Baliho ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan yang menampilkan Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, H. Rachmat Hidayat, bersama Hj. Putu Selly Andayani, kini menghiasi berbagai titik strategis di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Kehadiran baliho berukuran besar ini tidak hanya menjadi penanda datangnya bulan suci, tetapi juga memicu diskursus di ruang publik mengenai arah komunikasi politik dan strategi pemetaan dukungan yang dilakukan oleh kader PDI Perjuangan di wilayah tersebut menjelang kontestasi politik di masa depan. Fenomena ini menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi, yang melihat adanya pergeseran pola komunikasi politik yang lebih personal dan religius di wilayah yang dikenal memiliki heterogenitas sosial dan kultural yang tinggi. Sebagai tokoh senior di PDIP, langkah Rachmat Hidayat sering kali dibaca sebagai upaya untuk memperkuat resonansi ideologis partai di tengah masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai keagamaan. Konteks Sosiopolitik di NTB NTB merupakan provinsi dengan karakteristik demografi yang unik. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, namun di sisi lain, terdapat keberagaman etnis dan budaya yang menuntut pendekatan inklusif dari setiap aktor politik yang ingin membangun basis dukungan yang luas. Dalam sejarah politik NTB, partai nasionalis seperti PDIP sering kali dihadapkan pada tantangan untuk menyelaraskan ideologi nasionalisme dengan sentimen religiositas masyarakat lokal. Langkah Rachmat Hidayat menempatkan ucapan Ramadan sebagai pesan utama di baliho-baliho tersebut merupakan cerminan dari pemahaman mendalam terhadap lanskap sosial di NTB. Ramadan di NTB bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebuah ekosistem sosial yang mempererat tali silaturahmi. Dengan mengadopsi simbol-simbol keagamaan, Rachmat Hidayat mencoba menjembatani kesenjangan antara ideologi partai dan ekspektasi masyarakat. Analisis Pakar Komunikasi Politik Dr. Agus, M.Si, seorang pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Mataram, menilai bahwa baliho tersebut tidak dapat dipandang sebagai alat sosialisasi yang lahir secara sporadis. Menurutnya, dalam perspektif komunikasi politik, setiap medium visual yang dipasang di ruang publik mengandung pesan terselubung yang dirancang untuk membangun citra tertentu di benak pemilih. "Dalam konteks NTB, pesan yang disampaikan harus mampu menembus batasan psikologis masyarakat. Penggunaan simbol Ramadan adalah langkah taktis yang sangat efektif karena menyentuh dimensi emosional masyarakat yang sedang berada dalam suasana religius," ungkap Agus saat dimintai keterangan di Mataram, Minggu (22/2/2026). Lebih lanjut, Agus menambahkan bahwa kehadiran Hj. Putu Selly Andayani dalam baliho tersebut memberikan dimensi tambahan pada pesan yang ingin disampaikan. Sebagai tokoh yang memiliki rekam jejak sebagai birokrat dan pernah berkompetisi dalam Pilkada Kota Mataram 2020, Selly membawa segmen pemilih tersendiri. Kombinasi antara Rachmat Hidayat sebagai pemimpin partai dan Selly sebagai figur publik menciptakan narasi kebersamaan yang solid di mata masyarakat. Ideologi Soekarnoisme dalam Praktik Lokal PDI Perjuangan secara historis selalu mengedepankan ajaran Bung Karno yang menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme. Rachmat Hidayat, yang merupakan kader senior, tampak berupaya mempraktikkan ajaran tersebut secara konsisten. Bung Karno pernah berpesan bahwa seorang pemimpin harus menjadi "penyambung lidah rakyat" yang mampu merasakan denyut nadi kehidupan masyarakatnya. Penerapan ajaran ini terlihat dari bagaimana Rachmat tidak membatasi kehadirannya hanya pada momentum hari besar umat Islam saja. Dalam banyak kesempatan, ia juga terlibat aktif dalam perayaan hari besar agama lain, sebuah langkah yang memperkuat posisinya sebagai tokoh yang inklusif. Pendekatan ini selaras dengan semangat nasionalisme yang tidak menanggalkan identitas keagamaan, melainkan menjadikannya sebagai perekat persatuan di tengah perbedaan. Perspektif Jangka Panjang: Politik sebagai Kerja Nilai Kritik terhadap partai politik di Indonesia sering kali tertuju pada pola kerja yang hanya muncul menjelang musim Pemilu. Namun, Rachmat Hidayat menegaskan bahwa langkahnya saat ini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan. Menurutnya, politik bukan sekadar kontestasi lima tahunan untuk merebut kekuasaan, melainkan proses panjang dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. "Politik adalah kerja nilai. Jika kita ingin menjadi bagian dari masyarakat, kita harus hadir dalam setiap fase kehidupan mereka, bukan hanya saat kita membutuhkan suara mereka," tegas Rachmat Hidayat. Ia juga menyoroti pentingnya solidaritas global, merujuk pada pesan Bung Karno mengenai kemerdekaan Palestina. Baginya, isu kemanusiaan dan keberpihakan terhadap yang lemah (kaum marhaen) adalah inti dari politik yang dijalankannya. Dengan mengaitkan semangat Ramadan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, Rachmat berupaya membangun narasi bahwa politik yang ia bawa adalah politik yang berorientasi pada kemaslahatan publik. Implikasi Terhadap Pemilu 2029 Meskipun Pemilu 2029 masih berjarak beberapa tahun, langkah-langkah yang diambil oleh pimpinan PDIP NTB saat ini dapat dilihat sebagai upaya pemanasan mesin partai dan konsolidasi figur. Dalam tradisi partai kader, pengenalan tokoh secara dini di ruang publik merupakan bagian dari strategi untuk menjaga popularitas dan elektabilitas agar tetap stabil. Tafsir publik mengenai "branding" pasangan atau figur tertentu adalah hal yang lumrah dalam demokrasi. Namun, efektivitas dari baliho tersebut nantinya akan diuji melalui sejauh mana masyarakat merasa terwakili oleh pesan yang disampaikan. Apakah pesan tersebut berhasil membangun kedekatan emosional, atau hanya sekadar menjadi pemanis visual di jalanan? Data menunjukkan bahwa di NTB, popularitas tokoh yang sering muncul di ruang publik memiliki korelasi positif dengan tingkat keterpilihan, terutama jika tokoh tersebut mampu menunjukkan konsistensi dalam aksi-aksi sosial. Oleh karena itu, langkah Rachmat Hidayat untuk terus hadir di ruang publik melalui pesan-pesan moral diprediksi akan menjadi salah satu faktor kunci dalam peta pertarungan politik di NTB ke depan. Menjawab Tantangan Ruang Publik Menanggapi berbagai spekulasi mengenai kehadiran istrinya di baliho tersebut, Rachmat menegaskan bahwa hal itu merupakan cerminan dari dukungan keluarga terhadap visi sosial yang ia usung. Ia menghargai keberagaman tafsir di masyarakat sebagai bentuk dinamika demokrasi yang sehat. "Kami ingin hadir untuk menyampaikan pesan kebaikan. Ruang publik adalah ruang dialog. Kami menghormati setiap pandangan masyarakat, karena itulah esensi dari keterbukaan yang kami bangun," tambahnya. Ke depan, tantangan bagi Rachmat Hidayat dan PDIP NTB adalah bagaimana menjaga momentum ini agar tidak terdegradasi oleh isu-isu politik praktis yang sering kali bersifat memecah belah. Fokus pada isu-isu substantif seperti kesejahteraan rakyat, keadilan ekonomi, dan pendidikan akan menjadi penentu apakah "branding" yang dilakukan melalui baliho Ramadan ini akan berbuah dukungan elektoral yang signifikan di masa depan. Kesimpulan Baliho Ramadan Rachmat Hidayat dan Putu Selly Andayani adalah sebuah manifestasi dari komunikasi politik yang adaptif terhadap budaya lokal. Dengan menggabungkan simbol religiusitas, nilai-nilai Soekarnoisme, dan pendekatan personal, pasangan ini mencoba menempatkan diri sebagai aktor yang peduli terhadap dinamika sosial masyarakat NTB. Seiring berjalannya waktu, efektivitas langkah ini akan kembali kepada sejauh mana aksi nyata di lapangan dapat menopang citra yang dibangun di ruang publik. Politik memang bukan sekadar kata-kata, melainkan akumulasi dari keteladanan, kehadiran, dan keberpihakan yang konsisten kepada rakyat. Dengan menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk menguatkan narasi kemanusiaan, Rachmat Hidayat telah menetapkan standar baru dalam cara berkomunikasi dengan masyarakat Bumi Gora, menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan etis dalam berpolitik. Kehadiran baliho-baliho ini kini menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap visual NTB, sekaligus menjadi pengingat bagi para aktor politik lainnya bahwa di masa kini, pesan yang meneduhkan dan inklusif adalah mata uang politik yang paling berharga di mata masyarakat. Apakah strategi ini akan berlanjut pada langkah-langkah konkret lainnya? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti, panggung politik NTB telah mulai menghangat jauh sebelum hari pemilihan tiba. Post navigation Lalu Budi Suryata Resmi Nakhodai DPW PSI NTB Usai Terima Mandat Langsung dari Kaesang Pangarep