Mataram – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyuarakan keprihatinan mendalam terkait kondisi keuangan PT Gerbang NTB Emas (GNE), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) provinsi tersebut. Sorotan utama tertuju pada akumulasi utang yang signifikan, mencapai angka Rp21,99 miliar, yang dinilai masih menjadi beban berat bagi operasional dan keberlanjutan perusahaan, meskipun terdapat indikasi perbaikan kinerja finansial. Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi, mengungkapkan bahwa beban utang ini menjadi salah satu persoalan krusial yang dihadapi PT GNE saat ini. "Salah satu persoalan utama yang dihadapi PT GNE adalah beban utang yang masih cukup besar," tegas Sambirang Ahmadi dalam keterangannya kepada awak media kemarin. Meskipun terdapat catatan positif berupa transisi dari kondisi rugi sebesar Rp3,24 miliar pada tahun 2024 menjadi laba bersih Rp278,9 juta pada tahun 2025, optimisme ini sedikit tereduksi oleh realitas angsuran utang. Sambirang Ahmadi merinci bahwa dengan angsuran bulanan yang diperkirakan mencapai Rp328,7 juta, atau setara dengan Rp3,9 miliar per tahun, kondisi ini masih tergolong berat jika dibandingkan dengan laba bersih yang berhasil diraih perusahaan. "Ini tentu berat buat perusahaan," ujar politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, menekankan ketidakseimbangan antara arus kas keluar untuk pembayaran utang dengan pendapatan bersih yang dihasilkan. Kinerja Keuangan: Antara Laba dan Penurunan Pendapatan Lebih lanjut, Komisi III juga menyoroti bahwa pertumbuhan kinerja PT GNE belum sepenuhnya menunjukkan kualitas yang diharapkan. Salah satu indikatornya adalah penurunan pendapatan perusahaan secara signifikan. Data menunjukkan bahwa pendapatan perusahaan mengalami penurunan dari Rp18,48 miliar pada tahun 2024 menjadi Rp14,47 miliar pada tahun 2025, yang berarti ada penurunan sebesar 21,7 persen. Analisis lebih mendalam oleh Komisi III mengungkapkan bahwa dominasi sektor beton masih menjadi ciri khas pendapatan PT GNE. Sektor ini menyumbang porsi terbesar, yakni Rp12,24 miliar, atau sekitar 84 persen dari total pendapatan perusahaan. Sementara itu, margin laba yang berhasil dicapai dari keseluruhan operasional perusahaan tercatat hanya sebesar 1,9 persen. Margin yang relatif kecil ini semakin mempertegas kerentanan perusahaan terhadap fluktuasi pasar dan tantangan operasional. Apresiasi di Tengah Tantangan Di tengah sorotan terhadap utang dan penurunan pendapatan, Komisi III tetap memberikan apresiasi atas upaya PT GNE dalam memperbaiki kondisinya. Sambirang Ahmadi mengakui bahwa, terlepas dari beban utang yang melilit, perusahaan telah menunjukkan kemampuan untuk keluar dari zona kerugian. "Dari sisi kesehatan perusahaan, skor yang dicapai berada di angka 60,8 dengan kategori Sehat-A," ungkapnya, merujuk pada penilaian kesehatan finansial perusahaan yang dinilai cukup baik. Selain keberhasilan menjadi profitabel pada tahun 2025, PT GNE juga dinilai mampu memberikan kontribusi dividen kepada Pemerintah Provinsi NTB sebesar Rp153,4 juta. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk memenuhi tanggung jawab keuangan kepada pemegang saham. Perbaikan lain yang patut dicatat adalah pelunasan tunggakan pajak sebesar Rp5,79 miliar yang telah berhasil dituntaskan oleh perusahaan. Upaya ini didukung pula oleh adanya penyertaan modal dari Pemerintah Provinsi NTB, yang memberikan suntikan likuiditas dan memperkuat struktur permodalan perusahaan. Tantangan Ketergantungan dan Pengelolaan Piutang Meskipun ada indikasi perbaikan, PT GNE masih dihadapkan pada sejumlah tantangan yang memerlukan penanganan segera dan strategis. Ketergantungan yang tinggi pada sektor beton, yang mencapai sekitar 84 persen dari total pendapatan, diidentifikasi sebagai risiko utama yang dapat mengancam stabilitas perusahaan. Diversifikasi usaha menjadi krusial untuk mengurangi kerentanan ini. Selain itu, pengelolaan piutang usaha juga menjadi perhatian. Tercatat sebesar Rp8,65 miliar, piutang usaha ini memiliki periode penagihan (collection period) yang cukup panjang, yaitu sekitar 218 hari. Periode penagihan yang lama ini dapat mengikat arus kas perusahaan dan menghambat likuiditas. Beban usaha yang tercatat sebesar Rp5,62 miliar, atau sekitar 39 persen dari total pendapatan, juga menjadi indikator lain bahwa efisiensi operasional perlu ditingkatkan. Laporan juga mengindikasikan bahwa perusahaan masih bergantung pada potensi penjualan aset untuk menopang kinerjanya, sebuah strategi yang seharusnya bersifat sementara dan bukan solusi jangka panjang. Harapan untuk Direksi Baru: Langkah Strategis Menuju Kesehatan Finansial Total Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Komisi III DPRD NTB menaruh harapan besar kepada jajaran direksi baru PT GNE untuk merumuskan dan mengimplementasikan langkah-langkah strategis yang konkret. Beberapa rekomendasi utama yang disampaikan meliputi: Peningkatan Margin Laba: Target ambisius untuk meningkatkan margin laba menjadi di atas 5 persen perlu dicanangkan. Hal ini menuntut efisiensi operasional, peningkatan nilai tambah produk, dan strategi penetapan harga yang lebih menguntungkan. Restrukturisasi Utang: Beban utang sebesar Rp21,9 miliar harus menjadi prioritas untuk direstrukturisasi. Ini bisa mencakup negosiasi ulang dengan kreditur, mencari opsi pembiayaan yang lebih ringan, atau bahkan mencari sumber pendanaan baru yang lebih kompetitif. Diversifikasi Usaha: Untuk mengurangi ketergantungan pada sektor beton, PT GNE didorong untuk melakukan diversifikasi usaha. Langkah ini harus dilakukan secara hati-hati, dengan analisis pasar yang matang dan mempertimbangkan potensi serta kelayakan bisnis baru, terutama setelah kondisi bisnis inti perusahaan benar-benar sehat. Perbaikan Pengelolaan Piutang: Target penurunan periode penagihan piutang menjadi kurang dari 120 hari sangat penting. Ini memerlukan penguatan tim penagihan, penerapan kebijakan kredit yang lebih ketat, dan sistem monitoring piutang yang efektif. Peningkatan Efisiensi Operasional: Mengendalikan beban usaha agar proporsional dengan pendapatan menjadi kunci. Audit operasional dan implementasi praktik manajemen yang efisien perlu dilakukan. Sambirang Ahmadi menegaskan kembali bahwa meskipun PT Gerbang NTB Emas telah berhasil keluar dari fase kerugian, status kesehatan finansialnya belum sepenuhnya pulih. "PT Gerbang NTB Emas telah keluar dari fase kerugian, namun belum sepenuhnya berada dalam kondisi sehat," tandasnya, menggarisbawahi perlunya upaya berkelanjutan dan terarah untuk mencapai kesehatan finansial yang kokoh dan berkelanjutan. Perjalanan PT GNE menuju pemulihan total diprediksi akan menjadi tugas berat bagi manajemen baru. Keberhasilan mereka akan sangat bergantung pada kemampuan untuk menavigasi tantangan finansial yang ada, mengoptimalkan potensi pendapatan, serta mengimplementasikan strategi diversifikasi yang cerdas, demi memastikan BUMD ini dapat berkontribusi optimal bagi pembangunan ekonomi NTB di masa depan. Post navigation PLN UIW NTB Perkuat UMKM Lewat Pelatihan AI dalam Promosi Produk Pasca Idulfitri Bareskrim Polri Ungkap Jaringan Besar Penyelewengan BBM dan LPG Subsidi 2025-2026, Pertamina Patra Niaga Apresiasi Tindakan Tegas