Universitas Mataram (UNRAM) melalui tim pengabdian masyarakatnya secara resmi memperkenalkan inovasi teknologi tepat guna yang dinamakan KOMBUJA (Kombinasi Bambu Jaring) di wilayah pesisir Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi budidaya kepiting bakau (Scylla spp.) dengan tetap mengedepankan prinsip kelestarian lingkungan melalui pendekatan silvofisheries. Inovasi ini menyasar Kelompok Budidaya Scylla Indah Jaya sebagai mitra utama dalam upaya meningkatkan produktivitas nelayan lokal tanpa merusak ekosistem mangrove yang menjadi benteng pesisir.

Program pengabdian ini dipimpin oleh akademisi UNRAM, Dewi Putri Lestari, yang didampingi oleh anggota tim ahli yakni Wastu Ayu Diamahesa dan Vici Handalusia Husni. Kehadiran tim ini di tengah masyarakat Lembar membawa angin segar bagi sektor perikanan budidaya di Nusa Tenggara Barat, mengingat selama ini pemanfaatan lahan mangrove sering kali berbenturan dengan isu deforestasi dan kerusakan lingkungan. Dengan KOMBUJA, paradigma budidaya kepiting bakau diubah dari metode konvensional yang eksploitatif menjadi metode yang harmonis dengan alam.

Inovasi KOMBUJA: Solusi Teknologi Tepat Guna Berbasis Kearifan Lokal

Teknologi KOMBUJA atau Kombinasi Bambu Jaring merupakan perangkat budidaya yang dirancang khusus untuk memfasilitasi pertumbuhan kepiting bakau di habitat aslinya. Penggunaan material utama berupa bambu dan jaring bukan tanpa alasan. Tim pengabdian UNRAM memilih material ini karena ketersediaannya yang melimpah di sekitar lokasi, harga yang terjangkau bagi pembudidaya kecil, serta sifatnya yang adaptif terhadap dinamika air laut.

Secara teknis, KOMBUJA berfungsi sebagai wadah pemeliharaan atau "apartemen" kepiting yang ditempatkan di sela-sela akar mangrove. Desain ini memungkinkan sirkulasi air tetap terjaga dengan baik, memberikan asupan oksigen yang cukup, serta memudahkan pemberian pakan dan pemantauan kesehatan kepiting secara berkala. Penggunaan jaring yang fleksibel namun kuat memastikan kepiting tidak melarikan diri, sementara struktur bambu memberikan stabilitas posisi alat di tengah arus pasang surut air laut.

Ketua tim pengabdian UNRAM, Dewi Putri Lestari, menjelaskan bahwa fokus utama pengembangan KOMBUJA adalah menciptakan kemandirian teknologi di tingkat masyarakat. "Kami mengembangkan KOMBUJA sebagai teknologi yang memanfaatkan sumber daya lokal agar mudah diimplementasikan dan direplikasi secara mandiri oleh masyarakat. Intinya adalah bagaimana meningkatkan efisiensi produksi tanpa harus mengeluarkan biaya investasi yang besar untuk infrastruktur permanen yang berisiko merusak lahan mangrove," ujar Dewi dalam keterangan resminya pada Minggu (16/8/2026).

Pendekatan Silvofisheries: Integrasi Ekologi dan Ekonomi

Penerapan KOMBUJA tidak dapat dipisahkan dari konsep silvofisheries, sebuah sistem budidaya perikanan yang terintegrasi dengan penanaman atau pelestarian hutan mangrove. Di wilayah Lembar, hutan mangrove memegang peranan krusial sebagai tempat pemijahan alami bagi berbagai biota laut, termasuk kepiting bakau. Namun, perluasan tambak tradisional sering kali menjadi ancaman bagi keberadaan mangrove tersebut.

Melalui sistem silvofisheries yang diperkenalkan UNRAM, masyarakat diajarkan untuk melakukan budidaya di dalam kawasan mangrove yang masih berdiri tegak. Akar-akar mangrove bertindak sebagai penyaring alami (biofilter) yang menyerap limbah sisa pakan atau metabolisme kepiting, sehingga kualitas air di sekitar lokasi budidaya tetap terjaga. Sebaliknya, kehadiran kepiting di area tersebut juga membantu proses aerasi tanah mangrove melalui aktivitas pergerakannya.

Pendampingan yang diberikan oleh tim UNRAM mencakup berbagai aspek komprehensif, mulai dari teknik perakitan KOMBUJA, pemilihan benih kepiting (crablet) yang berkualitas, manajemen pemberian pakan berbasis bahan organik, hingga strategi pengendalian hama dan penyakit. Edukasi mengenai pentingnya menjaga kerapatan tegakan mangrove juga menjadi kurikulum wajib dalam program ini, mengingat keberhasilan budidaya kepiting sangat bergantung pada kesehatan ekosistem hutan bakau tersebut.

UNRAM Kenalkan KOMBUJA, Inovasi Budidaya Kepiting Bakau Ramah Lingkungan

Potensi Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan dengan nilai ekonomi tinggi di pasar domestik maupun internasional, khususnya di kawasan Asia Timur seperti Tiongkok, Singapura, dan Hong Kong. Selama ini, masyarakat di Lembar umumnya hanya mengandalkan hasil tangkapan alam yang fluktuatif dan sangat bergantung pada musim. Dengan adanya inovasi budidaya terkontrol menggunakan KOMBUJA, diharapkan pasokan kepiting bakau dapat tersedia secara berkelanjutan dengan ukuran yang seragam dan kualitas yang lebih baik.

Analisis ekonomi menunjukkan bahwa transisi dari penangkapan liar ke budidaya berbasis silvofisheries dapat meningkatkan pendapatan nelayan secara signifikan. Kepiting hasil budidaya dalam wadah KOMBUJA memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lepas liar di tambak terbuka yang rentan terhadap kanibalisme dan predator. Selain itu, masa panen dapat diprediksi dengan lebih akurat, sehingga nelayan memiliki posisi tawar yang lebih baik di hadapan pengepul atau eksportir.

Kelompok Budidaya Scylla Indah Jaya menyambut positif inisiatif ini. Mereka melihat KOMBUJA sebagai jalan keluar atas keterbatasan modal untuk membangun keramba jaring apung atau tambak beton yang mahal. Dengan bimbingan dari UNRAM, para pembudidaya kini memiliki keterampilan teknis untuk mengelola unit-unit KOMBUJA mereka secara profesional, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Kabupaten Lombok Barat.

Kontribusi Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh UNRAM ini memiliki implikasi luas terhadap pencapaian Sasaran Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan secara global. Terdapat beberapa poin SDGs yang secara langsung tersentuh oleh inovasi KOMBUJA dan sistem silvofisheries ini:

  1. SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Melalui penguatan kapasitas ekonomi pembudidaya, program ini membantu mengentaskan kemiskinan di wilayah pesisir dan menciptakan lapangan kerja baru berbasis ekonomi biru (blue economy).
  2. SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Dengan mempertahankan hutan mangrove melalui sistem silvofisheries, program ini berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim. Mangrove dikenal sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang jauh lebih efektif dibandingkan hutan daratan.
  3. SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 15 (Ekosistem Darat): Inovasi ini secara langsung melindungi keanekaragaman hayati di wilayah pesisir dengan mencegah konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak terbuka yang merusak.

UNRAM menegaskan bahwa peran akademisi tidak hanya terbatas pada penelitian di laboratorium, tetapi harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat di lapangan. Inovasi KOMBUJA adalah bukti nyata sinergi antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan praktis di tingkat akar rumput.

Menuju Model Budidaya Pesisir yang Berkelanjutan di Masa Depan

Kesuksesan penerapan KOMBUJA di Kelompok Scylla Indah Jaya diharapkan dapat menjadi proyek percontohan (pilot project) yang bisa direplikasi di wilayah pesisir lainnya, baik di dalam wilayah Nusa Tenggara Barat maupun di seluruh Indonesia. Mengingat Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia, potensi pengembangan budidaya kepiting bakau ramah lingkungan masih sangat terbuka lebar.

Namun, tantangan ke depan tetap ada. Tim UNRAM mengidentifikasi bahwa keberlanjutan program ini memerlukan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah, terutama terkait perlindungan zonasi kawasan mangrove dan akses pasar bagi para pembudidaya kecil. Selain itu, diperlukan riset lanjutan mengenai pakan alternatif yang lebih murah namun tetap memberikan nutrisi optimal bagi kepiting untuk memperpendek masa produksi.

Pihak universitas berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kelompok pembudidaya di Lembar secara berkala. Evaluasi akan dilakukan untuk menyempurnakan desain KOMBUJA agar lebih tahan lama terhadap korosi air laut dan serangan organisme perusak kayu. "Harapan kami, KOMBUJA tidak berhenti di sini. Inovasi ini harus terus berkembang dan menjadi standar baru dalam budidaya kepiting bakau berbasis mangrove yang mandiri dan lestari," tutup Dewi Putri Lestari.

Dengan integrasi antara teknologi sederhana, kesadaran ekologis, dan semangat kemandirian ekonomi, masyarakat pesisir Lembar kini memiliki instrumen baru untuk memperbaiki taraf hidup mereka. KOMBUJA bukan sekadar kombinasi bambu dan jaring, melainkan simbol harapan bagi masa depan pesisir Indonesia yang lebih hijau dan sejahtera. Melalui langkah kecil dari Universitas Mataram ini, cita-cita besar untuk menjaga kedaulatan pangan dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *