Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) terus mengintensifkan upaya pembentukan karakter disiplin masyarakat melalui pendekatan edukatif kepada generasi termuda. Pada Jumat, 28 Agustus 2026, jajaran Ditlantas Polda NTB menggelar kegiatan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Lalu Lintas yang menyasar siswa-siswi Taman Kanak-Kanak (TK) Don Bosco di Mataram. Program ini dirancang untuk memperkenalkan prinsip-prinsip dasar keselamatan jalan raya serta perlindungan diri kepada anak-anak dalam suasana yang interaktif, komunikatif, dan edukatif.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang Polri untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Nusa Tenggara Barat melalui pendekatan preventif. Berdasarkan data nasional, kecelakaan lalu lintas sering kali melibatkan usia produktif, dan banyak pelanggaran bermula dari kurangnya pemahaman tentang etika berlalu lintas yang tidak ditanamkan sejak usia dini. Oleh karena itu, edukasi di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan TK dinilai menjadi fondasi krusial dalam menciptakan ekosistem jalan raya yang aman atau Kamseltibcarlantas (Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas).

Kronologi dan Metodologi Edukasi Interaktif

Kegiatan dimulai tepat pada pukul 08.30 WITA di lingkungan sekolah TK Don Bosco. Personel dari Ditlantas Polda NTB hadir dengan pendekatan yang ramah anak, melepaskan kesan kaku untuk membangun kedekatan emosional dengan para siswa. Suasana ceria menyelimuti area sekolah saat petugas mulai mengajak anak-anak bernyanyi dan bermain sambil menyisipkan materi-materi penting tentang aturan di jalan raya.

Metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini mengedepankan aspek visual dan praktik langsung. Petugas membawa alat peraga berupa miniatur rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan untuk memudahkan anak-anak mengenali simbol-simbol yang sering mereka temui saat bepergian bersama orang tua. Penggunaan bahasa yang sederhana menjadi kunci utama agar konsep-konsep teknis seperti "Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas" (APIL) dapat dicerna dengan baik oleh anak-anak berusia 4 hingga 6 tahun tersebut.

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol. Mohammad Kholid, S.I.K., M.M., dalam keterangan resminya menjelaskan bahwa pemilihan TK Don Bosco sebagai salah satu sasaran program ini merupakan bagian dari jadwal rutin "Police Goes to School" yang dilaksanakan oleh Ditlantas. "Kami ingin memastikan bahwa setiap anak di NTB memiliki pengetahuan dasar tentang cara melindungi diri mereka di jalan raya. Polisi memberikan pemahaman kepada siswa-siswi TK Don Bosco terkait tata tertib lalu lintas dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak," ujar Kombes Kholid.

Pengenalan Rambu, Marka Jalan, dan Peran Petugas

Dalam sesi inti, para personel Ditlantas memberikan penjelasan mendalam mengenai fungsi lampu lalu lintas (merah, kuning, hijau) atau APIL. Anak-anak diajarkan bahwa lampu merah bukan sekadar tanda berhenti, melainkan instruksi keselamatan yang melindungi semua pengguna jalan dari benturan di persimpangan. Selain itu, pengenalan marka jalan seperti zebra cross ditekankan sebagai satu-satunya tempat yang paling aman bagi pejalan kaki untuk menyeberang.

Tak hanya soal infrastruktur jalan, polisi juga memperkenalkan peran nyata petugas lalu lintas. Melalui demonstrasi gerakan pengaturan lalu lintas, siswa diajak memahami bahwa kehadiran polisi di jalan bertujuan untuk membantu masyarakat, bukan untuk ditakuti. Hal ini juga bertujuan untuk membangun citra positif Polri di mata anak-anak sebagai sahabat masyarakat yang bertugas menjaga ketertiban.

Edukasi Safety Riding dan Penggunaan Kendaraan Listrik

Salah satu poin penting yang ditekankan dalam pertemuan tersebut adalah teori singkat mengenai safety riding, khususnya bagi anak-anak yang setiap hari diantar-jemput menggunakan sepeda motor. Petugas memberikan simulasi posisi duduk yang benar saat menjadi penumpang, yakni harus menghadap ke depan dan berpegangan erat pada pengendara atau bagian motor yang aman.

Polda NTB juga memberikan perhatian khusus pada penggunaan helm standar nasional Indonesia (SNI) bagi anak-anak. Sering kali, orang tua abai memakaikan helm kepada anak karena jarak tempuh yang dekat, padahal risiko cedera kepala tetap tinggi dalam setiap perjalanan. "Anak-anak diberikan pemahaman tentang keselamatan saat menggunakan sepeda motor, termasuk posisi sebagai penumpang. Edukasi seperti ini diharapkan bisa ikut membentuk budaya tertib berlalu lintas sejak usia dini," tambah Kombes Kholid.

Menanggapi tren penggunaan sepeda listrik yang kian marak di kawasan permukiman dan jalan raya di Mataram, Ditlantas Polda NTB turut menyisipkan imbauan terkait kendaraan tersebut. Polisi mengingatkan bahwa sepeda listrik memiliki aturan penggunaan tertentu, termasuk batasan usia pengguna dan kewajiban menggunakan perlengkapan keselamatan. Pihak sekolah dan orang tua diminta untuk lebih selektif dan mengawasi anak-anak agar tidak menggunakan sepeda listrik di jalan raya yang padat kendaraan bermotor, mengingat risiko fatalitas yang cukup besar.

Ditlantas Polda NTB Edukasi Anak TK Don Bosco Kenali Rambu, Hindari Bullying

Melampaui Isu Lalu Lintas: Kampanye "Rise and Speak" dan Anti-Bullying

Selain fokus pada keselamatan jalan, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk memberikan edukasi mengenai isu-isu sosial yang mengancam keamanan anak, seperti perundungan (bullying) dan kekerasan seksual. Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap perlindungan anak, Polda NTB membawa pesan kuat bertajuk "Rise and Speak" (Bangkit dan Bicara).

Petugas mengajak siswa untuk memiliki keberanian melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang mereka alami atau lihat, baik itu kekerasan fisik maupun verbal. Pesan ini ditujukan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga kepada guru dan orang tua yang hadir mendampingi. Polisi menekankan bahwa lingkungan sekolah harus menjadi zona bebas bullying.

"Kami juga mengingatkan anak-anak, guru, dan orang tua agar bersama-sama mencegah bullying serta kekerasan seksual. Anak perlu mendapat ruang aman untuk berbicara ketika mengalami atau melihat tindakan yang tidak semestinya," tutur Kabid Humas. Edukasi ini dianggap sangat relevan mengingat maraknya penggunaan gawai yang juga membuka peluang terjadinya perundungan di dunia maya (cyber bullying) sejak usia sekolah dasar.

Selain itu, penggunaan odong-odong sebagai sarana hiburan anak-anak juga menjadi poin sorotan. Polisi mengingatkan bahwa odong-odong yang beroperasi di jalan raya sering kali tidak memenuhi standar keselamatan kendaraan bermotor dan sangat berbahaya jika terjadi kecelakaan. Orang tua diminta untuk lebih bijak dalam memilih sarana hiburan bagi buah hati mereka.

Dampak Psikologis dan Implikasi Jangka Panjang

Secara psikologis, edukasi yang diberikan pada usia dini memiliki efek "imprinting" yang lebih kuat dibandingkan edukasi pada orang dewasa. Anak-anak yang memahami pentingnya helm atau lampu merah cenderung akan menjadi pengingat atau "polisi kecil" bagi orang tua mereka sendiri di rumah. Tidak jarang, anak-anak akan menegur orang tua mereka jika melanggar lalu lintas setelah mendapatkan edukasi dari kepolisian.

Dari perspektif data, inisiatif seperti yang dilakukan Ditlantas Polda NTB ini sangat krusial. Berdasarkan laporan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri dalam beberapa tahun terakhir, angka kecelakaan yang melibatkan anak-anak di bawah umur masih menjadi tantangan besar. Dengan menanamkan kesadaran sejak dini, diharapkan angka fatalitas kecelakaan dapat ditekan secara signifikan dalam satu dekade mendatang saat anak-anak ini mulai memasuki usia legal untuk berkendara.

Selain itu, kegiatan interaktif melalui sesi tanya jawab yang digelar di akhir acara menunjukkan antusiasme yang tinggi dari siswa TK Don Bosco. Banyak dari mereka yang bertanya dengan polos namun kritis mengenai situasi yang mereka temui di jalan, seperti mengapa masih ada pengendara yang tidak memakai helm atau mengapa mobil harus berhenti saat lampu merah. Jawaban-jawaban yang diberikan petugas secara logis membantu membentuk pola pikir kritis anak terhadap hukum dan ketertiban.

Komitmen Polda NTB dalam Menciptakan Kamseltibcarlantas

Kombes Pol. Mohammad Kholid menutup keterangannya dengan harapan besar agar pesan-pesan keselamatan ini tidak berhenti di gerbang sekolah. Sinergi antara kepolisian, pihak sekolah, dan orang tua adalah kunci keberhasilan transformasi budaya berlalu lintas di Nusa Tenggara Barat.

"Target kami bukan sekadar anak-anak mengenal rambu lalu lintas, tetapi tumbuh kesadaran untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain. Dengan edukasi sejak dini, kami berharap pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas bisa ditekan serta tercipta Kamseltibcarlantas yang berkeselamatan," pungkasnya.

Implementasi program Dikmas Lantas secara konsisten di berbagai sekolah di NTB diharapkan mampu mengubah wajah lalu lintas daerah menjadi lebih tertib dan beradab. Kegiatan di TK Don Bosco ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa Polri tidak hanya bekerja melalui penegakan hukum di lapangan, tetapi juga melalui pendekatan preventif dan edukatif yang menyentuh akar rumput masyarakat. Dengan membangun fondasi kesadaran sejak dini, masa depan jalan raya di Indonesia, khususnya di NTB, diharapkan menjadi ruang yang jauh lebih aman bagi semua orang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *