PRAYA – Musibah kebakaran hebat yang meluluhlantakkan sebagian besar Desa Adat Sade, sebuah ikon budaya di Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (22/8/2026) malam, telah memicu gelombang simpati dan respons cepat dari berbagai pihak. Wakil Ketua DPR RI, Hj. Sari Yuliati, menjadi salah satu figur nasional yang langsung memberikan perhatian serius terhadap tragedi ini. Begitu menerima kabar duka tersebut, Bendahara Umum Partai Golkar ini segera bergegas menuju lokasi kejadian untuk meninjau langsung area terdampak, berdialog dengan warga yang berduka, serta menyaksikan proses pembersihan material sisa kebakaran yang masih berlangsung. Kronologi Kebakaran dan Upaya Pemadaman Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 22.00 Wita, ketika api mulai membesar dan dengan cepat melalap bangunan-bangunan tradisional yang sebagian besar terbuat dari material mudah terbakar seperti kayu, bambu, bedek, dan beratap ilalang. Lalu Winakse, Kepala Desa Rambitan, yang berada di lokasi saat api berkobar, segera berkoordinasi dengan aparat terkait untuk mengevakuasi warga demi mencegah jatuhnya korban jiwa. Api yang berkobar hebat dan cepat menyebar menjadi tantangan besar bagi tim pemadam kebakaran. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Lombok Tengah segera mengerahkan petugas dan unit mobil pemadam ke lokasi. Supardan, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Lombok Tengah, mengonfirmasi pengerahan armada pemadam untuk menanggulangi api yang mengancam permukiman adat tersebut. Proses pemadaman berlangsung intensif hingga Minggu (23/8) pagi. Bahkan, arus lalu lintas di Jalan Raya Sengkol–Mandalika sempat mengalami gangguan signifikan akibat aktivitas pemadaman dan pengerahan kendaraan berat. Ridwan Maruf, Kepala BPBD Lombok Tengah, menjelaskan bahwa upaya pemadaman melibatkan tim gabungan dari TNI-Polri, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif warga setempat. “Hingga pagi hari ini petugas masih memadamkan kepulan asap sisa kebakaran. Mobil tangki air juga diturunkan untuk membantu proses pendinginan,” ujarnya. Proses pendinginan ini krusial untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang bisa memicu kebakaran susulan, mengingat material bangunan yang sangat rentan. Setelah api berhasil dikendalikan, tim gabungan melanjutkan pekerjaan berat membersihkan puing-puing sisa kebakaran. Dampak Kerugian dan Investigasi Penyebab Musibah ini menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Desa Adat Sade. Sedikitnya 120 bangunan yang menjadi tempat tinggal dan penopang kehidupan warga hangus terbakar. Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, kerugian materiil ditaksir mencapai angka yang sangat besar. Sejak Minggu (23/8) pagi, warga terlihat mengais puing-puing sisa rumah mereka, mencoba mencari barang berharga yang mungkin masih bisa diselamatkan di antara tumpukan arang dan abu. Pemandangan pilu ini menggambarkan skala kehancuran dan tantangan berat yang harus dihadapi komunitas adat tersebut. Mengenai penyebab kebakaran, Ridwan Maruf menyatakan bahwa hingga saat ini belum dapat dipastikan. “Apakah akibat arus pendek listrik atau faktor lain, masih dalam penyelidikan,” katanya. Investigasi mendalam diperlukan untuk mengungkap pemicu kebakaran agar langkah-langkah pencegahan serupa dapat diambil di masa mendatang. Mengingat sebagian besar bangunan tradisional di Sade menggunakan instalasi listrik sederhana dan material yang sangat mudah terbakar, kemungkinan korsleting listrik sering menjadi dugaan awal dalam kasus kebakaran di permukiman padat seperti ini. Namun, penyelidikan komprehensif akan mempertimbangkan semua kemungkinan, termasuk potensi kelalaian atau faktor eksternal lainnya. Respon Cepat dan Komitmen Bantuan dari Wakil Ketua DPR RI Kehadiran Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati di tengah-tengah warga terdampak menjadi oase di tengah kesedihan. Kunjungannya bukan sekadar formalitas, melainkan menunjukkan empati dan komitmen nyata. Selain meninjau langsung lokasi, Sari Yuliati juga secara simbolis menyerahkan bantuan awal berupa uang tunai sebesar Rp 200 juta serta 100 paket sembako kepada warga yang paling membutuhkan. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban ekonomi darurat bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Lebih dari sekadar bantuan tunai, Sari Yuliati juga memberikan jaminan bahwa bantuan lanjutan akan disalurkan melalui program pemerintah pusat. “Saya sudah berkoordinasi agar revitalisasi pembangunan di Desa Adat Sade dapat segera dilakukan. Ini bukan sekadar musibah bagi satu desa, tetapi duka bagi kita semua,” ujar Sari dengan nada prihatin. Penegasannya bahwa pemulihan kawasan adat tersebut akan menjadi perhatian khusus pemerintah pusat memberikan harapan besar bagi warga Sade. Selain itu, Sari juga menyempatkan diri mengunjungi posko kesehatan yang didirikan untuk memastikan layanan medis bagi warga terdampak berjalan cepat dan tepat, menunjukkan perhatiannya terhadap kesehatan dan kesejahteraan pengungsi. Apresiasi Komunitas dan Harapan Pemulihan Lalu Winakse, Kepala Desa Rambitan, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kehadiran Sari Yuliati. “Terima kasih kepada Ibu Sari yang turun langsung menyapa warga dan memberikan bantuan uang serta sembako. Kehadiran beliau memberi semangat bagi warga,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan betapa pentingnya dukungan moral dan material dari pemimpin nasional dalam situasi krisis seperti ini. Kehadiran fisik seorang pejabat tinggi negara di tengah-tengah masyarakat yang sedang berduka dapat menumbuhkan kembali semangat dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi cobaan. Masyarakat Desa Adat Sade, yang terkenal dengan keramahan dan ketahanan budayanya, kini dihadapkan pada ujian berat. Setelah berabad-abad menjaga tradisi dan warisan leluhur, mereka harus memulai kembali dari puing-puing. Harapan terbesar warga adalah pemulihan dapat dilakukan secepatnya. Mereka berharap agar rumah-rumah tradisionalnya yang khas, yang kini sebagian besar tinggal puing, dapat segera dibangun kembali. Dengan demikian, aktivitas kehidupan sehari-hari dan sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi mereka dapat kembali berjalan normal. Signifikansi Desa Adat Sade: Ikon Budaya dan Ekonomi Pariwisata Desa Adat Sade bukan sekadar permukiman biasa; ia adalah salah satu ikon wisata budaya terkemuka di Lombok, bahkan Indonesia. Desa ini dikenal sebagai benteng terakhir yang menjaga keaslian budaya Sasak, suku asli Pulau Lombok. Rumah-rumah tradisional Sasak yang disebut bale dengan arsitektur uniknya, dinding dari anyaman bambu (bedek), dan atap ilalang, adalah daya tarik utama. Lantainya yang terbuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, dan sekam padi, serta tradisi "menampi" lantai untuk membuatnya mengkilap, adalah salah satu keunikan yang memukau wisatawan. Desa Sade juga menjadi pusat pelestarian tradisi tenun ikat Sasak yang indah, di mana para perempuan desa masih menenun secara manual menggunakan alat tenun tradisional. Pertunjukan tari-tarian adat seperti Tari Peresean (pertarungan dengan rotan) dan Gendang Beleq (musik tradisional) seringkali digelar untuk menyambut wisatawan. Keberadaan Desa Sade bukan hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menjadi sumber penghidupan utama bagi ratusan keluarga melalui sektor pariwisata, penjualan kerajinan tangan, dan jasa pemandu wisata. Oleh karena itu, kebakaran yang melanda Desa Adat Sade tidak hanya berdampak pada individu atau keluarga, tetapi juga pada identitas budaya Lombok secara keseluruhan dan ekonomi pariwisata regional. Kehilangan rumah-rumah tradisional ini berarti hilangnya bagian integral dari warisan budaya yang tak ternilai harganya. Dampak Sosial dan Ekonomi Jangka Panjang Selain kerugian fisik, musibah ini juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi jangka panjang yang signifikan. Ratusan warga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi, memutus kenyamanan dan rutinitas hidup mereka. Trauma psikologis akibat kehilangan harta benda dan tempat tinggal juga menjadi perhatian serius. Banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata kini menghadapi ketidakpastian, karena daya tarik utama desa telah rusak parah. Pembangunan kembali Desa Sade membutuhkan tidak hanya dana, tetapi juga keahlian khusus untuk memastikan bahwa rekonstruksi tetap mempertahankan keaslian arsitektur dan nilai-nilai budaya yang melekat pada setiap bangunan. Tantangan ini melibatkan koordinasi antara pemerintah, para ahli konservasi budaya, dan tentu saja, partisipasi aktif masyarakat adat itu sendiri. Langkah-langkah Pemulihan dan Rehabilitasi Komprehensif Melihat skala kerusakan dan signifikansi Desa Adat Sade, langkah-langkah pemulihan harus dilakukan secara komprehensif dan terencana. Revitalisasi pembangunan yang disebutkan oleh Sari Yuliati harus mencakup beberapa aspek penting: Rekonstruksi Berbasis Kearifan Lokal: Pembangunan kembali rumah-rumah harus mengacu pada desain asli dan menggunakan material tradisional sebisa mungkin, namun dengan peningkatan standar keamanan dan ketahanan terhadap bencana. Ini mungkin melibatkan penggunaan material yang lebih tahan api atau teknik konstruksi yang lebih modern tanpa mengorbankan estetika dan nilai budaya. Bantuan Kemanusiaan Berkelanjutan: Selain bantuan darurat, perlu ada program bantuan kemanusiaan berkelanjutan untuk kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan tempat tinggal sementara hingga rumah permanen selesai dibangun. Dukungan Ekonomi dan Pariwisata: Membangun kembali sektor pariwisata adalah kunci. Ini bisa melalui promosi khusus, pembangunan fasilitas pendukung pariwisata yang lebih baik, dan pelatihan ulang bagi warga untuk mengoptimalkan potensi wisata mereka pasca-bencana. Edukasi dan Mitigasi Bencana: Kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Perlu ada program edukasi bagi masyarakat adat mengenai mitigasi bencana kebakaran, termasuk pentingnya perawatan instalasi listrik, pengelolaan sumber api, dan jalur evakuasi. Pendampingan Psikososial: Dukungan psikologis bagi warga yang terdampak, terutama anak-anak, sangat penting untuk membantu mereka mengatasi trauma dan kembali beraktivitas normal. Keterlibatan Multi-Pihak: Pemulihan Desa Sade tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, dan komunitas internasional untuk menggalang dana dan sumber daya. Komitmen Bersama untuk Masa Depan Sade Musibah kebakaran di Desa Adat Sade adalah pengingat akan kerapuhan warisan budaya di tengah modernisasi dan tantangan alam. Namun, respons cepat dari pemerintah, dukungan dari para pemimpin nasional, dan ketahanan masyarakat adat itu sendiri, menunjukkan harapan untuk bangkit kembali. Komitmen untuk merevitalisasi Desa Adat Sade bukan hanya tentang membangun kembali fisik bangunan, tetapi juga tentang menegaskan kembali nilai-nilai budaya, menguatkan ikatan komunitas, dan memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menikmati kekayaan warisan Sasak yang tak ternilai harganya. Dengan semangat gotong royong dan dukungan berkelanjutan, Desa Adat Sade dapat kembali bersinar sebagai permata budaya Lombok, lebih kuat dan lebih tangguh dari sebelumnya. Post navigation Polda NTB Gelar Bakti Kesehatan Pasca Kebakaran di Desa Adat Sade, Pulihkan Kondisi Warga dan Personel