PRAYA – Sektor peternakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Kabupaten Lombok Tengah, tengah memasuki babak baru dalam pengelolaan usaha yang lebih modern dan berkelanjutan. Melalui inisiatif strategis bertajuk Program Profesor Berdampak, Universitas Mataram (UNRAM) melakukan intervensi teknologi dan edukasi di Desa Nyerot, Kecamatan Jonggat. Program ini bertujuan untuk mengubah paradigma peternak tradisional dalam memandang limbah ternak—yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan—menjadi sumber nilai ekonomi baru melalui konsep ekonomi sirkular. Dengan fokus pada perbaikan sanitasi, pengolahan pupuk organik, dan teknologi pakan fermentasi (silase), program ini menjadi mercusuar bagi pengembangan peternakan rakyat yang mandiri dan berwawasan lingkungan.

Latar Belakang: Menjawab Tantangan Peternakan Rakyat di Lombok Tengah

Kabupaten Lombok Tengah dikenal sebagai salah satu lumbung ternak di Pulau Lombok. Namun, mayoritas peternak masih mengandalkan pola pemeliharaan konvensional yang memiliki keterbatasan sistemik. Persoalan utama yang sering dihadapi adalah buruknya sanitasi kandang yang menyebabkan bau tidak sedap dan potensi pencemaran air tanah, serta ketergantungan yang sangat tinggi pada ketersediaan rumput hijauan segar yang fluktuatif mengikuti musim.

Melihat urgensi tersebut, tim pakar dari Universitas Mataram meluncurkan program pengabdian masyarakat yang komprehensif. Program ini berjudul "Adopsi dan Diseminasi Teknologi Pengolahan Pakan dan Pengelolaan Limbah Ternak untuk Peningkatan Ekonomi Peternak di Kabupaten Lombok Tengah". Sasaran utamanya adalah Kelompok Ternak Pantang Mundur di Desa Nyerot, sebuah kelompok yang menaungi 24 peternak dengan populasi ternak mencapai 62 ekor sapi.

Tim ini dipimpin oleh Prof. Ir. Yusuf Akhyar Sutaryono, Ph.D., seorang pakar peternakan terkemuka, dengan dukungan lintas disiplin ilmu dari para akademisi senior lainnya, yakni Prof. Dr. Ir. Syamsul Hidayat Dilaga, M.S., Prof. Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Djumardin, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Ir. Maskur, M.Si., Dr. Ir. I Wayan Yasa, S.T., M.T., IPM., dan Dr. Ir. Hermansyah, M.Si. Kolaborasi multidisiplin ini mencakup aspek teknis peternakan, manajemen limbah, teknik sipil untuk infrastruktur kandang, hingga aspek hukum dan sosial ekonomi.

Restrukturisasi Sanitasi: Fondasi Kesehatan Ternak dan Lingkungan

Tahap awal intervensi yang dilakukan oleh Tim Profesor Berdampak adalah membenahi infrastruktur sanitasi kandang. Secara historis, kandang-kandang di Desa Nyerot dibangun tanpa sistem drainase yang memadai. Akibatnya, feses (kotoran padat) dan urine (kotoran cair) seringkali bercampur dan menggenang di area lantai kandang. Kondisi lembap dan kotor ini tidak hanya menjadi sarang penyakit bagi sapi, seperti penyakit kuku dan kulit, tetapi juga menciptakan aroma tidak sedap yang mengganggu kenyamanan warga sekitar.

Tim UNRAM mendorong perbaikan fisik kandang dengan menitikberatkan pada pembuatan saluran pembuangan limbah yang terintegrasi. Dengan kemiringan lantai yang tepat dan saluran drainase yang lancar, kotoran dapat langsung dialirkan menuju bak penampungan. Perbaikan ini secara drastis meningkatkan kebersihan lingkungan kandang, yang pada gilirannya berdampak positif pada kesehatan ternak. Sapi yang dipelihara di lingkungan bersih cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan pertumbuhan berat badan yang lebih optimal.

Ekonomi Sirkular: Mengubah Limbah Menjadi Emas Hitam dan Cair

Salah satu inti dari program ini adalah edukasi mengenai pemanfaatan limbah ternak. Prof. Yusuf Akhyar Sutaryono menekankan bahwa kotoran sapi tidak boleh lagi dipandang sebagai sampah. Dalam ekosistem ekonomi sirkular, limbah dari satu proses menjadi input bagi proses lainnya. Feses sapi yang terkumpul diolah menjadi pupuk kompos organik (emas hitam), sementara urine diolah menjadi pupuk organik cair (POC).

Proses pengolahan ini memberikan dua manfaat utama. Pertama, manfaat lingkungan, di mana limbah tidak lagi mencemari tanah dan air. Kedua, manfaat ekonomi, di mana peternak dapat menghemat biaya pembelian pupuk kimia untuk lahan pertanian mereka atau bahkan menjual kelebihan pupuk tersebut sebagai pendapatan tambahan. "Limbah yang sebelumnya menjadi beban, diarahkan menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi. Konsep tersebut sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali sumber daya yang tersedia di sekitar peternak," jelas Prof. Yusuf.

Teknologi Silase: Solusi Krisis Pakan di Musim Kemarau

Selain masalah limbah, tantangan terbesar peternak di NTB adalah ketersediaan pakan hijauan, terutama saat memasuki musim kemarau panjang. Selama ini, peternak di Desa Nyerot harus menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mencari rumput (ngarit) di pematang sawah atau pinggir jalan. Ketika musim kering tiba, rumput menjadi langka, dan kualitas nutrisinya menurun tajam, yang mengakibatkan penurunan kondisi fisik ternak.

Untuk mengatasi hal ini, Tim Profesor Berdampak memperkenalkan teknologi silase. Silase adalah pakan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi hijauan dengan kadar air tinggi di dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Bahan baku yang digunakan meliputi rumput gajah, rumput odot, hingga tebon (batang dan daun) jagung yang melimpah saat musim panen.

Dalam pendampingan ini, para peternak dilatih cara mencacah hijauan, mencampurnya dengan bahan pengaktif fermentasi, dan menyimpannya di dalam wadah kedap udara seperti silo atau tong plastik besar. Dengan metode ini, pakan dapat disimpan selama berbulan-bulan tanpa mengurangi nilai nutrisinya. Inovasi ini memungkinkan peternak untuk melakukan stok pakan saat musim penghujan (saat hijauan melimpah) untuk digunakan pada musim kemarau. Efisiensi waktu yang didapat sangat signifikan; peternak tidak perlu lagi mencari rumput setiap hari, sehingga mereka dapat mengalokasikan waktu untuk kegiatan produktif lainnya.

Dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Program yang dijalankan oleh UNRAM ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga selaras dengan target global yang dicanangkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Beberapa poin penting yang tersentuh meliputi:

  1. Sanitasi dan Air Bersih (SDG 6): Melalui perbaikan drainase kandang dan pengelolaan limbah yang mencegah pencemaran air tanah.
  2. Energi Bersih dan Terjangkau (SDG 7): Potensi pengembangan biogas dari limbah ternak di masa depan.
  3. Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8): Peningkatan pendapatan peternak melalui efisiensi pakan dan penjualan pupuk organik.
  4. Produksi dan Konsumsi yang Bertanggung Jawab (SDG 12): Penerapan ekonomi sirkular dalam mengelola sumber daya peternakan.
  5. Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13): Pengurangan emisi gas metana dari kotoran ternak yang dikelola dengan benar serta adaptasi peternak terhadap ketidakpastian iklim melalui cadangan pakan silase.

Respons Positif dan Harapan Keberlanjutan

Transformasi yang terjadi di Desa Nyerot mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Abdurrahman, Ketua Kelompok Ternak Pantang Mundur, mengakui bahwa kehadiran para profesor dari UNRAM membawa perubahan nyata bagi cara kerja kelompoknya. Menurutnya, pengetahuan teknis mengenai perbaikan saluran limbah adalah hal sederhana namun krusial yang selama ini terabaikan.

"Perbaikan saluran pembuangan sangat membantu kami dalam mengelola kotoran sapi dengan lebih baik. Lingkungan kandang menjadi lebih layak, tidak lagi becek dan berbau menyengat. Kami juga mulai belajar bahwa kotoran ini jika diolah bisa membantu tanaman padi dan palawija kami di sawah tanpa harus terus-menerus membeli pupuk mahal," ujar Abdurrahman.

Keberhasilan di Desa Nyerot diharapkan menjadi prototipe atau model yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Lombok Tengah maupun wilayah lain di NTB. Integrasi antara sanitasi, pengolahan limbah, dan kemandirian pakan adalah kunci untuk meningkatkan daya saing peternakan rakyat di tingkat nasional.

Analisis Implikasi dan Proyeksi Masa Depan

Secara analitis, program Profesor Berdampak ini menunjukkan bahwa kemajuan sektor peternakan tidak selalu harus dimulai dengan investasi modal besar, melainkan melalui sentuhan teknologi tepat guna dan perubahan pola pikir (mindset). Dengan mengubah limbah menjadi aset, peternak secara tidak langsung membangun resiliensi ekonomi terhadap fluktuasi harga daging atau input produksi lainnya.

Ke depannya, tantangan bagi Kelompok Ternak Pantang Mundur adalah konsistensi dalam menerapkan teknologi yang telah diajarkan. Pendampingan berkelanjutan dari pihak akademisi dan dukungan dari pemerintah daerah dalam hal pemasaran produk turunan seperti pupuk organik akan menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.

Prof. Yusuf Akhyar Sutaryono menutup dengan optimisme bahwa Desa Nyerot kini berada di jalur yang tepat menuju kemandirian. "Dari kandang yang sebelumnya menghadapi persoalan sanitasi, limbah, dan keterbatasan pakan, Desa Nyerot kini didorong menuju model peternakan yang lebih bersih, efisien, mandiri, dan berkelanjutan," tegasnya.

Program ini membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi melalui fungsi Tri Dharma (pengabdian masyarakat) dan komunitas lokal dapat menghasilkan solusi konkret bagi persoalan ekonomi dan lingkungan di pedesaan. Di tangan para peternak yang teredukasi, kotoran sapi kini bukan lagi sekadar limbah, melainkan berkah yang menggerakkan roda ekonomi desa.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *