Universitas Mataram (UNRAM) melalui tim pengabdian masyarakatnya secara resmi memperkenalkan inovasi teknologi KOMBUJA (Kombinasi Bambu Jaring) sebagai solusi budidaya kepiting bakau yang ramah lingkungan di wilayah Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Program strategis ini menyasar Kelompok Budidaya Scylla Indah Jaya dengan tujuan utama mengintegrasikan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir dengan pelestarian ekosistem mangrove melalui pendekatan silvofisheries. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen akademisi dalam melakukan hilirisasi riset guna menjawab tantangan nyata yang dihadapi oleh para pembudidaya tradisional di Nusa Tenggara Barat. Tim pengabdian UNRAM yang dipimpin oleh Dewi Putri Lestari, bersama anggota tim Wastu Ayu Diamahesa dan Vici Handalusia Husni, merancang KOMBUJA sebagai teknologi tepat guna yang adaptif terhadap karakteristik perairan lokal. Pengenalan inovasi ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan akan metode budidaya yang tidak merusak hutan mangrove, mengingat peran vital ekosistem tersebut sebagai benteng alami pesisir dan habitat berbagai biota laut bernilai ekonomi tinggi. Urgensi Inovasi di Kawasan Pesisir Lembar Kecamatan Lembar di Kabupaten Lombok Barat dikenal memiliki potensi hutan mangrove yang cukup luas, namun tekanan terhadap ekosistem ini terus meningkat seiring dengan aktivitas manusia dan konversi lahan. Selama ini, banyak pembudidaya kepiting bakau masih menggunakan metode konvensional yang terkadang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan atau terkendala oleh tingginya biaya investasi sarana prasarana. Kepiting bakau (Scylla spp.) merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor ke negara-negara seperti Singapura, Tiongkok, dan Jepang. Harga kepiting bakau kualitas ekspor di tingkat pengumpul dapat mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram, menjadikannya tumpuan hidup bagi banyak keluarga nelayan. Namun, tanpa teknologi yang tepat, produktivitas seringkali rendah akibat tingkat kanibalisme kepiting yang tinggi serta kualitas air yang fluktuatif. Tim UNRAM melihat celah ini dengan menghadirkan KOMBUJA. Teknologi ini memanfaatkan material lokal berupa bambu yang dikombinasikan dengan jaring khusus. Pemilihan bambu didasarkan pada sifatnya yang berkelanjutan, mudah didapat, dan memiliki daya tahan yang cukup baik di lingkungan air payau. Dengan menggunakan KOMBUJA, pembudidaya dapat melakukan penempatan kepiting dalam wadah terkontrol yang diletakkan di sela-sela akar mangrove tanpa harus menebang pohon tersebut. Mengenal Teknologi KOMBUJA dan Sistem Silvofisheries KOMBUJA atau Kombinasi Bambu Jaring adalah sebuah inovasi struktur wadah budidaya yang dirancang untuk memaksimalkan ruang hidup kepiting bakau. Secara teknis, bambu digunakan sebagai kerangka utama yang memberikan kekuatan struktural, sementara jaring berfungsi sebagai dinding pembatas yang memastikan sirkulasi air tetap lancar namun tetap mampu mencegah kepiting melarikan diri atau saling menyerang (kanibalisme). Keunggulan utama dari KOMBUJA adalah fleksibilitasnya. Wadah ini dapat dipasang dengan sistem floating (terapung) maupun menetap di dasar perairan dangkal di area mangrove. Dengan sistem ini, kepiting tetap mendapatkan nutrisi alami dari ekosistem mangrove, seperti detritus dan mikroorganisme, sementara pembudidaya dapat memberikan pakan tambahan secara lebih efisien dan terukur. Penerapan KOMBUJA erat kaitannya dengan konsep silvofisheries atau wana-mina. Ini adalah sistem budidaya yang memadukan kegiatan perikanan dengan penanaman atau pelestarian mangrove. Dalam sistem ini, keberadaan pohon mangrove tidak dianggap sebagai penghalang, melainkan sebagai aset utama. Akar mangrove berfungsi sebagai filter alami yang menjaga kualitas air dari polutan, sementara tajuk pohon memberikan naungan yang menjaga suhu air tetap stabil, yang sangat krusial bagi pertumbuhan kepiting bakau. Kronologi dan Pendampingan Kelompok Scylla Indah Jaya Program pengabdian ini tidak hanya berhenti pada penyerahan bantuan alat, tetapi mencakup rangkaian pendampingan teknis yang komprehensif. Dimulai dengan tahap sosialisasi dan identifikasi masalah, tim UNRAM melakukan dialog mendalam dengan Kelompok Budidaya Scylla Indah Jaya untuk memahami kendala teknis yang mereka hadapi selama ini. Pada fase implementasi, para anggota kelompok diberikan pelatihan mengenai teknik perakitan KOMBUJA yang efisien. Pelatihan ini mencakup pemilihan jenis bambu yang tahan lama, teknik pengikatan jaring agar tidak mudah robek oleh capit kepiting, hingga tata letak pemasangan di kawasan mangrove agar tidak mengganggu jalur transportasi nelayan lokal. Dewi Putri Lestari menjelaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat adalah kunci keberhasilan program ini. "Kami ingin memastikan bahwa teknologi ini benar-benar dapat dikuasai oleh pembudidaya. KOMBUJA dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya lokal sehingga diharapkan mudah diterapkan secara mandiri oleh masyarakat tanpa ketergantungan pada material pabrikan yang mahal," ungkapnya dalam sesi pertemuan pada Minggu (16/8/2026). Selain aspek teknis wadah, tim juga memberikan materi tentang manajemen pakan dan pemantauan kesehatan kepiting. Pembudidaya diajarkan cara membedakan benih kepiting yang berkualitas, cara penanganan pasca-panen agar kepiting tetap hidup sampai ke tangan konsumen, serta pencatatan keuangan sederhana untuk memantau keuntungan usaha. Kontribusi Terhadap Capaian Sustainable Development Goals (SDGs) Program yang dijalankan oleh UNRAM ini memiliki dimensi yang luas dan bersinggungan langsung dengan beberapa target dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Dengan meningkatkan efisiensi budidaya dan produktivitas kepiting, pendapatan masyarakat pesisir di Lembar diharapkan meningkat. Kemandirian ekonomi melalui usaha budidaya yang stabil akan memperkuat daya beli dan kesejahteraan keluarga nelayan. SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Melalui pendekatan silvofisheries, masyarakat didorong untuk menjaga hutan mangrove. Mangrove dikenal sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang sangat efektif, bahkan lebih tinggi dibandingkan hutan daratan. Dengan menjaga mangrove, pembudidaya secara tidak langsung berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global. SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan): Inovasi KOMBUJA meminimalkan dampak negatif budidaya terhadap lingkungan. Tidak ada limbah kimia yang digunakan, dan struktur bambu-jaring bersifat biodegradable dalam jangka panjang. Perlindungan terhadap kawasan mangrove juga memastikan terjaganya biodiversitas di wilayah pesisir Lombok Barat. Analisis Implikasi dan Dampak Jangka Panjang Secara analitis, pengenalan KOMBUJA oleh Universitas Mataram merupakan langkah strategis dalam menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan praktik di lapangan. Seringkali, riset universitas berhenti di laporan penelitian, namun tim yang dipimpin Dewi Putri Lestari menunjukkan bagaimana inovasi sederhana namun tepat sasaran dapat memberikan dampak instan bagi kelompok masyarakat. Implikasi jangka panjang dari program ini adalah terciptanya model budidaya yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lain di Nusa Tenggara Barat (NTB). Mengingat NTB memiliki garis pantai yang panjang dengan banyak kawasan mangrove, potensi pengembangan budidaya kepiting bakau berbasis silvofisheries sangatlah besar. Jika model di Lembar ini sukses, pemerintah daerah dapat mengadopsinya sebagai standar nasional untuk pengembangan perikanan budidaya berkelanjutan. Selain itu, keberhasilan program ini dapat meningkatkan posisi tawar pembudidaya lokal. Dengan kualitas kepiting yang lebih baik dan berkelanjutan, kelompok Scylla Indah Jaya berpotensi mendapatkan sertifikasi budidaya ramah lingkungan, yang saat ini menjadi syarat penting untuk menembus pasar ekspor premium. Konsumen global saat ini semakin peduli terhadap asal-usul produk dan dampaknya terhadap lingkungan. Harapan dan Keberlanjutan Program Pihak Universitas Mataram berharap agar Kelompok Scylla Indah Jaya dapat menjadi pionir dan agen perubahan bagi nelayan lain di sekitarnya. Keberlanjutan program ini sangat bergantung pada konsistensi masyarakat dalam merawat sarana KOMBUJA dan menjaga hutan mangrove yang menjadi lokasi budidaya. "Inovasi ini diharapkan tidak berhenti pada satu kelompok saja. Kami berharap KOMBUJA menjadi model budidaya kepiting bakau yang mampu menyeimbangkan antara motif ekonomi dan tanggung jawab ekologis," tambah Dewi. Dukungan dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat, juga diharapkan dapat memperkuat inisiatif ini melalui penyediaan akses pasar yang lebih luas dan regulasi yang mendukung perlindungan kawasan mangrove sebagai zona budidaya terbatas. Dengan sinergi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah, visi untuk mewujudkan pesisir yang mandiri secara ekonomi dan lestari secara ekologi bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang dibangun di Lembar. Melalui KOMBUJA, Universitas Mataram telah memberikan bukti nyata bahwa teknologi tidak harus selalu canggih dan mahal. Terkadang, kombinasi cerdas antara material lokal, pengetahuan tradisional, dan sentuhan riset ilmiah adalah kunci utama menuju pembangunan berkelanjutan di tingkat tapak. Program ini menegaskan peran universitas sebagai penggerak perubahan (agent of change) yang mampu membawa solusi nyata bagi tantangan zaman. Post navigation Kepala BRIDA NTB Dorong Wisudawan Universitas Terbuka Mataram Menjadi Motor Penggerak Inovasi Menuju Visi NTB Makmur Mendunia