PRAYA – Sebuah insiden kebakaran yang memilukan terjadi di kawasan Rumah Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, malam. Api yang berkobar hebat dilaporkan menghanguskan puluhan, bahkan diperkirakan lebih dari seratus bangunan tradisional dan rumah penduduk. Peristiwa tragis ini tidak hanya merenggut aset fisik, tetapi juga mengancam warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Lombok Tengah.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Lombok Tengah, Supardan Kenah, dalam pendataan awal mengonfirmasi bahwa sedikitnya 89 unit rumah adat teridentifikasi terbakar. Selain itu, sekitar 30 unit rumah penduduk lainnya juga dilaporkan terdampak parah. Dengan demikian, total bangunan yang mengalami kerusakan akibat amukan si jago merah ini diperkirakan mencapai angka 119 unit. Supardan menambahkan bahwa rincian jumlah unit yang terdampak ini masih dalam proses mitigasi dan pendataan lebih lanjut untuk mendapatkan angka yang lebih akurat.

Kronologi Peristiwa dan Upaya Pemadaman yang Intensif

Kebakaran dilaporkan bermula pada Sabtu, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 20.30 WITA. Api yang diduga berasal dari salah satu titik di kawasan rumah adat dengan cepat menyebar, dipicu oleh material bangunan tradisional yang mudah terbakar dan kondisi angin saat itu. Dalam hitungan jam, kobaran api telah melahap sebagian besar permukiman tradisional yang menjadi ikon pariwisata budaya Lombok Tengah.

Menyadari skala bencana, upaya pemadaman segera dikerahkan. Penanganan kebakaran ini melibatkan kolaborasi lintas instansi dan wilayah. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Provinsi NTB, Damkartan Lombok Tengah, serta unit pemadam kebakaran dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur segera bergerak menuju lokasi kejadian. BPBD Lombok Tengah juga turut serta dengan menyuplai air untuk mendukung proses pemadaman yang berlangsung sengit.

Selain personel pemadam kebakaran, aparat keamanan dari TNI dan Polri, Bhabinkamtibmas, serta para tokoh dan aparat desa juga bahu-membahu di garis depan, membantu mengevakuasi warga dan mengamankan lokasi. Khususnya, Kodim 1620/Lombok Tengah menerjunkan satu Satuan Setingkat Peleton (SST) untuk memperkuat upaya pemadaman yang dimulai sejak malam kejadian hingga proses pembersihan puing-puing pascakebakaran. Puluhan personel TNI ini bersama dengan warga secara gotong royong memilah puing-puing sisa kebakaran dan mengevakuasi barang-barang milik warga yang masih bisa diselamatkan.

Komandan Kodim 1620/Loteng, Letkol Arh Mohamad Arifin, menyatakan bahwa kehadiran personel Kodim di tengah masyarakat merupakan bentuk kepedulian dan dukungan moral. "Kehadiran personel Kodim 1620/Loteng di tengah warga ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan kejadian kebakaran hingga sekaligus meringankan beban masyarakat yang terdampak musibah pascakebakaran," ujarnya, menekankan pentingnya sinergi dalam menghadapi bencana.

Api akhirnya berhasil dipadamkan setelah perjuangan keras yang melibatkan ratusan personel dan berbagai armada pemadam kebakaran. Namun, skala kerusakan yang ditimbulkan sangat memprihatinkan.

Penyebab Masih Misteri, Penyelidikan Menjadi Prioritas

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti dari kebakaran hebat yang melanda Rumah Adat Sade masih belum dapat dipastikan. Kepala Damkartan Lombok Tengah, Supardan Kenah, secara tegas meminta agar persoalan penyebab kebakaran ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk dilakukan investigasi mendalam.

"Penyebab belum bisa dipastikan. Mohon masalah penyebab pelungguh (serahkan) ke pihak kepolisian," tegas Supardan, mengindikasikan bahwa penyelidikan forensik akan segera dilakukan untuk mengungkap akar permasalahan dari tragedi ini. Pihak kepolisian diharapkan dapat segera memberikan titik terang mengenai penyebab kebakaran agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Total 89 Rumah Adat Sade dan 30 Rumah Penduduk Terbakar, Penyebab Diselidiki

Dampak Luas: Kerugian Materiil, Budaya, dan Kebutuhan Mendesak

Kebakaran ini menimbulkan kerugian materiil yang diperkirakan sangat besar. Data pasti mengenai nilai kerugian masih dalam proses perhitungan oleh pihak berwenang, namun dengan ratusan bangunan yang hangus, nilai kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Hilangnya rumah adat dan rumah penduduk berarti hilangnya pula sebagian besar aset berharga, termasuk perabotan rumah tangga, peralatan kerja, dan benda-benda bersejarah yang dimiliki oleh warga.

Lebih dari sekadar kerugian materiil, kebakaran ini juga menjadi pukulan telak bagi pelestarian warisan budaya. Rumah Adat Sade bukan hanya sekadar bangunan fisik, melainkan merupakan cerminan dari tradisi, nilai-nilai leluhur, dan identitas masyarakat Sasak. Kehilangan sebagian besar bangunan di kawasan ini berarti ancaman terhadap kelangsungan budaya yang telah dijaga turun-temurun.

Menyikapi kondisi darurat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Tengah telah mengambil langkah cepat dengan mendirikan tenda pengungsian bagi para korban kebakaran yang kehilangan tempat tinggal. Berdasarkan laporan dari BPBD Provinsi NTB, kebutuhan mendesak yang paling dibutuhkan saat ini adalah tenda pengungsi, serta kebutuhan dasar lainnya seperti makanan, air bersih, pakaian, dan perlengkapan sanitasi. Bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat umum, sangat diharapkan untuk meringankan beban para korban.

Rumah Adat Sade: Jantung Budaya dan Pariwisata Lombok Tengah

Rumah Adat Sade merupakan salah satu permukiman tradisional yang paling ikonik di Lombok Tengah. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat adat Sasak, tetapi juga merupakan destinasi wisata budaya yang sangat penting. Dengan arsitektur khasnya yang terbuat dari material alam, rumah adat ini menawarkan pengalaman unik bagi para pengunjung untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat Sasak.

Setiap tahun, Rumah Adat Sade menarik ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan keindahan arsitektur tradisional, kerajinan tangan khas, serta tarian dan ritual adat yang masih lestari. Kebakaran yang terjadi ini tentu saja berdampak besar pada sektor pariwisata di Lombok Tengah, setidaknya dalam jangka pendek, karena sebagian besar kawasan yang menjadi daya tarik utama kini mengalami kerusakan.

Langkah Selanjutnya dan Harapan untuk Pemulihan

Saat ini, fokus penanganan pascakebakaran diarahkan pada beberapa aspek krusial. Pertama, pendataan dampak kebakaran yang lebih detail dan akurat untuk menjadi dasar perencanaan pemulihan. Kedua, pembersihan lokasi secara menyeluruh dari puing-puing sisa kebakaran untuk menciptakan kembali lingkungan yang aman dan layak huni. Ketiga, penanganan terhadap warga yang terdampak, meliputi penyediaan hunian sementara, bantuan logistik, serta dukungan psikososial.

Pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait diharapkan dapat segera menyusun langkah-langkah konkret untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan Rumah Adat Sade. Upaya pemulihan tidak hanya sebatas membangun kembali bangunan fisik, tetapi juga revitalisasi budaya dan ekonomi masyarakat yang terdampak. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para ahli pelestarian budaya akan menjadi kunci utama dalam mengembalikan kejayaan Rumah Adat Sade sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.

Peristiwa kebakaran di Rumah Adat Sade ini menjadi pengingat penting akan kerapuhan bangunan tradisional dan pentingnya upaya mitigasi bencana serta pelestarian warisan budaya. Dukungan dan kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu para korban bangkit kembali dan membangun kembali rumah serta masa depan mereka di tengah sisa-sisa puing yang menyakitkan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *