Universitas Mataram (UNRAM) secara konsisten menunjukkan komitmennya dalam mengakselerasi sektor perikanan budidaya di Nusa Tenggara Barat melalui program pengabdian masyarakat yang terintegrasi. Upaya terbaru difokuskan pada penguatan kapasitas Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakkan) Lempenge di Kabupaten Lombok Utara, dengan menitikberatkan pada aspek krusial yakni tata kelola kualitas air dan manajemen kesehatan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa praktik budidaya yang dilakukan oleh masyarakat tidak hanya bersifat produktif secara ekonomi, tetapi juga memenuhi standar keberlanjutan lingkungan yang ketat. Dalam pelaksanaannya, pendampingan ini tidak hanya menyasar para pembudidaya pria, tetapi juga memberikan porsi besar pada pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT). Keterlibatan perempuan dalam ekosistem budidaya udang vaname dipandang sebagai faktor kunci yang dapat meningkatkan ketelitian dalam operasional harian. Para anggota KWT kini didorong untuk mengambil peran aktif yang melampaui peran pendukung tradisional; mereka dilatih untuk menguasai keterampilan teknis seperti pemantauan parameter kualitas air, pencatatan logbook kondisi budidaya secara berkala, pengelolaan manajemen kesehatan udang, hingga tata kelola administrasi usaha yang profesional. Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh Andre Rachmat Scabra sebagai ketua tim, didampingi oleh anggota tim ahli lainnya, yaitu Muhammad Sumsanto dan Shinta Desiyana Fajarica. Tim dari UNRAM ini membawa misi besar untuk menjembatani kesenjangan antara teori akademis dengan realitas di lapangan. Salah satu pendekatan utama yang mereka gunakan adalah pengenalan teknologi tepat guna yang dirancang agar sederhana, mudah dipahami, dan dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat lokal tanpa ketergantungan terus-menerus pada pihak eksternal. Urgensi Pengelolaan Kualitas Air dan Sistem Peringatan Dini Fokus utama dari pendampingan ini adalah implementasi sistem peringatan dini (early warning system) sederhana dalam pengelolaan kualitas air. Dalam industri budidaya udang vaname, air merupakan media hidup yang paling menentukan keberhasilan produksi. Perubahan parameter lingkungan yang drastis, jika tidak dideteksi sejak dini, dapat berakibat fatal bagi ekosistem tambak. Tim UNRAM menekankan bahwa kualitas air yang tidak terpantau dengan baik adalah pemicu utama stres pada udang. Kondisi stres ini kemudian memicu penurunan sistem imun, yang berujung pada menurunnya nafsu makan dan terhambatnya laju pertumbuhan. Dalam skenario terburuk, ketidakstabilan kualitas air dapat meningkatkan risiko serangan penyakit patogen dan kematian massal, yang tentu saja akan merugikan pembudidaya secara finansial. Teknologi peringatan dini yang diperkenalkan memungkinkan pembudidaya untuk melakukan tindakan korektif secara cepat. Misalnya, jika kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) menurun di bawah ambang batas normal atau jika tingkat keasaman (pH) air berfluktuasi secara ekstrem, masyarakat kini memiliki pengetahuan untuk melakukan intervensi segera, seperti pengaturan aerasi atau penggantian air parsial. Kemampuan untuk merespons dinamika lingkungan ini secara real-time menjadi pembeda antara budidaya yang sukses dan yang gagal. Transformasi Budidaya Berbasis Data Salah satu perubahan fundamental yang dibawa oleh tim UNRAM ke Lempenge adalah pergeseran pola pikir dari budidaya berbasis kebiasaan menjadi budidaya berbasis data. Selama bertahun-tahun, banyak pembudidaya tradisional hanya mengandalkan insting atau pengalaman masa lalu dalam mengelola tambak mereka. Namun, dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan penyakit udang yang semakin kompleks, metode tradisional tersebut dinilai tidak lagi mencukupi. Melalui program ini, Pokdakkan Lempenge dan KWT diperkuat dalam hal pencatatan rutin atau digitalisasi manual data lapangan. Setiap siklus budidaya kini memiliki catatan yang komprehensif, mencakup: Fluktuasi parameter air harian (suhu, pH, salinitas, dan kecerahan). Respons udang terhadap pemberian pakan (feeding tray monitoring). Laju pertumbuhan mingguan. Riwayat tindakan pengelolaan yang telah dilakukan. Data-data yang terkumpul ini bukan sekadar catatan formalitas, melainkan berfungsi sebagai bahan evaluasi mendalam di setiap akhir siklus. Dengan memiliki data yang akurat, pembudidaya dapat melakukan analisis mengenai apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki pada periode berikutnya. Keputusan manajerial, seperti penentuan dosis pakan atau waktu panen, kini bertumpu pada fakta lapangan yang terekam secara sistematis. Ketua tim pendampingan, Andre Rachmat Scabra, menyatakan bahwa pemilihan teknologi sederhana adalah langkah yang disengaja. "Bagi kami, teknologi sederhana yang dapat diterapkan secara konsisten justru berpeluang memberikan manfaat lebih besar dibandingkan teknologi canggih yang sulit digunakan secara mandiri oleh masyarakat. Konsistensi dalam penerapan adalah kunci keberlanjutan," ungkapnya pada Minggu (16/8/2026). Ia menambahkan bahwa pendampingan ini dirancang agar pengetahuan yang ditransfer tetap menetap di komunitas meskipun program secara resmi telah berakhir. Kontribusi Terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Universitas Mataram di Lombok Utara ini bukan sekadar aktivitas lokal, melainkan merupakan bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan secara global. Terdapat beberapa poin SDGs yang saling berkelindan dalam program ini: SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Melalui peningkatan produktivitas udang vaname, program ini berkontribusi pada ketahanan pangan lokal dan penyediaan sumber protein hewani yang berkualitas bagi masyarakat. SDG 5 (Kesetaraan Gender): Pelibatan aktif KWT dalam aspek teknis budidaya meruntuhkan stigma bahwa sektor perikanan hanya milik kaum laki-laki. Hal ini memberikan akses yang setara bagi perempuan untuk berdaya secara ekonomi dan intelektual. SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak): Edukasi mengenai tata kelola air memastikan bahwa limbah budidaya dikelola dengan lebih bertanggung jawab sebelum dilepaskan kembali ke lingkungan, menjaga kelestarian sumber daya air. SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Dengan sistem budidaya yang lebih stabil dan minim risiko, masyarakat Lempenge memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga secara berkelanjutan. SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Penerapan standar budidaya yang baik (Good Aquaculture Practices) mendorong pola produksi yang tidak merusak ekosistem. SDG 14 (Ekosistem Lautan): Praktik budidaya yang ramah lingkungan di wilayah pesisir membantu mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut alami dan mencegah degradasi habitat pantai. SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Kolaborasi antara akademisi UNRAM, pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat menjadi bukti nyata bahwa kemitraan lintas sektor adalah mesin penggerak pembangunan yang efektif. Analisis Implikasi dan Proyeksi Masa Depan Penguatan kapasitas yang dilakukan UNRAM di Lempenge memiliki implikasi luas bagi peta jalan perikanan budidaya di Lombok Utara. Wilayah ini memiliki potensi garis pantai yang sangat mendukung pengembangan tambak udang, namun seringkali terkendala oleh keterbatasan akses teknologi dan manajemen risiko penyakit. Secara ekonomi, keberhasilan Pokdakkan Lempenge dalam mengadopsi sistem peringatan dini dapat menjadi model (pilot project) bagi desa-desa pesisir lainnya di Nusa Tenggara Barat. Jika risiko kematian udang dapat ditekan di bawah 10% melalui manajemen kualitas air yang baik, maka margin keuntungan pembudidaya akan meningkat signifikan. Hal ini akan memicu efek domino positif, seperti tumbuhnya sektor usaha mikro lainnya di sekitar lokasi tambak, mulai dari penyedia pakan hingga jasa logistik hasil laut. Secara sosial, pemberdayaan KWT menciptakan struktur masyarakat yang lebih resilien. Ketika perempuan memiliki pemahaman teknis yang kuat, keberlangsungan usaha budidaya keluarga menjadi lebih terjamin karena adanya pembagian kerja yang efisien dan pengawasan yang lebih berlapis. Namun, tantangan ke depan tetap ada. Perubahan iklim yang tidak menentu dapat menyebabkan anomali cuaca yang memengaruhi salinitas dan suhu air laut secara ekstrem. Oleh karena itu, UNRAM berharap agar Pokdakkan Lempenge tidak berhenti belajar. Adaptasi terhadap inovasi baru harus terus dilakukan. Penguatan kapasitas masyarakat yang berkelanjutan, peningkatan peran perempuan, serta penerapan sistem manajemen yang berbasis data diharapkan menjadi modal utama untuk membangun usaha budidaya udang vaname yang lebih sehat, efisien, adaptif, dan berkelanjutan. Melalui sinergi yang kuat antara dunia pendidikan dan masyarakat, UNRAM membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berdiam di dalam laboratorium atau ruang kelas. Ilmu pengetahuan harus turun ke lapangan, menyentuh tangan-tangan pembudidaya, dan menjadi solusi nyata bagi permasalahan ekonomi serta lingkungan di tingkat akar rumput. Masa depan budidaya udang vaname di Lombok Utara kini menatap arah yang lebih cerah, berkat fondasi tata kelola yang kuat dan semangat kemandirian masyarakat yang terus dipupuk. (rl) Post navigation Inovasi KOMBUJA Universitas Mataram Transformasi Budidaya Kepiting Bakau Berkelanjutan di Kawasan Pesisir Lembar Lombok Barat