PRAYA – Mustakim, seorang pria berusia 40 tahun dari Dusun Sintung Tengak, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, telah menghilang secara misterius di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Karang Sidemen sejak lebih dari sepekan lalu. Hilangnya Mustakim, yang diketahui memiliki riwayat gangguan jiwa (ODGJ) dan sedang dalam masa pengobatan, telah memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan tim gabungan dari berbagai instansi, namun hingga kini belum membuahkan hasil. Keluarga dan masyarakat setempat dilanda kekhawatiran mendalam, mengingat kondisi kesehatan Mustakim dan karakteristik medan hutan yang menantang.

Kronologi Hilangnya Mustakim dan Awal Pencarian

Mustakim, yang sehari-hari dikenal sebagai petani kebun, terakhir kali terlihat oleh istrinya pada Selasa, 30 Juni. Saat itu, ia pamit untuk pergi ke hutan dengan sepeda motornya, seperti biasa, untuk mencari rumput sebagai pakan ternak. Aktivitas ini merupakan bagian dari rutinitas Mustakim. Namun, berbeda dari hari-hari sebelumnya, Mustakim tidak kunjung kembali ke rumah hingga matahari terbenam.

Kecemasan mulai menyelimuti keluarga pada malam itu, dan semakin memuncak keesokan harinya ketika Mustakim masih belum pulang. Upaya pencarian awal segera dilakukan oleh keluarga dan beberapa warga setempat di area-area yang biasa dikunjungi Mustakim di HKM. Mereka menyusuri jalur-jalur setapak dan berteriak memanggil namanya, namun hanya kesunyian hutan yang menjawab.

Memasuki hari ketiga, Jumat, 3 Juli, setelah Mustakim tidak juga ditemukan, pihak keluarga memutuskan untuk melaporkan kejadian ini secara resmi kepada aparat kepolisian setempat, Polsek Batukliang Utara. Laporan ini kemudian diteruskan dan memicu respons dari berbagai pihak berwenang. Pada hari yang sama, pencarian awal dengan skala lebih besar mulai dilakukan oleh petugas gabungan dari kepolisian dan Koramil, dibantu oleh masyarakat desa. Mereka berfokus pada area-area terdekat dari titik Mustakim terakhir terlihat atau diyakini masuk ke hutan.

Operasi SAR Skala Penuh dan Kendala di Lapangan

Pada Senin, 6 Juli, atau sepekan setelah hilangnya Mustakim, operasi pencarian ditingkatkan dengan melibatkan Tim Rescue Kantor SAR Mataram. Kedatangan tim SAR yang dilengkapi dengan peralatan dan keahlian khusus ini membawa harapan baru bagi keluarga dan masyarakat. Koordinator Lapangan Tim Rescue Kantor SAR Mataram, I Kadek Agus Ariawan, menjelaskan bahwa begitu tiba di lokasi, timnya segera melakukan koordinasi intensif dengan Polsek Batukliang Utara serta keluarga korban untuk mengumpulkan informasi detail mengenai Mustakim dan area hilangnya.

Fokus operasi pada hari pertama keterlibatan SAR Mataram ini adalah penyisiran darat yang komprehensif, serta pemanfaatan teknologi canggih berupa drone thermal. Drone thermal digunakan untuk memantau area hutan yang luas dari udara, dengan harapan dapat mendeteksi keberadaan Mustakim melalui jejak panas tubuhnya, terutama di area yang sulit dijangkau oleh tim darat. Namun, medan hutan yang rapat dan luas menjadi tantangan tersendiri. Hingga pukul 18.00 WITA pada Senin tersebut, segala upaya pencarian, baik di darat maupun udara, belum berhasil menemukan tanda-tanda keberadaan Mustakim.

I Kadek Agus Ariawan menegaskan bahwa operasi SAR hari pertama dihentikan sementara pada sore hari dan akan dilanjutkan keesokan paginya. Keputusan ini diambil untuk evaluasi strategi dan menjaga kondisi tim, mengingat operasi pencarian di hutan memerlukan energi dan fokus yang tinggi. Meskipun operasi lapangan dihentikan, tim gabungan bersama unsur terkait tetap bersiaga di sekitar lokasi kejadian, siap untuk melanjutkan pencarian dengan evaluasi dan perencanaan ulang area pencarian yang lebih efektif.

Latar Belakang Korban: Riwayat ODGJ dan Implikasinya

Salah satu faktor krusial yang menambah kompleksitas dan urgensi dalam kasus hilangnya Mustakim adalah riwayat kesehatan mentalnya. Seperti yang diungkapkan oleh Kasi Humas Polres Lombok Tengah, IPTU Lalu Brata Kusnadi, Mustakim diketahui memiliki riwayat sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan masih dalam masa pengobatan rutin, termasuk mengonsumsi obat dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran ganda. Pertama, keberadaan Mustakim di lingkungan hutan yang asing dan berpotensi berbahaya tanpa pengawasan khusus sangatlah berisiko. Kemampuan Mustakim untuk menavigasi, mencari makanan, atau bahkan merespons panggilan pertolongan mungkin terganggu oleh kondisinya. Kedua, ketiadaan akses terhadap obat-obatan rutinnya dapat memperburuk kondisi mentalnya, membuatnya semakin rentan dan sulit untuk bertahan hidup di alam liar.

Pentingnya kepatuhan dalam pengobatan ODGJ tidak dapat diremehkan. Gangguan mental, jika tidak ditangani dengan baik, dapat memengaruhi persepsi, pemikiran, dan perilaku seseorang, yang berpotensi menyebabkan disorientasi atau kesulitan dalam menghadapi situasi darurat. Oleh karena itu, tim SAR dan pihak keluarga bekerja dengan asumsi bahwa Mustakim mungkin tidak dapat merespons seperti orang pada umumnya, sehingga strategi pencarian harus lebih menyeluruh dan memperhitungkan kondisi tersebut.

Karakteristik Hutan Kemasyarakatan Karang Sidemen: Medan dan Tantangan Geografis

Hutan Kemasyarakatan (HKM) Desa Karang Sidemen, tempat Mustakim menghilang, bukanlah area yang mudah untuk dilalui. HKM adalah kawasan hutan negara yang pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat untuk dimanfaatkan secara lestari, namun tetap memiliki karakteristik hutan alami dengan segala tantangannya. Area ini kemungkinan besar ditumbuhi vegetasi yang rapat dan lebat, dengan topografi yang bervariasi, mulai dari lereng bukit hingga lembah, serta kemungkinan adanya jurang atau sungai kecil.

Medan yang sulit ini menjadi penghalang utama bagi tim pencari. Visibilitas di dalam hutan bisa sangat rendah, bahkan di siang hari, karena kanopi pohon yang tebal. Jalur-jalur setapak mungkin tidak jelas atau bahkan tidak ada di beberapa area, memaksa tim untuk merintis jalan. Selain itu, potensi adanya binatang liar, meskipun mungkin tidak terlalu berbahaya, tetap menjadi pertimbangan keselamatan bagi tim SAR. Cuaca juga bisa menjadi faktor penentu; hujan lebat dapat membuat tanah licin dan memperburuk kondisi pencarian.

Penggunaan drone thermal, meskipun canggih, juga memiliki keterbatasan di hutan yang lebat. Sinyal panas tubuh bisa terhalang oleh dedaunan tebal, terutama jika korban berlindung di bawah semak atau gua. Oleh karena itu, penyisiran darat yang teliti dan sistematis tetap menjadi tulang punggung operasi pencarian, meskipun memakan waktu dan tenaga yang besar.

Cari Rumput ke Hutan, Mustakim Tak Kunjung Pulang

Upaya dan Koordinasi Tim Gabungan: Sinergi dalam Menghadapi Krisis

Operasi pencarian Mustakim merupakan contoh nyata sinergi dan koordinasi antar berbagai lembaga pemerintah dan masyarakat. Tim gabungan ini melibatkan:

  1. Tim Rescue Kantor SAR Mataram: Bertindak sebagai koordinator lapangan dengan keahlian khusus dalam pencarian dan penyelamatan, serta dukungan teknologi seperti drone.
  2. Polres Lombok Tengah dan Polsek Batukliang Utara: Berperan dalam penyelidikan awal, pengamanan area, serta membantu dalam mobilisasi sumber daya dan koordinasi dengan masyarakat.
  3. Koramil 1620-07/Batukliang: Mendukung dengan personel dan pengetahuan medan, terutama dalam operasi darat.
  4. BPBD Lombok Tengah: Badan Penanggulangan Bencana Daerah, menyediakan dukungan logistik, peralatan, dan koordinasi manajemen bencana.
  5. Masyarakat Setempat: Partisipasi aktif warga desa, yang mengenal medan dan memiliki kearifan lokal, sangat vital dalam operasi pencarian. Mereka membantu menunjukkan jalur, menyediakan informasi, dan memberikan dukungan moral.
  6. Pihak Terkait Lainnya: Termasuk relawan dan organisasi masyarakat sipil yang mungkin turut serta.

Sinergi ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap sudut area pencarian dapat dijangkau dan setiap informasi dapat diolah secara efisien. Rapat koordinasi harian dan evaluasi strategi menjadi kunci untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas dan mengatasi tantangan yang muncul di lapangan.

Dukungan Masyarakat dan Peran Komunitas

Masyarakat Desa Karang Sidemen menunjukkan solidaritas yang kuat dalam menghadapi musibah ini. Sejak Mustakim dinyatakan hilang, puluhan warga secara sukarela turut serta dalam upaya pencarian. Mereka tidak hanya membantu menyisir hutan, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada keluarga korban, serta membantu menyediakan kebutuhan logistik bagi tim SAR.

Kearifan lokal dan pengetahuan masyarakat tentang hutan menjadi aset berharga. Mereka tahu di mana letak sumber air, gua-gua kecil, atau jalur-jalur rahasia yang mungkin dilewati Mustakim. Partisipasi aktif dari komunitas ini bukan hanya meringankan beban tim SAR, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong yang kuat di pedesaan Indonesia. Kehadiran mereka juga memberikan dorongan emosional bagi keluarga Mustakim, menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi situasi sulit ini.

Tantangan dalam Pencarian Orang Hilang di Hutan yang Lebih Luas

Kasus Mustakim menyoroti beberapa tantangan umum dalam operasi pencarian orang hilang di lingkungan hutan. Pertama, faktor waktu sangat krusial. Semakin lama seseorang hilang di hutan, semakin kecil peluang untuk ditemukan dalam keadaan selamat, terutama jika mereka memiliki kondisi kesehatan yang rentan. Faktor cuaca, suhu ekstrem di malam hari, kelaparan, dehidrasi, dan cedera dapat memperburuk kondisi korban.

Kedua, keterbatasan sumber daya. Meskipun tim SAR dilengkapi dengan teknologi, cakupan area yang luas dan medan yang sulit seringkali melebihi kapasitas sumber daya yang tersedia. Diperlukan rotasi tim yang teratur untuk menghindari kelelahan.

Ketiga, faktor psikologis. Baik bagi keluarga maupun tim pencari, operasi semacam ini sangat menguras emosi. Harapan dan kekecewaan silih berganti, dan menjaga semangat tim tetap tinggi adalah tantangan tersendiri.

Implikasi Lebih Luas: Keselamatan dan Pengawasan ODGJ

Hilangnya Mustakim juga membawa implikasi yang lebih luas mengenai isu keselamatan dan pengawasan bagi individu dengan ODGJ, khususnya di daerah pedesaan. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem dukungan yang kuat bagi penderita gangguan jiwa.

Di banyak daerah, pemahaman tentang ODGJ masih terbatas, dan dukungan medis serta sosial seringkali belum optimal. Keluarga seringkali menjadi garda terdepan dalam perawatan, namun mereka juga menghadapi keterbatasan. Kasus Mustakim menunjukkan betapa rentannya ODGJ jika tidak mendapatkan pengawasan yang memadai, terutama saat beraktivitas di lingkungan yang berpotensi berbahaya seperti hutan.

Pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan lembaga sosial diharapkan dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini untuk memperkuat program dukungan dan pendampingan bagi ODGJ. Ini termasuk edukasi kepada keluarga tentang pentingnya kepatuhan minum obat, risiko yang mungkin timbul, serta strategi pengawasan yang efektif, terutama bagi mereka yang masih aktif berkegiatan di luar rumah.

Harapan dan Rencana Lanjutan

Meski operasi pencarian Mustakim pada Senin, 6 Juli, dihentikan sementara tanpa hasil, harapan untuk menemukan Mustakim dalam keadaan selamat tetap menyala. Koordinator Lapangan Tim Rescue Kantor SAR Mataram, I Kadek Agus Ariawan, menegaskan bahwa operasi akan dilanjutkan esok pagi dengan evaluasi strategi dan perencanaan ulang area pencarian. Tim gabungan berkomitmen untuk terus berupaya semaksimal mungkin hingga Mustakim dapat ditemukan.

Keluarga Mustakim, meski diliputi kecemasan yang mendalam, juga terus memanjatkan doa dan berharap bantuan dari semua pihak. Mereka menyampaikan terima kasih atas segala upaya yang telah dilakukan oleh tim gabungan dan masyarakat. Pencarian ini bukan hanya tentang menemukan satu individu, tetapi juga tentang menunjukkan solidaritas kemanusiaan dalam menghadapi musibah.

Kasus hilangnya Mustakim di HKM Desa Karang Sidemen menjadi sorotan serius di Lombok Tengah. Peristiwa ini tidak hanya menguji ketahanan tim SAR dan masyarakat dalam menghadapi medan sulit, tetapi juga mengingatkan semua pihak akan pentingnya perhatian terhadap individu rentan dan perlunya sistem keselamatan yang lebih komprehensif. Seluruh mata kini tertuju pada kelanjutan operasi pencarian, dengan harapan Mustakim dapat segera ditemukan dan kembali berkumpul dengan keluarganya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *