Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) berkolaborasi dengan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) Universitas Mataram (Unram) menyelenggarakan National Workshop on Strengthening Sustainable Seaweed Value Chains and Downstream Development di AONE Hotel, Jakarta, pada Kamis (4/6). Forum strategis ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor untuk merumuskan peta jalan penguatan rantai nilai dan percepatan hilirisasi industri rumput laut nasional yang berbasis pada prinsip keberlanjutan. Pertemuan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari tersebut menjadi katalisator penting dalam upaya Indonesia mentransformasi sektor kelautan dan perikanan menjadi motor penggerak ekonomi baru di era ekonomi biru.

Lokakarya nasional ini dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi dan perwakilan kementerian teknis, di antaranya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Koordinator Bidang Pangan, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Selain unsur pemerintah, forum ini juga melibatkan para akademisi, peneliti, pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), hingga praktisi industri dari berbagai daerah penghasil rumput laut di Indonesia. Kehadiran beragam entitas ini mencerminkan kompleksitas sekaligus besarnya potensi integrasi dalam industri rumput laut dari hulu ke hilir.

Visi Global FAO untuk Rumput Laut Indonesia

Dalam pidato pembukaannya, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menggarisbawahi posisi strategis Indonesia dalam peta rumput laut global. Aryal menegaskan bahwa komitmen FAO tidak hanya terbatas pada pendampingan teknis, tetapi juga pada upaya memastikan bahwa pertumbuhan sektor ini bersifat inklusif, memberikan manfaat nyata bagi pembudidaya kecil, dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem laut. Menurutnya, rumput laut bukan sekadar komoditas perdagangan, melainkan solusi multidimensi untuk ketahanan pangan global, mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon, dan penciptaan lapangan kerja di wilayah pesisir.

Keterlibatan FAO dalam lokakarya ini merupakan bagian dari inisiatif global untuk memperkuat kapasitas teknis dan kelembagaan di sektor perikanan budidaya. Aryal menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa berkat kondisi geografisnya. Namun, tantangan besar tetap ada pada aspek daya saing di pasar internasional yang kini semakin menuntut standar keberlanjutan dan keterlacakan (traceability) yang ketat. Oleh karena itu, FAO berkomitmen untuk membantu pemerintah Indonesia dalam menyelaraskan kebijakan nasional dengan standar global guna meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Peran Strategis ITSRC Universitas Mataram dan Kajian Akademis

Sebagai mitra teknis dan akademis utama, ITSRC Universitas Mataram memainkan peran krusial dalam menyediakan basis data dan analisis ilmiah bagi forum tersebut. Peneliti utama ITSRC, Dr. Eka Sunarwidhi Prasedya, memaparkan hasil kajian awal yang mendalam mengenai kondisi eksisting sektor rumput laut di Indonesia. Kajian ini merupakan hasil dari observasi lapangan dan analisis data sekunder yang memetakan seluruh simpul rantai nilai, mulai dari pemilihan bibit oleh petani, proses budidaya, metode pascapanen, distribusi melalui pengepul, hingga tahap pengolahan di pabrik.

Salah satu poin penting yang diangkat oleh Dr. Eka adalah perlunya sistem keterlacakan produk. Di pasar global, terutama di Uni Eropa dan Amerika Serikat, konsumen kini lebih kritis terhadap asal-usul produk yang mereka konsumsi. Mereka menuntut bukti bahwa rumput laut tersebut dibudidayakan tanpa merusak lingkungan dan melibatkan praktik ketenagakerjaan yang adil. Hasil kajian ITSRC menunjukkan adanya kesenjangan data yang perlu segera diperkuat agar perumusan kebijakan hilirisasi tidak salah sasaran. Validasi temuan ini menjadi agenda utama dalam sesi diskusi kelompok untuk memastikan bahwa rekomendasi yang dihasilkan benar-benar berpijak pada realitas lapangan.

Selain Dr. Eka, peneliti senior Universitas Mataram, Dr. Nunik Cokrowati, juga berbagi perspektif mengenai inovasi teknik budidaya rumput laut tropis. Berdasarkan pengalaman penelitian lapangan di Nusa Tenggara Barat dan wilayah lainnya, Dr. Nunik menekankan pentingnya adaptasi teknologi yang tepat guna bagi pembudidaya. Penggunaan bibit unggul hasil kultur jaringan dan penerapan kalender tanam yang responsif terhadap perubahan iklim dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi nasional.

Sinergi Pemerintah dan Program Hilirisasi Nasional

Pemerintah Indonesia melalui perwakilan Bappenas, Kemenko Pangan, dan Direktorat Rumput Laut KKP memberikan dukungan penuh terhadap hasil-hasil diskusi dalam lokakarya ini. Pemerintah menegaskan bahwa penguatan rantai nilai rumput laut telah ditetapkan sebagai salah satu agenda prioritas nasional. Hal ini sejalan dengan visi besar pemerintah untuk mendorong hilirisasi komoditas unggulan agar Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah (raw material), tetapi juga produk olahan dengan nilai tambah tinggi.

FAO dan ITSRC Unram Dorong Penguatan Hilirisasi Rumput Laut Nasional

Perwakilan dari KKP menjelaskan bahwa saat ini pemerintah tengah memacu pembangunan "Seaweed Estate" di beberapa wilayah strategis. Program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem industri rumput laut yang terintegrasi, di mana lokasi budidaya berdekatan dengan fasilitas pengolahan primer dan sekunder. Dengan demikian, biaya logistik dapat ditekan dan kualitas bahan baku dapat terjaga dengan lebih baik. KKP juga berkomitmen untuk mempermudah regulasi investasi di sektor hilir rumput laut guna menarik minat investor domestik maupun asing.

Sementara itu, pihak Bappenas menyoroti aspek keberlanjutan jangka panjang. Hilirisasi rumput laut diharapkan dapat berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor perikanan tanpa mengesampingkan target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Penguatan kelembagaan di tingkat petani melalui koperasi atau kelompok usaha bersama juga menjadi sorotan agar posisi tawar pembudidaya meningkat dalam rantai nilai yang ada.

Tantangan Industri dan Perspektif Pelaku Usaha

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), Safari Aziz, memberikan perspektif dari sisi pelaku usaha dan eksportir. Dalam sesi diskusi yang dipimpinnya, Safari memaparkan berbagai tantangan nyata yang dihadapi industri saat ini, mulai dari fluktuasi harga internasional, hambatan tarif dan non-tarif di negara tujuan ekspor, hingga kendala logistik antar-pulau di Indonesia yang masih berbiaya tinggi.

Menurut Safari, hilirisasi adalah keharusan, namun transisinya perlu dilakukan secara cermat. Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut jenis Eucheuma cottonii terbesar di dunia, namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk kering. Untuk beralih ke produk turunan seperti karagenan murni, agar-agar farmasi, atau bahkan bioplastik, dibutuhkan investasi teknologi yang besar dan kepastian pasokan bahan baku yang stabil secara kualitas maupun kuantitas. Forum ini dianggapnya sebagai jembatan yang efektif untuk menyelaraskan ekspektasi akademisi, visi pemerintah, dan kebutuhan praktis industri.

Data Pendukung dan Konteks Industri Rumput Laut

Indonesia memiliki potensi lahan budidaya laut yang sangat luas, mencapai lebih dari 12 juta hektar, namun pemanfaatannya untuk rumput laut saat ini diperkirakan baru mencapai kurang dari 10 persen. Sebagai negara produsen rumput laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, Indonesia mendominasi pasar dunia untuk jenis rumput laut tropis penghasil karagenan. Berdasarkan data statistik, sektor ini melibatkan ratusan ribu rumah tangga pembudidaya yang tersebar dari ujung Sumatera hingga Papua, menjadikannya sektor yang sangat padat karya.

Namun, nilai ekspor rumput laut Indonesia masih didominasi oleh bahan mentah. Data menunjukkan bahwa nilai tambah yang hilang akibat minimnya pengolahan di dalam negeri mencapai angka triliunan rupiah setiap tahunnya. Diversifikasi produk menjadi kunci; rumput laut kini tidak hanya digunakan untuk industri makanan (sebagai pengental atau penstabil), tetapi juga merambah ke industri kosmetik, farmasi, pakan ternak yang rendah emisi metana, hingga solusi kemasan ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami (biodegradable).

Implikasi dan Rekomendasi Kebijakan

Lokakarya ini menghasilkan serangkaian rekomendasi kebijakan yang akan dikompilasi menjadi dokumen strategis bagi pemerintah. Beberapa poin utama rekomendasi tersebut meliputi:

  1. Peningkatan Mutu Bibit: Mendorong penggunaan bibit hasil kultur jaringan secara massal untuk mengatasi penurunan kualitas bibit akibat penggunaan berulang (strain fatigue).
  2. Standardisasi Pascapanen: Sosialisasi dan penerapan standar pengeringan serta gudang penyimpanan yang layak di tingkat petani untuk memastikan kadar air dan kebersihan sesuai standar industri.
  3. Insentif Hilirisasi: Pemberian insentif fiskal dan kemudahan perizinan bagi perusahaan yang membangun fasilitas pengolahan rumput laut di wilayah sentra produksi.
  4. Digitalisasi Rantai Pasok: Pengembangan platform digital untuk mendata produksi secara real-time dan meningkatkan transparansi harga di tingkat pembudidaya.
  5. Riset dan Pengembangan: Memperkuat kolaborasi antara universitas seperti Unram dengan industri untuk menciptakan inovasi produk baru berbasis rumput laut.

Dr. Eka Sunarwidhi menutup sesi diskusi dengan menyampaikan rasa syukur atas antusiasme seluruh peserta. Ia berharap bahwa hasil dari lokakarya ini tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi segera diimplementasikan dalam bentuk aksi nyata yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi para pembudidaya di pesisir.

Dengan sinergi yang kuat antara organisasi internasional seperti FAO, institusi pendidikan seperti Universitas Mataram, pemerintah, dan sektor swasta, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat keunggulan (center of excellence) rumput laut dunia. Hilirisasi yang berkelanjutan bukan hanya tentang meningkatkan devisa, tetapi tentang menjaga kedaulatan pangan dan kelestarian laut untuk generasi mendatang. Forum di Jakarta ini menjadi langkah awal yang solid dalam menempatkan rumput laut sebagai pilar utama transformasi ekonomi biru nasional.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *