MATARAM – Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2026 yang diselenggarakan di Lombok Epicentrum Mall, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 10-12 Juli 2026, telah resmi ditutup dengan catatan kesuksesan yang melampaui berbagai target yang ditetapkan. Acara yang dihadiri oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta para pemangku kepentingan ekonomi syariah dari 22 provinsi di bawah naungan 19 Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) kawasan timur Indonesia ini, menunjukkan geliat positif dalam pengembangan ekosistem keuangan dan ekonomi syariah di wilayah tersebut.

Pencapaian Gemilang Melampaui Ekspektasi

Bank Indonesia, sebagai penyelenggara utama, telah menetapkan target ambisius untuk FESyar KTI 2026. Target tersebut mencakup realisasi pembiayaan syariah sebesar Rp11 miliar melalui mekanisme business matching dan penguatan keuangan sosial syariah, serta transaksi UMKM dan pelaku usaha syariah sebesar Rp1,5 miliar. Dari sisi edukasi dan literasi, festival ini juga menargetkan 3.223 peserta untuk Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional, yang diharapkan mencapai 124 persen dari target yang ditetapkan.

Hasilnya, gelaran selama tiga hari ini terbukti mampu melampaui seluruh target yang dicanangkan. Realisasi pembiayaan syariah berhasil menembus angka Rp13,5 miliar, melebihi target Rp11 miliar. Angka ini mencerminkan meningkatnya minat dan kepercayaan terhadap instrumen keuangan syariah sebagai solusi pembiayaan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, sektor UMKM menunjukkan performa yang impresif. Omzet penjualan produk halal dari UMKM binaan berhasil mencapai Rp1,2 miliar, melampaui target awal sebesar Rp1,1 miliar. Peningkatan ini tidak hanya menunjukkan daya saing produk halal Indonesia, tetapi juga efektivitas FESyar sebagai platform promosi dan penjualan.

Selain itu, aspek sosial keagamaan melalui program wakaf juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dana wakaf yang berhasil dihimpun selama FESyar KTI 2026 mencapai Rp61,2 juta, jauh melampaui target Rp35 juta. Pencapaian ini menegaskan potensi besar filantropi syariah dalam mendukung pembangunan masyarakat.

Semangat Kolaborasi dan Komitmen Daerah

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, menyampaikan rasa syukurnya atas kesuksesan FESyar KTI 2026. "Alhamdulillah, sejumlah capaian luar biasa pada gelaran FESyar KTI 2026 di NTB berhasil dan sukses," ujarnya pada acara penutupan festival yang juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah NTB, Abul Chair, pada Minggu sore (12/7).

Hario menambahkan bahwa semangat kolaborasi antar daerah peserta sangat terasa. "Semua daerah peserta dari 22 Provinsi KTI di bawah naungan 19 Kantor Perwakilan BI memiliki semangat luar biasa menghadirkan berbagai produk unggulan dan mengirimkan perwakilan yang luar biasa," ungkapnya. Ia juga menekankan komitmen dan keseriusan yang ditunjukkan oleh seluruh provinsi di KTI dalam mengembangkan keuangan dan ekonomi syariah.

NTB sebagai Model Pengembangan Ekonomi Syariah

Nusa Tenggara Barat, dengan julukannya sebagai "Pulau Seribu Masjid", dinilai Hario sebagai model yang sangat baik dalam pengembangan ekonomi syariah. "Di NTB ekosistem keuangan syariah sangat mendukung. Di mana ekosistem syariah sudah terbentuk dengan adanya Bank NTB Syariah, BPR NTB Syariah (dalam proses konversi), dan Jamkrida NTB Syariah, sehingga memperbesar porsi keuangan syariah di NTB," jelasnya. Keberadaan institusi keuangan syariah lokal yang kuat ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi syariah di tingkat regional.

Hario juga menggarisbawahi potensi besar Indonesia dalam mengembangkan ekonomi syariah secara keseluruhan. "Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan ekonomi syariah. Yang penting adalah life style dan produk halal perlu terus ditingkatkan," tuturnya. Peningkatan kesadaran masyarakat akan gaya hidup halal dan promosi produk halal menjadi kunci untuk memperluas penetrasi ekonomi syariah.

FESyar KTI 2026 di NTB Sukses Lampaui Target Pembiayaan Syariah Rp13,5 Miliar

Ragam Aktivitas dan Peserta FESyar KTI 2026

Festival yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga menjadi pusat berbagai kegiatan yang komprehensif. FESyar KTI 2026 didukung oleh 22 provinsi di Kawasan Timur Indonesia dan menampilkan 19 booth UMKM yang dibina oleh 19 Kantor Perwakilan BI se-KTI. Selain itu, terdapat pula 111 produk yang dipamerkan di Halal Mart, 34 booth kuliner, 11 booth perbankan syariah, 6 lembaga wakaf, dan 4 halal center.

Rangkaian acara yang disajikan meliputi business matching yang bertujuan mempertemukan pelaku usaha dengan calon investor atau mitra bisnis, tabligh akbar untuk memberikan pencerahan spiritual, Training of Trainers (ToT) untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, sertifikasi nazhir yang mengelola aset wakaf, seminar dan talkshow yang membahas isu-isu terkini dalam ekonomi syariah, gerakan sadar wakaf untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berwakaf, serta berbagai kompetisi yang dirancang untuk memperkuat literasi dan ekosistem ekonomi serta keuangan syariah, baik yang bersifat komersial maupun sosial.

Latar Belakang dan Konteks FESyar KTI

Festival Ekonomi Syariah (FESyar) merupakan salah satu inisiatif strategis dari Bank Indonesia untuk mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Khususnya untuk Kawasan Timur Indonesia (KTI), penyelenggaraan FESyar menjadi momen penting untuk mendorong potensi ekonomi daerah yang seringkali belum tergarap secara optimal. KTI, dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi pasar yang besar, memiliki peluang signifikan untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi syariah.

Program ini sejalan dengan visi pemerintah Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah global. Melalui FESyar, BI berupaya menciptakan ekosistem syariah yang kuat, mulai dari sisi pembiayaan, produk halal, hingga pengembangan sumber daya manusia dan literasi masyarakat.

Pelaksanaan FESyar KTI 2026 di Lombok, NTB, bukan tanpa alasan. NTB dipilih karena dinilai memiliki potensi dan komitmen yang kuat dalam pengembangan ekonomi syariah, sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Perwakilan BI NTB. Keberadaan infrastruktur pendukung dan kebijakan daerah yang pro-syariah menjadi faktor pendukung utama kesuksesan acara ini.

Implikasi dan Proyeksi Masa Depan

Kesuksesan FESyar KTI 2026 memberikan sinyal positif bagi masa depan ekonomi syariah di Indonesia, khususnya di Kawasan Timur. Peningkatan signifikan dalam realisasi pembiayaan syariah menunjukkan bahwa model pembiayaan syariah semakin diterima dan mampu bersaing. Hal ini berpotensi membuka akses permodalan yang lebih luas bagi UMKM, yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Omzet penjualan produk halal yang melampaui target mengindikasikan adanya permintaan pasar yang terus meningkat terhadap produk-produk yang sesuai dengan prinsip syariah. Ini menjadi insentif bagi para pelaku UMKM untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk mereka, sekaligus membuka peluang pasar ekspor.

Dana wakaf yang berhasil dihimpun, meskipun dalam skala awal, menunjukkan bahwa potensi filantropi syariah di KTI masih sangat besar. Dana ini dapat diarahkan untuk membiayai berbagai program pembangunan sosial, pendidikan, dan kesehatan, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Secara keseluruhan, FESyar KTI 2026 telah berhasil memetakan dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Kawasan Timur Indonesia. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di seluruh Indonesia, sejalan dengan upaya menjadikan Indonesia sebagai pemimpin ekonomi syariah global. Pengalaman dan pembelajaran dari FESyar KTI 2026 ini akan menjadi bekal berharga untuk penyelenggaraan acara serupa di masa mendatang, dengan harapan dapat mencapai hasil yang lebih optimal lagi.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *