GIRI MENANG – Pencarian dramatis terhadap Heri Saputra (16), remaja asal Dusun Bagik Dapol, Desa Mertak, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, yang dilaporkan hanyut terseret air bah di Air Terjun Temburun Nanas, Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, akhirnya berakhir. Jenazah korban berhasil ditemukan pada hari keempat operasi pencarian, Kamis (9/4/2026), mengambang di permukaan air Bendungan Meninting, sekitar dua kilometer dari lokasi kejadian. Penemuan ini membawa sedikit kelegaan bagi keluarga yang telah menunggu dengan cemas, sekaligus mengakhiri operasi SAR gabungan yang berlangsung intensif dan penuh tantangan.

Kronologi Insiden Tragis dan Awal Pencarian

Insiden nahas ini bermula pada Senin (6/4) siang, ketika Heri Saputra bersama beberapa rekan-rekannya sedang menikmati keindahan alam Air Terjun Temburun Nanas. Destinasi wisata alam ini, yang terletak di lereng perbukitan Gunungsari, memang dikenal dengan pesona air terjunnya yang jernih dan suasana asri yang menenangkan. Namun, di balik keindahannya, lokasi ini juga menyimpan potensi bahaya, terutama saat musim penghujan di mana debit air sungai dapat meningkat drastis secara tiba-tiba.

Pada hari kejadian, kondisi cuaca di sekitar lokasi wisata mungkin terlihat cerah atau hanya mendung ringan. Namun, hujan lebat yang terjadi di daerah hulu sungai, yang mungkin berjarak puluhan kilometer dari air terjun, dapat memicu fenomena air bah atau banjir bandang. Tanpa tanda-tanda peringatan yang memadai di lokasi, air bah dengan debit yang sangat besar dan arus yang deras tiba-tiba menerjang. Dua orang pengunjung tersapu oleh terjangan arus yang ganas tersebut. Beruntung, satu korban berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada bebatuan atau pepohonan di tepi sungai. Namun, Heri Saputra malang tak dapat bertahan dan hanyut terbawa derasnya aliran air yang mengganas, menghilang di antara pusaran air dan bebatuan.

Melihat kejadian yang mengerikan tersebut, rekan-rekan korban dan beberapa warga sekitar yang menyaksikan insiden itu segera melakukan upaya pencarian awal. Mereka berteriak meminta pertolongan dan berusaha menyisir area di sekitar lokasi Heri terakhir terlihat. Namun, kondisi medan yang sulit, arus sungai yang sangat kuat, dan air yang keruh akibat lumpur dan material lain, membuat pencarian awal menjadi sangat menantang dan tidak membuahkan hasil.

Laporan mengenai hilangnya Heri Saputra segera diteruskan ke pihak berwenang setempat, termasuk kepolisian dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Respons cepat pun datang dari Kantor SAR Mataram, yang langsung mengkoordinasikan pembentukan tim SAR gabungan untuk memulai operasi pencarian dan penyelamatan. Tim SAR tiba di lokasi pada Senin sore, beberapa jam setelah insiden terjadi, dan langsung melakukan penilaian medan serta menyusun strategi pencarian awal.

Operasi SAR Multi-Hari: Melawan Cuaca dan Medan Ekstrem

Pencarian Heri Saputra tidaklah mudah. Tim SAR gabungan harus berjuang melawan berbagai rintangan alam selama empat hari berturut-turut. Koordinator Lapangan Tim SAR Mataram, Dewa Gede Kerta Muhamad Hariyadi, menjelaskan bahwa tim langsung memulai penyisiran di sepanjang aliran sungai yang bermuara dari Air Terjun Temburun Nanas sejak hari pertama.

Pada hari pertama dan kedua operasi, fokus pencarian difokuskan pada area sekitar lokasi kejadian dan beberapa kilometer ke hilir. Tim penyelamat menghadapi kondisi cuaca yang sangat tidak menentu. Hujan intermiten, kadang-kadang dengan intensitas sedang hingga lebat, seringkali menyebabkan debit air sungai kembali meningkat secara fluktuatif. Kondisi ini sangat berbahaya karena arus sungai menjadi semakin kuat dan keruh, menyulitkan tim untuk melakukan visualisasi di dalam air dan menghambat pergerakan mereka.

Selain faktor cuaca, karakteristik sungai yang dipenuhi jeram-jeram berbahaya, bebatuan besar yang licin, dan tebing-tebing curam di sepanjang bantaran sungai, menuntut kewaspadaan ekstra dan teknik pencarian khusus. Personel SAR harus dilengkapi dengan peralatan keselamatan lengkap dan memiliki keahlian dalam penanganan medan ekstrem. “Arus yang sangat kuat dan medan sungai yang licin menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh personel di lapangan,” ungkap Dewa. Medan yang demikian terjal juga mempersulit akses kendaraan dan peralatan berat, sehingga sebagian besar penyisiran harus dilakukan secara manual oleh tim.

Untuk mengatasi area-area sulit dijangkau yang tidak memungkinkan penyisiran darat atau air secara langsung, Kantor SAR Mataram mengerahkan teknologi canggih berupa drone thermal. Drone ini sangat membantu dalam memetakan potensi lokasi korban di antara rerimbunan vegetasi, celah bebatuan, atau area-area yang sulit dijangkau mata telanjang. Teknologi thermal memungkinkan drone untuk mendeteksi anomali suhu yang mungkin mengindikasikan keberadaan korban, bahkan di bawah kanopi hutan yang lebat atau di balik kabut.

Pada hari ketiga, Rabu (8/4), area pencarian diperluas hingga mencakup muara sungai dan mendekati Bendungan Meninting. Tim SAR dibagi menjadi beberapa sektor untuk menyisir secara lebih komprehensif, baik dari darat maupun air. Kolaborasi antarunsur semakin diperkuat, melibatkan berbagai lembaga seperti TNI (dari Koramil dan Kodim setempat), personel Polri (dari Polsek dan Polres), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Praya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kabupaten Lombok Barat, Dinas Kesehatan (Dikes) Praya, organisasi relawan seperti IOF (Indonesia Off-road Federation), Perangkat Desa Bukit Tinggi, berbagai Komunitas Pecinta Alam, serta partisipasi aktif dari warga setempat. Mereka bekerja tanpa henti, silih berganti melakukan penyisiran, menghadapi kondisi fisik yang lelah, dan di tengah harapan yang kian menipis seiring berjalannya waktu.

Penemuan Jenazah dan Proses Evakuasi

Setelah tiga hari pencarian intensif yang penuh tantangan dan ketidakpastian, titik terang akhirnya muncul pada hari keempat, Kamis (9/4/2026). Pada pukul 08.25 WITA, tim SAR gabungan berhasil menemukan jenazah Heri Saputra.

Korban ditemukan mengambang di permukaan air, tepat di ujung genangan bendungan atau bagian hulu Bendungan Meninting. Lokasi penemuan ini berjarak sekitar 2 kilometer dari titik awal kejadian di Air Terjun Temburun Nanas, sebuah indikasi kuat seberapa jauh korban terseret oleh derasnya air bah yang tak terduga. Penemuan ini sekaligus membuktikan bahwa korban memang terbawa arus hingga ke hilir sungai.

“Korban kami temukan mengambang di area hulu bendungan,” jelas Dewa Gede Kerta Muhamad Hariyadi setelah penemuan yang melegakan sekaligus menyedihkan tersebut. “Setelah berhasil dievakuasi dari perairan dengan menggunakan perahu karet dan peralatan khusus, jenazah langsung dibawa menuju Rumah Sakit Bhayangkara Mataram untuk penanganan lebih lanjut.”

Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati mengingat kondisi jenazah dan medan yang masih menantang. Tim SAR memastikan bahwa jenazah ditangani dengan hormat dan sesuai prosedur. Di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram, jenazah akan menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut sesuai standar yang berlaku, sebelum akhirnya diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga untuk dikebumikan. Bagi keluarga korban, penemuan jenazah Heri Saputra, meskipun dalam suasana duka yang mendalam, setidaknya memberikan kepastian dan kesempatan untuk mengurus pemakaman dengan layak.

Konteks Risiko Wisata Air Terjun dan Bahaya Air Bah

Tragedi yang menimpa Heri Saputra ini kembali menyoroti pentingnya kewaspadaan saat berwisata di objek-objek alam, khususnya air terjun dan sungai. Air Terjun Temburun Nanas, seperti banyak destinasi alam lainnya di Lombok dan seluruh Indonesia, menawarkan pesona keindahan yang luar biasa, namun juga menyimpan risiko alam yang tidak boleh diabaikan.

Fenomena air bah atau banjir bandang di hulu sungai merupakan ancaman serius, terutama selama musim penghujan. Meskipun cuaca di lokasi wisata mungkin terlihat cerah dan aman, hujan lebat yang terjadi di daerah hulu sungai yang jauh bisa memicu peningkatan debit air secara drastis dalam waktu singkat. Air yang tiba-tiba meluap ini seringkali membawa material seperti lumpur, kayu, bebatuan, dan sampah, menciptakan arus yang sangat kuat dan mematikan. Kecepatan air bah bisa mencapai puluhan kilometer per jam, membuatnya hampir mustahil untuk dihindari jika seseorang berada di jalurnya.

Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat, wilayah Lombok, khususnya di daerah perbukitan dan pegunungan, memang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pola curah hujan yang tidak menentu akibat perubahan iklim global semakin memperparah risiko ini. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dari sumber-sumber terpercaya dan memperhatikan tanda-tanda alam, seperti perubahan warna air sungai menjadi keruh, peningkatan volume air yang cepat, atau suara gemuruh yang tidak biasa dari arah hulu, yang bisa menjadi indikasi datangnya air bah.

Kejadian serupa di berbagai air terjun di Indonesia seringkali disebabkan oleh kurangnya edukasi dan kesadaran pengunjung akan risiko musiman ini. Papan peringatan seringkali diabaikan, atau belum cukup informatif mengenai bahaya spesifik seperti air bah dan cara menghindarinya. Diperlukan upaya lebih dari pihak pengelola dan pemerintah daerah untuk memastikan informasi keselamatan tersampaikan dengan baik kepada setiap pengunjung.

Kolaborasi Tim SAR dan Pentingnya Mitigasi Bencana

Operasi SAR yang melibatkan puluhan personel dari berbagai lembaga ini menunjukkan kekuatan kolaborasi dalam penanganan bencana. Keberhasilan penemuan jenazah Heri Saputra adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan koordinasi yang solid antar tim.

Kantor SAR Mataram bertindak sebagai koordinator utama operasi, memastikan seluruh sumber daya dan personel bergerak secara terarah dan efisien. Selain itu, turut serta juga anggota TNI dari Koramil dan Kodim setempat yang memberikan dukungan personel dan logistik, personel Polri dari Polsek dan Polres yang membantu dalam pengamanan dan koordinasi di lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah yang menyediakan peralatan dan keahlian mitigasi bencana, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Praya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kabupaten Lombok Barat, serta Dinas Kesehatan (Dikes) Praya yang siaga memberikan pertolongan medis.

Organisasi relawan seperti IOF (Indonesia Off-road Federation) dengan kemampuan off-roadnya, Perangkat Desa Bukit Tinggi yang memahami medan lokal, berbagai Komunitas Pecinta Alam yang memiliki pengalaman di alam terbuka, serta partisipasi aktif dari warga setempat, semuanya berperan penting dalam mendukung operasi. Keberadaan Camat Gunung Sari dan Camat Praya juga memperkuat koordinasi di tingkat lokal, memastikan dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam aspek administratif dan mobilisasi sumber daya.

Kejadian tragis ini juga menjadi momentum penting untuk mengevaluasi dan memperkuat sistem mitigasi bencana di objek-objek wisata alam. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan BPBD diharapkan dapat meningkatkan pemasangan rambu-rambu peringatan yang jelas dan multibahasa, menyediakan posko penjagaan dengan petugas siaga, serta mengedukasi masyarakat dan pengelola wisata tentang protokol keselamatan dan tindakan darurat. Pelatihan bagi pemandu wisata lokal tentang penanganan kondisi darurat, termasuk pertolongan pertama dan evakuasi, juga menjadi krusial untuk meningkatkan respons cepat di lokasi kejadian.

Pelajaran dan Imbauan Keselamatan yang Mendesak

Dengan ditemukannya jenazah Heri Saputra, operasi SAR secara resmi dinyatakan ditutup. Namun, pelajaran berharga dari tragedi ini harus menjadi pengingat bagi semua pihak mengenai pentingnya kewaspadaan dan persiapan dalam menghadapi risiko alam.

Dewa Gede Kerta Muhamad Hariyadi menutup pernyataannya dengan imbauan tegas kepada masyarakat: “Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada saat beraktivitas di sekitar aliran sungai, terutama saat cuaca ekstrem yang memicu kenaikan debit air secara tiba-tiba.” Imbauan ini tidak hanya berlaku bagi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata alam, tetapi juga bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

Perubahan iklim global seringkali menyebabkan pola cuaca yang tidak terduga dan meningkatkan frekuensi serta intensitas hujan lebat. Oleh karena itu, kesadaran akan lingkungan dan potensi bahayanya menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa di masa mendatang. Diharapkan, pihak pengelola wisata dan pemerintah daerah dapat bekerja sama lebih erat dalam mengimplementasikan standar keselamatan yang lebih ketat, serta secara rutin memantau kondisi cuaca dan debit air di area-area rawan. Pemasangan sistem peringatan dini yang efektif, seperti sirene atau pengumuman melalui pengeras suara ketika debit air di hulu meningkat drastis, juga patut dipertimbangkan. Keamanan dan keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama dalam pengembangan dan pengelolaan setiap destinasi pariwisata alam, agar kejadian memilukan seperti yang menimpa Heri Saputra tidak terulang kembali di masa depan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *