PRAYA – Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, pada Kamis (27/8), melakukan kunjungan kerja ke Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung kondisi pasca-kebakaran hebat yang melanda salah satu ikon pariwisata dan warisan budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut. Dalam kesempatan ini, Menteri Widiyanti Putri Wardhana berdialog langsung dengan perwakilan warga adat, menyerap aspirasi dan harapan mereka terkait upaya pemulihan dan pembangunan kembali kampung yang menjadi jantung budaya Suku Sasak ini.

Insiden kebakaran yang terjadi sebelumnya telah menghanguskan sejumlah rumah adat yang menjadi ciri khas Dusun Sade, menimbulkan kerugian material yang signifikan serta duka mendalam bagi masyarakat adat yang kehilangan tempat tinggal dan warisan leluhur mereka dalam sekejap. Kedatangan Menteri Pariwisata diharapkan membawa angin segar dan dukungan konkret dari pemerintah pusat untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kunjungan Lapangan dan Dialog Interaktif

Setibanya di Dusun Adat Sade, Menteri Widiyanti Putri Wardhana didampingi oleh sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat setempat. Ia berjalan kaki menyusuri area yang terdahulu dipenuhi rumah-rumah tradisional beratap alang-alang, kini hanya menyisakan puing-puing dan sisa bangunan yang hangus. Dengan seksama, Menteri mengamati kerusakan yang terjadi, mencatat setiap detail dan gambaran kerugian yang dialami warga. Kunjungan ini tidak hanya sebatas inspeksi visual, melainkan juga dimanfaatkan sebagai forum diskusi terbuka dengan perwakilan warga adat.

Dalam dialog tersebut, berbagai aspirasi dan harapan masyarakat Sade disampaikan secara langsung kepada Menteri. Diskusi ini menjadi momen krusial bagi warga untuk menyuarakan keinginan mereka mengenai arah pembangunan kembali kampung mereka, yang tidak hanya berorientasi pada fisik bangunan tetapi juga pada pelestarian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Warga secara gamblang menyampaikan komitmen mereka untuk membangun kembali Sade dengan mempertahankan keaslian dan karakteristik tradisional yang telah dijaga turun-temurun.

Suara dari Hati Masyarakat Adat Sade: Komitmen Menjaga Orisinalitas

Ardinata Sanah, salah seorang perwakilan warga Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, menjadi juru bicara utama yang menyampaikan pandangan dan kesepakatan kolektif masyarakat. Dengan tegas, Sanah menyatakan bahwa seluruh warga Sade sepakat untuk membangun kembali rumah mereka dengan konsep yang sama seperti semula, khususnya dalam penggunaan atap alang-alang. Keputusan ini bukan tanpa alasan; alang-alang merupakan material utama yang secara historis dan arsitektural mendefinisikan identitas rumah adat Sasak di Sade. Penggunaan material alami ini juga diyakini memberikan kenyamanan termal yang lebih baik serta mendukung keberlanjutan lingkungan.

Mengingat ketersediaan alang-alang yang terbatas dan potensi kesulitan dalam pengadaannya jika menunggu proses birokrasi pemerintah, warga Sade telah mengambil inisiatif proaktif. “Sekalipun kita menunggu pemerintah maka nanti pemerintah juga pasti akan mencari alang-alang, sementara ketersediaannya terbatas makanya kita sekarang sudah pesan. Kalaupun pemerintah punya dana maka silahkan saja dibayar yang sudah kita boking itu,” ungkap Ardinata Sanah pada kesempatan tersebut. Langkah ini menunjukkan keseriusan dan kemandirian masyarakat dalam menghadapi tantangan, sekaligus upaya mereka untuk memastikan bahwa proses pembangunan kembali tidak terhambat oleh masalah logistik. Warga khawatir jika menunggu terlalu lama, terutama saat musim hujan tiba, pasokan alang-alang akan semakin sulit ditemukan. Inisiatif pemesanan kolektif ini diharapkan dapat mempercepat dimulainya pembangunan kembali.

Trauma Listrik dan Keinginan Kembali ke Masa Lalu

Lebih jauh, Ardinata Sanah menyampaikan visi masyarakat untuk mengemas kembali bangunan Sade dengan nuansa yang jauh lebih otentik, merefleksikan kehidupan masa lalu. Salah satu poin krusial yang diusulkan adalah penghapusan listrik dan penggunaan gas untuk memasak. Keinginan ini muncul dari pengalaman pahit pasca-kebakaran, di mana masyarakat mengidentifikasi tabung gas sebagai pemicu insiden tragis tersebut. “Karena kita ingin Sade ini otentik dan riil sesuai kehidupan yang dulu,” jelasnya, menekankan pentingnya mengembalikan esensi kehidupan tradisional Sasak.

Masyarakat Sade bertekad untuk kembali menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama untuk memasak, sebagaimana yang telah mereka lakukan selama berabad-abad. Mereka meyakini bahwa metode tradisional ini lebih aman dan sesuai dengan kearifan lokal. Sanah bahkan menegaskan bahwa selama menggunakan kayu bakar, tidak pernah terjadi kebakaran dari tungku, berbeda dengan insiden yang melibatkan tabung gas. Ini mengindikasikan adanya trauma mendalam terhadap teknologi modern yang dianggap membawa risiko.

Meskipun Menteri Pariwisata menawarkan opsi pemasangan listrik dengan kabel bawah tanah untuk alasan keamanan, warga menyatakan akan mempertimbangkan hal tersebut dengan sangat hati-hati. Mereka menegaskan bahwa jika pun listrik dibutuhkan untuk penerangan umum, di dalam rumah adat itu sendiri tetap harus mempertahankan keaslian tanpa instalasi listrik modern. “Mungkin nanti tetap butuh penerangan tapi di dalam rumah tetap original tidak ada listrik. Jadi penerangan menggunakan lampu minyak kelapa, masak menggunakan kayu bakar,” tegas Sanah, menggambarkan keinginan kuat untuk kembali ke praktik masa lalu yang lebih sederhana dan aman menurut persepsi mereka. Penerangan dengan lampu minyak kelapa, selain otentik, juga dianggap lebih sesuai dengan atmosfer tradisional.

Tantangan Pasca Kebakaran: Antara Kebutuhan Mendesak dan Pelestarian Warisan

Kondisi pasca-kebakaran menempatkan masyarakat Sade di persimpangan jalan antara kebutuhan mendesak dan upaya pelestarian warisan budaya. Sanah mengakui bahwa untuk kebutuhan pangan, warga masih merasa cukup aman hingga dua bulan ke depan berkat banyaknya bantuan dan kepedulian dari berbagai pihak. Namun, permasalahan utama yang kini dihadapi adalah bagaimana membangun kembali rumah mereka. Selain kehilangan tempat tinggal, sebagian besar warga juga kehilangan mata pencarian, yang umumnya bergantung pada pariwisata dan kerajinan tangan.

Aspek emosional dan kultural menjadi sangat menonjol. “Yang paling kami sayangkan adalah ini warisan leluhur yang kami jaga dari kakek dan nenek kami. Kami kehilangan semuanya dalam satu malam,” ujar Sanah dengan nada prihatin. Pernyataan ini menggambarkan betapa kebakaran bukan hanya merenggut fisik bangunan, tetapi juga sebagian dari identitas dan memori kolektif mereka. Keinginan untuk segera membangun kembali rumah sangat kuat, namun tantangan dalam mengumpulkan material seperti alang-alang dan sumber daya finansial menjadi kendala. “Kami belum menerima uang tunai yang masuk tapi alang-alang sudah kami pesan,” tambahnya, menyoroti kesenjangan antara inisiatif warga dan dukungan yang diharapkan.

Sanah juga secara terbuka mengakui bahwa sekitar 25 tahun terakhir, Dusun Sade telah mengalami pergeseran, menjadi “semerawut dan terlalu komersil.” Oleh karena itu, kebakaran ini, meskipun tragis, juga dilihat sebagai momentum untuk “reset” dan mengembalikan Sade seperti era tahun 1990-an. “Jadi nanti Sade tidak ada semen, tidak ada kompor gas, dan tidak ada listrik. Semoga keinginan kami terwujud agar kampung Sade bisa merepresentasikan Suku Sasak,” pungkasnya, menunjukkan aspirasi kuat untuk mengembalikan kemurnian dan autentisitas budaya Sasak yang sesungguhnya.

Warga Sade Ingin Kembali Seperti Era 90

Respon dan Visi Menteri Pariwisata: Keselamatan dan Modernisasi Berkelanjutan

Menanggapi aspirasi dan kondisi yang disampaikan warga, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melanjutkan kunjungannya ke lokasi dapur umum yang didirikan oleh KDKMP (kemungkinan singkatan dari Komando Distrik Militer/Polisi atau sejenisnya) di dekat kantor Desa Rembitan. Dari sana, Menteri menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung pemulihan Sade. “Tentunya kami ingin planning-nya ke depan ada pemadam kebakaran, agar semua bisa terselamatkan,” terangnya, menyoroti pentingnya infrastruktur keselamatan yang memadai untuk mencegah terulangnya insiden serupa.

Terkait isu listrik, Menteri menawarkan solusi inovatif untuk menjembatani keinginan warga dengan kebutuhan modernisasi yang aman. Ia mewacanakan penggunaan kabel bawah tanah sebagai alternatif. “Listrik kita tetap butuh tapi tidak di atas (kabel di bawah, red). Kalau listrik di bawah lebih aman dan itu bisa didesain di masterplan,” tegasnya. Pendekatan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk mengakomodasi kebutuhan penerangan dan kenyamanan modern tanpa mengganggu estetika visual atau menimbulkan risiko kebakaran yang tinggi, yang menjadi kekhawatiran utama masyarakat. Pemasangan kabel bawah tanah dapat menjaga keaslian tampilan desa sambil tetap menyediakan akses listrik yang aman. Ini juga sejalan dengan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek pelestarian budaya, lingkungan, dan keselamatan.

Konteks Latar Belakang dan Signifikansi Dusun Adat Sade

Dusun Adat Sade bukan sekadar perkampungan biasa, melainkan sebuah living museum yang merepresentasikan kehidupan asli Suku Sasak di Lombok. Terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Sade telah lama menjadi destinasi pariwisata unggulan NTB, menarik ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahunnya. Keunikan Sade terletak pada arsitektur rumah tradisionalnya yang disebut Bale Sasak, dengan atap alang-alang dan lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau. Struktur ini telah bertahan selama berabad-abad, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan budaya Sasak.

Masyarakat Sade juga dikenal karena mempertahankan tradisi tenun ikat, terutama kain songket, yang menjadi mata pencarian utama dan daya tarik bagi wisatawan. Selain itu, mereka masih mempraktikkan ritual-ritual adat, tarian tradisional, dan cara hidup komunal yang kuat. Oleh karena itu, kebakaran yang melanda Sade beberapa waktu lalu bukan hanya kerugian material, melainkan juga ancaman serius terhadap kelangsungan warisan budaya yang tak ternilai. Insiden ini menyoroti kerapuhan struktur tradisional terhadap bahaya modern seperti instalasi listrik yang kurang memadai atau penggunaan gas yang tidak hati-hati, terutama di lingkungan padat dan berbahan mudah terbakar.

Implikasi Lebih Luas: Masa Depan Pariwisata Adat di NTB

Peristiwa di Sade memiliki implikasi yang luas bagi pengembangan pariwisata adat di NTB dan Indonesia secara keseluruhan. Pertama, ini adalah pelajaran penting tentang pentingnya mitigasi bencana dan manajemen risiko di destinasi pariwisata berbasis budaya. Kebakaran di Sade menegaskan urgensi untuk mengembangkan standar keselamatan yang sesuai dengan konteks bangunan tradisional, tanpa mengorbankan keaslian.

Kedua, kasus Sade menyoroti dilema antara modernisasi dan pelestarian. Aspirasi masyarakat untuk kembali ke gaya hidup tanpa listrik dan gas adalah refleksi dari keinginan kuat untuk menjaga identitas dan menghindari risiko. Namun, pemerintah, di sisi lain, berupaya menawarkan solusi modern yang lebih aman dan berkelanjutan. Titik temu antara kedua pandangan ini akan menjadi kunci keberhasilan rekonstruksi Sade. Pendekatan yang komprehensif harus mempertimbangkan aspek sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan secara seimbang.

Ketiga, insiden ini dapat menjadi katalisator untuk perbaikan tata kelola pariwisata adat. Pengembangan masterplan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat adat, pakar budaya, dan pemerintah adalah langkah penting. Masterplan ini tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga program edukasi, pelatihan, dan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan, memastikan bahwa pariwisata memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat tanpa mengikis nilai-nilai luhur.

Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Pemulihan Sade

Pemulihan dan pembangunan kembali Dusun Adat Sade memerlukan kolaborasi multi-pihak yang kuat. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta berbagai lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan sektor swasta, harus bersinergi. Peran aktif masyarakat adat sebagai pemangku kepentingan utama sangat krusial, memastikan bahwa setiap kebijakan dan program yang dijalankan sejalan dengan nilai-nilai dan keinginan mereka.

Dukungan finansial untuk pengadaan material seperti alang-alang dan kayu, bantuan tenaga kerja untuk pembangunan, serta program pemulihan ekonomi bagi warga yang kehilangan mata pencarian, adalah beberapa area yang membutuhkan perhatian segera. Selain itu, edukasi tentang bahaya kebakaran dan pelatihan penggunaan teknologi yang aman, jika masyarakat memutuskan untuk mengadopsi sebagian modernisasi, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pemulihan holistik.

Menanti Bangkitnya Kembali Ikon Budaya Sasak

Kunjungan Menteri Pariwisata RI ke Dusun Adat Sade merupakan langkah awal yang penting dalam upaya pemulihan. Dialog yang terjalin antara pemerintah dan masyarakat adat diharapkan dapat menghasilkan solusi terbaik yang tidak hanya membangun kembali fisik Sade, tetapi juga memperkuat jiwa dan identitas budayanya. Keinginan masyarakat untuk kembali ke otentisitas tanpa listrik dan gas, meskipun menantang, menunjukkan komitmen kuat mereka terhadap pelestarian warisan.

Dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah dan berbagai pihak, serta semangat gotong royong masyarakat Sade, diharapkan ikon pariwisata dan budaya Sasak ini dapat bangkit kembali. Sade yang baru, atau lebih tepatnya Sade yang "kembali ke jati diri," diharapkan akan menjadi model pariwisata adat yang berkelanjutan, aman, dan tetap otentik, merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Ini adalah momentum untuk membangun kembali tidak hanya rumah, tetapi juga harapan dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh komunitas adat Sade.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *