Prestasi membanggakan kembali diukir oleh civitas akademika Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) Mataram di kancah nasional melalui pencapaian luar biasa dari tim mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK). Dalam ajang kompetisi inovasi bergengsi Idea Festival 5 yang diselenggarakan di lingkungan IPB University, tim FK UNIZAR berhasil mengamankan Medali Perunggu berkat pengembangan teknologi kesehatan mutakhir yang berfokus pada penanganan penyakit menular. Inovasi yang diberi nama TuberaSweat ini hadir sebagai solusi preventif dan deteksi dini terhadap penyakit Tuberkulosis (TB), sebuah permasalahan kesehatan masyarakat yang masih menjadi beban besar bagi Indonesia di tingkat global. Kelompok yang bertanding dalam Kategori Kesehatan ini digawangi oleh dua mahasiswi berprestasi, yakni Ni Komang Devika Lantari yang saat ini duduk di Semester 6, dan Sang Ayu Putu Sollene Abilita dari Semester 4. Keberhasilan mereka dalam merumuskan konsep hingga mempresentasikannya di hadapan dewan juri tidak lepas dari bimbingan intensif yang diberikan oleh dosen pendamping, Suci Nirmala. Ajang Idea Festival 5 sendiri merupakan kolaborasi strategis antara Sentosa Foundation dan Bogor Science Club (BSC) IPB, yang puncaknya dilaksanakan di Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University pada tanggal 6 hingga 7 Juni 2026. Inovasi TuberaSweat: Pendekatan Baru Deteksi Dini Tuberkulosis Inti dari prestasi ini adalah sebuah perangkat wearable berbentuk gelang pintar yang dinamakan TuberaSweat. Judul lengkap proposal mereka, "TuberaSweat: Gelang Pintar sebagai Alat Deteksi TB Menuju Indonesia Emas 2045", mencerminkan visi jangka panjang untuk mengintegrasikan teknologi digital dengan upaya peningkatan derajat kesehatan nasional. Perangkat ini dirancang secara khusus untuk melakukan skrining non-invasif dengan memanfaatkan indikator biokimia tertentu yang terkandung dalam keringat manusia. Metode deteksi konvensional untuk Tuberkulosis selama ini sangat bergantung pada pemeriksaan dahak (sputum) melalui mikroskop atau Tes Cepat Molekuler (TCM), serta rontgen dada. Namun, tantangan di lapangan sering kali berkaitan dengan keengganan masyarakat untuk memeriksakan diri secara mandiri karena stigma atau keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan. TuberaSweat hadir untuk menjembatani celah tersebut dengan menawarkan cara pemantauan yang lebih praktis, personal, dan dapat digunakan secara kontinu oleh individu yang berisiko tinggi. Secara teknis, gelang pintar ini bekerja dengan sensor sensitif yang mampu mendeteksi biomarker spesifik yang dihasilkan oleh tubuh saat merespons infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Data yang ditangkap oleh sensor tersebut kemudian diolah untuk memberikan peringatan dini atau indikasi risiko kepada penggunanya, sehingga mereka dapat segera mencari bantuan medis profesional sebelum kondisi penyakit menjadi lebih parah atau menularkan ke orang lain di lingkungan sekitar. Konteks Darurat Tuberkulosis di Indonesia Latar belakang pengembangan TuberaSweat didasarkan pada data epidemiologi yang cukup memprihatinkan. Ni Komang Devika Lantari menjelaskan bahwa motivasi utama timnya adalah posisi Indonesia yang masih terjebak dalam krisis kesehatan TB. Berdasarkan laporan global, Indonesia secara konsisten menempati peringkat kedua di dunia dalam hal beban kasus Tuberkulosis, hanya berada di bawah India. Meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai program eliminasi TB, angka prevalensi dan insidensi masih menunjukkan tantangan yang signifikan. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa setiap tahunnya terdapat ratusan ribu kasus baru yang terdeteksi, namun masih banyak kasus yang belum terlaporkan atau "missing cases". Hal ini sangat berbahaya karena satu penderita TB aktif yang tidak diobati dapat menularkan penyakitnya kepada 10 hingga 15 orang di sekitarnya dalam setahun. Dengan adanya inovasi seperti TuberaSweat, diharapkan proses penemuan kasus (case finding) dapat dilakukan lebih cepat dan masif, sejalan dengan target eliminasi TB pada tahun 2030 dan visi Indonesia Emas 2045. Keberadaan penyakit TB tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga memberikan beban ekonomi yang berat bagi negara akibat hilangnya produktivitas masyarakat pada usia produktif. Oleh karena itu, deteksi dini melalui teknologi wearable dianggap sebagai langkah strategis yang efisien secara biaya dan efektif secara operasional. Kronologi Kompetisi dan Proses Kreatif di Idea Festival 5 Perjalanan tim FK UNIZAR menuju podium juara di Idea Festival 5 bukanlah hal yang mudah. Kompetisi ini dimulai dengan tahapan seleksi berkas dan proposal inovasi yang diikuti oleh ratusan tim dari berbagai perguruan tinggi ternama di seluruh Indonesia. Setelah melewati seleksi administratif dan substansi yang ketat, tim UNIZAR dinyatakan lolos sebagai finalis dan diundang untuk mempresentasikan karya mereka secara langsung di kampus IPB University, Bogor. Selama dua hari penyelenggaraan, yakni pada 6-7 Juni 2026, para peserta tidak hanya dituntut untuk memaparkan keunggulan inovasi mereka, tetapi juga harus mampu menjawab pertanyaan kritis dari para penguji yang terdiri dari pakar kesehatan, akademisi, dan praktisi teknologi. Fokus penilaian meliputi orisinalitas ide, kelayakan implementasi (feasibility), dampak sosial, serta kemampuan presentasi. Ni Komang Devika Lantari dan Sang Ayu Putu Sollene Abilita berhasil meyakinkan juri melalui argumentasi yang kuat mengenai validitas penggunaan keringat sebagai media deteksi. Mereka memaparkan bahwa inovasi ini didasarkan pada studi literatur yang mendalam mengenai fisiologi manusia dan patofisiologi penyakit TB. Dukungan dari dosen pembimbing, Suci Nirmala, berperan krusial dalam mempertajam metodologi penelitian dan memastikan bahwa konsep yang ditawarkan memiliki landasan medis yang dapat dipertanggungjawabkan. Pentingnya Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu Salah satu poin penting yang dipetik oleh tim mahasiswa FK UNIZAR selama mengikuti Idea Festival 5 adalah esensi dari kolaborasi. Ajang ini mempertemukan mahasiswa dari beragam latar belakang pendidikan, mulai dari kedokteran, teknik elektro, farmasi, hingga manajemen bisnis. Interaksi dengan peserta lain memberikan perspektif baru bahwa sebuah inovasi medis tidak bisa berdiri sendiri di laboratorium. "Kami belajar bahwa mahasiswa kedokteran tidak bisa berjalan sendiri. Inovasi lebih kuat jika dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu," ungkap perwakilan tim. Untuk mengubah prototipe TuberaSweat menjadi produk massal yang siap pakai, diperlukan sentuhan ahli teknik untuk pengembangan perangkat keras (hardware), ahli informatika untuk algoritma pemrosesan data, serta pakar ekonomi untuk strategi pemasaran dan distribusi. Kesadaran akan pentingnya kerja sama multidisiplin ini menjadi modal berharga bagi para mahasiswa kedokteran UNIZAR dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional di masa depan. Di era industri 4.0 dan menuju 5.0, batas-batas antara disiplin ilmu kedokteran dan teknologi informasi semakin memudar, melahirkan apa yang disebut sebagai kesehatan digital (digital health). Tanggapan Institusi dan Implikasi Luas Bagi Universitas Keberhasilan meraih Medali Perunggu ini disambut dengan apresiasi tinggi oleh pimpinan Universitas Islam Al-Azhar Mataram. Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di daerah memiliki daya saing yang setara dengan mahasiswa dari kampus-kampus besar di Pulau Jawa. Hal ini juga menunjukkan bahwa iklim riset dan inovasi di FK UNIZAR terus berkembang secara positif, didukung oleh kurikulum yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan solutif terhadap masalah kesehatan di masyarakat. Pihak universitas menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan inovasi TuberaSweat, baik melalui bantuan pendanaan internal maupun fasilitasi untuk menjalin kemitraan dengan pihak eksternal, seperti industri teknologi medis atau instansi pemerintah terkait. Langkah selanjutnya yang diharapkan adalah pengembangan prototipe lebih lanjut hingga mencapai tahap uji klinis untuk memastikan akurasi dan keamanan perangkat sebelum benar-benar dilepas ke pasar. Secara lebih luas, kemenangan ini memberikan motivasi bagi mahasiswa lain di lingkungan UNIZAR untuk berani berkompetisi dan menyalurkan ide-ide kreatif mereka. Prestasi di ajang nasional seperti Idea Festival 5 meningkatkan reputasi institusi di mata publik dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi di Indonesia. Analisis Masa Depan: Menuju Implementasi Nasional Jika dikembangkan secara serius, TuberaSweat memiliki potensi untuk menjadi bagian dari sistem surveilans kesehatan nasional. Integrasi antara gelang pintar dengan aplikasi smartphone (Mobile Health) dapat memungkinkan data deteksi dini dikirimkan secara otomatis ke pusat data kesehatan (Puskesmas atau Dinas Kesehatan). Dengan demikian, pemetaan zona risiko TB dapat dilakukan secara real-time berdasarkan data anonim dari pengguna perangkat. Namun, terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam perjalanan menuju implementasi tersebut. Pertama adalah masalah akurasi sensor dalam kondisi lingkungan yang beragam, mengingat komposisi keringat dapat dipengaruhi oleh aktivitas fisik, suhu udara, dan pola makan. Kedua adalah aspek regulasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atau Kementerian Kesehatan terkait standarisasi alat kesehatan. Ketiga adalah faktor harga, agar teknologi ini tetap terjangkau oleh masyarakat luas, terutama kelompok ekonomi rentan yang sering kali menjadi korban utama penyakit TB. Meskipun demikian, keberhasilan tim FK UNIZAR di Idea Festival 5 telah meletakkan batu pertama bagi kemungkinan-kemungkinan baru dalam perjuangan melawan Tuberkulosis di Indonesia. Medali Perunggu yang dibawa pulang ke Mataram bukan sekadar penghargaan fisik, melainkan simbol dari dedikasi generasi muda kedokteran Indonesia untuk menciptakan perubahan nyata demi masa depan bangsa yang lebih sehat. Dengan semangat menuju Indonesia Emas 2045, inovasi seperti TuberaSweat diharapkan tidak hanya berhenti di meja kompetisi, tetapi terus bertransformasi menjadi solusi nyata yang menyelamatkan nyawa jutaan rakyat Indonesia dari ancaman penyakit menular. Keberhasilan Ni Komang Devika Lantari dan Sang Ayu Putu Sollene Abilita adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan karya besar yang diakui secara nasional. Post navigation 15 Santri Penghafal Alquran SMPIT BQN Mataram Ikuti OSN Tingkat Kota Penantian Panjang Seleksi Calon Kepala Sekolah NTB Menilik Dampak Kekosongan Kepemimpinan Definitif dan Pentingnya Transparansi Birokrasi Pendidikan