MATARAM – Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2026 yang diselenggarakan di Lombok Epicentrum Mall, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), secara resmi ditutup pada Minggu, 12 Juli 2026. Acara yang berlangsung selama tiga hari, dari 10 hingga 12 Juli 2026, ini berhasil mencatatkan berbagai pencapaian signifikan, melampaui target yang telah ditetapkan, terutama dalam hal pembiayaan syariah dan transaksi UMKM. Penutupan festival ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, yang mewakili Gubernur NTB, didampingi oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas. Pembukaan FESyar KTI 2026 yang megah dilakukan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, pada Jumat, 10 Juli 2026. Turut mendampingi dalam seremoni pembukaan tersebut adalah Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB Hario K. Pamungkas, Sekretaris Daerah Provinsi NTB Abul Chair, serta 19 Kepala Perwakilan Bank Indonesia dari seluruh wilayah Kawasan Timur Indonesia. Kehadiran para pejabat tinggi ini menunjukkan betapa pentingnya acara ini dalam mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di seluruh Indonesia Timur. Transformasi Digital dan Sinergi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Syariah Dalam pidato pembukaannya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan peran krusial transformasi digital dan sinergi antarlembaga dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah yang berkelanjutan. "Teknologi membuka peluang, sinergi memperkuat langkah dan menjadi ruang kolaborasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah yang berkelanjutan," ujar Destry, menggarisbawahi pentingnya adaptasi terhadap perkembangan zaman dan kerjasama yang solid antarberbagai pihak. Pernyataannya mencerminkan visi Bank Indonesia untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi nasional, yang didukung oleh inovasi teknologi dan kolaborasi lintas sektor. Pencapaian Finansial yang Melampaui Ekspektasi FESyar KTI 2026 berhasil memecahkan rekor pencapaian finansial. Bank Indonesia menargetkan realisasi pembiayaan syariah senilai Rp11 miliar melalui kegiatan business matching dan penguatan keuangan sosial syariah. Namun, angka tersebut berhasil dilampaui secara signifikan, dengan total realisasi business matching pembiayaan syariah mencapai Rp13,5 miliar pada penutupan kegiatan. Angka ini menunjukkan tingginya minat dan kepercayaan pelaku usaha terhadap produk pembiayaan syariah, serta efektivitas skema business matching yang difasilitasi oleh BI. Selain pembiayaan, target transaksi yang melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pelaku usaha syariah juga melampaui ekspektasi. BI menargetkan Rp1,5 miliar untuk kategori ini, namun FESyar KTI 2026 mencatatkan omzet penjualan produk pelaku usaha syariah dan industri halal mencapai Rp1,2 miliar. Meskipun angka ini sedikit di bawah target awal, perlu dicatat bahwa angka ini masih berpotensi bertambah seiring proses akumulasi transaksi yang terus berlangsung hingga akhir kegiatan. Salah satu lembaga keuangan yang menorehkan prestasi gemilang adalah BPRS PNM Patuh Beramal Amali Mataram, yang menjadi lembaga dengan realisasi pembiayaan UMKM terbanyak. Sementara itu, Bank Panin Dubai Syariah Mataram mencatatkan nilai pembiayaan terbesar. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa sektor keuangan syariah mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi riil, terutama bagi UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Penguatan Literasi dan Keterlibatan Masyarakat Selain pencapaian finansial, FESyar KTI 2026 juga menunjukkan kemajuan pesat dalam penguatan literasi ekonomi syariah. Sebanyak 3.223 peserta berhasil mengikuti Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional, sebuah angka yang mencapai 124 persen dari target yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan meningkatnya minat generasi muda terhadap prinsip-prinsip ekonomi syariah dan kesadaran akan pentingnya pemahaman mendalam mengenai konsep-konsep ini. Antusiasme masyarakat terhadap ekonomi syariah juga terlihat jelas dari penyelenggaraan Tabligh Akbar yang dihadiri oleh lebih dari 4.000 jamaah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana dakwah dan penguatan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi bagian integral dari kampanye penguatan gaya hidup halal. Dengan demikian, FESyar KTI 2026 secara efektif turut memperkuat ekosistem ekonomi syariah yang inklusif, digital, dan berkelanjutan di NTB dan kawasan timur Indonesia secara umum. NTB Sebagai Tuan Rumah Berprestasi Penyelenggaraan FESyar KTI 2026 di NTB tidak hanya sukses secara keseluruhan, tetapi juga memberikan kebanggaan tersendiri bagi Provinsi NTB. Salah satu pencapaian membanggakan adalah diraihnya Juara I Kompetisi Lembaga Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) Unggulan Kategori Wakaf melalui BMT Insan Samawa, yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa. Prestasi ini menunjukkan potensi besar NTB dalam pengelolaan dan pengembangan sektor ZISWAF yang profesional dan inovatif. Penghimpunan wakaf melalui program Zawa Walk dan Wakafein juga mencatatkan hasil yang menggembirakan, mencapai Rp61,2 juta, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp35 juta. Angka ini, meskipun terkesan kecil dibandingkan pembiayaan syariah, memiliki implikasi sosial yang sangat besar dan menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya wakaf sebagai instrumen pembangunan jangka panjang. Kolaborasi Lintas Sektor dan UMKM sebagai Motor Penggerak Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pemangku kepentingan yang telah berkontribusi dalam menyukseskan FESyar KTI 2026. Ia menegaskan bahwa penguatan ekonomi dan keuangan syariah membutuhkan sinergi yang kuat dari berbagai pihak, mulai dari regulator, pemerintah daerah, akademisi, hingga pelaku usaha. "Dukungan terhadap UMKM dan pelaku usaha syariah harus terus diperkuat agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Hario. FESyar KTI 2026 merupakan hasil kolaborasi dari 19 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Kawasan Timur Indonesia, yang melibatkan sebanyak 189 pelaku UMKM dan pelaku usaha syariah. Festival ini menghadirkan empat pilar utama yang saling melengkapi: Sharia Fair (pameran produk halal dan bazar kuliner), Sharia Education (pelatihan, sertifikasi, dan seminar), Sharia Forum (diskusi dan dialog antar pemangku kepentingan), dan Sharia Competition (kompetisi di berbagai bidang seperti modest fashion, halal chef, ZISWAF, dan konten ekonomi syariah). Prospek Masa Depan dan Implikasi Lebih Luas Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, memberikan apresiasi mendalam kepada Bank Indonesia atas penyelenggaraan FESyar KTI 2026 yang sukses di NTB. Ia melihat ajang ini sebagai momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, serta meningkatkan daya saing UMKM. "Melalui peningkatan kualitas produk, sertifikasi halal, pemanfaatan teknologi digital, serta perluasan akses pasar, UMKM diharapkan semakin siap menghadapi Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang akan digelar di Jakarta pada Oktober mendatang," ungkap Abul Chair. Pernyataannya menggarisbawahi peran FESyar KTI sebagai batu loncatan strategis bagi pelaku usaha syariah di Timur Indonesia untuk berpartisipasi dalam ajang ekonomi syariah berskala nasional. Bank Indonesia berharap FESyar KTI dapat menjadi langkah awal yang semakin memperkuat peran Kawasan Timur Indonesia sebagai salah satu motor penggerak ekonomi dan keuangan syariah nasional. Dengan fokus pada digitalisasi, inklusivitas, dan keberlanjutan, ekonomi syariah di KTI diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan FESyar KTI 2026 di NTB menjadi bukti nyata bahwa potensi ekonomi syariah di Indonesia Timur sangat besar dan siap untuk terus digali dan dikembangkan. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah, regulator, dan seluruh elemen masyarakat akan menjadi kunci untuk mewujudkan visi ekonomi syariah yang kuat dan berdaya saing di kancah global. Post navigation NTB Genjot Promosi Pariwisata di Yogyakarta Melalui Business Matching, Bidik Potensi Transaksi Rp 6 Miliar