PRAYA – Sebuah insiden kebakaran memilukan melanda salah satu rumah adat Sasak di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada Ahad (23/8/2026) dini hari. Api yang berkobar di tengah kegelapan malam dengan cepat melalap struktur bangunan tradisional yang sarat nilai sejarah dan budaya. Peristiwa ini sontak menarik perhatian berbagai pihak, termasuk jajaran petinggi daerah. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Barat (NTB) Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, S.E., M.H., bersama dengan Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal, turun langsung ke lokasi kejadian sekitar pukul 01.00 Wita, menunjukkan respons cepat pemerintah terhadap musibah yang menimpa salah satu ikon kebudayaan daerah tersebut. Kedatangan Kapolda dan Gubernur NTB di tengah malam yang masih diselimuti sisa-sisa asap kebakaran bukan sekadar kunjungan seremonial. Keduanya meninjau secara saksama kondisi bangunan rumah adat yang hangus dan area sekitar yang terdampak. Peninjauan ini dilakukan dengan tujuan ganda: pertama, untuk melihat langsung sejauh mana dampak insiden tragis ini terhadap situs budaya yang berharga; kedua, untuk memastikan bahwa situasi keamanan dan ketertiban di kawasan wisata Desa Adat Sade tetap aman dan terkendali pascakebakaran. Kehadiran mereka di lokasi menjadi simbol komitmen pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dalam menghadapi bencana, sekaligus memberikan dukungan moral kepada masyarakat yang terdampak. Kronologi Kejadian: Api Membakar Warisan Budaya Meskipun detail pasti mengenai penyebab dan awal mula api masih dalam penyelidikan, laporan awal menyebutkan bahwa kebakaran terjadi pada dini hari. Warga sekitar, yang terbangun oleh kobaran api dan kepulan asap, segera berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Desa Adat Sasak Sade, dengan struktur rumah adatnya yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti dinding bambu atau kayu, atap ilalang, dan lantai tanah liat, memang memiliki kerentanan tinggi terhadap bahaya kebakaran. Bahan-bahan ini, meskipun memberikan nuansa otentik dan sejuk, juga sangat mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api. Petugas pemadam kebakaran dari Kabupaten Lombok Tengah dan unit-unit bantuan dari kota-kota terdekat segera dikerahkan ke lokasi. Mereka berjibaku memadamkan api yang melahap rumah adat tersebut. Upaya pemadaman berlangsung intensif di tengah kepanikan warga dan keterbatasan akses di desa tradisional. Kehadiran aparat TNI-Polri juga sangat vital dalam mengamankan lokasi, mengatur lalu lintas, dan membantu proses evakuasi jika diperlukan. Pada saat Gubernur NTB Lalu Iqbal tiba di lokasi, ia masih mendapati petugas pemadam kebakaran, aparat TNI-Polri, dan warga masih berjuang menghadapi sisa-sisa kobaran api, sebuah gambaran nyata tentang urgensi situasi. Meskipun satu rumah adat dilaporkan hangus, tindakan cepat dari berbagai pihak berhasil mencegah api menyebar ke rumah-rumah adat lainnya yang berdekatan, yang jika terjadi akan menimbulkan kerugian budaya dan material yang jauh lebih besar. Mengenal Desa Adat Sasak Sade: Jantung Budaya Lombok Desa Adat Sasak Sade bukan sekadar perkampungan biasa; ia adalah salah satu permata budaya di Lombok Tengah yang dikenal luas sebagai destinasi wisata budaya unggulan. Desa ini menawarkan pengalaman otentik bagi pengunjung untuk menyelami kehidupan suku Sasak, suku asli Pulau Lombok. Di Sade, puluhan rumah adat Sasak berdiri kokoh dengan arsitektur khas yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Setiap rumah, yang dikenal dengan sebutan "bale", memiliki makna filosofis dan sosial yang mendalam, mencerminkan kearifan lokal dalam membangun dan beradaptasi dengan lingkungan. Selain arsitektur rumahnya yang unik, Desa Sade juga terkenal dengan tradisi menenun kain tenun ikat yang dilakukan oleh kaum perempuan. Proses menenun yang rumit dan motif-motif tradisional yang kaya makna menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberadaan desa ini tidak hanya menjadi daya tarik turis, tetapi juga sumber penghidupan utama bagi sebagian besar penduduknya yang bergerak di sektor pariwisata, kerajinan tangan, dan pertanian tradisional. Oleh karena itu, kebakaran yang menimpa salah satu rumah adat ini bukan hanya kerugian material, melainkan juga pukulan terhadap warisan budaya dan ekonomi masyarakat setempat. Setiap tahunnya, Desa Sade menarik puluhan ribu pengunjung, memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal dan citra pariwisata NTB. Kerusakan pada salah satu bagian vital desa ini berpotensi menimbulkan dampak domino yang perlu segera diantisipasi. Prioritas Penanganan: Keselamatan dan Kesejahteraan Warga Terdampak Kapolda NTB Irjen Kalingga Rendra Raharja menegaskan bahwa kepolisian siap mendukung penuh penanganan pascakejadian. "Kami bersama Gubernur NTB, datang untuk melihat langsung kondisi rumah adat yang terdampak kebakaran, serta memastikan situasi di sekitar lokasi tetap aman," ungkap Irjen Kalingga. Pihaknya akan berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan proses penanganan selanjutnya berjalan lancar, termasuk pengamanan lokasi dan potensi penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran. Kapolda juga berharap kejadian ini tidak mengganggu aktivitas masyarakat maupun kunjungan wisatawan ke Desa Adat Sade, seraya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan bersama-sama menjaga keamanan serta lingkungan di kawasan tersebut. Ini menunjukkan perhatian pada aspek keamanan jangka pendek dan keberlangsungan aktivitas normal. Sementara itu, Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal, yang baru saja bertolak dari mengunjungi lokasi gempa di wilayah NTB lainnya, menunjukkan fokus yang kuat pada aspek kemanusiaan dan kesejahteraan warga. Berada di tengah-tengah petugas dan warga yang masih berjibaku, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas pertama dalam penanganan musibah. "Yang paling penting saat ini adalah bagaimana seluruh masyarakat dan warga dalam keadaan selamat," ucapnya dengan nada prihatin namun tegas. Gubernur Iqbal menekankan bahwa penanganan warga tidak boleh berhenti pada penyediaan tempat pengungsian. Pemerintah harus segera memastikan seluruh kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, termasuk sandang, pangan, serta rasa aman bagi keluarga yang rumahnya terdampak kebakaran. "Yang pertama sekarang dan harus cepat adalah bagaimana kebutuhan dan rasa aman masyarakat yang rumahnya terbakar kita perhatikan. Kebutuhan sandang, pangan, dan aktivitas sosial ekonomi mereka harus kita pastikan," tambahnya. Lebih lanjut, beliau juga menyoroti pentingnya menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak yang terdampak. "Anak-anak kita pastikan pendidikannya tidak terganggu," imbuhnya, menunjukkan perhatian holistik terhadap dampak sosial kebakaran. Prioritas ini mencerminkan pengalaman Iqbal dalam menghadapi bencana sebelumnya, di mana pemulihan psikososial dan keberlangsungan hidup menjadi kunci. Langkah-Langkah Pemulihan dan Rekonstruksi Untuk langkah selanjutnya, Gubernur Iqbal mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Bupati Lombok Tengah dan seluruh pihak terkait, untuk menyusun langkah penanganan yang cepat dan tepat. Ini termasuk rencana pemulihan serta rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade. "Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kita pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade," pungkasnya. Proses rekonstruksi rumah adat tidaklah sederhana. Dibutuhkan keahlian khusus dan pemahaman mendalam tentang arsitektur tradisional Sasak, serta penggunaan material-material lokal yang sesuai agar keaslian dan nilai budaya bangunan tetap terjaga. Ini akan melibatkan tidak hanya pemerintah, tetapi juga tetua adat, seniman lokal, dan masyarakat desa itu sendiri. Bupati Lombok Tengah, yang belum memberikan pernyataan resmi pada saat berita ini diturunkan, diperkirakan akan segera merespons dan membentuk tim khusus untuk menangani aspek teknis dan finansial rekonstruksi. Sumber daya dari APBD, APBN melalui Kementerian terkait (seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), serta potensi bantuan dari organisasi non-pemerintah dan donatur diharapkan dapat dikonsolidasikan untuk upaya pemulihan ini. Proses ini akan memerlukan perencanaan yang matang, termasuk survei kerusakan, estimasi biaya, dan jadwal pelaksanaan yang realistis. Selain itu, aspek pendanaan untuk membantu keluarga yang kehilangan tempat tinggal juga menjadi prioritas. Program bantuan langsung, penyediaan hunian sementara, dan dukungan mata pencaharian akan menjadi bagian integral dari strategi pemulihan. Implikasi Lebih Luas: Tantangan Pelestarian Budaya dan Pencegahan Bencana Kebakaran di Desa Adat Sasak Sade ini tidak hanya menjadi insiden lokal, melainkan juga sorotan nasional dan internasional terhadap kerentanan situs warisan budaya. Implikasi dari kejadian ini meluas pada beberapa aspek penting: Kerugian Budaya yang Tidak Ternilai: Setiap rumah adat di Sade adalah artefak hidup yang menyimpan sejarah, kearifan lokal, dan identitas suku Sasak. Kehilangan satu unit saja merupakan kerugian yang tidak dapat diganti sepenuhnya, meskipun dapat direkonstruksi. Proses rekonstruksi harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mempertahankan otentisitas dan nilai-nilai spiritual yang melekat pada bangunan. Dampak Ekonomi Pariwisata: Meskipun kunjungan wisatawan diharapkan tidak terganggu secara signifikan, insiden semacam ini dapat menimbulkan kekhawatiran dan berpotensi mempengaruhi citra pariwisata. Pemulihan yang cepat dan transparan akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan wisatawan dan operator tur. Tantangan Pencegahan Kebakaran: Insiden ini menggarisbawahi urgensi peningkatan sistem pencegahan kebakaran di desa-desa adat dan permukiman tradisional lainnya yang menggunakan bahan bangunan mudah terbakar. Ini bisa mencakup instalasi listrik yang lebih aman, edukasi masyarakat tentang bahaya api, penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) di setiap rumah, serta pelatihan evakuasi dan penanganan darurat. Pemasangan detektor asap atau sistem pemadam kebakaran sederhana yang tidak merusak estetika dan integritas budaya juga perlu dipertimbangkan. Kebutuhan Kolaborasi Multisektor: Penanganan pascakebakaran dan upaya pelestarian budaya memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, organisasi pelestarian budaya, akademisi, dan sektor swasta. Setiap pihak memiliki peran krusial dalam memastikan Desa Adat Sade tetap lestari dan aman dari ancaman serupa di masa depan. Penguatan Ketahanan Komunitas: Bencana seringkali menguji ketahanan sosial sebuah komunitas. Insiden ini dapat menjadi katalisator bagi masyarakat Sade untuk lebih memperkuat solidaritas, mengembangkan strategi mitigasi risiko bersama, dan membangun kembali dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas budaya Sasak. Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Tengah kini dihadapkan pada tugas berat untuk tidak hanya memulihkan kerusakan fisik, tetapi juga untuk merajut kembali semangat dan keyakinan masyarakat Desa Adat Sade. Insiden ini harus menjadi pelajaran berharga untuk mengintegrasikan aspek pelestarian budaya dengan manajemen risiko bencana secara komprehensif, demi menjaga warisan tak benda yang tak ternilai harganya bagi generasi mendatang. Dengan penanganan yang cepat, terkoordinasi, dan berbasis partisipasi masyarakat, diharapkan Desa Adat Sasak Sade dapat bangkit kembali, bahkan lebih kuat dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Seruan untuk ketenangan dan kerjasama dari Kapolda, serta fokus pada kesejahteraan dan rekonstruksi dari Gubernur, menjadi fondasi kuat bagi upaya pemulihan ini. Post navigation Kelangkaan dan Dugaan Penyelewengan BBM Subsidi di Praya Barat Daya Memicu Protes Warga