaktif melatih para ibu rumah tangga untuk menyusun pencatatan keuangan sederhana. Mereka diajarkan cara membuat anggaran prioritas, menghitung potensi penghematan yang bisa dicapai melalui kegiatan berkebun mandiri, serta memahami risiko dan dampak negatif dari utang konsumtif yang berbunga tinggi. Edukasi ini bertujuan agar para ibu rumah tangga dapat mengelola keuangan keluarga dengan lebih bijak, terhindar dari jerat pinjaman yang memberatkan, dan mulai membangun kebiasaan menabung.

Dosen STMIK Lombok Bina Ibu-Ibu Rumah Tangga Optimalkan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan Keluarga

Transformasi Pekarangan Menjadi Sumber Pangan dan Penghematan

Perubahan visual yang signifikan mulai terlihat di Dusun Dasan Tinggi. Lahan-lahan pekarangan yang sebelumnya kosong atau kurang terawat kini mulai dihiasi dengan berbagai jenis sayuran yang cepat panen. Kangkung, bayam, pakcoy, bawang, tomat, cabai rawit, dan beragam sayuran lainnya ditanam dengan memanfaatkan polybag dan sistem vertikultur yang memanfaatkan barang bekas. Optimalisasi lahan pekarangan ini tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi yang terpenting, menyediakan sumber pangan segar yang mudah diakses oleh keluarga.

Salah seorang peserta program, Menah, mengungkapkan kegembiraannya atas manfaat yang dirasakan. "Saya baru menyadari betapa sia-sianya pekarangan rumah saya selama ini. Setelah mengikuti pelatihan, saya sekarang bisa menanam sayuran sendiri. Hasil panennya langsung bisa dikonsumsi, dan ini sangat membantu menghemat pengeluaran belanja dapur," ujarnya dengan antusiasme tinggi.

Selama masa pendampingan intensif yang dijadwalkan setiap dua minggu sekali, tim dosen dan mahasiswa STMIK Lombok secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi. Kegiatan ini mencakup pemantauan perkembangan pertumbuhan tanaman, evaluasi pencatatan keuangan yang dibuat oleh peserta, serta pemberian dukungan teknis langsung terkait praktik budidaya dan pengomposan. Pendekatan pendampingan yang komprehensif ini tidak hanya bertujuan untuk memastikan keberhasilan teknis di lapangan, tetapi juga untuk membangun rasa percaya diri para ibu rumah tangga dalam mengelola pekarangan dan keuangan keluarga mereka secara mandiri. Sesi pendampingan juga menjadi momen berharga untuk bertukar pengalaman antarpeserta dan mencari solusi bersama atas kendala yang mungkin dihadapi.

Hasil awal dari program ini menunjukkan progres yang menggembirakan. Sebagian besar peserta kini telah mampu membuat pencatatan keuangan sederhana dan secara aktif mempraktikkan budidaya sayuran di pekarangan masing-masing. Beberapa peserta bahkan telah menikmati hasil panen perdana dan merasakan langsung manfaat ekonomi yang signifikan dari kegiatan berkebun. Jika program ini mencapai tingkat optimalisasi yang diharapkan, diperkirakan setiap keluarga dapat menghemat pengeluaran belanja sayuran bulanan hingga 30-50 persen. Lebih jauh lagi, program ini berpotensi secara bertahap mengurangi ketergantungan keluarga pada pinjaman informal atau utang yang berisiko tinggi.

"Saya sangat berharap program ini tidak hanya mampu meningkatkan ketahanan pangan keluarga, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan kemandirian ekonomi yang kokoh. Para ibu rumah tangga yang sebelumnya mungkin memiliki aktivitas terbatas, kini memiliki keterampilan dan kesibukan baru yang sangat bermanfaat. Mereka menjadi lebih percaya diri karena merasa mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian keluarga," tambah Mardi.

Membentuk Kelompok Produktif untuk Keberlanjutan Program

Lebih dari sekadar pencapaian teknis di lapangan, tim pelaksana program bersama perwakilan Pemerintah Desa Sambelia, khususnya Kepala Dusun, memiliki rencana strategis jangka panjang. Mereka berencana membentuk sebuah kelompok ibu rumah tangga produktif yang akan menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan pertanian pekarangan dan manajemen keuangan keluarga di wilayah tersebut. Kelompok ini akan berfungsi sebagai wadah kolaboratif bagi para ibu untuk bertukar pengalaman, berbagi bibit tanaman dan hasil panen, serta berpotensi mengembangkan usaha bersama di masa depan.

"Pembentukan kelompok ini akan difokuskan pada pengelolaan kebun pekarangan yang lebih terorganisir, peningkatan kualitas produksi kompos, serta penguatan literasi keuangan secara berkelanjutan. Kami berupaya menciptakan sebuah ekosistem pemberdayaan yang adaptif dan mampu bertahan lama, di mana para ibu tidak hanya merasakan manfaat selama periode program berlangsung, tetapi juga memiliki kapasitas untuk melanjutkan dan mengembangkan inisiatif ini secara mandiri setelah program berakhir," jelas Mardi.

Sinergi yang terjalin antara institusi pendidikan tinggi, masyarakat lokal, dan pemerintah desa telah berhasil menciptakan ekosistem pemberdayaan yang responsif terhadap kebutuhan spesifik masyarakat setempat dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) yang efektif, para ibu rumah tangga tidak lagi diposisikan sebagai penerima pasif, melainkan sebagai agen perubahan aktif dalam upaya penguatan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. Program ini diharapkan dapat menjadi prototipe model pemberdayaan yang relevan dan dapat direplikasi di dusun-dusun lain di Kabupaten Lombok Timur, mengingat potensi lahan pekarangan yang masih sangat besar untuk digali dan dioptimalkan.

"Tujuan akhir kami adalah untuk melahirkan keluarga-keluarga yang benar-benar mandiri, baik dari sisi pangan maupun keuangan. Kami juga menargetkan untuk dapat mengurangi angka migrasi kerja perempuan yang seringkali dipicu oleh tekanan ekonomi yang berat. Dengan pekarangan yang produktif dan pengelolaan keuangan yang cerdas, para ibu di Dusun Dasan Tinggi diharapkan tidak perlu lagi meninggalkan anak dan keluarga mereka demi mencari nafkah di tempat lain akibat terlilit utang. Mereka bisa tetap berada di rumah, merawat anak, sambil memberikan kontribusi positif bagi perekonomian keluarga," pungkas Mardi.

Program pengabdian masyarakat ini menjadi bukti nyata kontribusi penting yang dapat diberikan oleh perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Dengan dukungan berkelanjutan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, program ini memiliki potensi besar untuk turut serta dalam pencapaian target-target pembangunan nasional, khususnya dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *