Fenomena iklim El Nino yang diprediksi akan mencapai intensitas "kuat" atau "super" diperkirakan bakal memicu guncangan ekonomi yang sangat signifikan bagi benua Afrika, dengan estimasi kerugian finansial mencapai angka US$10 miliar hingga US$20 miliar atau setara dengan Rp158,5 triliun hingga Rp317 triliun. Bank Pembangunan Afrika (African Development Bank/AfDB) memperingatkan bahwa selain dampak finansial yang menghancurkan, fenomena ini juga berpotensi memicu gelombang migrasi massal dari wilayah-wilayah yang terdampak paling parah, menciptakan krisis kemanusiaan baru di kawasan yang sudah rentan.

Anthony Nyong, Direktur Perubahan Iklim dan Pertumbuhan Hijau di AfDB, menegaskan bahwa dampak dari peristiwa iklim ekstrem ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas makroekonomi negara-negara Afrika. Menurut perhitungan AfDB, El Nino kali ini dapat memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara yang terdampak berat rata-rata sebesar 1 hingga 2 persen. Angka ini merupakan estimasi kerugian ekonomi formal pertama yang dirilis oleh lembaga keuangan multilateral besar terkait ancaman El Nino mendatang, yang memberikan gambaran suram mengenai prospek pembangunan di benua tersebut.

Karakteristik El Nino Super dan Pola Iklim yang Mengancam

Secara saintifik, El Nino merupakan fenomena iklim alami yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut yang tidak normal di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Namun, yang menjadi perhatian serius para ahli meteorologi saat ini adalah tren pemanasan yang terus berlanjut di Pasifik, yang mengarah pada apa yang dijuluki sebagai "El Nino Super" atau "El Nino Godzilla". Julukan ini diberikan untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan anomali suhu yang sangat ekstrem, yang secara historis pernah terjadi pada tahun 1997-1998 dan 2015-2016 dengan dampak destruktif secara global.

Di benua Afrika, pengaruh El Nino sangat bervariasi namun umumnya bersifat ekstrem. Di bagian selatan benua, fenomena ini sering kali membawa kekeringan berkepanjangan yang menghancurkan sektor pertanian. Sebaliknya, di Afrika Timur, El Nino cenderung memicu curah hujan yang jauh di atas normal, yang sering kali berujung pada banjir bandang dan tanah longsor. Ketidakteraturan pola cuaca ini mengganggu kalender tanam tradisional dan merusak infrastruktur dasar yang sangat dibutuhkan untuk distribusi logistik dan mobilitas penduduk.

Dampak Sektoral: Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan

Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi bagi mayoritas negara Afrika, merupakan sektor yang paling rentan terkena dampak langsung. AfDB memperkirakan bahwa petani di seluruh benua telah menghadapi kehilangan pendapatan yang mendekati angka US$330 juta pada tahun ini saja akibat ketidakpastian iklim. Gagal panen yang meluas di kawasan Afrika bagian selatan, yang dipicu oleh kekeringan parah, telah menyebabkan lonjakan harga pangan pokok seperti jagung. Di beberapa wilayah terdampak, harga jagung diprediksi dapat meningkat hingga dua kali lipat, sebuah situasi yang sangat membahayakan bagi penduduk dengan tingkat pendapatan rendah.

Tidak hanya di darat, sektor perikanan juga menghadapi ancaman serupa. Peningkatan suhu laut dan frekuensi badai yang lebih tinggi di sepanjang pesisir Afrika berpotensi menurunkan produktivitas perikanan sebesar 1 hingga 4 persen. Hal ini berdampak langsung pada komunitas pesisir yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut sebagai sumber protein utama dan pendapatan ekonomi. Kombinasi antara gagal panen dan penurunan hasil laut menciptakan tekanan ganda terhadap ketahanan pangan nasional di banyak negara.

Terjebak dalam Perangkap Pembiayaan Iklim

Salah satu poin paling krusial yang disampaikan oleh Anthony Nyong adalah mengenai "perangkap pembiayaan iklim" yang menjerat banyak pemerintahan di Afrika. Negara-negara ini sering kali berada dalam posisi sulit di mana mereka kekurangan dana cadangan untuk merespons bencana alam yang datang tiba-tiba. Akibatnya, ketika bencana seperti El Nino terjadi, pemerintah terpaksa melakukan realokasi anggaran secara darurat.

Dana yang seharusnya dialokasikan untuk sektor-sektor pembangunan jangka panjang, seperti kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur digital, harus dialihkan untuk bantuan kemanusiaan dan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir atau badai. "Ketika guncangan ini terjadi, negara-negara mundur dua langkah dalam proses pembangunan mereka," ujar Nyong. Hal ini menciptakan siklus kemiskinan yang sulit diputus, di mana negara terus-menerus menggunakan sumber daya yang terbatas hanya untuk memulihkan kondisi ke titik nol, alih-alih bergerak maju menuju kemajuan ekonomi.

Bencana iklim juga memperburuk beban utang negara. Banyak infrastruktur yang rusak, seperti jalan tol, jembatan, dan bendungan, dibangun menggunakan dana pinjaman internasional. Ketika infrastruktur tersebut hancur sebelum usia pakainya habis, negara tetap berkewajiban membayar pinjaman tersebut sementara pendapatan ekonomi yang diharapkan dari infrastruktur tersebut hilang. Hal ini menekan ruang fiskal pemerintah dan menyulitkan akses ke pembiayaan baru di pasar internasional.

El Nino Super Diperkirakan Picu Kerugian Ratusan Triliun di Afrika

Krisis Kemanusiaan dan Ancaman Migrasi Massal

Tekanan ekonomi akibat El Nino tidak hanya berhenti pada angka-angka fiskal, tetapi juga bertransformasi menjadi krisis kemanusiaan dalam bentuk migrasi massal. AfDB telah mengidentifikasi beberapa negara yang berada dalam zona risiko tinggi, termasuk Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Mali, Burundi, dan Nigeria. Negara-negara ini umumnya sudah menghadapi tantangan internal berupa konflik politik atau ketidakstabilan ekonomi, sehingga dampak El Nino akan menjadi katalisator yang memperburuk situasi.

Migrasi terjadi ketika sumber daya alam yang tersisa, seperti air bersih dan lahan penggembalaan, tidak lagi mencukupi untuk mendukung populasi lokal. "Anda tidak akan tetap tinggal di tempat di mana tidak ada air dan makanan. Anda akan berpindah," tegas Nyong. Perpindahan penduduk dalam skala besar ini berpotensi memicu konflik baru di wilayah tujuan migrasi akibat persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas. Selain itu, migrasi lintas batas negara juga dapat menciptakan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Tinjauan Historis: Belajar dari Topan Idai dan El Nino Sebelumnya

Sejarah memberikan pelajaran berharga mengenai betapa lambatnya proses pemulihan pasca-bencana di Afrika. Pengalaman Mozambik setelah diterjang Topan Idai pada tahun 2019 menunjukkan bahwa dampak badai besar dapat dirasakan selama bertahun-tahun. Meskipun bantuan internasional mengalir, pemulihan infrastruktur dasar dan rehabilitasi lahan pertanian membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang jauh lebih besar daripada perkiraan awal.

El Nino periode 2023-2024 sebelumnya juga telah memberikan "pratinjau" tentang apa yang akan terjadi. Kekeringan parah di Afrika bagian selatan menyebabkan jutaan orang membutuhkan bantuan pangan darurat, sementara banjir di Afrika Timur menghancurkan ribuan hektar lahan pertanian di Kenya dan Ethiopia. Rekor kenaikan muka laut di sepanjang pesisir benua juga mulai mengancam kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan internasional.

Proyeksi Ekonomi dan Perlunya Ketahanan Iklim

Sebelum peringatan mengenai El Nino Super ini muncul, AfDB sebenarnya cukup optimis terhadap pertumbuhan ekonomi Afrika. Pada Mei lalu, bank tersebut memproyeksikan ekonomi benua secara keseluruhan akan tumbuh sebesar 4,2 persen tahun ini dan meningkat menjadi 4,4 persen pada 2027. Namun, munculnya fenomena El Nino yang sangat kuat ini memaksa para analis untuk meninjau kembali proyeksi tersebut. Kehilangan 1 hingga 2 persen PDB adalah angka yang masif bagi negara-negara berkembang yang sedang berusaha pulih dari dampak pandemi COVID-19 dan ketidakstabilan harga energi global.

Menghadapi tantangan ini, AfDB menekankan pentingnya bagi negara-negara Afrika untuk memperkuat ketahanan (resilience) sebelum bencana terjadi. Strategi "membangun pagar di sekitar jurang" dianggap jauh lebih efektif dan efisien daripada "membayar ambulans untuk menunggu di dasar jurang." Investasi dalam sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur tahan iklim, diversifikasi tanaman pangan yang tahan kekeringan, serta pengembangan asuransi pertanian menjadi langkah-langkah mitigasi yang sangat mendesak.

Diplomasi Iklim Global dan Harapan di Masa Depan

Isu mengenai kerugian ekonomi akibat El Nino di Afrika dipastikan akan menjadi salah satu tema sentral dalam perundingan iklim global berikutnya, termasuk dalam kerangka konferensi perubahan iklim PBB yang dijadwalkan berlangsung di Turki pada November mendatang. Afrika, sebagai benua yang menyumbang emisi gas rumah kaca paling sedikit namun menanggung dampak perubahan iklim paling berat, terus menuntut keadilan iklim dan pendanaan yang lebih besar dari negara-negara maju.

Dukungan internasional tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk bantuan darurat saat bencana terjadi, tetapi juga dalam bentuk transfer teknologi dan pembiayaan lunak untuk adaptasi jangka panjang. AfDB berkomitmen untuk terus menjadi advokat bagi negara-negara Afrika dalam mengamankan sumber daya yang diperlukan guna melindungi ekonomi dan rakyat mereka dari amukan fenomena alam yang kian tidak terprediksi.

Tanpa langkah pencegahan yang konkret dan dukungan global yang nyata, El Nino Super bukan hanya akan menjadi bencana cuaca, melainkan juga tragedi ekonomi dan kemanusiaan yang akan menghambat kemajuan Afrika selama satu dekade ke depan. Fokus saat ini adalah memastikan bahwa peringatan yang dikeluarkan oleh para ahli dan lembaga keuangan seperti AfDB diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan demi menyelamatkan jutaan nyawa dan menjaga stabilitas ekonomi benua tersebut.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *