PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Integrated Terminal (IT) Ampenan secara resmi menyerahkan 15 paket permainan edukatif yang dinamakan Pertakid (Permainan Tradisional Anak Indonesia) kepada Bunda Literasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Bunda Sinta Iqbal. Penyerahan bantuan ini merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan literasi di kalangan anak-anak sekaligus melestarikan budaya tradisional melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan. Paket permainan ini nantinya akan diintegrasikan ke dalam Program Gelitra (Gerakan Literasi dan Permainan Tradisional) dan disebarluaskan melalui jaringan Tim Penggerak PKK di seluruh kabupaten dan kota di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Inovasi Pertakid lahir dari kolaborasi erat antara Pertamina Patra Niaga IT Ampenan dengan komunitas lokal, yakni Komunitas Alo Main dan Sanggar Jalan Pulang. Permainan ini dirancang secara khusus untuk menggabungkan unsur kesenangan dari permainan tradisional dengan materi edukasi lingkungan yang mendalam, terutama mengenai ekosistem pesisir dan pelestarian mangrove. Melalui metode ini, anak-anak tidak hanya diajak untuk bergerak secara fisik, tetapi juga diberikan pemahaman dasar mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam di lingkungan tempat tinggal mereka.

Latar Belakang dan Konteks Program Sekolah Alam Anak Pesisir

Pengembangan Pertakid bukan merupakan inisiatif yang berdiri sendiri, melainkan bagian integral dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk Sekolah Alam Anak Pesisir. Program ini telah diinisiasi oleh Integrated Terminal Ampenan sejak awal tahun 2024 dengan fokus utama pada pendidikan berbasis lingkungan bagi anak-anak yang tinggal di kawasan pesisir. Mengingat NTB merupakan provinsi kepulauan dengan garis pantai yang panjang, pemahaman mengenai ekosistem laut menjadi kompetensi dasar yang sangat krusial bagi generasi muda di wilayah tersebut.

Sekolah Alam Anak Pesisir hadir untuk mengisi celah pendidikan informal yang sering kali luput dari kurikulum sekolah konvensional. Di sini, anak-anak diajarkan untuk mengenali berbagai jenis mangrove, cara kerjanya dalam mencegah abrasi, serta fungsinya sebagai habitat bagi berbagai biota laut. Dengan adanya Pertakid, materi-materi yang bersifat saintifik tersebut disederhanakan ke dalam bentuk aturan permainan yang mudah dicerna, sehingga proses belajar terjadi secara organik tanpa memberikan beban psikologis kepada anak.

Data menunjukkan bahwa literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami konteks lingkungan dan sosial di sekitarnya. Di NTB, tantangan literasi masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Oleh karena itu, pendekatan learning by playing (belajar sambil bermain) yang diusung oleh Pertamina dianggap sebagai solusi kreatif untuk meningkatkan indeks literasi sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.

Sinergi Strategis dengan Bunda Literasi dan PKK NTB

Penyerahan 15 paket Pertakid kepada Bunda Sinta Iqbal menandai babak baru dalam kolaborasi antara sektor industri dan pemerintah daerah. Bunda Literasi Provinsi NTB menyambut baik inovasi ini sebagai alat peraga edukatif yang relevan dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, di tengah gempuran teknologi digital dan penggunaan gawai yang berlebihan pada anak-anak, kehadiran kembali permainan tradisional yang dimodifikasi dengan konten edukasi adalah sebuah terobosan yang sangat diperlukan.

Bunda Sinta Iqbal menekankan bahwa potensi Pertakid sangat luas. Meskipun saat ini fokus utamanya adalah pada isu lingkungan pesisir dan mangrove, platform permainan ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menyasar isu-isu sosial lainnya yang tengah menjadi tantangan di NTB. Beberapa isu yang diusulkan untuk diintegrasikan di masa depan mencakup pencegahan perundungan (bullying), kampanye pencegahan pernikahan dini, edukasi kesehatan dasar, hingga kesadaran akan gizi buruk atau stunting.

Melalui jejaring Tim Penggerak PKK yang tersebar hingga ke tingkat desa dan dasawisma, Pertakid diharapkan dapat menjangkau kantong-kantong pemukiman yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap sarana hiburan edukatif. PKK memiliki peran sentral dalam pola asuh anak di keluarga, sehingga distribusi melalui jalur ini dianggap paling efektif untuk memastikan permainan tersebut digunakan secara tepat sasaran.

Spesifikasi dan Nilai Edukasi dalam Pertakid

Pertakid dirancang untuk menghidupkan kembali memori kolektif bangsa terhadap permainan tradisional yang mulai ditinggalkan. Namun, berbeda dengan permainan zaman dulu yang murni untuk hiburan, Pertakid menyisipkan narasi-narasi pelestarian alam dalam setiap langkah permainannya. Sebagai contoh, dalam beberapa jenis permainan, anak-anak mungkin harus melewati rintangan yang dianalogikan sebagai ancaman terhadap hutan mangrove, atau mereka mendapatkan "poin" ketika berhasil melakukan simulasi penanaman bibit pohon di area pesisir.

Pertamina Patra Niaga Perluas Literasi Anak NTB melalui Permainan Edukatif Pertakid

Keterlibatan Komunitas Alo Main dan Sanggar Jalan Pulang memastikan bahwa aspek budaya tetap terjaga. Mereka membantu dalam merancang mekanika permainan agar tetap autentik namun tetap memiliki nilai pedagogis yang kuat. Penggunaan material yang ramah lingkungan dalam paket permainan ini juga menjadi bukti konsistensi Pertamina dalam mengusung tema keberlanjutan.

Nugroho Tri Hutomo, Supervisor I HSSE & Fleet Safety Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Ampenan, menjelaskan bahwa pemilihan 15 paket awal ini adalah langkah stimulan. Pihaknya ingin melihat bagaimana respon masyarakat dan efektivitas permainan ini di lapangan sebelum melakukan eskalasi program yang lebih besar. Menurut Nugroho, aspek keselamatan dan kesehatan (HSSE) juga menjadi pertimbangan dalam desain permainan, memastikan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan anak-anak aman dan mendukung perkembangan motorik mereka.

Dampak Terhadap Indeks Literasi dan Kesadaran Lingkungan

Secara jangka panjang, inisiatif Pertakid diproyeksikan akan memberikan dampak ganda. Pertama, dari sisi pendidikan, permainan ini diharapkan mampu meningkatkan daya kritis anak-anak terhadap masalah lingkungan di sekitar mereka. Ketika seorang anak memahami bahwa mangrove melindungi rumah mereka dari hantaman gelombang, mereka akan tumbuh menjadi individu yang memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap alam.

Kedua, dari sisi sosial, penggunaan permainan tradisional mendorong interaksi antar-anak yang lebih intens dibandingkan permainan digital. Hal ini sangat penting untuk membangun kecerdasan emosional dan keterampilan sosial, seperti kerja sama tim, sportivitas, dan komunikasi verbal. Di tengah kekhawatiran global mengenai dampak negatif media sosial terhadap mental remaja, kembali ke permainan fisik yang terstruktur adalah langkah preventif yang bijaksana.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa inovasi ini adalah bentuk nyata dari komitmen perusahaan dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas dan poin ke-14 mengenai pelestarian ekosistem laut. Ahad menyatakan bahwa keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari besarnya dana yang digelontorkan, tetapi dari seberapa besar inovasi tersebut dapat diadopsi dan dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Analisis Implikasi dan Harapan Masa Depan

Langkah Pertamina Patra Niaga IT Ampenan ini juga mencerminkan tren baru dalam dunia CSR di Indonesia, di mana perusahaan tidak lagi sekadar memberikan bantuan fisik yang bersifat konsumtif, tetapi lebih fokus pada pemberdayaan kapasitas intelektual dan budaya masyarakat. Dengan menggandeng komunitas lokal dan pemerintah daerah, program ini memiliki tingkat keberlanjutan (sustainability) yang tinggi karena didukung oleh ekosistem yang sudah ada.

Implikasi dari keberhasilan Pertakid di NTB bisa menjadi percontohan bagi wilayah lain di Indonesia yang memiliki karakteristik geografis serupa. Jika model permainan edukatif ini terbukti efektif meningkatkan minat baca dan kesadaran lingkungan, tidak menutup kemungkinan Pertakid akan diproduksi secara massal untuk wilayah operasional Pertamina lainnya di seluruh nusantara.

Ke depan, tantangan utama terletak pada konsistensi pendampingan. Agar Pertakid tidak hanya menjadi benda pajangan di sekretariat PKK, diperlukan pelatihan bagi para kader PKK mengenai cara memandu permainan tersebut agar pesan edukasinya tersampaikan dengan maksimal. Kolaborasi dengan dinas pendidikan dan dinas perpustakaan daerah juga perlu diperkuat agar Pertakid dapat masuk ke ruang-ruang publik seperti Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan perpustakaan desa.

Melalui sinergi yang harmonis antara korporasi, pemerintah, dan komunitas, Pertakid diharapkan mampu menjadi katalisator lahirnya generasi baru di Nusa Tenggara Barat yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, mencintai budayanya, dan memiliki kepedulian yang mendalam terhadap kelestarian lingkungan hidup. Penyerahan bantuan ini hanyalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang untuk membangun peradaban yang lebih baik melalui permainan dan literasi.

Dengan pendekatan yang kontekstual dan kreatif seperti ini, masa depan pendidikan anak-anak pesisir di NTB tampak lebih cerah. Pertakid membuktikan bahwa untuk mengedukasi generasi alpha, kita terkadang perlu menengok kembali kearifan masa lalu dan mengemasnya dengan relevansi masa kini. Gerakan Literasi dan Permainan Tradisional (Gelitra) kini memiliki amunisi baru untuk terus bergerak maju, mencerdaskan kehidupan bangsa dari tepian pantai Nusa Tenggara Barat.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *