Sebuah delegasi perwakilan organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) baru-baru ini menyelesaikan kunjungan muhibah yang signifikan ke berbagai wilayah di Tiongkok. Kegiatan ini, yang diprakarsai oleh Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (Konjen RRC) Denpasar, bertujuan untuk memperdalam hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam konteks pertukaran budaya, pemahaman keagamaan, dan pembelajaran model pembangunan. Dipimpin oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB, Dr. H. Badrun, rombongan ini terdiri dari tokoh-tokoh penting dari Nahdlatul Wathan (NW), Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), Nahdlatul Ulama (NU) NTB, Muhammadiyah NTB, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) NTB, serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB. Misi Budaya dan Keagamaan di Jantung Ningxia Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan diplomatik biasa, melainkan sebuah misi konstruktif untuk menyaksikan langsung capaian Tiongkok dalam menjamin kebebasan beragama, mempromosikan persatuan etnis, serta mengukir kemajuan ekonomi dan sosial. Sejak Senin, 14 September 2026, delegasi telah berada di Kota Yinchuan, ibu kota Daerah Otonomi Ningxia. Di sana, mereka berkesempatan untuk mengamati secara langsung kehidupan komunitas Muslim Tiongkok dan memahami implementasi sistem otonomi daerah yang diterapkan. Salah satu fokus utama kunjungan adalah pembelajaran mengenai upaya pemerintah setempat dalam memajukan daerah dan menanggulangi kemiskinan. Di wilayah yang sebelumnya dikenal tandus, kini telah terjadi transformasi signifikan berkat kolaborasi dan dukungan kuat dari pemerintah. Rombongan menyaksikan bagaimana kemiskinan berhasil dientaskan di wilayah tersebut, mengubah lanskap menjadi lebih maju dan sejahtera. Pengalaman ini memberikan gambaran konkret tentang potensi kolaborasi dan model pembangunan yang dapat diadopsi. Selain aspek pembangunan ekonomi dan sosial, delegasi juga diajak menelusuri jejak sejarah dan peradaban dengan mengunjungi peninggalan kekaisaran Xixia. Rangkaian kunjungan ini juga dijadwalkan mencakup kunjungan ke Institut Teologi Islam China di Beijing, yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang perkembangan studi keislaman di Tiongkok. Ningxia dan NTB: Memperkuat Jembatan Persahabatan Konsul Jenderal Tiongkok di Denpasar, Zhang Zhicheng, dalam keterangannya menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian integral dari upaya meningkatkan pemahaman keagamaan dan pertukaran antarperadaban. Ia menekankan bahwa Provinsi NTB dan Daerah Otonomi Ningxia memiliki hubungan yang telah terjalin erat. Hubungan persahabatan antara kedua daerah ini bukanlah hal baru. Sejak tahun 2016, Gubernur NTB kala itu, TGH Muhammad Zainul Majdi, telah memimpin delegasi serupa untuk mengunjungi Ningxia. Hasilnya, kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman yang meletakkan dasar kuat bagi kerja sama di berbagai bidang, termasuk pertanian, pengolahan makanan halal, dan bidang humaniora. Puncak dari upaya ini adalah peresmian hubungan provinsi kembar internasional antara Ningxia dan NTB pada September 2017, yang menjadi fondasi bagi kemitraan strategis yang berkelanjutan. Zhang Liwei, Deputy Director General of the Ningxia Foreign Affairs Office, menyambut hangat kedatangan delegasi NTB. Ia mengapresiasi kunjungan ini sebagai langkah penting dalam mendorong peningkatan hubungan bilateral dan kerja sama strategis. Menurutnya, momen ini menegaskan kembali hubungan sejarah panjang antara Tiongkok dan Indonesia yang telah terjalin lebih dari seribu tahun. Ia juga menyelaraskan kunjungan ini dengan semangat harmonisasi hubungan diplomatik antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Dalam presentasinya, Zhang Liwei memaparkan transformasi luar biasa yang dialami Ningxia. Wilayah yang dulunya identik dengan gurun pasir kini telah berubah menjadi kawasan hijau yang berkembang pesat. Ningxia kini dikenal sebagai pusat produksi Goji Berry, komoditas herbal unggulan, serta peternakan sapi perah berkualitas tinggi dan industri anggur (wine). Lebih lanjut, Ningxia menjadi pionir dalam penerapan energi hijau, dengan 100% energi terbarukan (PLTS) untuk kebutuhan rumah tangga dan 60% untuk sektor industri. Keunggulan infrastruktur dan kondisi lingkungan yang kondusif juga menjadikan Ningxia sebagai lokasi strategis bagi pusat data perusahaan global ternama seperti Amazon dan Alibaba. Sebagai jalur penting dalam Jalur Sutra kuno, Ningxia dihuni oleh 56 etnis yang hidup dalam kerukunan, termasuk komunitas Muslim Hui yang merupakan sepertiga dari total populasi. Zhang Liwei menekankan bahwa stabilitas dan persatuan menjadi kunci utama kemajuan suatu negara. Keharmonisan dan toleransi di Ningxia, ia menambahkan, telah menjadi fondasi utama pembangunan, yang tercermin dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Ningxia yang mencapai posisi kelima tertinggi di Tiongkok. Untuk mempererat kemitraan Sister Province, Zhang Liwei mengusulkan tiga area prioritas: intensifikasi pertukaran kunjungan untuk meningkatkan mobilitas warga dan pejabat guna mempererat hubungan persaudaraan dan pemahaman budaya; pembentukan platform kerja sama sebagai wadah komunikasi bersama untuk bertukar pengalaman di bidang ekonomi, teknologi, dan pertukaran pelajar; serta partisipasi dalam forum internasional seperti Konferensi dan Pameran Tiongkok-Arab, dan peluncuran program pertukaran pemuda Ningxia-NTB tahun depan. Respons dan Apresiasi dari Delegasi NTB Ketua MUI NTB dan juga ketua rombongan, Dr. H. Badrun, menyambut baik inisiatif muhibah ini. Ia menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan wujud mempererat tali silaturahmi sebagai warga dunia, yang diharapkan dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan cinta. Badrun mengungkapkan kekagumannya atas kemajuan pesat yang dicapai Ningxia dalam tiga dekade terakhir. Menyaksikan keberhasilan Provinsi Ningxia sebagai sister province NTB, Badrun menekankan pentingnya komitmen dan keseriusan dalam upaya pengentasan kemiskinan di NTB. Ia menyarankan agar pemerintah daerah dan masyarakat NTB meniru model perencanaan yang matang, eksekusi yang serius, serta keteladanan dari para pemimpin untuk memastikan program pengentasan kemiskinan berjalan optimal dan tepat sasaran. Kunjungan ini sejalan dengan visi Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, untuk menjadikan NTB Makmur dan Mendunia. "Apa yang dilihat dan dipelajari di sini akan kami sampaikan kepada Bapak Gubernur, sehingga suatu saat Bapak Gubernur bisa datang ke sini," ujarnya. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PB NW), Prof. Dr. H. Fahrurrozi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Konjen RRC di Bali atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, program ini memiliki nilai positif yang sangat besar dalam memperkuat kemitraan antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam sektor pengembangan keagamaan. Muhibah ini menjadi bukti nyata kuatnya relasi keagamaan kedua negara, memberikan gambaran pembelajaran konstruktif mengenai adaptasi dan harmoni kehidupan Muslim Tiongkok dengan masyarakat setempat. Selain isu keagamaan, muhibah ini juga menyoroti upaya pengentasan kemiskinan di Ningxia. Fahrurrozi menegaskan bahwa penanggulangan kemiskinan adalah tanggung jawab bersama. Ia mengidentifikasi empat poin kunci dari keberhasilan Pemda Ningxia yang dapat diterapkan di NTB: kebijakan yang tepat, kepedulian sosial, partisipasi aktif masyarakat, dan kesadaran sosial. "Kebijakan adalah ranah pemerintah, namun ormas memiliki peran strategis dari sisi partisipatif dan edukatif untuk menggerakkan masyarakat agar mampu bangkit dari kemiskinan," pungkasnya. Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah NTB, Dr. Falahudin, M.Ag., menambahkan bahwa kunjungan ini tidak hanya sekadar eksplorasi, tetapi juga sarana untuk mendapatkan inspirasi dalam memajukan daerah dan menjaga toleransi beragama. Kemajuan yang diraih Tiongkok, khususnya di Ningxia, mencakup seluruh aspek sains, teknologi, dan ekonomi. Kemajuan ini dicapai berkat kolaborasi dan pola pikir pemerintah serta masyarakat yang berorientasi pada kemajuan. "Mereka sudah sangat maju dan (pelajaran) ini harus dibawa ke Indonesia, khususnya NTB. Paling tidak ada perubahan pada mindset kita untuk membangun daerah," jelasnya. Implikasi dan Prospek Kerjasama Jangka Panjang Kunjungan delegasi ormas keagamaan NTB ke Ningxia ini memiliki implikasi yang luas bagi penguatan hubungan Indonesia-Tiongkok, khususnya antara Provinsi NTB dan Daerah Otonomi Ningxia. Pembelajaran mengenai model pengentasan kemiskinan yang efektif, kebijakan sosial yang inklusif, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan di Ningxia dapat menjadi sumber inspirasi berharga bagi NTB dalam merumuskan strategi pembangunannya. Lebih dari itu, penekanan pada harmoni antar-etnis dan antar-agama di Ningxia memberikan contoh nyata bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan pendorong kemajuan. Bagi NTB, yang juga memiliki kekayaan keragaman budaya dan agama, pengalaman ini dapat memperkuat upaya dalam menjaga dan memelihara toleransi serta kerukunan. Prospek kerja sama di masa depan sangat terbuka. Penguatan kemitraan Sister Province melalui intensifikasi pertukaran kunjungan, pembentukan platform kerja sama yang konkret, dan program-program lintas budaya seperti pertukaran pemuda, akan menjadi fondasi yang kokoh untuk kolaborasi di berbagai sektor. Hal ini tidak hanya akan menguntungkan kedua belah pihak secara ekonomi, tetapi juga memperkaya pemahaman budaya dan mempererat ikatan persahabatan antar-masyarakat. Kunjungan ini merupakan langkah awal yang menjanjikan untuk membangun masa depan yang lebih cerah melalui dialog, pembelajaran, dan kerja sama yang berkelanjutan. Post navigation Ratusan Siswa di Lombok Tengah Diduga Keracunan Massal Usai Santap Menu Makan Bergizi Gratis, Evaluasi Dapur dan Investigasi Laboratorium Dilakukan Ekspedisi Inovasi NTB ke Beijing: Ormas Keagamaan Saksikan Langsung Kemajuan AI dan Robotika Tiongkok