Terobosan Teknologi Tepat Guna KOMBUJA dalam Ekosistem Silvofisheries Inti dari inovasi yang dibawa oleh tim UNRAM ini adalah penggunaan teknologi KOMBUJA, sebuah akronim dari Kombinasi Bambu Jaring. Secara teknis, KOMBUJA dirancang sebagai wadah budidaya kepiting bakau yang memanfaatkan material lokal yang melimpah dan murah, yakni bambu, yang dipadukan dengan jaring tahan air. Desain ini memungkinkan sirkulasi air laut tetap terjaga secara alami tanpa harus mengubah bentang alam mangrove secara drastis. Pendekatan yang diterapkan oleh tim yang diketuai oleh Dewi Putri Lestari, bersama anggota Wastu Ayu Diamahesa dan Vici Handalusia Husni, adalah konsep silvofisheries. Metode ini merupakan sistem budidaya perikanan yang terintegrasi dengan penanaman dan pelestarian hutan bakau. Dalam sistem konvensional, pembukaan lahan untuk tambak sering kali menjadi penyebab utama penggundulan hutan mangrove yang berujung pada abrasi pantai dan hilangnya habitat berbagai spesies laut. Namun, dengan KOMBUJA, kepiting bakau dipelihara di sela-sela akar mangrove, sehingga fungsi ekologis mangrove sebagai penyaring polutan dan pelindung garis pantai tetap terjaga sepenuhnya. Penggunaan bambu sebagai kerangka utama memberikan keuntungan ganda. Selain ramah lingkungan karena bersifat biodegradable (dapat terurai secara alami), bambu juga memberikan fleksibilitas bagi para pembudidaya kecil yang memiliki keterbatasan modal. Struktur jaring yang digunakan dipastikan memiliki mata jaring yang sesuai agar kepiting tidak melarikan diri, namun tetap memberikan ruang bagi biota kecil lainnya untuk masuk sebagai sumber pakan alami tambahan. Implementasi Lapangan dan Pemberdayaan Kelompok Scylla Indah Jaya Program pengabdian ini menyasar Kelompok Budidaya Scylla Indah Jaya yang berlokasi di wilayah strategis Lembar, Lombok Barat. Wilayah ini dikenal memiliki potensi mangrove yang luas namun pemanfaatannya belum optimal secara ekonomi. Kehadiran tim UNRAM pada pertengahan Agustus 2026 ini memberikan angin segar bagi para nelayan dan pembudidaya setempat yang selama ini masih bergantung pada metode tangkap alam yang tidak menentu hasilnya. Dalam rangkaian kegiatan pendampingan, masyarakat tidak hanya diberikan bantuan fisik berupa unit KOMBUJA, tetapi juga dibekali dengan pengetahuan mendalam mengenai manajemen budidaya. Hal ini mencakup pemilihan bibit kepiting yang berkualitas, pengaturan pola pemberian pakan, hingga pemantauan kesehatan kepiting selama masa pembesaran. Edukasi mengenai pentingnya menjaga kerapatan pohon mangrove juga menjadi materi krusial, mengingat kesehatan ekosistem mangrove sangat menentukan laju pertumbuhan kepiting bakau (Scylla serrata). Dewi Putri Lestari menekankan bahwa keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. "KOMBUJA kami kembangkan sebagai teknologi yang memanfaatkan sumber daya lokal dan dapat diterapkan masyarakat secara mandiri. Kami ingin membuktikan bahwa produktivitas ekonomi bisa berjalan beriringan dengan fungsi ekologis mangrove," jelas Dewi dalam sesi sosialisasi kepada anggota kelompok pembudidaya. Data dan Konteks: Potensi Kepiting Bakau dan Tantangan Mangrove di NTB Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Pulau Lombok, memiliki garis pantai yang panjang dengan sebaran hutan mangrove yang cukup signifikan. Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar ekspor yang terus meningkat, terutama ke negara-negara seperti Tiongkok, Singapura, dan Jepang. Harga kepiting bakau di tingkat pengepul lokal berkisar antara Rp150.000 hingga Rp300.000 per kilogram, tergantung pada ukuran dan kualitasnya. Namun, data menunjukkan bahwa luas hutan mangrove di Indonesia, termasuk di NTB, terus mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan. Hilangnya mangrove tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga menurunkan populasi kepiting bakau di alam liar karena kehilangan tempat memijah dan berlindung. Oleh karena itu, transisi dari pola penangkapan liar ke pola budidaya terkendali seperti KOMBUJA menjadi sangat mendesak. Berdasarkan analisis teknis, penggunaan keramba sistem KOMBUJA di kawasan mangrove mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) kepiting hingga 80-90 persen dibandingkan dengan metode pelepasan terbuka di tambak tradisional yang sering terkendala predator dan kualitas air yang buruk. Selain itu, masa panen dapat lebih terukur, sehingga memberikan kepastian pendapatan bagi kelompok pembudidaya. Kontribusi Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Inisiatif Universitas Mataram melalui program ini merupakan implementasi nyata dari kontribusi akademisi terhadap agenda global SDGs. Terdapat beberapa poin utama SDGs yang disasar melalui inovasi KOMBUJA ini: SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Dengan memberikan teknologi budidaya yang efisien, program ini membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat pesisir di Lembar. Peningkatan kapasitas usaha kelompok Scylla Indah Jaya diharapkan mampu mengangkat kesejahteraan ekonomi anggota kelompok secara berkelanjutan. SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Mangrove merupakan penyerap karbon (carbon sink) yang sangat efektif. Dengan mempromosikan budidaya berbasis silvofisheries, masyarakat didorong untuk menjaga hutan mangrove agar tetap hidup, yang secara langsung berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global. SDG 14 (Ekosistem Laut) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan): Perlindungan kawasan pesisir melalui integrasi budidaya dan konservasi membantu menjaga keanekaragaman hayati laut. Akar mangrove yang terjaga akan tetap menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan, udang, dan moluska lainnya. UNRAM memposisikan diri bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai motor penggerak inovasi yang solutif bagi permasalahan di lapangan. Sinergi antara riset universitas dengan kebutuhan masyarakat pesisir menjadi kunci utama dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif. Analisis Implikasi dan Proyeksi Masa Depan Pengenalan KOMBUJA di Lembar diharapkan menjadi proyek percontohan (pilot project) yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lain di Indonesia. Keunggulan utama dari inovasi ini terletak pada kesederhanaannya. Banyak inovasi teknologi perikanan yang gagal di tingkat petani karena terlalu rumit atau memerlukan biaya operasional yang tinggi untuk energi listrik dan bahan kimia. KOMBUJA memutus rantai tersebut dengan mengandalkan kekuatan alam dan material organik. Secara jangka panjang, jika sistem KOMBUJA diterapkan secara luas, Indonesia dapat meningkatkan volume produksi kepiting bakau nasional tanpa harus merusak satu hektar pun hutan mangrove tambahan. Hal ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam pasar perikanan global yang kini semakin menuntut sertifikasi produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable seafood). Pihak universitas juga berharap agar pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan dapat melirik inovasi ini untuk dijadikan program bantuan rutin bagi nelayan pesisir. Dukungan kebijakan dalam bentuk zonasi wilayah pesisir yang melindungi kawasan silvofisheries akan memberikan kepastian hukum bagi para pembudidaya untuk terus mengelola lahan mereka tanpa rasa khawatir akan penggusuran atau alih fungsi lahan menjadi kawasan industri. Tanggapan Resmi dan Harapan Masyarakat Respon positif datang dari anggota Kelompok Scylla Indah Jaya. Para pembudidaya mengakui bahwa selama ini mereka sering mengalami kesulitan dalam memantau pertumbuhan kepiting jika hanya dilepas begitu saja di area mangrove yang luas. Dengan adanya wadah KOMBUJA, pemberian pakan menjadi lebih terfokus dan risiko kepiting dimangsa oleh predator seperti biawak atau burung air dapat diminimalisir secara signifikan. "Kami merasa sangat terbantu dengan kehadiran tim dari UNRAM. Teknologi ini terlihat sederhana tapi sangat menjawab masalah kami di lapangan. Kami jadi lebih semangat untuk menjaga mangrove karena sekarang mangrove ini adalah tempat kami mencari nafkah yang nyata," ungkap salah satu perwakilan kelompok pembudidaya. Penerapan KOMBUJA ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran vital dalam menjembatani kesenjangan antara teori ilmiah dan praktik di lapangan. Universitas Mataram menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan kelompok ini hingga mereka benar-benar mandiri secara finansial dan teknis. Dengan berakhirnya sosialisasi dan dimulainya fase implementasi penuh, mata kini tertuju pada efektivitas KOMBUJA dalam beberapa siklus panen ke depan. Keberhasilan di Lembar akan menjadi bukti nyata bahwa inovasi lokal yang berakar pada kearifan ekologis adalah kunci bagi masa depan pesisir Indonesia yang lebih sejahtera dan hijau. Kemandirian masyarakat pesisir yang didukung oleh sains tepat guna bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang dibangun di sepanjang pesisir Lombok Barat. Post navigation Gubernur NTB Jajaki Peluang Kerja Lulusan SMK dan Investasi Strategis Melalui Diplomasi Erat dengan Qatar UNRAM Perkuat Kapasitas KWT Lempenge, Dorong Budidaya Udang Vaname Berkelanjutan