MATARAM – Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), tengah menunjukkan geliat signifikan dalam pengembangan komoditas tebu, sebuah langkah strategis yang diproyeksikan mampu mengubah lanskap ekonomi lokal dan berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional. Peningkatan jumlah petani tebu pemula dari tahun ke tahun menjadi indikator kuat bahwa sektor ini telah memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Dengan hamparan lahan tidur yang melimpah, Dompu kini dihadapkan pada peluang emas untuk bertransformasi menjadi sentra produksi gula utama untuk wilayah NTB dan Indonesia Timur, sejalan dengan platform kebijakan strategis nasional terkait ketahanan pangan, khususnya komoditas gula. Percepatan pengembangan tebu di Dompu ini semakin mendapatkan momentum karena adanya keselarasan politik antara kepala daerah terpilih, baik di tingkat Provinsi NTB maupun Kabupaten Dompu, dengan Presiden baru Indonesia, Prabowo Subianto. Keselarasan ini diharapkan mempermudah sinkronisasi kebijakan antara pemerintah daerah dan pusat, khususnya dalam upaya akselerasi ketahanan gula nasional. Latar Belakang: Tantangan Swasembada Gula Nasional dan Peran Strategis Dompu Indonesia, sebagai negara agraris berpenduduk besar, masih menghadapi tantangan serius dalam mencapai swasembada gula. Kebutuhan gula nasional terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan industri makanan-minuman, namun produksi domestik kerap belum mampu memenuhi permintaan tersebut. Akibatnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor gula, yang tidak hanya membebani neraca perdagangan tetapi juga rentan terhadap fluktuasi harga global dan isu geopolitik. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa defisit gula konsumsi di Indonesia masih signifikan, mendorong pemerintah untuk terus mencari solusi guna meningkatkan produksi dalam negeri. Dalam konteks inilah, potensi Dompu menjadi sangat relevan. Kabupaten yang dikenal dengan julukan "Bumi Nggahi Rawi Pahu" ini memiliki karakteristik geografis dan iklim yang sangat mendukung untuk budidaya tebu. Lahan yang luas, terutama lahan tidur yang belum termanfaatkan secara optimal, menjadi modal utama. Inisiatif lokal untuk mengembangkan tebu, yang kini didukung penuh oleh legislatif dan eksekutif, menawarkan secercah harapan bagi pencapaian swasembada gula nasional. Kronologi dan Perkembangan Inisiatif Tebu di Dompu Pengembangan perkebunan tebu skala modern di Dompu sejatinya bukan hal baru, namun baru beberapa tahun terakhir mengalami akselerasi yang signifikan. Titik balik penting terjadi dengan kehadiran pihak swasta, yakni PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), yang mendirikan pabrik gula di daerah tersebut. Keberadaan pabrik ini menjadi katalisator bagi petani lokal, memberikan kepastian pasar dan dukungan teknis. Awal Mula (Beberapa Tahun Lalu): PT SMS memulai operasionalnya di Dompu, mengidentifikasi potensi lahan dan mulai membangun fasilitas pengolahan tebu. Langkah awal ini melibatkan penanaman tebu di lahan perusahaan dan inisiasi program kemitraan dengan petani sekitar. Peningkatan Minat Petani (Terus Berlanjut): Seiring berjalannya waktu, petani di Dompu mulai melihat langsung manfaat ekonomi dari budidaya tebu. Pola kemitraan yang transparan dan dukungan dari PT SMS dalam hal bibit, pendampingan, dan jaminan pembelian hasil panen, menarik semakin banyak petani untuk beralih atau menambah lahan mereka dengan tebu. Penguatan Kemitraan (Saat Ini): PT SMS kini tidak hanya menggandeng petani sekitar tetapi juga melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai mitra dalam pengelolaan perkebunan tebu. Model kemitraan ini bertujuan untuk memastikan keamanan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional, serta mempercepat perluasan areal tanam. Pengarusutamaan dalam Kebijakan Daerah (2024-2025): Diskusi dan upaya serius untuk memasukkan tebu sebagai komoditas unggulan daerah mulai mengemuka di tingkat legislatif dan eksekutif. Puncaknya, tebu berhasil masuk dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2025–2029, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Ini menandakan komitmen politik yang kuat untuk menjadikan tebu sebagai salah satu pilar pembangunan daerah. Visi Masa Depan: Penetapan Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional menjadi target jangka panjang yang sedang diperjuangkan, diikuti dengan harapan adanya regulasi yang mendukung dari pemerintah pusat. Dukungan Penuh dari Legislatif: Tebu dalam RPJMD 2025-2029 Komitmen terhadap pengembangan tebu di Dompu mendapatkan legitimasi kuat dari para wakil rakyat. Ketua DPRD NTB, Ir. Muttaqun, menegaskan bahwa komoditas tebu telah secara resmi masuk dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2025–2029, baik di tingkat kabupaten Dompu maupun Provinsi NTB. “Sudah kami sampaikan dalam RPJMD baik di kabupaten maupun provinsi untuk masuk dalam program tahun ini,” kata Muttaqun, merujuk pada upaya percepatan implementasi. Ia memastikan bahwa peluang tebu untuk masuk sebagai komoditas unggulan daerah dalam kategori holtikultura sangat terbuka lebar. Muttaqun, bersama rekan-rekan legislatifnya di tingkat kabupaten, menyatakan komitmen penuh untuk memperjuangkan hal ini. Politisi dari Partai Nasdem ini menjelaskan bahwa konsistensi dalam menyuarakan tebu agar mendapat atensi banyak pihak didasari oleh fakta bahwa komoditas ini merupakan bagian integral dari program kedaulatan pangan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Penegasan ini menggarisbawahi relevansi strategis tebu dalam agenda nasional. Apalagi, dengan telah berdirinya pabrik gula oleh PT SMS, ekosistem industri tebu di Dompu sudah mulai terbentuk, memberikan fondasi yang kuat untuk pengembangan lebih lanjut. Muttaqun menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, swasta, hingga masyarakat, guna memperluas areal perkebunan tebu dan menyelesaikan status areal yang masih belum jelas. “Kami ingin tebu tidak hanya dimanfaatkan potensinya tapi juga harus bisa dikelola untuk kesejahteraan masyarakat Dompu,” tegasnya, mengindikasikan bahwa fokus utama adalah dampak ekonomi langsung bagi penduduk lokal. Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan Manfaat Multisektoral Senada dengan Muttaqun, anggota DPRD NTB, Marga Harun, melihat tebu sebagai motor penggerak industri pertanian yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan di Dompu. Menurutnya, pengembangan perkebunan tebu yang dikelola oleh PT SMS bersama petani sekitar telah berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat secara nyata. “Tebu saat ini sudah masuk dalam industri pertanian yang mampu mengembangkan ekonomi kerakyatan yang ada di Dompu,” ujar Marga Harun. Ia menambahkan bahwa keberadaan perkebunan tebu di Dompu juga memberikan berkah lain, yaitu berkontribusi signifikan dalam mengurangi angka pengangguran. Lebih jauh, Marga Harun mengidentifikasi bahwa pendapatan asli daerah (PAD) Dompu juga ikut terdongkrak dengan adanya sektor ini. “Ini menurut pandangan saya,” tambahnya, memberikan penekanan pada observasi langsungnya. Mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) NTB itu berpendapat bahwa sudah selayaknya perkebunan tebu mendapatkan perhatian yang setara dengan komoditas unggulan Dompu lainnya, seperti jagung. Argumentasi ini didasarkan pada lonjakan pertumbuhan perkebunan tebu yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa tebu bukan lagi komoditas sampingan, melainkan memiliki daya saing dan potensi ekonomi yang setara atau bahkan lebih besar di masa depan. Putra daerah asal Dompu ini juga mengapresiasi upaya pemerintah kabupaten sejauh ini dalam mendorong perkembangan komoditas tebu untuk mengembangakan aspek ekonomi masyarakat, yang dinilainya sudah cukup maksimal. Namun, ia menambahkan, “Saya rasa yang dibutuhkan saat ini adalah perlu menghadirkan bibit-bibit unggul agar bisa menambah gairah masyarakat untuk tidak hanya fokus berkebun jagung tapi juga tebu sehingga perkembangan ekonomi daerah bisa bergerak di banyak komoditi.” Peningkatan kualitas bibit tebu akan meningkatkan produktivitas dan keuntungan petani, menjadikan tebu pilihan yang lebih menarik. Tantangan dan Harapan ke Depan: Menuju Kawasan Tebu Nasional Marga Harun, yang juga merupakan putra Wakil Bupati Dompu Syirajuddin, berkomitmen untuk terus memperjuangkan nasib masa depan tebu di daerahnya. Salah satu target utamanya adalah mendorong pemerintah pusat untuk segera membuat regulasi yang menindaklanjuti kebijakan penetapan Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional. “Jadi bukan hanya simbolis saja menetapkan Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional tapi minimal daerah itu mendapatkan manfaat dari penetapan ini,” tegas Marga Harun, menggarisbawahi pentingnya dukungan konkret dari pusat. Manfaat ini bisa berupa alokasi anggaran khusus, insentif investasi, atau program pengembangan infrastruktur yang mendukung industri tebu. Perkebunan tebu diharapkan dapat menjadi lokomotif kebangkitan ekonomi kerakyatan yang manfaatnya dapat dirasakan secara parsial oleh masyarakat di Bumi Nggahi Rawi Pahu. Jangka panjangnya, tebu juga diharapkan menjadi penyumbang PAD terbesar untuk Dompu, sehingga tujuan pembangunan yang berkelanjutan dapat terwujud. Namun, beberapa tantangan perlu diatasi. Selain masalah bibit unggul dan regulasi pusat, isu kepastian status lahan bagi petani tebu juga krusial. Program reforma agraria atau legalisasi lahan dapat memberikan kepastian hukum bagi petani, mendorong mereka untuk berinvestasi lebih besar dalam budidaya tebu. Selain itu, diperlukan juga infrastruktur pendukung seperti akses jalan yang memadai ke perkebunan dan sistem irigasi yang efisien. Implikasi Lebih Luas: Ketahanan Pangan dan Pembangunan Berkelanjutan Pengembangan tebu di Dompu memiliki implikasi yang jauh melampaui batas-batas kabupaten itu sendiri. Di tingkat nasional, keberhasilan Dompu dalam meningkatkan produksi gula akan secara langsung berkontribusi pada target swasembada gula Indonesia. Setiap ton gula yang diproduksi di dalam negeri berarti mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat kedaulatan pangan, dan menghemat devisa negara. Di tingkat regional NTB, Dompu dapat menjadi contoh keberhasilan diversifikasi ekonomi pertanian. Provinsi NTB yang selama ini dikenal dengan jagung dan padi, akan memiliki komoditas strategis baru yang dapat menyeimbangkan portofolio pertaniannya. Ini juga dapat memicu pengembangan agroindustri turunan dari tebu, seperti produksi etanol atau bioenergi, yang akan menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja baru. Bagi masyarakat Dompu, dampak positifnya sangat multidimensional. Peningkatan pendapatan petani akan mengurangi kemiskinan di pedesaan, meningkatkan daya beli, dan memperbaiki kualitas hidup. Terbukanya lapangan kerja di sektor pertanian dan industri pengolahan akan menyerap tenaga kerja lokal, termasuk kaum muda, yang dapat mengurangi urbanisasi. Peningkatan PAD dari sektor tebu juga akan memungkinkan pemerintah daerah untuk berinvestasi lebih banyak dalam pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur publik, mendorong pembangunan berkelanjutan. Ajakan dan Komitmen Bersama Menutup pernyataannya, Marga Harun menyampaikan seruan kepada seluruh anggota legislatif, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. “Buat para rekan anggota legislatif baik di tingkat provinsi maupun kabupaten mari kita sama-sama berkoordinasi untuk bersinergi menyambut penetapan Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional karena ini adalah berkah buat semua,” tandasnya. Ajakan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah panggilan untuk tindakan nyata. Sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, pihak swasta seperti PT SMS, akademisi untuk riset bibit unggul, serta partisipasi aktif masyarakat petani adalah kunci keberhasilan. Dengan dukungan yang kuat, regulasi yang memadai, dan inovasi yang berkelanjutan, Dompu memiliki kapasitas untuk tidak hanya menjadi sentra produksi gula nasional tetapi juga model pembangunan pertanian yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. Visi ini, yang menggabungkan potensi ekonomi, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat, menempatkan Dompu di garis depan upaya mewujudkan cita-cita besar bangsa. Post navigation Tantangan dan Peluang Dompu Menuju Swasembada Gula Nasional: Antara Komitmen Pusat yang Progresif dan Dukungan Anggaran Daerah yang Masih Terbatas