Prestasi gemilang di bidang kebudayaan kembali ditorehkan oleh generasi muda Kabupaten Lombok Barat. Silvia Yohana, seorang siswi kelas IX dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Gerung, berhasil mengukuhkan posisinya sebagai yang terbaik dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kabupaten. Silvia sukses meraih Juara I pada kategori pidato Bahasa Sasak, sebuah pencapaian yang tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga menjadi sinyal positif bagi upaya pelestarian bahasa daerah di kalangan generasi Z. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Barat melalui Bidang Kebudayaan ini merupakan bagian dari program nasional revitalisasi bahasa daerah. Kemenangan Silvia menjadi bukti nyata bahwa di tengah gempuran budaya global dan digitalisasi, kecintaan serta penguasaan terhadap bahasa ibu masih tumbuh subur di sanubari para pelajar di Bumi Patut Patuh Patju. Apresiasi Sekolah dan Motivasi Siswa Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kerja kerasnya, pihak sekolah memberikan apresiasi tinggi kepada Silvia Yohana. Kepala SMPN 2 Gerung, Hj. Rohanah, secara langsung menyerahkan hadiah serta uang pembinaan atau reward sebesar Rp500.000 kepada Silvia di hadapan para guru dan siswa lainnya. Pemberian penghargaan ini dimaksudkan untuk memberikan motivasi tambahan serta menunjukkan bahwa sekolah memiliki komitmen penuh dalam mendukung pengembangan bakat non-akademik, khususnya yang berkaitan dengan pelestarian nilai-nilai lokal. Dalam pernyataannya, Silvia Yohana mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian tersebut. Baginya, kemenangan ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah titik awal untuk mengasah kemampuan lebih dalam lagi. Silvia mengakui bahwa berpidato menggunakan Bahasa Sasak memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam pemilihan diksi yang tepat dan penguasaan intonasi yang sesuai dengan tata krama budaya Sasak. "Prestasi ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan berpidato menggunakan Bahasa Sasak. Saya berharap ke depan bisa mendapatkan pendampingan yang lebih intensif agar dapat bersaing dan kembali meraih prestasi di tingkat provinsi hingga nasional," ujar Silvia dengan penuh optimisme. Mengenal Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dan Revitalisasi Bahasa Daerah Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) merupakan salah satu platform utama dalam kerangka kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-17 yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program ini berfokus pada Revitalisasi Bahasa Daerah dengan tujuan utama agar para tunas muda, yakni siswa SD dan SMP, memiliki kecintaan dan kebanggaan dalam menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Di Kabupaten Lombok Barat, implementasi FTBI mencakup berbagai kategori lomba, mulai dari menulis cerita pendek, membaca puisi, berpidato, hingga komedi tunggal (stand-up comedy), yang semuanya diwajibkan menggunakan Bahasa Sasak. Langkah ini diambil mengingat Bahasa Sasak bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas budaya yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal, etika, dan sejarah masyarakat Lombok. Data dari Badan Bahasa menunjukkan bahwa banyak bahasa daerah di Indonesia mulai mengalami penurunan jumlah penutur aktif, terutama di kalangan remaja. Oleh karena itu, ajang seperti FTBI yang dimenangkan oleh Silvia Yohana menjadi instrumen vital untuk memastikan Bahasa Sasak tetap hidup, relevan, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kronologi dan Persiapan Menuju Kemenangan Keberhasilan Silvia tidak datang secara instan. Sebelum melaju ke tingkat kabupaten, ia harus melewati proses seleksi internal di sekolah yang cukup ketat. Di bawah bimbingan guru Bahasa Daerah dan guru pembimbing seni di SMPN 2 Gerung, Silvia menjalani serangkaian latihan intensif. Latihan tersebut mencakup penguasaan materi pidato yang bertemakan kebudayaan, teknik vokal, ekspresi wajah, hingga pemahaman mendalam mengenai struktur Bahasa Sasak yang baik dan benar (alus, madya, dan kasar). Pada hari pelaksanaan lomba yang digelar oleh Dikbud Lombok Barat, Silvia bersaing dengan puluhan peserta terbaik dari berbagai SMP di seluruh penjuru kabupaten. Penampilan Silvia dinilai unggul oleh dewan juri karena kemampuannya dalam membawakan materi pidato dengan artikulasi yang sangat jelas, penguasaan panggung yang tenang, serta kemampuan retorika yang mampu memukau audiens. Kemenangan ini secara otomatis memposisikan Silvia sebagai salah satu delegasi potensial yang akan mewakili Kabupaten Lombok Barat di ajang FTBI tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pentingnya Pendampingan Berkelanjutan dan Kolaborasi Strategis Kepala SMPN 2 Gerung, Hj. Rohanah, menekankan bahwa prestasi yang diraih oleh siswinya adalah cerminan dari potensi besar yang dimiliki anak didik apabila diberikan ruang dan dukungan yang tepat. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa pembinaan di tingkat sekolah saja tidaklah cukup. Diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara lembaga pendidikan dengan instansi terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. "Kami melihat bahwa siswa-siswi kita memiliki bakat yang luar biasa. Namun, untuk mencapai level profesional atau tingkat nasional, pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan dan terstruktur. Kolaborasi dengan pihak Dinas sangat diperlukan agar standar pembinaan yang diterima siswa bisa lebih merata dan berkualitas," kata Hj. Rohanah. Ia juga menambahkan bahwa sekolah terus berupaya menciptakan ekosistem belajar yang menghargai keberagaman bakat. Prestasi di bidang bahasa daerah dianggap sama pentingnya dengan prestasi di bidang sains atau olahraga, karena berkaitan langsung dengan pembentukan karakter dan identitas nasional siswa. Mendorong Pemerataan Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Hj. Rohanah dalam kesempatan tersebut adalah usulan mengenai pemerataan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). GSMS merupakan program di mana para seniman profesional datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan dan pendampingan langsung kepada siswa dalam berbagai cabang seni dan budaya. Hj. Rohanah menilai bahwa jika program GSMS dapat menjangkau lebih banyak sekolah secara merata, termasuk SMPN 2 Gerung secara lebih intensif, maka potensi-potensi terpendam dari siswa akan lebih mudah ditemukan dan diasah. Seniman sebagai praktisi memiliki kedalaman pemahaman teknis dan filosofis yang dapat memperkaya wawasan siswa melampaui kurikulum formal. "Kami sangat berharap ke depan ada program pendampingan yang berkolaborasi langsung dengan dinas, salah satunya melalui GSMS yang lebih merata. Dengan adanya seniman atau ahli bahasa yang mendampingi siswa, mereka tidak hanya belajar teknis bicara, tetapi juga mendalami jiwa dari budaya Sasak itu sendiri," tambahnya. Analisis Fakta: Implikasi Pelestarian Bahasa Daerah bagi Generasi Muda Keberhasilan penyelenggaraan FTBI dan kemenangan siswa seperti Silvia Yohana memiliki implikasi yang luas bagi ketahanan budaya daerah. Secara sosiolinguistik, penggunaan bahasa daerah dalam kompetisi bergengsi meningkatkan "prestise" atau gengsi bahasa tersebut di mata anak muda. Selama ini, terdapat persepsi keliru bahwa menggunakan bahasa daerah dianggap ketinggalan zaman dibandingkan bahasa asing atau bahasa Indonesia gaul. Dengan adanya pengakuan dalam bentuk gelar juara dan penghargaan dari sekolah, persepsi tersebut perlahan bergeser. Siswa mulai melihat bahwa penguasaan bahasa ibu adalah sebuah keahlian khusus yang bernilai tinggi. Selain itu, pidato dalam Bahasa Sasak melatih siswa untuk berpikir secara sistematis dan santun, mengingat struktur bahasa daerah seringkali berkaitan erat dengan strata sosial dan etika berkomunikasi (tata krama). Secara administratif, keberhasilan Silvia juga memberikan poin positif bagi rapor pendidikan SMPN 2 Gerung dan prestasi kolektif Dinas Dikbud Lombok Barat dalam bidang kebudayaan. Ini membuktikan bahwa alokasi anggaran dan perhatian pemerintah daerah terhadap urusan kebudayaan membuahkan hasil yang nyata di lapangan. Tantangan dan Harapan Menuju Tingkat Provinsi Meskipun telah meraih Juara I di tingkat kabupaten, tantangan yang lebih besar menanti Silvia Yohana di tingkat provinsi. Kompetisi di level NTB dipastikan akan lebih kompetitif, mengingat peserta yang hadir adalah para juara dari kabupaten dan kota lain di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Dinas Dikbud Lombok Barat diharapkan dapat memberikan pembinaan khusus bagi para pemenang tingkat kabupaten sebelum mereka dikirim ke ajang provinsi. Pendampingan ini bisa berupa coaching clinic yang melibatkan pakar bahasa, praktisi komunikasi, dan budayawan senior Sasak. Di sisi lain, Silvia tetap berkomitmen untuk terus berlatih. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekolah menjadi faktor kunci yang akan menentukan performanya di masa mendatang. Harapan besar tertumpang di pundak Silvia agar ia mampu membawa harum nama Lombok Barat dan menjadi inspirasi bagi ribuan siswa lainnya untuk tidak malu menggunakan bahasa ibu mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulan: Bahasa Sasak sebagai Identitas dan Kebanggaan Prestasi Silvia Yohana di ajang FTBI kategori pidato Bahasa Sasak tahun ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pelestarian budaya adalah tugas kolektif. Sekolah berperan sebagai persemaian bakat, pemerintah sebagai fasilitator dan penyedia kebijakan, sementara siswa adalah ujung tombak pelestari itu sendiri. Hadiah Rp500.000 yang diberikan oleh Hj. Rohanah mungkin nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan nilai luhur kebudayaan yang diperjuangkan. Namun, simbolisme dari penghargaan tersebut sangat kuat: bahwa prestasi dalam menjaga akar budaya sangat dihargai oleh institusi pendidikan. Melalui ajang seperti FTBI, diharapkan tidak ada lagi bahasa daerah yang "mati di rumah sendiri". Generasi muda seperti Silvia Yohana telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu yang kaya akan tradisi dengan masa depan yang penuh dengan inovasi, tanpa harus kehilangan identitas asli sebagai orang Sasak. Langkah Silvia menuju tingkat provinsi dan nasional kini dinantikan oleh masyarakat Lombok Barat sebagai representasi dari semangat tunas-tunas muda dalam menjaga marwah bahasa ibu. Post navigation Perkuat Regenerasi Atlet dari SD, Unram Bekali Guru PJOK Mataram Ilmu Cabor Cricket