Upaya meningkatkan indeks literasi dan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda terus digencarkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah nyata terbaru ditunjukkan oleh Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui unit Integrated Terminal (IT) Ampenan yang secara resmi menyerahkan 15 paket permainan edukatif bertajuk Permainan Tradisional Anak Indonesia (Pertakid) kepada Bunda Literasi Provinsi NTB, Bunda Sinta Iqbal. Penyerahan bantuan ini bukan sekadar seremoni simbolis, melainkan sebuah strategi integratif untuk memperluas jangkauan literasi anak melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal yang dikemas secara modern. Program ini menjadi bagian integral dari Gerakan Literasi dan Permainan Tradisional (Gelitra) yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi NTB. Melalui jejaring Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) yang tersebar di sepuluh kabupaten/kota se-NTB, paket permainan edukatif ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi pertumbuhan minat baca dan pemahaman ekosistem lingkungan sejak usia dini. Pendekatan "learning by playing" atau belajar sambil bermain menjadi ruh utama dari inovasi ini, mengingat tantangan literasi di era digital memerlukan metode yang lebih interaktif dan menyentuh sisi psikologis anak. Inovasi Pertakid: Menghidupkan Kembali Budaya Melalui Edukasi Ekosistem Pertakid lahir dari kolaborasi kreatif antara Pertamina Patra Niaga IT Ampenan dengan komunitas lokal, yakni Komunitas Alo Main dan Sanggar Jalan Pulang. Inovasi ini tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari riset mendalam mengenai kebutuhan media pembelajaran yang kontekstual bagi anak-anak di wilayah kepulauan seperti NTB. Pertakid mengadaptasi nilai-nilai permainan tradisional yang selama ini mulai tergerus oleh penggunaan gawai (gadget), kemudian menyisipkan materi edukasi mengenai ekosistem pesisir. Fokus utama dari materi edukasi dalam Pertakid adalah pengenalan ekosistem mangrove (bakau). Mengingat NTB memiliki garis pantai yang panjang dan rentan terhadap ancaman abrasi serta dampak perubahan iklim, pemahaman mengenai pentingnya mangrove menjadi sangat krusial. Melalui permainan ini, anak-anak diajak untuk mengenal jenis-jenis mangrove, cara penanaman, hingga manfaat hutan bakau bagi perlindungan biota laut dan pencegahan bencana alam. Dengan cara ini, edukasi lingkungan tidak lagi terasa membosankan atau teoritis, melainkan menjadi aktivitas yang menggembirakan. Jejak Langkah Program Sekolah Alam Anak Pesisir Pengembangan Pertakid merupakan kelanjutan dari komitmen jangka panjang Pertamina Patra Niaga dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Sejak awal tahun 2024, IT Ampenan telah menginisiasi Program Sekolah Alam Anak Pesisir. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan akses pendidikan di wilayah pinggiran pantai yang seringkali memiliki keterbatasan fasilitas dibandingkan wilayah perkotaan. Sekolah Alam Anak Pesisir menekankan pada pembelajaran berbasis lingkungan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Selain literasi baca-tulis, anak-anak diajarkan untuk memiliki literasi sains dasar tentang laut, manajemen sampah plastik di pantai, dan pelestarian terumbu karang. Kehadiran Pertakid melengkapi kurikulum non-formal ini dengan menyediakan alat peraga yang bisa dibawa pulang atau digunakan secara berkelompok di balai-balai desa melalui jaringan PKK. Dukungan Pemerintah dan Sinergi Lintas Sektor Bunda Literasi Provinsi NTB, Bunda Sinta Iqbal, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Pertamina. Menurutnya, inovasi seperti Pertakid adalah jawaban atas kejenuhan anak-anak terhadap metode belajar konvensional. Ia menekankan bahwa literasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami fenomena sosial dan lingkungan di sekitar. Sinta Iqbal juga melihat potensi besar dalam pengembangan konten Pertakid di masa depan. Ia menyarankan agar platform permainan tradisional ini dapat dimanfaatkan untuk menyisipkan pesan-pesan sosial lainnya yang mendesak bagi masyarakat NTB. Isu-isu seperti pencegahan perundungan (bullying), kampanye pencegahan pernikahan dini yang angkanya masih cukup tinggi di beberapa wilayah NTB, hingga literasi kesehatan mengenai stunting, dapat diintegrasikan ke dalam mekanisme permainan Pertakid versi berikutnya. Senada dengan hal tersebut, Supervisor I HSSE & Fleet Safety Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Ampenan, Nugroho Tri Hutomo, menyatakan bahwa penyebaran 15 paket awal ini adalah langkah pembuka. Pihaknya berkomitmen untuk terus memantau efektivitas penggunaan alat permainan tersebut di lapangan. Dengan dukungan jejaring PKK, Pertakid diproyeksikan dapat menjangkau desa-desa terpencil (desa lokus) yang menjadi prioritas pembangunan literasi dan kesehatan di NTB. Analisis Dampak: Mengapa Permainan Tradisional Penting? Secara sosiologis dan psikologis, penggunaan permainan tradisional sebagai media edukasi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan media digital. Pertama, permainan tradisional mendorong interaksi sosial secara langsung. Di tengah kekhawatiran akan isolasi sosial akibat kecanduan gawai pada anak, Pertakid memaksa anak-anak untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan bernegosiasi dengan teman sebaya mereka. Kedua, aspek motorik dan kognitif anak terasah secara seimbang. Permainan tradisional seringkali melibatkan gerakan fisik dan pemikiran strategis yang spontan. Ketika materi lingkungan disisipkan ke dalamnya, memori anak akan mengaitkan kesenangan bermain dengan pengetahuan yang didapat, sehingga informasi tersebut cenderung bertahan lebih lama dalam ingatan jangka panjang (long-term memory). Ketiga, dari sisi pelestarian budaya, Pertakid menjadi benteng bagi identitas lokal. Dengan memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi alfa, Pertamina dan Pemerintah Provinsi NTB secara tidak langsung sedang melakukan upaya dekolonisasi budaya digital, di mana anak-anak kembali mengenal akar budayanya sendiri sembari belajar tentang tantangan global seperti pelestarian lingkungan. Data dan Konteks Literasi di Nusa Tenggara Barat Berdasarkan data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dirilis Perpustakaan Nasional dalam beberapa tahun terakhir, NTB terus menunjukkan tren positif meskipun masih menghadapi tantangan geografis yang besar. Upaya kolaboratif antara sektor swasta (BUMN) dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam mendongkrak angka literasi ini. Provinsi NTB yang terdiri dari dua pulau utama, Lombok dan Sumbawa, memiliki karakteristik masyarakat yang sangat beragam. Di wilayah pesisir, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya laut sangat tinggi. Namun, tanpa literasi lingkungan yang memadai, eksploitasi berlebihan dan kerusakan ekosistem bisa mengancam keberlangsungan hidup mereka di masa depan. Oleh karena itu, inisiatif Sekolah Alam Anak Pesisir dan Pertakid menyasar akar permasalahan dengan mempersiapkan generasi mendatang yang lebih sadar akan ekologi. Implikasi Luas dan Keberlanjutan Program Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan refleksi dari visi perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. Pertamina tidak hanya berperan sebagai penyedia energi fisik melalui bahan bakar minyak (BBM) dan gas, tetapi juga menjadi penyedia "energi pengetahuan" bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Program TJSL ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, dan poin ke-14 tentang Ekosistem Laut. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam setiap program CSR, Pertamina berupaya memastikan bahwa setiap bantuan yang diberikan memiliki dampak berkelanjutan dan tidak berhenti pada tahap seremoni saja. Ke depannya, Pertamina Patra Niaga IT Ampenan berencana untuk melakukan evaluasi berkala terhadap penggunaan Pertakid. Jika hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman lingkungan dan minat baca anak di wilayah uji coba, tidak menutup kemungkinan jumlah paket permainan akan ditambah dan materinya akan diperkaya. Kolaborasi dengan akademisi dari universitas lokal di NTB juga sedang dijajaki untuk melakukan studi dampak ilmiah terhadap efektivitas metode "learning by playing" ini. Penyerahan paket Pertakid ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa edukasi adalah tanggung jawab kolektif. Di tengah arus modernisasi, kembali ke akar budaya melalui permainan tradisional ternyata mampu menjadi solusi inovatif untuk menjawab tantangan zaman. Masyarakat NTB, khususnya anak-anak di wilayah pesisir, kini memiliki media baru yang menyenangkan untuk mengenal dunia dan menjaga bumi yang mereka tinggali. Dengan sinergi yang kuat antara korporasi seperti Pertamina, pemerintah melalui Bunda Literasi dan PKK, serta komunitas kreatif seperti Alo Main dan Sanggar Jalan Pulang, masa depan literasi dan kelestarian lingkungan di NTB tampak lebih cerah. Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia dalam mengemas edukasi lingkungan dengan cara yang kreatif, kontekstual, dan inklusif. Post navigation Teknologi UNRAM Sentuh Peternakan Desa Nyerot: Kandang Sehat, Limbah Bernilai Ekonomi, Hingga Pakan Berkelanjutan