Dusun Aik Ampat, Desa Pekat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, kini menampilkan pemandangan yang mencolok, jauh dari citra pedesaan pertanian tradisional. Deretan rumah permanen berdinding kokoh berdiri megah di sepanjang jalan, dengan kendaraan roda empat terparkir rapi di halaman-halaman yang terawat. Kemakmuran yang terpancar ini bukan sekadar anomali, melainkan buah nyata dari revolusi ekonomi yang dipicu oleh komoditas tebu. Di lereng Gunung Tambora yang perkasa, tebu telah mengubah lanskap sosial-ekonomi masyarakat secara fundamental, menawarkan harapan baru bagi ribuan keluarga. Sejarah dan Latar Belakang Pertanian di Dompu Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, secara historis dikenal sebagai salah satu lumbung jagung nasional. Iklim kering dan lahan yang luas di Pulau Sumbawa memang sangat mendukung budidaya jagung, yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan utama perekonomian sebagian besar masyarakat pedesaan. Namun, ketergantungan pada satu komoditas sering kali membawa risiko, terutama terkait fluktuasi harga global dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Sebelum era tebu, Dusun Aik Ampat dan Desa Pekat umumnya mengikuti pola ini, di mana mayoritas warga menggantungkan hidup pada panen jagung yang siklusnya membutuhkan modal tanam ulang setiap musim. Gunung Tambora, meskipun dikenal dengan letusan dahsyatnya di masa lalu, juga merupakan berkah bagi kesuburan tanah di sekitarnya. Abu vulkanik yang kaya mineral telah menciptakan lahan pertanian yang sangat produktif, memungkinkan berbagai jenis tanaman tumbuh subur. Namun, potensi ini belum sepenuhnya tergali hingga datangnya "manisnya" tebu. Era Baru: Pergeseran Paradigma ke Tebu Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah pergeseran dramatis mulai terjadi. Petani di Desa Pekat, yang awalnya adalah pembudidaya jagung, mulai menyadari bahwa kalkulasi bisnis untuk tebu jauh lebih menjanjikan. Kepala Desa Pekat, Sahlan, menjadi salah satu saksi utama dan penggerak perubahan ini. "Petani melihat sendiri manfaatnya di lapangan. Tebu cukup sekali tanam, lalu bisa dipanen beberapa kali. Efisiensi inilah yang sebenarnya membuat roda ekonomi masyarakat melesat," ujarnya dengan optimis. Perubahan ini didorong oleh beberapa faktor ekonomi dan agronomis kunci: Siklus Panen Berulang (Ratoon Cane): Berbeda dengan jagung yang memerlukan penanaman benih baru dan pengolahan tanah intensif setiap musim, tebu dapat dipanen berulang kali dari satu kali penanaman. Sistem ratoon (keprasan) memungkinkan petani memanen tebu hingga 3-5 kali, bahkan lebih, dari satu siklus tanam awal. Ini secara drastis mengurangi biaya operasional untuk benih, tenaga kerja pengolahan tanah, dan waktu penanaman. Biaya Perawatan Lebih Rendah: Karakteristik tanaman tebu yang relatif tangguh membuatnya tidak membutuhkan perawatan se-intensif jagung. Tebu lebih tahan terhadap fluktuasi cuaca ekstrem, termasuk periode kekeringan singkat, dibandingkan jagung yang lebih sensitif. Ini menekan biaya pemupukan, pengendalian hama, dan irigasi yang biasanya tinggi pada budidaya jagung. Harga Jual yang Stabil dan Permintaan Tinggi: Industri gula nasional membutuhkan pasokan tebu yang berkelanjutan. Kemitraan dengan pabrik gula besar seperti PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) memberikan kepastian pasar dan harga yang relatif stabil bagi petani, mengurangi risiko kerugian akibat volatilitas harga komoditas pangan seperti jagung. Skala Ekonomi: Luasnya lahan yang tersedia di Pekat dan sekitarnya memungkinkan budidaya tebu dalam skala besar, menarik investasi dan memfasilitasi logistik yang efisien. Menurut data yang dihimpun dari pengamatan lapangan, pendapatan rata-rata petani tebu per hektar dapat meningkat hingga 50-70% dibandingkan dengan budidaya jagung, terutama setelah memperhitungkan efisiensi biaya produksi dari sistem ratoon. Investasi awal yang sedikit lebih tinggi untuk penanaman tebu cepat tertutup oleh keuntungan jangka panjang dan biaya operasional yang lebih rendah. Transformasi Sosial Ekonomi di Aik Ampat Dusun Aik Ampat menjadi contoh paling nyata dari keberhasilan ini. Sekitar 99 persen kepala keluarga di dusun ini kini secara penuh menggantungkan hidupnya sebagai petani tebu. Dusun ini menyimpan cerita historis yang kuat, di mana mayoritas warganya merupakan keturunan perantau asal daerah Aik Ampat di Pulau Lombok yang datang puluhan tahun silam. Mereka adalah generasi pertama yang berjuang membuka lahan di tengah keterbatasan, dengan rumah-rumah sederhana sebagai tempat berlindung. Memasuki generasi ketiga, perjuangan itu kini telah membuahkan hasil manis. Bangunan rumah sederhana masa lalu kini telah berganti menjadi rumah-rumah batu yang permanen dan modern. Kendaraan roda empat, yang sebelumnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan di pedesaan, kini menjadi pemandangan lumrah. Peningkatan kualitas hidup ini tidak hanya terlihat dari aset fisik, tetapi juga dari peningkatan akses pendidikan, kesehatan, dan kemampuan masyarakat untuk berinvestasi pada masa depan. Anak-anak petani kini memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengenyam pendidikan tinggi, membuka peluang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dicapai. Keberhasilan ini tidak terlepas dari ketersediaan infrastruktur air yang memadai. Keberadaan DAM Ombo Tonda adalah urat nadi utama pertanian di Desa Pekat. Pasokan air yang stabil sepanjang tahun memungkinkan para petani tetap produktif mengelola lahan tebu tanpa perlu cemas akan ancaman kekeringan, yang merupakan momok bagi pertanian di wilayah kering lainnya. DAM Ombo Tonda tidak hanya mengairi lahan tebu, tetapi juga mendukung keberlanjutan komoditas lain, menjamin diversifikasi dan ketahanan pangan lokal. Strategi Diversifikasi Pangan dan Visi Jangka Panjang Meskipun tebu tengah menjadi primadona, Pemerintah Desa Pekat di bawah kepemimpinan Sahlan tidak serta merta meninggalkan komoditas lama. Desa ini nyatanya masih memegang predikat sebagai produsen jagung terbesar di tingkat Kecamatan Pekat. Di samping itu, petani juga mengombinasikan lahan mereka untuk menanam padi, tembakau, sayur-sayuran, hingga tanaman hortikultura. Pendekatan ini menunjukkan kebijaksanaan untuk tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang, menjaga ketahanan pangan lokal, dan mitigasi risiko fluktuasi harga komoditas tunggal. Pemerintah Desa Pekat kini melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan momentum kesejahteraan ini untuk memperkenalkan program diversifikasi pangan yang lebih ambisius. Warga mulai didorong menanam pohon buah-buahan produktif bernilai jual tinggi seperti durian, manggis, dan rambutan di lahan-lahan mereka. Program ini tidak hanya bertujuan untuk menambah sumber pendapatan petani tetapi juga untuk menciptakan identitas baru bagi Desa Pekat. "Kalau sekarang orang mengenal Pekat karena tebu dan jagungnya, ke depan kami bermimpi dan sedang menyiapkan desa ini agar dikenal juga sebagai daerah penghasil buah-buahan bernilai jual tinggi," tutur Sahlan dengan optimis. Visi ini mencerminkan pemikiran strategis untuk membangun ekonomi pedesaan yang lebih tangguh, berorientasi pasar, dan berkelanjutan. Dengan dukungan dari dinas pertanian daerah dan penyuluhan yang efektif, diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, kebun-kebun buah ini akan mulai produktif dan menambah daftar komoditas unggulan Pekat. Tantangan Infrastruktur dan Harapan Kemitraan Di tengah manisnya keberhasilan, tantangan tetap ada. Salah satu yang terbesar adalah pemeliharaan dan pengembangan jalan logistik. Meskipun tahun lalu Pemerintah Desa Pekat berhasil membuka empat ruas jalan usaha tani baru demi mempermudah jalur distribusi panen tebu menuju jalan utama, pengerjaan fasilitas pendukung krusial seperti gorong-gorong dan jembatan penghubung kecil masih terhambat dana. Menyusutnya anggaran dana desa, yang seringkali dialokasikan untuk prioritas lain, membuat proyek-proyek infrastruktur skala kecil namun vital ini tertunda. Jalan usaha tani yang baik sangat krusial untuk efisiensi logistik. Kerusakan jalan, minimnya gorong-gorong, atau jembatan yang tidak memadai dapat menghambat akses truk pengangkut, meningkatkan biaya transportasi, dan bahkan merusak hasil panen. Ini pada akhirnya mengurangi profitabilitas petani dan memperlambat perputaran ekonomi. Terkait hal ini, Sahlan berharap ada intervensi dan kepedulian berkelanjutan dari pihak korporasi, khususnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), perusahaan produsen gula yang beroperasi di wilayah tersebut. "Kami sangat menghargai kemitraan yang telah terjalin baik. Dukungan CSR untuk infrastruktur dasar seperti gorong-gorong dan jembatan kecil akan sangat membantu kelancaran distribusi hasil panen dan keberlanjutan ekonomi petani," tambah Sahlan, menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah desa, petani, dan sektor swasta. Sejauh ini, hubungan kemitraan bisnis antara petani, perusahaan, pemerintah daerah, dan para wakil rakyat diakui berjalan dengan sangat harmonis, menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang berkelanjutan. Efek Domino dan Pertumbuhan Regional yang Luas Manisnya keuntungan tebu di Desa Pekat kini mulai memicu efek domino ke wilayah sekitarnya. Keberhasilan Pekat menjadi model inspiratif bagi desa-desa tetangga. Sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat kini dilaporkan mulai masif mengadopsi budidaya tebu sebagai alternatif komoditas unggulan baru. Beberapa desa yang kini ikut tumbuh menjadi basis hijau perkebunan tebu di antaranya Desa Nangamiro, Desa Calabai, Desa Sorinomo, Desa Doropeti, Desa Kadindi Barat & Kadindi Timur, serta Desa Beringin Jaya. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada Pekat, tetapi juga mencerminkan potensi besar Pulau Sumbawa secara keseluruhan. Didukung dengan karakteristik ketersediaan lahan luas serta pengembangan jaringan irigasi yang terus diperluas oleh pemerintah daerah, Kecamatan Pekat kini resmi bertransformasi menjadi salah satu episentrum pertumbuhan industri tebu paling progresif di Kabupaten Dompu. Pertumbuhan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan peningkatan investasi di sektor pengolahan dan peningkatan kapasitas produksi. Analisis Implikasi dan Keberlanjutan Ekonomi Pedesaan Keberhasilan Desa Pekat mempertegas satu teori ekonomi pedesaan yang fundamental: ketika sektor pertanian hulu digarap dengan tepat, maka kesejahteraan masyarakat di hilir akan tumbuh bersamanya. Investasi pada komoditas unggulan yang efisien dan memiliki pasar jelas, didukung oleh infrastruktur yang memadai dan kemitraan strategis, dapat menjadi katalisator perubahan sosial-ekonomi yang masif. Namun, keberlanjutan model ini juga membutuhkan perhatian pada beberapa aspek. Diversifikasi pangan yang digagas oleh Pemerintah Desa Pekat adalah langkah bijak untuk mengurangi risiko monokultur dan memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Fluktuasi harga gula global, tantangan perubahan iklim, serta kebutuhan akan praktik pertanian berkelanjutan (misalnya, pengelolaan air yang efisien, penggunaan pupuk dan pestisida yang bertanggung jawab) akan menjadi agenda penting di masa depan. Peran pemerintah daerah tidak hanya sebatas penyediaan infrastruktur irigasi, tetapi juga dalam mendukung riset dan pengembangan varietas tebu yang lebih unggul, menyediakan penyuluhan pertanian modern, dan memfasilitasi akses ke pembiayaan bagi petani. Kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan—petani, pemerintah desa, pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta—akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa "manisnya tebu" di Dompu dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi mendatang. Transformasi Desa Pekat adalah bukti nyata bahwa dengan visi yang tepat dan kerja keras, kemakmuran dapat tumbuh bahkan di lereng gunung yang terpencil sekalipun. Post navigation Kapolda NTB Tekankan Profesionalisme dan Integritas dalam Kunjungan Kerja Strategis ke Polres Dompu Transformasi Ekonomi Desa Tambora: Tebu Meretas Jalan Baru di Tengah Tantangan Infrastruktur