PRAYA – Mustakim, seorang warga Dusun Sintung Tengak, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, yang berusia 40 tahun, telah dilaporkan hilang di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Karang Sidemen sejak Selasa, 30 Juni. Pria yang diketahui memiliki riwayat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ini pamit untuk mencari rumput di hutan dan tak kunjung kembali hingga Senin, 6 Juli, menandai sepekan penuh keberadaannya menjadi misteri. Tim SAR gabungan dari berbagai instansi telah dikerahkan untuk melakukan pencarian intensif, termasuk menggunakan teknologi drone thermal, namun hingga saat ini hasilnya masih nihil.

Operasi pencarian besar-besaran ini melibatkan sinergi dari Tim Rescue Kantor SAR Mataram, Kepolisian Resor Lombok Tengah, Kepolisian Sektor Batukliang Utara, Komando Rayon Militer 1620-07/Batukliang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah, serta partisipasi aktif masyarakat setempat dan pihak terkait lainnya. Fokus utama pencarian adalah menyisir daratan yang luas dan berliku di kawasan HKM, dengan harapan dapat menemukan jejak atau keberadaan Mustakim.

Kronologi Hilangnya Mustakim dan Awal Pencarian

Mustakim, yang sehari-hari dikenal sebagai petani kebun, meninggalkan rumahnya pada Selasa, 30 Juni, sekitar pukul 08.00 WITA. Ia berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke hutan guna mencari rumput, dengan mengendarai sepeda motor. Aktivitas mencari rumput di hutan merupakan rutinitas yang biasa ia lakukan untuk pakan ternak atau keperluan lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Mustakim tak kunjung kembali.

Keluarga mulai merasakan kekhawatiran yang mendalam ketika Mustakim tidak pulang pada hari yang sama, dan kekhawatiran tersebut semakin memuncak pada hari-hari berikutnya. Setelah beberapa hari tanpa kabar, keluarga memutuskan untuk melaporkan hilangnya Mustakim kepada pihak berwenang. Laporan resmi disampaikan pada Jumat, 3 Juli, setelah tiga hari Mustakim tak pulang. Merespons laporan tersebut, tim gabungan dari Polsek Batukliang Utara dan Koramil 1620-07/Batukliang, bersama warga setempat, segera memulai upaya pencarian awal di sekitar area HKM yang diduga menjadi lokasi terakhir Mustakim terlihat.

Pencarian awal pada Jumat dan Sabtu, 4 Juli, dilakukan secara manual oleh warga dan aparat setempat. Namun, luasnya area hutan dan medan yang sulit menjadi tantangan besar. Pada hari Sabtu, upaya pencarian diperluas dengan melibatkan teknologi drone untuk memindai area dari udara, namun keberadaan Mustakim tetap belum terdeteksi. Puncak operasi pencarian tiba pada Senin, 6 Juli, ketika Tim Rescue Kantor SAR Mataram tiba di lokasi untuk memimpin dan mengkoordinasikan upaya penyelamatan yang lebih terstruktur.

Profil Korban dan Kondisi ODGJ: Tantangan dalam Pencarian

IPTU Lalu Brata Kusnadi, Kasi Humas Polres Lombok Tengah, mengonfirmasi bahwa Mustakim memiliki riwayat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan masih dalam pengobatan rutin. "Menurut keterangan saksi, Mustakim ini memiliki riwayat ODGJ dan masih mengonsumsi obat dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ)," ungkap IPTU Lalu Brata Kusnadi pada Senin (6/7). Informasi ini menjadi faktor krusial dalam operasi pencarian, karena kondisi ODGJ dapat memengaruhi orientasi, respons terhadap lingkungan, dan kemampuan bertahan hidup korban di alam liar.

Kondisi ODGJ seringkali membuat individu memiliki pola pikir dan perilaku yang berbeda dari orang pada umumnya. Mereka mungkin kurang responsif terhadap panggilan, cenderung bersembunyi, atau bahkan menganggap kehadiran orang lain sebagai ancaman. Hal ini menambah kompleksitas bagi tim SAR, yang harus mempertimbangkan pendekatan khusus dan strategi pencarian yang adaptif. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi ODGJ di Indonesia cukup signifikan, dan penanganan serta pemantauan mereka, terutama di daerah pedesaan, seringkali menghadapi tantangan logistik dan sumber daya. Dukungan keluarga dan komunitas sangat vital dalam menjaga kesejahteraan mereka, namun insiden seperti hilangnya Mustakim menunjukkan kerentanan yang masih ada.

Medan Pencarian: Hutan Kemasyarakatan Karang Sidemen

Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Karang Sidemen, yang menjadi lokasi hilangnya Mustakim, adalah area hutan yang dikelola oleh masyarakat setempat untuk berbagai keperluan, termasuk pertanian dan mencari hasil hutan. Namun, karakteristik medan di HKM ini dikenal cukup menantang. Hutan ini memiliki vegetasi yang lebat, kontur tanah yang berbukit, serta kemungkinan adanya jurang atau sungai kecil yang sulit dijangkau.

Medan yang berat dan luasnya area pencarian menjadi hambatan utama bagi tim gabungan. Jarak pandang yang terbatas di tengah hutan belantara, ditambah dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, semakin mempersulit upaya penyisiran darat. Koordinator Lapangan Tim Rescue Kantor SAR Mataram, I Kadek Agus Ariawan, menjelaskan bahwa hutan yang luas dan rapat memerlukan teknologi canggih untuk mempercepat proses pencarian. Penggunaan drone thermal menjadi vital karena mampu mendeteksi suhu tubuh di tengah kegelapan atau vegetasi padat, memberikan keunggulan dalam memindai area yang tidak dapat dijangkau oleh tim darat. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada banyak faktor, termasuk kondisi suhu lingkungan dan hambatan fisik di bawah kanopi hutan.

Cari Rumput ke Hutan, Mustakim Tak Kunjung Pulang

Operasi SAR Gabungan: Tantangan dan Teknologi

Sejak Tim Rescue Kantor SAR Mataram tiba di lokasi pada Senin siang, operasi pencarian langsung diintensifkan. Koordinasi dengan Polsek Batukliang Utara dan keluarga korban dilakukan untuk mendapatkan informasi detail mengenai kebiasaan Mustakim dan kemungkinan arah pergerakannya. Pada hari pertama operasi SAR yang dipimpin oleh SAR Mataram, fokus utama adalah penyisiran darat secara sistematis dan pemanfaatan teknologi drone thermal.

Tim darat dibagi menjadi beberapa regu untuk menyisir area yang berbeda, berbekal peta dan alat komunikasi. Mereka menghadapi tantangan berupa medan yang terjal, semak belukar yang rapat, dan potensi bahaya lain di hutan. Sementara itu, drone thermal diterbangkan untuk memindai area dari ketinggian. Drone ini dilengkapi dengan kamera inframerah yang dapat mendeteksi perbedaan suhu, sangat berguna untuk mencari keberadaan manusia, terutama saat kondisi cahaya minim atau di area yang tertutup rapat oleh pepohonan.

I Kadek Agus Ariawan menuturkan, "Tim SAR gabungan telah melakukan penyisiran darat dan pengamatan melalui udara dengan drone thermal sejak tiba di lokasi siang tadi. Namun, hingga pukul 18.00 WITA, tanda-tanda keberadaan korban belum ditemukan. Untuk sementara, operasi SAR hari pertama kami hentikan dan akan dilanjutkan esok pagi." Keputusan untuk menghentikan operasi pada malam hari didasarkan pada pertimbangan keselamatan tim dan efektivitas pencarian yang menurun drastis di malam hari di hutan yang gelap dan berbahaya. Tim tetap bersiaga di posko yang didirikan di dekat lokasi kejadian, melakukan evaluasi dan perencanaan ulang area pencarian untuk hari berikutnya.

Dukungan dan Harapan dari Komunitas Lokal

Hilangnya Mustakim telah menyatukan warga Desa Karang Sidemen dalam upaya pencarian. Sejak laporan pertama disampaikan, masyarakat setempat telah aktif terlibat dalam membantu tim gabungan. Mereka memahami seluk-beluk hutan di daerah mereka lebih baik dari siapa pun, dan pengetahuan lokal ini sangat berharga dalam mengarahkan tim SAR ke area-area yang mungkin dilewati Mustakim atau tempat ia biasa beraktivitas.

Rasa kebersamaan dan solidaritas ini menunjukkan kuatnya ikatan sosial di pedesaan. Keluarga Mustakim, yang berada dalam keadaan cemas, mendapatkan dukungan moril dan bantuan praktis dari tetangga dan kerabat. Seorang tokoh masyarakat setempat, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan keprihatinannya, "Kami sangat berharap Mustakim bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat. Ia adalah bagian dari komunitas kami, dan kami akan terus membantu sebisa kami." Harapan besar disematkan pada kelanjutan operasi pencarian yang lebih terorganisir dan dengan peralatan yang lebih canggih.

Implikasi Lebih Luas: Penanganan ODGJ dan Keamanan Hutan

Kasus hilangnya Mustakim tidak hanya menyoroti urgensi operasi SAR, tetapi juga memunculkan implikasi yang lebih luas terkait penanganan individu dengan ODGJ di masyarakat pedesaan dan isu keamanan di kawasan hutan. Pertama, kasus ini menggarisbawahi tantangan dalam pengawasan dan perawatan jangka panjang bagi penderita ODGJ, terutama mereka yang masih aktif beraktivitas di luar rumah. Meskipun Mustakim sedang dalam pengobatan, potensi risiko akibat kondisi mentalnya tetap ada, terutama di lingkungan yang berpotensi bahaya seperti hutan. Hal ini mendorong diskusi tentang perlunya sistem dukungan yang lebih komprehensif, mungkin melibatkan peran puskesmas dan kader kesehatan desa dalam memantau dan memberikan edukasi kepada keluarga.

Kedua, insiden ini juga menyoroti pentingnya edukasi keselamatan dan mitigasi risiko bagi masyarakat yang berinteraksi dengan kawasan hutan, termasuk HKM. Meskipun HKM dimaksudkan untuk kesejahteraan masyarakat, hutan tetap merupakan lingkungan yang memiliki risiko inheren, seperti tersesat, bertemu satwa liar, atau menghadapi medan berbahaya. Sosialisasi mengenai prosedur keselamatan, penggunaan alat komunikasi, dan pentingnya memberitahu orang lain tentang rute dan waktu kembali dapat menjadi langkah preventif yang efektif.

Upaya Lanjutan dan Pesan Kehati-hatian

Operasi pencarian Mustakim akan dilanjutkan pada Selasa pagi, 7 Juli, dengan evaluasi dan perencanaan ulang area yang akan disisir. Tim gabungan akan mempertimbangkan faktor-faktor seperti arah angin, pola jejak yang mungkin ditemukan, serta laporan dari masyarakat. Koordinasi antarlembaga akan terus diperkuat untuk memastikan setiap sumber daya dimanfaatkan secara optimal.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan memberikan informasi apapun yang relevan kepada pihak berwenang. Penting untuk menghindari penyebaran informasi yang tidak akurat atau spekulatif yang dapat mengganggu jalannya operasi. Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya saling menjaga dan memperhatikan anggota masyarakat yang rentan, serta kewaspadaan saat beraktivitas di lingkungan alam yang menantang. Seluruh tim dan masyarakat berharap Mustakim dapat segera ditemukan dan kembali berkumpul dengan keluarganya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *