Desa Nyerot yang terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, kini tengah menjadi sorotan sebagai model transformasi sektor peternakan rakyat di Nusa Tenggara Barat. Melalui intervensi strategis dari Universitas Mataram (UNRAM), praktik peternakan tradisional yang selama ini terbelenggu oleh masalah sanitasi, limbah yang berbau, serta ketergantungan pakan musiman, mulai beralih menuju sistem yang lebih modern, bersih, dan menguntungkan secara finansial. Program bertajuk "Adopsi dan Diseminasi Teknologi Pengolahan Pakan dan Pengelolaan Limbah Ternak untuk Peningkatan Ekonomi Peternak" ini dipimpin langsung oleh para pakar dari UNRAM dalam skema Program Profesor Berdampak. Fokus utama dari inisiatif ini adalah memberdayakan Kelompok Ternak Pantang Mundur, sebuah komunitas yang menaungi 24 peternak lokal dengan total populasi ternak mencapai 62 ekor sapi. Perubahan paradigma dari melihat kotoran sapi sebagai limbah menjadi aset ekonomi merupakan inti dari revolusi peternakan yang sedang berlangsung di jantung Pulau Lombok ini. Konteks Tantangan Peternakan Rakyat di Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat (NTB) secara historis dikenal sebagai salah satu lumbung ternak nasional, khususnya untuk sapi potong. Namun, produktivitas peternak rakyat sering kali terhambat oleh metode pemeliharaan yang masih bersifat subsisten dan tradisional. Di Desa Nyerot, masalah utama yang dihadapi peternak sebelum adanya pendampingan dari UNRAM adalah manajemen lingkungan kandang yang buruk. Kandang-kandang tradisional umumnya tidak memiliki sistem drainase yang memadai, menyebabkan feses dan urine sapi bercampur dan menggenang. Kondisi ini tidak hanya menciptakan bau menyengat yang mengganggu kenyamanan warga sekitar, tetapi juga menjadi sarang penyakit bagi ternak itu sendiri, yang pada akhirnya menurunkan kualitas kesehatan dan nilai jual sapi. Selain masalah sanitasi, ketergantungan pada pakan hijauan segar menjadi kendala krusial, terutama saat memasuki musim kemarau. Di wilayah Lombok Tengah, ketersediaan rumput di pematang sawah akan menyusut drastis ketika curah hujan berkurang. Hal ini memaksa peternak untuk menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk mencari pakan (ngarit), yang seringkali jaraknya semakin jauh dari pemukiman. Tanpa adanya teknologi penyimpanan pakan, peternak berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi ketersediaan pakan hijau, yang berdampak langsung pada berat badan ternak dan pendapatan mereka. Inisiatif Profesor Berdampak: Sinergi Akademisi dan Praktisi Merespons kondisi tersebut, Universitas Mataram menerjunkan tim ahli yang terdiri dari lintas disiplin ilmu untuk melakukan intervensi mendalam. Tim ini diketuai oleh Prof. Ir. Yusuf Akhyar Sutaryono, Ph.D., yang didampingi oleh jajaran profesor dan doktor berpengalaman lainnya, antara lain Prof. Dr. Ir. Syamsul Hidayat Dilaga, M.S., Prof. Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Djumardin, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Ir. Maskur, M.Si., Dr. Ir. I Wayan Yasa, S.T., M.T., IPM., dan Dr. Ir. Hermansyah, M.Si. Keterlibatan para akademisi senior ini menunjukkan komitmen perguruan tinggi dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian masyarakat yang berbasis riset terapan. Program ini tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge) yang berkelanjutan. Langkah awal yang dilakukan tim adalah membenahi infrastruktur sanitasi kandang. Melalui perbaikan sistem drainase, feses dan urine sapi kini dipisahkan dan dialirkan menuju bak penampungan khusus. Dengan lingkungan yang lebih kering dan bersih, risiko infeksi kuku dan mulut pada sapi dapat diminimalisir, sementara kenyamanan lingkungan desa meningkat secara signifikan. Transformasi Limbah Menjadi Emas Hitam dan Pupuk Organik Cair Salah satu pilar utama dari program ini adalah penerapan prinsip ekonomi sirkular. Dalam konsep ini, tidak ada sumber daya yang terbuang percuma. Feses sapi yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini diolah menjadi pupuk kandang kompos yang kaya nutrisi. Melalui proses dekomposisi yang teratur, limbah padat tersebut berubah menjadi "emas hitam" yang memiliki nilai jual tinggi di pasar pertanian organik atau dapat digunakan kembali oleh peternak untuk memupuk lahan hijauan mereka sendiri. Tak hanya limbah padat, urine sapi yang selama ini terbuang dan mencemari air tanah juga mulai dikelola. Urine dikumpulkan dan diproses menjadi pupuk organik cair (POC). Penggunaan POC terbukti efektif dalam meningkatkan kesuburan tanah tanpa merusak struktur ekologi seperti halnya pupuk kimia sintetis. Prof. Yusuf Akhyar menekankan bahwa dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah, peternak mendapatkan sumber pendapatan tambahan (extra income) di luar penjualan ternak utama. Hal ini menciptakan resiliensi ekonomi bagi keluarga peternak, di mana mereka tidak lagi hanya bergantung pada siklus penjualan sapi yang memakan waktu lama. Teknologi Silase: Solusi Ketahanan Pakan Sepanjang Musim Guna mengatasi masalah kelangkaan pakan saat musim kemarau, tim Profesor Berdampak UNRAM memperkenalkan teknologi silase. Silase adalah pakan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi hijauan dengan kadar air tinggi dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Bahan baku yang digunakan meliputi rumput gajah, rumput odot, dan tebon jagung (tanaman jagung utuh yang dipanen muda). Proses pembuatan silase dimulai dengan pencacahan hijauan menjadi ukuran kecil, yang kemudian dipadatkan di dalam wadah kedap udara seperti silo atau tong plastik (drum). Dalam kondisi anaerob tersebut, bakteri asam laktat akan bekerja mengawetkan hijauan tanpa menghilangkan kandungan nutrisinya. Keunggulan utama silase adalah daya simpannya yang lama, bisa mencapai 6 hingga 12 bulan jika disimpan dengan benar. Dengan teknologi ini, peternak di Desa Nyerot kini dapat melakukan "bank pakan". Saat musim hujan di mana rumput melimpah, mereka mengolahnya menjadi silase sebagai cadangan untuk musim kemarau. Dampaknya sangat signifikan terhadap efisiensi waktu kerja peternak. Mereka tidak lagi diwajibkan mencari rumput setiap hari, sehingga waktu yang tersisa dapat digunakan untuk kegiatan ekonomi produktif lainnya. Selain itu, pakan fermentasi diketahui lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan sapi, yang berujung pada peningkatan laju pertumbuhan bobot badan harian (Average Daily Gain/ADG) ternak. Analisis Dampak Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Program yang dijalankan oleh UNRAM di Lombok Tengah ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian beberapa target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) tercermin dari peningkatan nilai ekonomi limbah dan efisiensi biaya pakan yang meningkatkan pendapatan riil peternak. Kedua, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) didukung melalui penguatan ketahanan pangan berbasis ternak dan sistem pertanian terintegrasi. Ketiga, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) diimplementasikan melalui pengelolaan limbah ternak yang ramah lingkungan dan pengurangan ketergantungan pada input kimia eksternal. Terakhir, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) tercapai melalui pengurangan emisi gas metana dari kotoran ternak yang kini dikelola dengan baik, serta adaptasi peternak terhadap pola cuaca yang tidak menentu melalui penyediaan cadangan pakan. Respon Positif dari Pelaku Usaha Peternakan Keberhasilan program ini mendapat apresiasi tinggi dari para peternak di lapangan. Abdurrahman, Ketua Kelompok Ternak Pantang Mundur, menyatakan bahwa intervensi dari Universitas Mataram sangat relevan dengan kebutuhan mendesak para peternak. Menurutnya, masalah kebersihan kandang selama ini menjadi kendala besar dalam hubungan sosial dengan tetangga sekitar kandang. Dengan sistem drainase yang baru, aroma tidak sedap jauh berkurang dan lingkungan menjadi lebih asri. "Pendampingan ini membuka mata kami bahwa kotoran sapi bukan sekadar sampah, tapi uang yang belum diolah. Perbaikan saluran pembuangan sangat membantu kami menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Kami juga merasa lebih tenang menghadapi musim kemarau mendatang karena sudah memiliki pengetahuan tentang pembuatan silase," ujar Abdurrahman dalam sebuah sesi evaluasi program. Implikasi Luas dan Proyeksi Masa Depan Transformasi yang terjadi di Desa Nyerot memberikan pelajaran berharga bagi pengembangan sektor peternakan di wilayah lain. Keberhasilan ini membuktikan bahwa teknologi tepat guna, jika didampingi dengan edukasi yang intensif, dapat mengubah pola pikir masyarakat dari peternak tradisional menjadi wirausahawan ternak (animal husbandary entrepreneur). Secara makro, model peternakan bersih di Lombok Tengah ini berpotensi untuk direplikasi di tingkat kabupaten atau bahkan provinsi. Jika seluruh kelompok ternak di NTB menerapkan sistem pengolahan limbah dan pakan serupa, maka masalah pencemaran lingkungan akibat kotoran ternak dapat ditekan seminimal mungkin, sementara produksi pupuk organik lokal akan meningkat drastis. Hal ini akan mendukung program pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada pupuk subsidi dan mendorong gerakan pertanian organik nasional. Universitas Mataram melalui Program Profesor Berdampak berkomitmen untuk terus memantau perkembangan Kelompok Ternak Pantang Mundur. Langkah selanjutnya adalah memperluas akses pasar bagi produk-produk turunan ternak seperti pupuk kompos dan pupuk organik cair yang dihasilkan oleh warga desa. Dengan adanya jejaring antara akademisi, pemerintah daerah, dan pelaku pasar, Desa Nyerot diproyeksikan akan menjadi pusat pembelajaran (learning center) bagi peternakan rakyat yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat. Kesimpulannya, sinergi antara kepakaran akademik dari UNRAM dan semangat kemandirian peternak di Desa Nyerot telah melahirkan ekosistem baru yang menjanjikan. Dari kandang yang sebelumnya kotor dan dipenuhi masalah, kini lahir harapan akan masa depan peternakan yang lebih bermartabat, produktif, dan harmonis dengan alam. Program ini bukan sekadar bantuan teknis, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam membangun fondasi ekonomi pedesaan yang tangguh dan berkelanjutan. Post navigation Mahasiswa Baru UNDIKMA Disulut Semangat Bela Negara Strategi Penguatan Peran Perempuan PGRI dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Kabupaten Lombok Barat