Di bawah bayangan megah Gunung Tambora, membentang luas hamparan tanah subur di Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Dikenal sebagai lumbung pertanian, desa ini selama puluhan tahun telah menggantungkan perekonomian warganya pada komoditas jagung dan kopi yang melimpah. Namun, seiring dinamika pasar dan upaya diversifikasi ekonomi, sebuah harapan baru mulai menyemai di lahan-lahan produktif tersebut: tanaman tebu. Inisiatif pengembangan tebu ini bukan hanya sekadar menambah variasi tanaman, melainkan juga menjadi bagian dari visi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi lokal, meskipun dihadapkan pada tantangan infrastruktur vital yang mendesak untuk diatasi. Kepala Desa Tambora, Johansyah, dalam sebuah kesempatan, mengonfirmasi geliat pengembangan tebu di beberapa dusun di wilayahnya. Meski luasan lahannya belum sebanding dengan dominasi jagung dan kopi yang telah mencapai ratusan hektare, minat masyarakat untuk beralih atau menambahkan tebu sebagai komoditas utama terus menunjukkan tren positif. "Kalau tebu sudah ada sebagian masyarakat yang tanam. Variasi usaha tani di sini memang berbeda-beda tiap dusun," ujar Johansyah, menggarisbawahi adaptasi petani terhadap kondisi lahan dan potensi pasar. Di Dusun Garuda, misalnya, petani secara cerdik mengombinasikan budidaya jagung, kopi, dan tebu secara bersamaan, memaksimalkan penggunaan lahan dan meminimalkan risiko ketergantungan pada satu komoditas. Sementara di dusun lain, masyarakat memilih kombinasi perkebunan kopi, kakao, hingga tebu, disesuaikan dengan karakteristik tanah dan iklim mikro setempat. Keberhasilan diversifikasi ini menunjukkan kemampuan adaptasi petani Tambora serta potensi luar biasa dari tanah vulkanik yang kaya nutrisi di kaki gunung berapi bersejarah tersebut. Geliat Tebu: Dari Puluhan Hektare Menuju Harapan Industri Pengembangan tebu di Desa Tambora merupakan langkah strategis yang tidak terlepas dari potensi besar komoditas ini sebagai penyokong industri gula nasional. Dengan puluhan hektare lahan yang kini mulai ditanami tebu, Desa Tambora berkontribusi pada upaya pemerintah untuk mencapai swasembada gula. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kebutuhan gula nasional terus meningkat, dan wilayah dengan tanah subur seperti Tambora memiliki peran krusial dalam memenuhi pasokan tersebut. Tebu menawarkan stabilitas harga yang relatif lebih baik dibandingkan komoditas lain yang fluktuatif, serta memiliki siklus panen yang lebih panjang, memberikan kepastian pendapatan bagi petani. Selain itu, budidaya tebu juga lebih tahan terhadap beberapa jenis hama dan penyakit dibandingkan tanaman semusim, mengurangi risiko kerugian petani. Keoptimisan Johansyah terhadap masa depan tebu di Tambora tidak hanya didasari oleh kesuburan tanah, melainkan juga oleh adanya jaminan pasar yang kuat. Sebagian besar petani tebu di desa ini telah menjalin kerja sama pemasaran dengan pabrik pengolahan tebu PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang berlokasi di Pekat, tidak jauh dari Desa Tambora. Kemitraan ini menjadi katalisator utama yang mendorong minat petani. PT SMS berperan penting dalam menyerap hasil panen masyarakat, memberikan kepastian harga, serta seringkali memberikan pendampingan teknis budidaya. "Untuk tebu memang masih puluhan hektare, tapi masyarakat mulai bergerak karena sudah ada yang kerja sama dengan perusahaan," jelas Johansyah, menyoroti pentingnya jaminan pasar bagi keberlanjutan usaha tani. Kerja sama dengan pabrik pengolahan tebu berskala besar seperti PT SMS tidak hanya memastikan produk petani terserap, tetapi juga mengurangi biaya logistik dan pemasaran yang seringkali menjadi beban berat bagi petani kecil. Diversifikasi Komoditas dan Keunikan Tanah Tambora Karakteristik alam Desa Tambora yang berada di zona penyangga Gunung Tambora memberikan anugerah kesuburan tanah vulkanik yang luar biasa. Tanah yang kaya mineral ini memungkinkan beragam komoditas tumbuh subur dan produktif. Selain jagung dan kopi yang telah lama menjadi andalan, petani di Tambora juga aktif mengembangkan tanaman hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Durian, alpukat, jeruk, hingga asam kini mulai banyak ditanam dan diharapkan dapat menambah pundi-pundi pendapatan masyarakat. Potensi pengembangan buah-buahan tropis ini sangat menjanjikan, mengingat permintaan pasar yang terus meningkat dan nilai jual yang kompetitif. Jenis kopi yang dominan di Tambora adalah Robusta, yang dikenal dengan ketahanan dan produktivitas tinggi, serta aroma khas yang diminati pasar domestik maupun ekspor. Sementara itu, varietas jagung hibrida yang tahan hama dan penyakit juga menjadi pilihan utama petani, memastikan hasil panen yang optimal. "Tanah kami di sini sangat mendukung. Banyak warga yang sukses dari hasil pertanian dan perkebunan," kata Johansyah, menegaskan betapa strategisnya sektor pertanian bagi kehidupan warganya. Keberagaman komoditas ini tidak hanya memperkaya lanskap pertanian Desa Tambora, tetapi juga membangun resiliensi ekonomi masyarakat terhadap fluktuasi harga komoditas tertentu. Kemitraan Strategis dan Dukungan Industri Gula Nasional Kemitraan antara petani tebu di Desa Tambora dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) adalah contoh nyata sinergi antara sektor pertanian dan industri yang dapat memberikan dampak positif signifikan. PT SMS, sebagai salah satu pabrik gula terkemuka di wilayah Nusa Tenggara Barat, memiliki kepentingan strategis untuk memastikan pasokan bahan baku tebu yang stabil dan berkualitas. Melalui pola kemitraan ini, petani mendapatkan kepastian pembeli dengan harga yang transparan, seringkali diikat dalam kontrak jangka panjang. Hal ini meminimalisir risiko kerugian akibat anjloknya harga di pasaran bebas. Dari sisi pabrik, kemitraan ini menjamin ketersediaan tebu segar yang siap diolah, mendukung kapasitas produksi mereka. Model kemitraan semacam ini sangat vital dalam mendukung program swasembada gula nasional yang telah dicanangkan pemerintah. Dengan meningkatkan produksi tebu lokal, ketergantungan Indonesia pada impor gula dapat berkurang, sekaligus memberdayakan ekonomi petani di daerah-daerah penghasil tebu. PT SMS, melalui program kemitraan petani, juga sering memberikan bimbingan teknis mengenai praktik budidaya tebu yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), penyediaan bibit unggul, serta akses permodalan, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kualitas tebu petani. Jalan Ekonomi: Tantangan Utama yang Menghambat Pertumbuhan Di tengah potensi pertanian yang melimpah dan optimisme terhadap komoditas tebu, Desa Tambora menghadapi tantangan infrastruktur yang sangat fundamental: buruknya akses jalan ekonomi. Kondisi jalan yang rusak parah, terutama jalur menuju sentra-sentra produksi pertanian dan perkebunan, menjadi hambatan terbesar bagi kemajuan ekonomi masyarakat. Johansyah menggambarkan bagaimana buruknya kondisi jalan ini secara langsung memangkas keuntungan petani. "Kasihan petani kami. Kalau panen musim hujan harus sangat hati-hati. Jagung kadang diturunkan satu per satu dari kendaraan karena jalannya rusak," tuturnya, menggambarkan perjuangan petani saat mengangkut hasil panen dari kebun. Jalan yang berlumpur dan berlubang saat musim hujan seringkali tidak bisa dilalui kendaraan roda empat secara normal, bahkan sulit untuk kendaraan roda dua. Akibatnya, biaya operasional petani melonjak drastis. Ongkos ojek atau transportasi untuk mengangkut hasil panen seperti jagung, kopi, atau tebu menjadi sangat tinggi, mengurangi margin keuntungan yang seharusnya bisa dinikmati petani. Dalam beberapa kasus, petani harus mengeluarkan biaya transportasi hingga 30-40% dari total pendapatan kotor hanya untuk membawa hasil panen ke pasar atau titik pengumpulan. Ini adalah beban yang signifikan, mengingat sebagian besar petani adalah petani kecil dengan modal terbatas. Buruknya akses jalan juga membatasi mobilitas barang dan jasa ke desa, menghambat akses petani terhadap pupuk, bibit, atau alat pertanian yang dibutuhkan. Lebih jauh, kondisi jalan yang tidak layak juga berdampak pada waktu tempuh yang lebih lama, menyebabkan beberapa komoditas hortikultura yang mudah busuk mengalami penurunan kualitas sebelum sampai ke tangan konsumen, berujung pada kerugian. Ini adalah ironi, di mana desa yang diberkahi dengan tanah subur dan komoditas melimpah, justru terhambat oleh masalah dasar infrastruktur. Dampak Infrastruktur Buruk Terhadap Petani dan Ekonomi Lokal Dampak dari buruknya infrastruktur jalan di Desa Tambora bersifat multi-dimensi dan merugikan. Secara ekonomi, peningkatan biaya logistik secara langsung mengikis profitabilitas petani. Estimasi awal menunjukkan bahwa petani dapat kehilangan hingga seperempat atau bahkan sepertiga dari potensi keuntungan mereka hanya karena biaya transportasi yang membengkak. Situasi ini diperparah saat musim hujan, di mana kerusakan jalan menjadi sangat parah, seringkali menyebabkan kendaraan pengangkut terperosok atau bahkan tidak bisa melintas sama sekali, memaksa petani untuk mengangkut hasil panen secara manual atau menggunakan cara-cara yang tidak efisien. Hal ini tidak hanya membuang waktu dan tenaga, tetapi juga dapat merusak hasil panen itu sendiri. Secara sosial, kesulitan akses ini menimbulkan frustrasi di kalangan petani yang merasa kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Mereka telah bekerja keras mengolah lahan, namun keuntungan mereka tergerus oleh masalah yang seharusnya dapat diatasi oleh pemerintah. Kualitas hidup masyarakat juga terpengaruh, termasuk akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan yang menjadi lebih sulit karena jalan yang rusak. Guru dan tenaga kesehatan enggan bertugas di daerah terpencil dengan akses yang sulit, sementara warga yang sakit harus menempuh perjalanan yang berat dan berisiko tinggi untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat. Kondisi ini juga menghambat investasi di sektor lain, karena calon investor enggan berinvestasi di daerah yang memiliki kendala aksesibilitas yang tinggi, sehingga membatasi potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. Johansyah berulang kali menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah daerah hingga DPRD, berharap ada alokasi anggaran yang memadai untuk perbaikan jalan ekonomi. "Kalau jalan ekonomi ini bagus, saya yakin peningkatan ekonomi masyarakat akan berjalan lebih cepat," tegasnya, menunjukkan keyakinan akan potensi besar yang akan terbuka jika masalah infrastruktur ini teratasi. Urgensi Pembangunan Infrastruktur: Menopang Pertanian dan Pariwisata Pembangunan infrastruktur jalan di Desa Tambora bukan hanya sekadar perbaikan, melainkan investasi strategis yang akan memberikan efek domino positif bagi seluruh sektor. Jalan yang mulus akan memangkas biaya transportasi secara signifikan, memungkinkan petani mendapatkan harga jual yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan bersih mereka. Hal ini akan memicu gairah bertani dan mendorong ekspansi lahan, termasuk untuk komoditas tebu yang menjanjikan. Selain itu, akses yang lebih baik juga akan mempermudah pasokan input pertanian seperti pupuk dan bibit, serta memfasilitasi akses terhadap teknologi pertanian modern. Lebih dari itu, Desa Tambora memiliki posisi strategis sebagai salah satu gerbang menuju kawasan wisata Gunung Tambora yang merupakan salah satu ikon pariwisata Nusa Tenggara Barat. Setiap tahun, gunung berapi yang terkenal dengan kaldera raksasanya ini menarik ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, akses jalan yang buruk seringkali menjadi keluhan utama para wisatawan, bahkan menghambat pengembangan potensi ekowisata di sekitar Tambora. Dengan infrastruktur jalan yang memadai, Desa Tambora tidak hanya akan menjadi pusat pertanian yang produktif, tetapi juga gerbang pariwisata yang nyaman dan menarik. Wisatawan akan lebih mudah mencapai titik awal pendakian atau menikmati keindahan alam di sekitarnya, yang pada gilirannya akan menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal, seperti penyediaan penginapan, kuliner, dan jasa pemandu wisata. Akses Air Bersih dan Peran Tambora sebagai Penyangga Wisata Selain jalan, kebutuhan akan akses air bersih dan perpipaan yang memadai juga menjadi perhatian serius bagi pemerintah desa. Meskipun berada di kaki gunung, beberapa dusun di Desa Tambora masih menghadapi kendala dalam mendapatkan pasokan air bersih yang stabil, terutama saat musim kemarau. Ketersediaan air bersih merupakan prasyarat dasar bagi kesehatan masyarakat dan sanitasi yang baik. Pengembangan sistem perpipaan yang efektif akan memastikan setiap rumah tangga memiliki akses mudah terhadap air bersih, mengurangi risiko penyakit berbasis air dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Peran Desa Tambora sebagai kawasan penyangga wisata Gunung Tambora tidak bisa diremehkan. Dengan posisinya yang strategis, desa ini adalah titik pertama interaksi wisatawan dengan lingkungan sekitar Tambora. Oleh karena itu, pembangunan yang terintegrasi antara sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan pariwisata adalah kunci. Ketersediaan infrastruktur dasar seperti jalan yang baik dan air bersih akan mendukung pertumbuhan sektor-sektor ini secara beriringan. Para wisatawan yang datang tidak hanya akan menikmati keindahan alam, tetapi juga berinteraksi dengan kehidupan masyarakat desa yang makmur, membeli produk-produk pertanian lokal, dan merasakan keramahan penduduk setempat. Hal ini akan menciptakan ekonomi sirkular yang saling menguntungkan, di mana pertanian menopang pariwisata, dan pariwisata memberikan nilai tambah bagi produk pertanian lokal. Seruan Pembangunan Berkelanjutan dan Harapan Masa Depan Johansyah menegaskan bahwa Desa Tambora memiliki potensi luar biasa untuk berkembang menjadi desa yang mandiri dan sejahtera. Potensi pertanian, perkebunan, peternakan, dan pariwisata dapat dioptimalkan secara maksimal apabila didukung oleh infrastruktur dasar yang memadai. "Harapan kami ke depan tentu sektor pertanian dan perkebunan semakin berkembang. Tebu, kopi, jagung, peternakan semua bisa jalan bersama kalau akses jalannya baik," pungkasnya, menyampaikan seruan yang jelas kepada pemerintah daerah dan provinsi. Pembangunan jalan yang baik bukan hanya tentang aspal dan beton, melainkan tentang membuka gerbang menuju kemakmuran, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mengoptimalkan potensi alam yang dianugerahkan kepada Desa Tambora. Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur yang komprehensif di Tambora dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Dompu dan Nusa Tenggara Barat yang juga memiliki potensi pertanian dan pariwisata yang belum tergarap maksimal. Ini adalah investasi yang akan menghasilkan dividen sosial dan ekonomi yang besar, mempercepat laju pembangunan daerah, serta mewujudkan cita-cita masyarakat untuk hidup lebih sejahtera dan berdaya. Dukungan kebijakan, alokasi anggaran yang memadai, serta sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta akan menjadi kunci utama untuk mewujudkan visi Desa Tambora yang maju dan berkelanjutan. Post navigation Transformasi Manis di Lereng Tambora: Desa Pekat Panen Kemakmuran dari Kebun Tebu