PRAYA, LOMBOK TENGAH – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, salah satu destinasi pariwisata super prioritas Indonesia, terus menunjukkan geliat pertumbuhan yang signifikan. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), selaku pengembang dan pengelola kawasan, melaporkan bahwa nilai investasi kumulatif di KEK Mandalika telah mencapai angka Rp 6,018 triliun hingga akhir tahun 2025. Pencapaian monumental ini tidak hanya merefleksikan tingginya kepercayaan investor terhadap potensi pariwisata Indonesia, tetapi juga berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja, dengan total serapan tenaga kerja mencapai 26.002 orang. Angka-angka ini menjadi indikator kuat berkembangnya ekosistem pariwisata terintegrasi yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan nasional.

Direktur Operasi ITDC, Troy Waroka, dalam sebuah kesempatan diskusi santai dengan media di Mandalika pada Jumat (23/5), menegaskan komitmen ITDC untuk terus mengakselerasi pengembangan kawasan. Menurutnya, pertumbuhan iklim investasi dan aktivitas pariwisata di KEK Mandalika berjalan seiring, menciptakan sinergi positif yang mendorong kemajuan berkelanjutan. Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 27 pelaku usaha telah aktif menjalankan bisnis mereka di kawasan tersebut. Diversifikasi sektor bisnis ini mencakup berbagai bidang, mulai dari hospitality (perhotelan dan resor), lifestyle tourism (hiburan dan gaya hidup), mixed-use development (pengembangan multifungsi), utilitas kawasan, hingga fasilitas pendukung ekosistem motorsport. Keberagaman ini menunjukkan bahwa Mandalika tidak hanya mengandalkan satu segmen pariwisata, melainkan menawarkan pengalaman terintegrasi yang komprehensif.

Kronologi dan Latar Belakang Pengembangan KEK Mandalika

Pengembangan KEK Mandalika merupakan bagian integral dari strategi pemerintah Indonesia untuk mendiversifikasi destinasi pariwisata unggulan di luar Bali, yang dikenal sebagai program "10 Bali Baru". KEK Mandalika ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014 dan secara resmi diluncurkan pada Oktober 2017 oleh Presiden Joko Widodo. Tujuannya adalah untuk menciptakan pusat pariwisata kelas dunia yang berkelanjutan, dengan fokus pada pariwisata olahraga (sport tourism), pariwisata bahari, dan pariwisata budaya.

Sejak awal, ITDC, sebagai BUMN pengembang kawasan pariwisata, diberikan mandat untuk mengubah lahan kosong seluas 1.175 hektar di Lombok Tengah menjadi destinasi pariwisata berkelas internasional. ITDC memiliki rekam jejak sukses dalam mengembangkan Nusa Dua di Bali, yang menjadi model bagi pengembangan Mandalika. Proses awal pengembangan Mandalika tidaklah mudah, menghadapi tantangan seperti pembebasan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, dan menarik investor. Namun, dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, termasuk penetapan Mandalika sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), hambatan-hambatan tersebut secara bertahap dapat diatasi.

Salah satu milestone penting dalam pengembangan KEK Mandalika adalah pembangunan Sirkuit Internasional Mandalika. Sirkuit ini menjadi tuan rumah MotoGP dan World Superbike (WSBK), menempatkan Mandalika di peta pariwisata olahraga global. Kehadiran event-event balap motor internasional ini tidak hanya menarik ribuan penggemar balap, tetapi juga memberikan eksposur global yang tak ternilai bagi destinasi ini, memicu minat lebih lanjut dari investor dan wisatawan.

Daya Tarik Investasi Global dan Penguatan Ekosistem

Troy Waroka lebih lanjut menggarisbawahi bahwa masuknya investor baik domestik maupun internasional dari berbagai negara seperti Singapura, Jepang, Spanyol, Amerika Serikat, dan Maroko, menjadi bukti konkret atas meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap potensi dan prospek The Mandalika. Kepercayaan ini didasari oleh konsep integrated tourism destination yang ditawarkan Mandalika, yang memadukan secara harmonis sport tourism, hospitality, area komersial, ruang terbuka hijau, serta fasilitas publik yang modern. Integrasi ini menciptakan ekosistem yang dinamis dan menarik bagi berbagai jenis wisatawan dan investor.

ITDC secara proaktif terus mendorong penguatan ekosistem investasi melalui berbagai inisiatif. Peningkatan kualitas destinasi menjadi prioritas utama, mencakup penataan estetika kawasan, kebersihan, dan kenyamanan. Pengembangan infrastruktur juga terus dilakukan, termasuk akses jalan, sistem drainase, dan fasilitas umum lainnya. Selain itu, penyediaan utilitas kawasan yang handal seperti listrik, air bersih, dan telekomunikasi menjadi fondasi penting untuk mendukung keberlanjutan Mandalika sebagai destinasi pariwisata unggulan nasional yang siap bersaing di kancah global. Strategi ini memastikan bahwa investor tidak hanya melihat potensi return finansial, tetapi juga lingkungan bisnis yang stabil dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Tren Positif Aktivitas Pariwisata dan Dampak Ekonomi Lokal

Selain pertumbuhan investasi, aktivitas pariwisata di The Mandalika juga menunjukkan tren yang sangat positif. Data terbaru dari Januari hingga April 2026 mencatat total kunjungan wisatawan kawasan mencapai 285.003 pengunjung. Angka ini menandakan pemulihan dan pertumbuhan yang kuat pasca-pandemi, melampaui ekspektasi awal.

Lebih menggembirakan lagi, pada periode yang sama, rata-rata length of stay atau durasi menginap wisatawan meningkat menjadi 2,33 hari, dibandingkan dengan 1,96 hari pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa wisatawan tidak lagi hanya singgah sebentar, melainkan mulai menjadikan The Mandalika sebagai destinasi dengan durasi tinggal yang lebih panjang, menikmati berbagai fasilitas dan atraksi yang ditawarkan. Sejalan dengan itu, rata-rata okupansi hotel di kawasan juga meningkat signifikan menjadi 44,57 persen, dibandingkan 41,55 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Investasi Tembus Rp 6,018 Triliun, KEK Mandalika Serap 26.002 Tenaga Kerja

Troy Waroka menjelaskan bahwa peningkatan length of stay dan okupansi hotel memiliki dampak ekonomi yang besar. "Kondisi ini memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal, UMKM, dan sektor hospitality di sekitar kawasan," ujarnya. Peningkatan durasi tinggal berarti pengeluaran wisatawan di kawasan dan sekitarnya juga meningkat, mengalir ke berbagai sektor seperti kuliner, transportasi lokal, cinderamata, dan jasa pariwisata lainnya. Hal ini secara langsung memberdayakan masyarakat lokal dan UMKM, menciptakan efek berganda yang positif bagi perekonomian regional.

Peningkatan Konektivitas Udara sebagai Penunjang Utama

Penguatan aktivitas pariwisata di The Mandalika tidak lepas dari dukungan konektivitas udara yang semakin baik menuju Lombok. Berdasarkan data dari InJourney Airports, total jumlah penumpang di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) pada periode Januari hingga April 2026 mencapai 850.319 penumpang. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 18,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menegaskan Lombok sebagai gerbang udara yang semakin sibuk dan vital.

Tidak hanya jumlah penumpang, total pergerakan pesawat juga tumbuh sekitar 35,3 persen dibandingkan tahun 2025. Peningkatan frekuensi penerbangan dan penambahan rute menjadi indikator kuat kepercayaan maskapai terhadap potensi pasar Lombok. Saat ini, berbagai maskapai nasional dan internasional seperti Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia, dan Scoot melayani total 11 rute domestik dan 2 rute internasional menuju Lombok. Rute domestik mencakup kota-kota besar di Indonesia, sementara rute internasional membuka akses langsung dari negara-negara tetangga, mempermudah wisatawan mancanegara untuk mencapai Mandalika. Peningkatan konektivitas ini krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan pariwisata dan investasi.

Dampak dan Implikasi Lebih Luas

Keberhasilan KEK Mandalika dalam menarik investasi dan meningkatkan kunjungan wisatawan memiliki implikasi yang luas, tidak hanya bagi Lombok, tetapi juga bagi pariwisata nasional.

Dampak Ekonomi Regional: Pertumbuhan investasi sebesar Rp 6,018 triliun dan penciptaan 26.002 lapangan kerja memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Lombok Tengah. Multiplier effect dari sektor pariwisata juga merangsang pertumbuhan sektor lain seperti konstruksi, logistik, pertanian (untuk pasokan hotel), dan jasa keuangan. Peningkatan pendapatan masyarakat lokal dari sektor pariwisata dan UMKM akan meningkatkan daya beli dan kualitas hidup.

Pemberdayaan Masyarakat Lokal: Serapan tenaga kerja yang masif menunjukkan bahwa KEK Mandalika bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi juga program pemberdayaan. ITDC dan para investor diharapkan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan program pelatihan keterampilan bagi masyarakat lokal, memastikan mereka siap mengisi posisi-posisi yang tersedia di industri pariwisata. Keterlibatan UMKM dalam rantai pasok pariwisata juga menjadi kunci untuk memastikan manfaat ekonomi dirasakan secara merata.

Peningkatan Citra Indonesia: Kehadiran investor internasional dan suksesnya event olahraga global seperti MotoGP menempatkan Indonesia, khususnya Mandalika, sebagai destinasi pariwisata dan investasi yang kredibel di mata dunia. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan citra pariwisata Indonesia dan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

Tantangan dan Prospek Masa Depan: Meskipun telah mencapai banyak kemajuan, KEK Mandalika masih dihadapkan pada beberapa tantangan. Keberlanjutan lingkungan menjadi perhatian utama, mengingat pentingnya menjaga keindahan alam Lombok. ITDC terus berupaya mengimplementasikan praktik pariwisata berkelanjutan, termasuk pengelolaan limbah, konservasi air, dan penggunaan energi terbarukan. Selain itu, integrasi sosial dengan masyarakat lokal, termasuk isu-isu terkait budaya dan adat istiadat, perlu terus diperkuat untuk memastikan pembangunan yang harmonis.

Ke depan, ITDC berencana untuk terus memperluas fasilitas dan atraksi di KEK Mandalika. Pengembangan area komersial lebih lanjut, pembangunan theme park, dan peningkatan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) akan menjadi fokus untuk menarik segmen pasar yang lebih luas dan meningkatkan durasi kunjungan. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan partisipasi aktif dari sektor swasta serta masyarakat, KEK Mandalika berpotensi besar untuk menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia yang paling sukses dan berkelanjutan, memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan Mandalika juga menjadi studi kasus penting bagi pengembangan KEK pariwisata lainnya di Indonesia. Model pengembangan terintegrasi yang menggabungkan infrastruktur kelas dunia, event internasional, dan pemberdayaan ekonomi lokal, dapat direplikasi di destinasi lain untuk mencapai tujuan pariwisata nasional yang lebih ambisius. Mandalika bukan hanya destinasi, melainkan sebuah visi pembangunan yang mulai terwujud nyata, menjanjikan masa depan cerah bagi pariwisata Indonesia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *