Masyarakat di Kota Surabaya dan wilayah penyangganya dalam beberapa hari terakhir melaporkan adanya perubahan suhu udara yang cukup kontras antara siang dan malam hari, sebuah fenomena alam yang secara lokal dikenal dengan istilah bediding. Fenomena ini ditandai dengan suhu udara yang merosot tajam pada waktu malam hingga menjelang subuh, meskipun pada siang hari terik matahari terasa sangat menyengat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda memberikan penjelasan ilmiah bahwa kondisi ini merupakan penanda kuat bahwa wilayah Jawa Timur, khususnya Surabaya, telah resmi memasuki periode awal musim kemarau. Transisi musim ini membawa karakteristik atmosfer yang unik, di mana kelembapan udara menurun drastis dan tutupan awan menghilang dari langit Kota Pahlawan. Secara teknis, fenomena bediding bukanlah hal yang asing dalam siklus iklim di Indonesia, namun kehadirannya selalu memicu perhatian publik karena perubahan suhu yang dirasakan cukup ekstrem bagi penduduk daerah tropis dataran rendah. Prakirawan BMKG Juanda, Restina Wardhani, menjelaskan bahwa penyebab utama dari rasa dingin yang menusuk di malam hari ini adalah ketiadaan "selimut" atmosfer berupa awan. Pada kondisi normal di musim hujan, awan berfungsi sebagai penghalang yang memantulkan kembali radiasi panas bumi (gelombang panjang) ke permukaan. Namun, di musim kemarau, langit yang cerah (clear sky) menyebabkan energi panas yang diserap bumi pada siang hari dilepaskan kembali ke atmosfer secara bebas tanpa ada hambatan sama sekali. Proses pelepasan energi yang berlangsung cepat ini mengakibatkan suhu di permukaan bumi turun secara signifikan saat matahari tidak lagi bersinar. Mekanisme Radiative Cooling dan Pengaruh Monsun Australia Fenomena bediding yang terjadi saat ini sangat berkaitan erat dengan mekanisme pendinginan radiatif (radiative cooling). Pada siang hari, wilayah Surabaya terpapar radiasi matahari yang kuat karena minimnya awan yang menghalangi sinar ultraviolet. Hal ini menyebabkan suhu udara melonjak tinggi, seringkali mencapai angka di atas 33 hingga 35 derajat Celsius. Namun, ketika malam tiba, ketiadaan tutupan awan membuat radiasi inframerah dari permukaan bumi terpancar langsung ke luar angkasa. Akibatnya, terjadi defisit energi panas di permukaan yang membuat udara di lapisan bawah menjadi sangat dingin. Selain faktor lokal berupa ketiadaan awan, fenomena ini juga diperkuat oleh dinamika atmosfer skala regional, yakni aktifnya Monsun Australia. Pada periode Juni hingga Agustus, Benua Australia mengalami musim dingin. Tekanan udara yang tinggi di Australia menyebabkan massa udara yang bersifat dingin dan kering bergerak menuju wilayah Indonesia yang memiliki tekanan lebih rendah. Massa udara kering ini (dry air mass) memiliki kandungan uap air yang sangat sedikit, sehingga potensi pembentukan awan menjadi sangat rendah. Udara dingin dari Australia ini melintasi Samudra Hindia dan masuk ke wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, yang kemudian memperparah rasa dingin yang dirasakan oleh warga Surabaya pada malam hari. Data Suhu dan Proyeksi Cuaca Jangka Pendek Berdasarkan data observasi yang dirilis oleh BMKG Juanda, suhu udara terendah di Kota Surabaya selama berlangsungnya fenomena bediding ini diperkirakan dapat menyentuh angka 26 derajat Celsius, bahkan di beberapa titik pinggiran kota atau wilayah yang lebih terbuka, suhu bisa terasa lebih rendah dari angka nominal tersebut akibat faktor kecepatan angin. Meskipun angka 26 derajat Celsius terdengar moderat bagi penduduk di wilayah pegunungan, bagi warga Surabaya yang terbiasa dengan suhu rata-rata harian yang tinggi, penurunan ini dirasakan sebagai perubahan yang drastis. BMKG memprediksi bahwa kondisi ini tidak akan hilang dalam waktu satu atau dua hari. Mengingat saat ini adalah awal Juni, puncak dari fenomena bediding biasanya terjadi pada bulan Juli hingga Agustus, selaras dengan puncak musim kemarau. Oleh karena itu, fluktuasi suhu yang tajam antara siang dan malam diprakirakan masih akan terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Masyarakat diminta untuk terbiasa dengan rentang suhu (diurnal range) yang lebar, di mana perbedaan antara suhu maksimum di siang hari dan suhu minimum di malam hari bisa mencapai 10 derajat Celsius atau lebih. Dampak Terhadap Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Perubahan suhu yang ekstrem dalam satu siklus 24 jam membawa risiko kesehatan yang tidak boleh diremehkan. Para ahli medis memperingatkan bahwa tubuh manusia memerlukan energi ekstra untuk beradaptasi dengan perubahan suhu yang cepat. Fenomena bediding seringkali dikaitkan dengan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), flu, dan batuk. Udara yang dingin dan kering cenderung membuat selaput lendir di hidung dan tenggorokan menjadi kering, sehingga sistem pertahanan alami tubuh terhadap virus dan bakteri menjadi melemah. Selain masalah pernapasan, kulit manusia juga rentan mengalami dehidrasi di bawah kondisi cuaca seperti ini. Kombinasi antara terik matahari yang menyengat di siang hari dengan kelembapan udara yang rendah (RH di bawah 50%) dapat menyebabkan kulit menjadi kering, pecah-pecah, dan gatal. Kondisi ini juga berdampak pada kesehatan mata, di mana debu yang lebih mudah terbang tertiup angin di musim kemarau dapat memicu iritasi jika tidak terlindungi dengan baik. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi pihak yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat fluktuasi suhu ini, sehingga pengawasan terhadap kondisi fisik mereka perlu ditingkatkan. Rekomendasi BMKG dan Langkah Preventif bagi Warga Menanggapi fenomena alam ini, BMKG Juanda mengeluarkan sejumlah himbauan praktis bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya agar tetap dapat beraktivitas dengan aman. Restina Wardhani menekankan pentingnya penggunaan pelindung kulit bagi mereka yang harus bekerja di bawah terik matahari pada siang hari. Penggunaan tabir surya (sunscreen) dengan SPF yang memadai sangat disarankan untuk mencegah kerusakan kulit akibat paparan sinar UV yang tinggi saat langit tanpa awan. Selain itu, penggunaan pakaian yang menutupi kulit, topi, atau payung dapat menjadi langkah proteksi tambahan yang efektif. Untuk menghadapi udara dingin di malam hari, warga diimbau untuk mengenakan pakaian yang lebih tebal atau menggunakan selimut saat tidur guna mencegah hipotermia ringan atau kekakuan otot. Menjaga hidrasi tubuh dengan mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup juga sangat krusial, mengingat udara kering dapat mempercepat penguapan cairan dari dalam tubuh tanpa disadari. BMKG juga menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi vitamin dan menjaga pola makan sehat guna memperkuat sistem imun tubuh di tengah fluktuasi cuaca yang tidak menentu ini. Analisis Implikasi yang Lebih Luas Fenomena bediding tidak hanya berdampak pada kenyamanan manusia, tetapi juga memiliki implikasi pada sektor pertanian dan penggunaan energi. Di sektor pertanian, udara dingin yang kering dapat memengaruhi pola tanam dan kebutuhan irigasi. Tanaman yang sensitif terhadap perubahan suhu mungkin akan mengalami perlambatan pertumbuhan. Di sisi lain, dari perspektif konsumsi energi, fenomena ini mungkin memberikan sedikit kelegaan pada beban listrik di malam hari karena masyarakat cenderung mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC). Namun, beban tersebut berpindah ke siang hari di mana penggunaan AC akan meningkat tajam untuk mengompensasi panas yang menyengat. Secara klimatologis, fenomena ini mengingatkan kita akan pentingnya ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan seperti Surabaya. Keberadaan pohon dan vegetasi dapat berfungsi sebagai pengatur suhu alami (micro-climate regulator). Pada siang hari, pohon memberikan naungan dan menurunkan suhu melalui proses transpirasi, sementara pada malam hari, vegetasi dapat membantu menahan panas bumi agar tidak terlepas terlalu cepat ke atmosfer, sehingga penurunan suhu tidak terasa terlalu ekstrem. Meskipun fenomena bediding adalah bagian alami dari siklus tahunan di Jawa Timur, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak negatifnya. BMKG berkomitmen untuk terus memantau dinamika atmosfer dan memberikan informasi terkini kepada publik. Warga Surabaya diharapkan tetap memantau kanal informasi resmi dari BMKG melalui media sosial atau aplikasi mobile untuk mendapatkan prakiraan cuaca yang akurat dan peringatan dini jika terjadi perubahan cuaca yang signifikan di masa mendatang. Dengan pemahaman yang baik mengenai fenomena ini, masyarakat dapat menjalani musim kemarau dengan tetap sehat dan produktif meskipun harus berhadapan dengan suhu yang dingin di malam hari dan panas yang menyengat di siang hari. Post navigation Tim Pakar UGM Selidiki Fenomena Api Misterius di Sleman: Analisis Ilmiah Gas Hidrogen dan Mekanisme Pembakaran Spontan di Kediaman Mutfiana Mengenal Fenomena Halusinasi Kecerdasan Buatan: Tantangan Akurasi, Penyebab Teknis, dan Strategi Mitigasi bagi Pengguna di Era Digital