Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Zamroni Aziz, secara resmi memberikan pembinaan intensif kepada ribuan siswa dan tenaga pendidik di MAN 2 Mataram pada Rabu (30/9) sebagai bagian dari upaya strategis menyiapkan generasi muda yang kompetitif dan berintegritas. Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah penguatan karakter, pemahaman wawasan kebangsaan, serta kesiapan mental dalam menghadapi tantangan global menuju visi besar Indonesia Emas 2045. Dalam arahannya, Dr. Zamroni menekankan bahwa pendidikan di lingkungan madrasah tidak boleh lagi terjebak dalam paradigma lama yang hanya mengejar keunggulan akademik, melainkan harus mampu melahirkan pribadi yang memiliki kedalaman etika, empati sosial, dan ketaatan hukum yang tinggi. Langkah penguatan ini diambil bukan tanpa alasan. Dr. Zamroni Aziz baru saja menyelesaikan program pendidikan kepemimpinan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Jakarta. Pengalaman di lembaga tersebut memberikan perspektif baru bagi pimpinan tertinggi Kemenag di NTB ini mengenai betapa krusialnya ketahanan nasional yang dimulai dari bangku sekolah. Menurutnya, madrasah memiliki peran vital sebagai laboratorium kaderisasi bangsa yang tidak hanya mencetak ahli agama, tetapi juga warga negara yang cinta tanah air dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi serta keberagaman. Visi Indonesia Emas 2045 dan Peran Strategis Madrasah Visi Indonesia Emas 2045 merupakan sebuah peta jalan besar di mana Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Namun, pencapaian tersebut sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang saat ini tengah duduk di bangku sekolah, termasuk para siswa MAN 2 Mataram. Dr. Zamroni mengingatkan bahwa pada tahun 2045, para siswa yang saat ini berusia belasan tahun akan berada pada usia produktif yang memegang kendali kepemimpinan di berbagai sektor. "Kalian inilah yang akan menjadi nakhoda kapal besar bernama Indonesia. Keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya diukur dari angka-angka di atas kertas atau nilai ujian yang tinggi. Prestasi akademik memang penting, tetapi karakter yang kuat, rasa empati terhadap sesama, serta sejauh mana kalian taat pada aturan hukum adalah indikator kesuksesan yang sesungguhnya," tegas Zamroni di hadapan ribuan peserta yang memadati halaman madrasah. Ia menambahkan bahwa karakter merupakan fondasi utama. Tanpa karakter yang kokoh, kecerdasan intelektual justru berisiko disalahgunakan untuk hal-hal yang merugikan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan di madrasah di bawah naungan Kemenag NTB kini semakin didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dan wawasan kebangsaan secara lebih praktis dalam kehidupan sehari-hari. Membangun Lingkungan Pendidikan Tanpa Diskriminasi dan Perundungan Salah satu poin krusial yang disampaikan dalam pembinaan tersebut adalah mengenai keadilan sosial di lingkungan pendidikan. Dr. Zamroni menyoroti pentingnya menciptakan ekosistem madrasah yang inklusif, aman, dan nyaman bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, maupun status keluarga. Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas dan perlakuan yang bermartabat. "Madrasah harus menjadi rumah kedua yang hangat. Jangan ada lagi sekat-sekat sosial yang membuat siswa merasa dibedakan. Kesamaan derajat harus kita praktikkan secara nyata, bukan sekadar teori di buku kewarganegaraan," ujarnya. Dalam konteks ini, ia memberikan instruksi tegas kepada para guru dan staf kependidikan untuk menjadi garda terdepan dalam mencegah praktik perundungan atau bullying. Fenomena perundungan, baik secara fisik maupun verbal, dinilai sebagai ancaman serius yang dapat menghambat perkembangan karakter dan psikologis siswa. Zamroni meminta para guru untuk tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan, mentor, dan pelindung bagi siswa. Ruang-ruang dialog yang demokratis di dalam kelas harus dibuka seluas mungkin agar siswa berani berpendapat dan menghargai perbedaan pandangan. Literasi Digital dan Tantangan di Ruang Siber Menghadapi era disrupsi informasi, Dr. Zamroni Aziz juga memberikan perhatian khusus pada perilaku siswa di dunia maya. Berdasarkan data nasional, generasi Z merupakan pengguna internet paling aktif di Indonesia, namun seringkali rentan terhadap penyebaran informasi bohong (hoax) dan ujaran kebencian. Ia mengingatkan bahwa ketaatan hukum tidak hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital melalui implementasi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). "Kecerdasan digital adalah keharusan. Anak-anak madrasah harus menjadi pionir dalam menyaring informasi sebelum membagikannya (saring sebelum sharing). Jangan sampai jempol kalian membawa kalian pada persoalan hukum karena menyebarkan berita yang memecah belah persatuan atau merusak nama baik orang lain," imbaunya. Pesan ini sangat relevan mengingat maraknya polarisasi di media sosial. Dengan pemahaman etika bermedia sosial yang baik, diharapkan siswa madrasah mampu menggunakan teknologi untuk hal-hal produktif, seperti pengembangan diri, inovasi teknologi, dan syiar nilai-nilai positif yang menyejukkan. Metode Pembinaan Interaktif: Menghidupkan Nilai Pancasila Suasana pembinaan yang awalnya berlangsung formal berubah menjadi lebih cair dan penuh semangat ketika Dr. Zamroni memulai sesi kuis spontan. Ia menantang para siswa untuk tampil ke depan dan melafalkan teks Pancasila serta Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tanpa teks. Tantangan ini disambut antusias oleh para siswa yang berebut untuk menunjukkan kemampuan mereka. Bagi mereka yang berhasil tampil dengan lancar dan penuh percaya diri, Dr. Zamroni memberikan apresiasi berupa hadiah uang tunai ratusan ribu rupiah sebagai bentuk motivasi. Namun, ia segera memberikan catatan penting bahwa kemampuan menghafal teks kenegaraan hanyalah langkah awal. "Menghafal Pancasila itu bagus sebagai pintu masuk, tetapi yang jauh lebih utama adalah bagaimana nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial itu hidup dalam perilaku kalian sehari-hari. Mulailah dari hal kecil: disiplin masuk kelas, aktif di organisasi OSIS, menghargai pendapat teman saat diskusi, hingga tertib dalam berlalu lintas saat pulang sekolah," jelasnya. Respons Tenaga Pendidik dan Implikasi Jangka Panjang Para guru MAN 2 Mataram menyambut baik arahan dari Kakanwil Kemenag NTB tersebut. Kehadiran pimpinan yang turun langsung ke lapangan memberikan energi baru bagi para pendidik untuk terus melakukan inovasi dalam metode pengajaran karakter. Pihak sekolah berkomitmen untuk memperkuat program ekstrakurikuler dan bimbingan konseling guna mendeteksi dini potensi konflik atau perilaku menyimpang di kalangan siswa. MAN 2 Mataram sendiri merupakan salah satu madrasah unggulan di Nusa Tenggara Barat yang sering meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Dengan adanya pembinaan ini, diharapkan reputasi akademik yang selama ini diraih dapat diimbangi dengan kualitas integritas moral para alumninya. Secara lebih luas, langkah Kanwil Kemenag NTB ini merupakan bagian dari implementasi program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dicanangkan pemerintah pusat. Implikasi dari kegiatan ini diharapkan mampu menekan angka kenakalan remaja, meningkatkan indeks literasi digital di kalangan pelajar, dan memperkokoh kerukunan antarumat beragama di NTB melalui pendekatan pendidikan moderasi sejak dini. Menuju Indonesia Emas dengan Integritas Menutup sesi pembinaannya, Dr. H. Zamroni Aziz kembali menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan kualitas pendidikan di madrasah-madrasah se-NTB. Ia berharap MAN 2 Mataram bisa menjadi model atau pilot project bagi madrasah lain dalam hal integrasi wawasan kebangsaan dan keunggulan akademik. "Tantangan masa depan akan jauh lebih berat daripada hari ini. Persaingan bukan lagi antarindividu di satu sekolah, tapi antarbangsa. Hanya mereka yang memiliki integritas, karakter yang kuat, dan cinta yang tulus pada tanah airnya yang akan bertahan dan membawa bangsa ini menuju kejayaan di tahun 2045," pungkasnya. Kegiatan pembinaan ini diakhiri dengan doa bersama untuk kemajuan pendidikan Islam di Indonesia dan sesi foto bersama yang menunjukkan keakraban antara pimpinan wilayah, guru, dan para siswa. Pesan-pesan yang disampaikan diharapkan tidak hanya menjadi angin lalu, tetapi terinternalisasi dalam sanubari setiap siswa untuk dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, dedikasi guru, dan semangat belajar siswa, visi Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan nyata yang sedang diupayakan dengan sungguh-sungguh dari ruang-ruang kelas madrasah di NTB. Post navigation PT Sumbawa Timur Mining Perkuat Sinergi Akademisi dan Industri Melalui Hibah Alat Praktikum Geologi Canggih kepada Universitas Muhammadiyah Mataram