Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PB NWDI), Tuan Guru Bajang (TGB) H. Muhammad Zainul Majdi, secara resmi mengambil alih pengelolaan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafaat yang berlokasi di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Langkah strategis ini ditempuh menyusul pengunduran diri Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah dari posisi pimpinan pesantren sebelumnya, di tengah mencuatnya dugaan perilaku menyimpang yang melibatkan individu tersebut. Pengambilalihan ini bertujuan utama untuk memastikan keberlanjutan proses belajar mengajar serta menjaga stabilitas dan reputasi institusi pendidikan Islam yang telah lama berdiri dan berprestasi. Kronologi dan Prosesi Pengambilalihan Proses serah terima pengelolaan Ponpes Abul Barokat Wannafaat berlangsung dalam suasana penuh khidmat pada Jumat (25/9). Acara yang dihadiri oleh ratusan wali santri, tokoh masyarakat, dan pengurus NWDI Lombok Tengah ini menandai babak baru bagi pesantren tersebut. Penyerahan tanggung jawab pengelolaan ini tidak hanya bersifat verbal, melainkan dituangkan secara resmi dalam naskah berita acara dan ikrar penyerahan. Dokumen tersebut secara komprehensif mencakup seluruh aset, sarana, dan prasarana yang ada di lingkungan pondok pesantren, menjamin transisi yang mulus dan legal. Dalam prosesi tersebut, TGH Habib Ziadi Thahir, Ketua PD NWDI Lombok Tengah, membacakan ikrar penyerahan di hadapan para hadirin. Ikrar tersebut menegaskan bahwa TGB H. Muhammad Zainul Majdi secara resmi menerima penyerahan Ponpes Abul Barokat untuk selanjutnya dibina, dikembangkan, dan dikelola. Tujuan utama dari pengelolaan baru ini adalah untuk kemajuan pendidikan Islam serta kemaslahatan umat, dengan penyesuaian seluruh hak, kewajiban, dan operasional pesantren sesuai kebijakan yang akan ditetapkan oleh TGB. Momen penting pembacaan ikrar dan penandatanganan penyerahan ini diakhiri dengan gema takbir yang menggaung, merefleksikan harapan dan dukungan penuh dari para wali santri dan komunitas terhadap kepemimpinan baru. Motivasi di Balik Keputusan TGB: Menyelamatkan Pendidikan dan Ribuan Santri Dalam keterangannya usai acara silaturahmi dan penyerahan pengelolaan, TGB H. Muhammad Zainul Majdi mengungkapkan alasan mendasarnya bersedia mengambil alih Ponpes Abul Barokat Wannafaat. Mantan Gubernur NTB dua periode ini menegaskan bahwa keputusannya didorong oleh keinginan kuat untuk memastikan proses belajar mengajar di pesantren tersebut tidak terhenti. Masalah yang muncul, yang ia sebut sebagai "perilaku individu yang diduga menyimpang," tidak boleh mengorbankan masa depan ratusan santri dan santriwati yang menimba ilmu di sana. "Saya sudah menerima pondok ini, supaya apa. Supaya tetap berjalan proses belajar mengajar," ungkap TGB. TGB menyoroti fakta bahwa Ponpes Abul Barokat Wannafaat adalah institusi yang sangat vital dengan lebih dari 800 santri dan santriwati. Selain jumlahnya yang signifikan, pesantren ini juga dikenal memiliki rekam jejak prestasi yang luar biasa, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. "Ini ada 800 santri. Prestasi pondok ini juga luar biasa, dalam kompetisi tingkat daerah, bahkan tingkat nasional," tambahnya. Ia menjelaskan bahwa sejauh ini, proses pendidikan di pesantren berjalan dengan sangat baik, namun kemudian diguncang oleh masalah personal yang melibatkan pimpinan sebelumnya. "Artinya apa, di sini ada proses pendidikan yang berjalan dengan baik. Kemudian terjadi suatu masalah yang melibatkan individu," tutur TGB, menekankan pemisahan antara masalah individu dan kualitas institusi. Komitmen TGB sangat jelas: masalah yang menyeret nama Ahmad Imanuddin Sumar atau Abah tidak boleh mengorbankan santri dan orang tua santri yang telah mempercayakan pendidikan anaknya di Ponpes Abul Barokat. Kepercayaan ini, menurut TGB, adalah amanah yang harus dijaga. "Saya sudah sampaikan tadi, masalah yang ada jangan sampai mengorbankan santri dan orang tua mereka yang saya saksikan mereka ingin tetap anaknya di sini," tegasnya, menggarisbawahi keinginan kuat dari para wali santri agar pendidikan anak-anak mereka tetap berlanjut di pesantren ini. Jejak Sejarah dan Prestasi Gemilang Ponpes Abul Barokat Wannafaat Sebelum menghadapi tantangan kepemimpinan ini, Ponpes Abul Barokat Wannafaat telah menorehkan sejarah panjang dan prestasi yang patut dibanggakan. Sahpan, Ketua Komite Ponpes Abul Barokat, mengenang awal mula berdirinya pondok pesantren ini yang dirintis oleh AIS bersama para santri dengan skema gotong royong. Ia mengungkapkan bahwa pondok ini tidak didirikan dengan kemudahan atau kekayaan, melainkan melalui jerih payah dan perjuangan yang panjang. "Pondok kita ini awalnya tidak kaya raya. Konsep terbentuknya hingga seperti sekarang ini yaitu dengan pengkhidmatan. Kita membangun pondok dan asrama semuanya dari gotong royong santri," ucap Sahpan. Kisah ini menggambarkan semangat kebersamaan dan dedikasi tinggi yang menjadi fondasi pesantren. Meskipun memulai dengan keterbatasan sumber daya, Ponpes Abul Barokat tidak pernah mengorbankan kualitas pendidikan. Sahpan menceritakan bahwa pada tahun kedua berdirinya, jumlah santri hanya 11 orang. Namun, ke-11 santri tersebut berhasil meraih juara dalam berbagai lomba tingkat kabupaten, mampu bersaing bahkan mengungguli sekolah-sekolah besar di kota. "Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kualitas tidak selalu ditentukan banyaknya jumlah siswa atau besarnya fasilitas yang dimiliki. Justru dari santri yang jumlahnya sedikit itulah, kami berusaha membuktikan bahwa pendidikan yang berkualitas dapat dibangun dengan kesungguhan," tambahnya, menegaskan filosofi pendidikan yang berfokus pada kualitas dan kesungguhan. Lebih lanjut, Ponpes Abul Barokat Wannafaat telah menunjukkan keunggulannya dalam mempersiapkan santri untuk jenjang pendidikan lebih tinggi. Sahpan mengungkapkan bahwa pesantren ini telah berhasil mengirimkan ratusan alumni untuk melanjutkan studi ke luar negeri, khususnya ke Kairo, Mesir, dan Maroko. Keberhasilan ini tidak lepas dari metode pengajaran di ponpes yang menggunakan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar utama. Secara spesifik, lebih dari 50 alumni telah melanjutkan pendidikan di Mesir, sementara sekitar 10 orang menempuh studi di Yaman. Bahkan, pada tahun ini, ponpes merencanakan pemberangkatan 17 alumni lagi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang internasional. Prestasi ini menegaskan bahwa Ponpes Abul Barokat Wannafaat bukan hanya sekadar tempat menimba ilmu agama, tetapi juga gerbang menuju pendidikan global yang berkualitas. Visi dan Komitmen TGB untuk Pembenahan Menyeluruh Dengan mengambil alih kendali, TGB H. Muhammad Zainul Majdi berkomitmen penuh untuk mengelola Ponpes Abul Barokat Wannafaat dengan standar terbaik. Pihaknya berjanji akan melakukan pembenahan secara menyeluruh, mencakup aspek struktur, tata kelola, dan operasional, demi memastikan seluruh proses di pesantren berjalan dengan baik dan optimal. "Maka kita semua punya komitmen, pondok ini harus prestasinya seperti semula, lebih lagi. Akan ada perbaikan antara pengasuh santri maupun santriwati," ujar TGB, menegaskan tekad untuk tidak hanya mengembalikan kejayaan tetapi juga melampauinya. Salah satu fokus utama pembenahan adalah peningkatan keamanan dan kenyamanan bagi santri dan santriwati. TGB secara tegas menyatakan akan mengubah tata kelola yang rawan menimbulkan masalah. Sebagai contoh konkret, akan diterapkan kebijakan larangan bagi pengasuh laki-laki untuk memasuki area asrama perempuan. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif yang kuat untuk memastikan insiden serupa tidak terulang kembali dan untuk menciptakan lingkungan yang aman sepenuhnya bagi para santriwati. "Kita akan menjadikan ponpes ini akan kita jadikan yang nyaman dan aman bagi santri dan santriwati," tegasnya, menyoroti pentingnya perlindungan dan kesejahteraan peserta didik sebagai prioritas utama. Dampak dan Implikasi Pengambilalihan Pengambilalihan pengelolaan Ponpes Abul Barokat Wannafaat oleh TGB H. Muhammad Zainul Majdi memiliki dampak dan implikasi yang luas, baik bagi internal pesantren maupun ekosistem pendidikan Islam di Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat secara umum. 1. Bagi Santri dan Wali Santri: Keputusan ini membawa angin segar dan kepastian. Dengan figur TGB yang memiliki rekam jejak kepemimpinan dan integritas yang kuat, para wali santri mendapatkan jaminan bahwa pendidikan anak-anak mereka akan tetap berlanjut dalam lingkungan yang aman dan berkualitas. Ini mencegah potensi eksodus massal santri yang mungkin terjadi jika masalah tidak ditangani dengan cepat dan tepat, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi. 2. Bagi Citra Pesantren: Krisis yang disebabkan oleh dugaan perilaku menyimpang pimpinan sebelumnya berpotensi merusak citra pesantren. Pengambilalihan oleh TGB, seorang tokoh ulama dan mantan kepala daerah yang sangat dihormati, menjadi langkah rehabilitasi citra yang sangat efektif. Ini menunjukkan bahwa pesantren tidak akan mentolerir perilaku menyimpang dan siap melakukan reformasi demi menjaga nilai-nilai luhur pendidikan Islam. Ini juga menjadi model bagaimana sebuah institusi pendidikan menghadapi krisis kepemimpinan. 3. Bagi Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI): Langkah ini memperkuat peran NWDI sebagai organisasi Islam yang tidak hanya fokus pada dakwah dan pendidikan, tetapi juga sigap dalam menangani masalah sosial dan kemasyarakatan. Intervensi TGB sebagai Ketua Umum PB NWDI menunjukkan komitmen organisasi untuk melindungi dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang berprestasi, serta menjadi solusi di tengah tantangan. 4. Implikasi Lebih Luas bagi Pendidikan Islam: Kasus ini menyoroti pentingnya tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada perlindungan anak di lembaga-lembaga pendidikan, khususnya pesantren. Kebijakan-kebijakan baru yang akan diterapkan TGB, seperti pembatasan akses pengasuh laki-laki ke asrama perempuan, dapat menjadi contoh praktik terbaik bagi pesantren lain dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh santri. Ini juga menekankan urgensi pengawasan internal dan eksternal untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan memastikan integritas pengajar serta pengelola. Dengan kepemimpinan baru di bawah TGB H. Muhammad Zainul Majdi, Ponpes Abul Barokat Wannafaat diharapkan tidak hanya pulih dari masalah yang mendera, tetapi juga bangkit menjadi institusi pendidikan Islam yang lebih kuat, lebih aman, dan semakin berprestasi, terus mencetak generasi penerus bangsa yang berilmu dan berakhlak mulia. Post navigation Penerbangan Bizam-Soetta Berangsur Normal