GIRI MENANG, LOMBOK BARAT – Sebuah insiden tragis menyelimuti kawasan wisata Air Terjun Tibu Ijo, Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, pada Minggu (5/4/2026). Lisa Pratiwi, seorang wanita berusia 25 tahun asal Ampenan, Kota Mataram, dilaporkan hilang terseret arus sungai saat dalam perjalanan menuju lokasi air terjun yang populer tersebut. Hingga Senin (6/4/2026) sore, operasi pencarian gabungan yang melibatkan berbagai unsur masih terus diintensifkan, menyisir setiap jengkal aliran sungai dengan harapan menemukan korban. Peristiwa nahas ini bermula ketika Lisa Pratiwi bersama rombongan teman-temannya sedang menikmati liburan akhir pekan di destinasi alam yang dikenal dengan keindahan alaminya tersebut. Air Terjun Tibu Ijo, meski menawarkan panorama memukau, juga memiliki medan yang cukup menantang, terutama pada musim penghujan atau saat debit air sungai meningkat. Informasi awal yang diterima oleh otoritas berwenang menyebutkan bahwa korban hanyut terbawa arus deras saat melintasi atau berada di tepian sungai yang menjadi akses utama menuju air terjun. Kronologi Detil Insiden dan Respons Awal Pada Minggu pagi, rombongan Lisa Pratiwi bertolak dari Kota Mataram menuju Air Terjun Tibu Ijo. Perjalanan menuju lokasi wisata ini memang memerlukan kewaspadaan ekstra, mengingat jalur yang dilalui cukup terjal dan licin di beberapa titik, serta harus melintasi beberapa aliran sungai kecil yang bisa berubah sewaktu-waktu. Saat kejadian, diperkirakan debit air sungai di sekitar lokasi sedang tinggi, kemungkinan besar akibat curah hujan yang terjadi beberapa hari sebelumnya di wilayah hulu. Kondisi ini membuat arus sungai menjadi lebih kuat dan berbahaya dari biasanya. Menurut kesaksian sementara dari teman-teman korban yang berada di lokasi, Lisa Pratiwi terseret arus secara tiba-tiba saat mencoba menyeberang atau berjalan di pinggir sungai yang airnya tampak tenang namun menyimpan kekuatan arus di bawah permukaan. Beberapa teman korban sempat berupaya memberikan pertolongan, namun derasnya arus dan licinnya bebatuan membuat upaya tersebut sia-sia. Dalam hitungan detik, tubuh Lisa Pratiwi raib ditelan derasnya aliran sungai, meninggalkan kepanikan dan duka mendalam bagi rekan-rekannya. Setelah kejadian yang mengerikan itu, teman-teman korban segera meminta bantuan kepada warga sekitar dan perangkat desa setempat. Informasi mengenai hilangnya Lisa Pratiwi kemudian diteruskan ke pihak berwenang. Kantor SAR Mataram menerima laporan resmi mengenai insiden ini pada Minggu sore, sekitar pukul 18.00 WITA, dari pihak keluarga korban yang panik dan berharap adanya tindakan cepat. Menanggapi laporan tersebut, Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, segera menginstruksikan timnya untuk bergerak. Koordinator Lapangan, Ida Bagus Netra Adnyana, menjelaskan bahwa tim rescue Kantor SAR Mataram langsung diberangkatkan menuju lokasi kejadian. "Tim berangkat pukul 18.50 WITA menggunakan rescue car serta membawa peralatan SAR air lengkap," ungkap Ida Bagus Netra Adnyana, menggambarkan kecepatan respons tim dalam menghadapi situasi darurat ini. Peralatan yang dibawa meliputi perahu karet, pelampung, tali penyelamat, perlengkapan selam (jika diperlukan), serta alat komunikasi untuk koordinasi lapangan. Pencarian awal pada Minggu malam menghadapi berbagai kendala, terutama karena kondisi gelap dan medan yang sulit dijangkau. Tim SAR bersama masyarakat setempat melakukan penyisiran visual di sepanjang aliran sungai dengan penerangan seadanya, namun belum membuahkan hasil. Operasi kemudian dihentikan sementara menjelang tengah malam dan dilanjutkan secara intensif pada Senin pagi. Air Terjun Tibu Ijo: Pesona Alam dan Potensi Bahaya Air Terjun Tibu Ijo, yang terletak di Desa Kekait, Gunungsari, Lombok Barat, telah lama menjadi salah satu permata tersembunyi bagi para pencinta alam dan wisatawan lokal maupun mancanegara. Dikenal dengan airnya yang jernih kehijauan (sesuai namanya "Tibu Ijo" yang berarti telaga hijau) dan suasana alam yang masih asri, destinasi ini menawarkan pelarian sempurna dari hiruk pikuk perkotaan. Namun, di balik keindahannya, Tibu Ijo juga menyimpan potensi bahaya yang tidak boleh diabaikan, terutama bagi pengunjung yang kurang familiar dengan karakteristik medan dan kondisi alamnya. Akses menuju air terjun memerlukan trekking ringan hingga sedang melalui hutan tropis dan menyeberangi beberapa anak sungai. Kondisi jalur yang licin, bebatuan besar, dan topografi yang berbukit menjadi tantangan tersendiri. Terlebih lagi, pada musim penghujan, debit air sungai dapat meningkat drastis dalam waktu singkat, mengubah aliran yang semula tenang menjadi arus deras yang mematikan. Kejadian yang menimpa Lisa Pratiwi menjadi pengingat pahit akan pentingnya kewaspadaan dan kepatuhan terhadap standar keselamatan di destinasi wisata alam. Menurut data klimatologi, bulan April di Lombok seringkali menjadi masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Namun, pada periode ini, masih sering terjadi hujan lebat lokal yang dapat menyebabkan peningkatan debit air sungai secara tiba-tiba di daerah hulu. Tanpa sistem peringatan dini yang memadai atau panduan yang ketat, wisatawan sangat rentan terhadap bahaya yang tidak terduga ini. Insiden ini juga menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan dan fasilitas pendukung di Tibu Ijo, seperti rambu peringatan, jalur evakuasi, dan keberadaan pemandu lokal yang terlatih. Upaya Pencarian dan Tantangan di Lapangan Pada Senin (6/4/2026), operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban Lisa Pratiwi memasuki hari kedua dengan pengerahan sumber daya yang lebih besar. Tim SAR gabungan yang terlibat sangat beragam, mencerminkan semangat gotong royong dalam penanganan bencana. Selain tim rescue Kantor SAR Mataram, operasi ini juga melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat, Camat Gunung Sari, Polsek Gunung Sari, Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat, perangkat desa setempat, berbagai organisasi relawan, serta partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Koordinasi yang solid antarlembaga dan elemen masyarakat menjadi kunci dalam upaya pencarian ini. Ida Bagus Netra Adnyana menjelaskan bahwa tim gabungan menyusuri aliran sungai mulai dari titik awal korban terseret hingga ke hilir, memeriksa setiap titik yang dicurigai sebagai lokasi keberadaan korban. Metode pencarian meliputi penyisiran permukaan sungai menggunakan perahu karet, pengamatan visual dari tepi sungai, serta pemeriksaan di sela-sela bebatuan besar dan tumpukan sampah atau ranting pohon yang berpotensi menyangkut tubuh korban. Tantangan utama yang dihadapi tim adalah medan sungai yang berbatu, arus yang masih deras di beberapa titik, serta visibilitas air yang terbatas akibat keruhnya air pasca-hujan. Selain itu, tim juga menghadapi tantangan geografis berupa kontur sungai yang berkelok-kelok dan tebing-tebing curam di beberapa bagian, mempersulit akses dan manuver perahu karet. Para personel SAR yang terlatih dilengkapi dengan perlengkapan keamanan diri lengkap, mengingat risiko yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas mulia ini. Mereka bekerja tanpa lelah di bawah terik matahari, dengan semangat pantang menyerah demi menemukan Lisa Pratiwi. Psikologis tim juga diuji, mengingat beratnya tugas pencarian ini, terutama jika kondisi korban ditemukan tidak lagi bernyawa. Namun, profesionalisme dan dedikasi tim SAR tetap menjadi prioritas utama. Dukungan logistik berupa makanan dan minuman, serta posko kesehatan sementara juga disiapkan di lokasi untuk memastikan stamina para personel dan relawan tetap terjaga. Masyarakat sekitar turut memberikan bantuan dengan menyediakan informasi terkait kondisi sungai atau area yang jarang dijamah. Tanggapan Resmi dan Himbauan Keselamatan Muhamad Hariyadi, Kepala Kantor SAR Mataram, dalam pernyataannya, menegaskan komitmen penuh pihaknya untuk terus melakukan pencarian hingga batas waktu yang ditentukan oleh prosedur standar operasi (SOP) SAR, yakni tujuh hari, atau hingga korban ditemukan. "Kami telah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada dan berkoordinasi erat dengan semua elemen yang terlibat. Prioritas utama kami adalah menemukan korban secepat mungkin," ujarnya. Beliau juga mengimbau kepada masyarakat dan wisatawan untuk selalu berhati-hati dan tidak memaksakan diri jika kondisi alam tidak memungkinkan, terutama saat mengunjungi destinasi wisata air. Dari pihak BPBD Lombok Barat, Kepala Pelaksana BPBD, melalui juru bicaranya, menyampaikan bahwa insiden ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal. "Kami akan terus mendukung operasi SAR ini dengan personel dan peralatan yang kami miliki. Kejadian ini juga menjadi evaluasi bagi kami untuk meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana dan keselamatan di destinasi wisata alam," jelasnya. BPBD juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam melaporkan potensi bahaya atau insiden secepat mungkin agar penanganan dapat dilakukan secara optimal. Pemerintah Kecamatan Gunungsari dan Pemerintah Desa Kekait turut menyampaikan duka cita mendalam atas insiden ini. Camat Gunungsari menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan pihak terkait lainnya untuk meninjau ulang standar keselamatan di Air Terjun Tibu Ijo. "Kami akan mengevaluasi apakah perlu penambahan rambu peringatan, pemasangan tali pengaman di jalur-jalur rawan, atau bahkan kewajiban menggunakan pemandu lokal untuk setiap rombongan wisatawan," kata Camat. Kepala Desa Kekait juga menambahkan bahwa masyarakat lokal siap membantu dalam upaya pengawasan dan memberikan informasi keselamatan kepada pengunjung. Sementara itu, keluarga korban, yang terpukul oleh kejadian ini, hanya bisa berharap proses pencarian dapat segera membuahkan hasil. Melalui kerabat dekat, mereka menyampaikan rasa terima kasih atas upaya keras tim SAR dan semua pihak yang terlibat. "Kami hanya bisa berdoa dan berharap Lisa bisa segera ditemukan. Terima kasih banyak atas semua bantuan dan doa yang diberikan," ungkap salah seorang anggota keluarga dengan suara bergetar. Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat juga diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini, menekankan pentingnya "pariwisata bertanggung jawab" atau responsible tourism. Ini mencakup aspek keamanan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Insiden ini bisa menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperketat regulasi dan meningkatkan kesadaran pengunjung akan risiko yang melekat pada wisata alam. Dampak dan Implikasi Jangka Panjang Insiden hilangnya Lisa Pratiwi di Air Terjun Tibu Ijo bukan hanya menjadi berita duka, tetapi juga membawa dampak dan implikasi yang lebih luas, baik bagi sektor pariwisata Lombok Barat maupun kesadaran masyarakat akan keselamatan di destinasi alam. Pertama, kejadian ini akan memicu evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan fasilitas keamanan di destinasi wisata alam sejenis di Lombok Barat. Pemerintah daerah, bersama Dinas Pariwisata dan pengelola objek wisata, kemungkinan besar akan meninjau ulang kelayakan jalur, ketersediaan rambu peringatan multi-bahasa, keberadaan pos penjaga atau pemandu yang terlatih, serta sistem komunikasi darurat. Investasi dalam infrastruktur keselamatan seperti jembatan penyeberangan yang lebih aman, tali pegangan, atau bahkan posko informasi dan pemantauan cuaca real-time, mungkin akan menjadi prioritas. Kedua, insiden ini dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya persiapan matang sebelum berwisata ke alam bebas. Himbauan untuk memeriksa prakiraan cuaca, mengenakan pakaian dan alas kaki yang sesuai, membawa perlengkapan keselamatan dasar, serta tidak memaksakan diri jika kondisi alam tidak mendukung, akan semakin gencar disuarakan. Edukasi mengenai bahaya arus deras, tanah longsor, atau perubahan cuaca mendadak di pegunungan dan sungai akan menjadi vital. Ketiga, peran pemandu lokal akan semakin disorot. Pemandu yang berlisensi dan terlatih tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk jalan, tetapi juga sebagai penjaga keselamatan yang memahami seluk-beluk medan dan potensi bahaya. Kejadian ini dapat mendorong program pelatihan pemandu wisata alam yang lebih komprehensif, termasuk keterampilan pertolongan pertama dan evakuasi darurat. Keempat, insiden semacam ini, meskipun tragis, juga memperlihatkan kekuatan solidaritas dan gotong royong masyarakat. Keterlibatan aktif warga desa, relawan, dan berbagai lembaga dalam operasi SAR menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana adalah tanggung jawab bersama. Hal ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat jaringan relawan dan sistem komunikasi antarwarga dalam penanganan darurat. Terakhir, dari sudut pandang pariwisata, meskipun insiden ini berpotensi menimbulkan kekhawatiran jangka pendek bagi calon wisatawan, pada akhirnya, langkah-langkah perbaikan dan peningkatan keamanan yang diambil pasca-kejadian justru dapat membangun kepercayaan jangka panjang. Dengan sistem keselamatan yang lebih baik dan kesadaran yang lebih tinggi, Lombok Barat dapat terus mempromosikan keindahan alamnya sebagai destinasi yang tidak hanya memukau, tetapi juga aman dan bertanggung jawab. Hingga berita ini ditulis, operasi pencarian Lisa Pratiwi masih terus berlangsung. Harapan untuk menemukan korban dalam keadaan selamat, meskipun menipis seiring berjalannya waktu, tetap menjadi doa utama bagi keluarga, tim SAR, dan seluruh masyarakat yang peduli. Kejadian ini menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam yang luar biasa dan pentingnya selalu menjunjung tinggi keselamatan dalam setiap petualangan. Post navigation Pentingnya Kapasitas Manajerial dan Harmoni Birokrasi dalam Mewujudkan Visi Pembangunan Lombok Barat Polemik Proyek Mesin Pengolah Sampah Masaro Rp 10 Miliar di Lombok Barat: Rusak di Masa Garansi, DPRD Desak Audit dan Soroti Kesiapan Ekosistem