GIRI MENANG – Dalam sebuah langkah strategis yang menegaskan komitmen Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, S.E., M.H., melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB, Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag. Pertemuan yang berlangsung pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, di kawasan BTN Geriya Praja Asri, Desa Jatisela, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara aparat keamanan dan tokoh agama dalam merawat kedamaian di Bumi Gora. Kunjungan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini dimulai sekitar pukul 23.00 Wita dan menjadi bukti nyata dari pendekatan humanis serta proaktif Polri dalam membangun sinergi dengan berbagai elemen masyarakat, khususnya para ulama yang memiliki pengaruh besar di tengah-tengah umat. Kronologi Kunjungan Kapolda NTB ke Kediaman Ketua PWNU NTB Malam yang tenang di Desa Jatisela, Gunungsari, Lombok Barat, menjadi saksi bisu dari sebuah pertemuan penting yang digagas oleh pimpinan tertinggi Polda NTB. Tepat pada pukul 23.00 Wita, rombongan Kapolda NTB, Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, tiba di kediaman Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., yang juga merupakan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Kedatangan Irjen Kalingga tidak sendiri, ia didampingi oleh beberapa pejabat utama Polda NTB dan jajaran kepolisian setempat, menunjukkan keseriusan dan bobot dari agenda silaturahmi ini. Terlihat mendampingi Kapolda adalah Direktur Intelkam Polda NTB Kombes Pol Budi Wahyono, S.I.K., Wakasat Intelkam Polresta Mataram Iptu Gunarto, serta Kapolsek Gunungsari AKP Imran Rosyadi, S.H. Kehadiran para pejabat ini mengindikasikan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan memiliki dimensi strategis terkait upaya pemeliharaan kamtibmas. Prof. Masnun menyambut langsung kedatangan rombongan Kapolda dengan hangat, menciptakan suasana yang santai namun tetap sarat makna. Obrolan ringan segera mengalir, mencairkan suasana dan membangun jembatan komunikasi yang lebih personal. Pembicaraan utama dalam pertemuan tersebut berfokus pada dinamika situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di seluruh wilayah hukum Polda NTB. Irjen Kalingga secara langsung mendengarkan pandangan dan masukan dari Prof. Masnun mengenai berbagai aspek yang mempengaruhi stabilitas sosial di daerah. Diskusi ini juga menjadi platform untuk menguatkan komunikasi dua arah antara institusi kepolisian dan para tokoh agama, sebuah elemen krusial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Pertemuan berharga ini berlangsung hingga sekitar pukul 23.50 Wita, menandai hampir satu jam penuh dialog dan pertukaran gagasan yang konstruktif. Seluruh rangkaian silaturahmi kamtibmas ini dilaporkan berjalan aman, lancar, dan penuh keakraban, meninggalkan kesan positif bagi kedua belah pihak. Latar Belakang dan Pentingnya Peran Tokoh Agama dalam Kamtibmas Kunjungan Kapolda NTB kepada Ketua PWNU NTB bukan sekadar acara seremonial, melainkan merupakan refleksi dari pemahaman mendalam Polri akan peran sentral tokoh agama dalam menjaga harmoni sosial. Nusa Tenggara Barat, sebagai salah satu provinsi di Indonesia, memiliki komposisi demografi yang kaya dengan keberagaman suku, budaya, dan agama. Mayoritas penduduknya beragama Islam, dan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi massa Islam terbesar yang memiliki akar kuat dan jaringan luas hingga ke pelosok desa. Oleh karena itu, sosok Ketua PWNU NTB seperti Prof. Masnun Tahir memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk opini publik dan mengarahkan perilaku sosial umat. Dalam konteks keamanan, tokoh agama seringkali menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pesan-pesan perdamaian, toleransi, dan anti-kekerasan. Mereka memiliki kapasitas untuk menenangkan situasi yang memanas, meluruskan informasi yang salah, serta menjadi penengah dalam konflik sosial. Keterlibatan aktif tokoh agama dalam upaya pemeliharaan kamtibmas sejalan dengan konsep "community policing" yang diusung oleh Polri, di mana keamanan adalah tanggung jawab bersama antara aparat dan masyarakat. Dengan membangun komunikasi yang efektif dan kolaborasi yang erat, potensi-potensi konflik yang mungkin muncul di tengah masyarakat dapat diidentifikasi lebih awal dan diatasi secara preventif. Selain itu, NTB juga merupakan destinasi pariwisata super prioritas, terutama dengan keberadaan Sirkuit Mandalika dan berbagai objek wisata alam lainnya. Stabilitas kamtibmas menjadi prasyarat mutlak untuk mendukung sektor pariwisata yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian daerah. Isu-isu seperti radikalisme, intoleransi, narkoba, hingga kejahatan konvensional dapat dengan cepat mengikis kepercayaan wisatawan dan investor. Oleh karena itu, sinergi antara aparat keamanan dan tokoh agama menjadi sangat vital dalam menciptakan citra NTB sebagai daerah yang aman, damai, dan ramah bagi semua. Komitmen Polri dalam Pendekatan Komunitas dan Peningkatan Kepercayaan Publik Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, dalam pernyataannya, menekankan esensi dari kegiatan silaturahmi semacam ini. "Silaturahmi seperti ini penting untuk memperkuat komunikasi dan bersama-sama menjaga keamanan serta ketertiban di NTB," ungkap Irjen Kalingga. Pernyataan ini bukan hanya retorika belaka, melainkan cerminan dari filosofi pendekatan kepolisian modern yang mengedepankan kemitraan dan partisipasi masyarakat. Polri menyadari bahwa upaya menjaga kamtibmas tidak bisa hanya dilakukan secara represif, tetapi harus didukung oleh pendekatan persuasif dan preventif yang melibatkan seluruh komponen bangsa. Kapolda Kalingga lebih lanjut menjelaskan bahwa kolaborasi antara kepolisian dengan para tokoh agama memiliki potensi besar untuk menciptakan suasana yang sejuk dan damai di tengah masyarakat. "Kami ingin terus membangun komunikasi dengan para tokoh agama dan elemen masyarakat, untuk menjaga NTB tetap aman dan kondusif," tambahnya. Pendekatan ini menunjukkan keseriusan Polri untuk tidak hanya menjadi penegak hukum, tetapi juga sebagai fasilitator dialog dan agen perubahan sosial. Dengan sering berinteraksi langsung dengan tokoh masyarakat dan agama, Polri dapat lebih memahami akar permasalahan sosial yang ada, sehingga dapat merumuskan kebijakan dan strategi keamanan yang lebih tepat sasaran dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Peningkatan kepercayaan publik (public trust) adalah salah satu tujuan utama dari pendekatan ini. Ketika masyarakat melihat bahwa aparat keamanan aktif menjalin silaturahmi dengan para pemimpin spiritual mereka, hal itu akan menumbuhkan rasa aman dan nyaman. Ini juga memperkuat citra Polri sebagai "Polisi Sahabat Masyarakat" yang peduli dan dekat dengan rakyat, bukan sekadar institusi yang berjarak dan menakutkan. Di era informasi yang serba cepat, di mana berita negatif dapat menyebar dengan mudah, membangun citra positif melalui interaksi langsung adalah investasi jangka panjang yang sangat berharga bagi institusi kepolisian. Nahdlatul Ulama dan Perannya dalam Stabilitas Sosial di NTB Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa. Di NTB, PWNU, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, memiliki pengaruh yang sangat kuat, terutama di kalangan masyarakat pedesaan dan pesantren. Prof. Masnun sendiri bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang akademisi terkemuka sebagai Rektor UIN Mataram, yang menjadikannya figur yang dihormati di dua ranah sekaligus: agama dan pendidikan. Menyambut baik kunjungan Kapolda NTB, Prof. Masnun menegaskan pentingnya komunikasi langsung antara aparat keamanan dan tokoh agama. "Silaturahmi seperti ini sangat baik. Komunikasi antara kepolisian dan ulama perlu terus dijaga, agar bersama-sama bisa memberikan kesejukan kepada masyarakat," ujarnya. Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam yang dibawa oleh NU, yaitu Islam Nusantara, yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, moderasi, dan kearifan lokal. NU secara konsisten menyerukan persatuan dan menolak segala bentuk ekstremisme serta radikalisme yang dapat memecah belah bangsa. Peran NU dalam menjaga stabilitas sosial di NTB dapat dilihat dari berbagai inisiatif, mulai dari pendidikan keagamaan melalui pesantren dan madrasah, dakwah yang menyejukkan, hingga program-program pemberdayaan masyarakat. Ketika ulama dan umara (pemimpin) bersinergi, pesan-pesan positif tentang kamtibmas akan lebih mudah diterima dan diimplementasikan oleh masyarakat. Prof. Masnun dan PWNU NTB secara historis telah menjadi mitra strategis pemerintah daerah dan aparat keamanan dalam berbagai program, termasuk sosialisasi kebijakan, penanganan bencana, hingga upaya deradikalisasi. Kunjungan Kapolda ini semakin mempererat ikatan kemitraan tersebut, memastikan bahwa kedua belah pihak berada dalam satu frekuensi dalam menghadapi tantangan kamtibmas di masa depan. Implikasi dan Harapan untuk Masa Depan NTB Pertemuan antara Kapolda NTB dan Ketua PWNU NTB ini memiliki implikasi yang luas dan positif bagi masa depan NTB. Pertama, ini merupakan penguatan signifikan terhadap sinergi lintas sektor. Kolaborasi antara kepolisian dan lembaga keagamaan adalah fondasi yang kokoh untuk menciptakan lingkungan yang aman. Ketika pemimpin dari kedua institusi ini bertemu dan berdiskusi, mereka tidak hanya bertukar informasi tetapi juga menyelaraskan visi dan misi dalam menjaga ketertiban. Hal ini penting untuk menciptakan pendekatan holistik dalam menghadapi berbagai permasalahan sosial, mulai dari potensi konflik horizontal, penyebaran hoaks, hingga ancaman terorisme. Kedua, kunjungan ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan kepercayaan publik. Masyarakat cenderung merasa lebih aman dan didengar ketika melihat para pemimpin mereka, baik dari sektor keamanan maupun agama, aktif berkomunikasi dan bekerja sama. Ini dapat mengurangi kesenjangan antara aparat dan masyarakat, serta memupuk rasa kepemilikan bersama terhadap keamanan. Di tengah maraknya disinformasi, kehadiran langsung aparat keamanan yang didukung oleh tokoh agama dapat menjadi penangkal efektif terhadap isu-isu yang memecah belah. Ketiga, pertemuan ini menjadi model komunikasi yang efektif. Pendekatan persuasif dan dialogis yang ditunjukkan oleh Irjen Kalingga dan Prof. Masnun dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Ini menunjukkan bahwa masalah keamanan tidak selalu harus diselesaikan dengan kekuatan, melainkan juga dengan kebijaksanaan, dialog, dan pengertian. Keberhasilan dalam membangun jembatan komunikasi ini akan sangat membantu dalam pencegahan konflik dan resolusi damai atas setiap perselisihan yang mungkin timbul. Keempat, ini menegaskan kembali peran strategis tokoh agama dalam pembangunan daerah. Di NTB, ulama bukan hanya penjaga moral, tetapi juga agen pembangunan. Melalui jaringan dan pengaruhnya, mereka dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam program-program pembangunan, menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan pendidikan, dan bahkan mendukung program pemerintah di bidang kesehatan atau ekonomi. Dengan adanya dukungan dari ulama, program-program kepolisian seperti sosialisasi lalu lintas, pencegahan narkoba, atau program anti-bullying di sekolah akan lebih mudah diterima dan diimplementasikan oleh masyarakat. Harapannya, silaturahmi semacam ini akan terus berlanjut dan menjadi agenda rutin. Bukan hanya Kapolda yang mengunjungi tokoh agama, tetapi juga sebaliknya, dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat lainnya. Dengan demikian, NTB dapat terus mempertahankan predikatnya sebagai daerah yang kondusif, harmonis, dan maju, di mana seluruh lapisan masyarakat merasa aman, nyaman, dan berkontribusi aktif dalam pembangunan. Inisiatif Irjen Kalingga ini adalah langkah progresif yang patut dicontoh, membuktikan bahwa keamanan adalah kerja kolektif yang membutuhkan sentuhan humanis dan kearifan lokal. Membangun Kepercayaan dan Partisipasi Masyarakat untuk NTB yang Lebih Baik Kunjungan Kapolda NTB ke kediaman Ketua PWNU NTB pada malam itu bukan hanya sekadar pertemuan informal, melainkan sebuah deklarasi simbolis tentang pentingnya kolaborasi multisegmen dalam menjaga stabilitas wilayah. Di tengah tantangan global dan domestik yang semakin kompleks, termasuk ancaman ideologi transnasional, kejahatan siber, dan dampak perubahan iklim, peran setiap elemen masyarakat menjadi krusial. Aparat keamanan tidak bisa berdiri sendiri; mereka membutuhkan dukungan penuh dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pemuda, dan seluruh lapisan warga negara. Pertemuan di Jatisela ini secara tidak langsung juga mengirimkan pesan kuat kepada seluruh jajaran kepolisian di NTB untuk senantiasa mengedepankan pendekatan humanis dan proaktif dalam berinteraksi dengan masyarakat. Polisi yang dekat dengan rakyat, yang memahami aspirasi dan permasalahan mereka, akan lebih efektif dalam menjalankan tugas-tugasnya. Demikian pula, ini menjadi pengingat bagi para tokoh agama dan masyarakat untuk tidak segan-segan membuka diri dan menjadi mitra aktif bagi aparat keamanan dalam menciptakan lingkungan yang damai. Pada akhirnya, visi untuk NTB yang aman, damai, dan sejahtera akan terwujud melalui kerja sama yang erat dan saling pengertian. Kunjungan Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja kepada Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir adalah satu dari sekian banyak langkah nyata yang diperlukan untuk mencapai visi tersebut. Ini adalah investasi sosial yang akan membuahkan hasil dalam bentuk stabilitas jangka panjang, peningkatan partisipasi publik, dan rasa kebersamaan yang kokoh di antara seluruh warga Nusa Tenggara Barat. Post navigation Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Barat Peringati HUT Ke-81 RI dengan Semangat Bhinneka Tunggal Ika dan Komitmen Pelayanan Prima