DOMPU – Lebih dari satu dekade sejak pertama kali diperkenalkan, tanaman tebu telah bertransformasi dari sekadar komoditas introduksi menjadi pilar utama penopang ekonomi bagi masyarakat Desa Kadindi Barat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Dengan luasan lahan yang kini mencapai sekitar 150 hektare, komoditas berbatang manis ini tidak hanya mengubah lanskap pertanian lokal, tetapi juga secara fundamental memperbaiki taraf hidup warga, meskipun masih menghadapi sejumlah tantangan klasik terkait infrastruktur dan dinamika sosial baru. Kilas Balik Sejarah: Dari Uji Coba Menuju Dominasi Perjalanan tebu di Kadindi Barat dimulai sekitar tahun 2013 atau 2014. Pada masa itu, Desa Kadindi Barat bersama dengan Desa Kadindi yang bertetangga, ditunjuk sebagai kawasan inti penyedia bibit tebu untuk seluruh wilayah Kecamatan Pekat. Inisiatif ini merupakan bagian dari program pemerintah daerah yang melihat potensi besar pengembangan komoditas tebu di tanah Dompu, khususnya di wilayah yang memiliki karakteristik iklim dan tanah yang cocok. Ketersediaan air yang memadai pada fase awal pengembangan menjadi faktor krusial yang mendukung pertumbuhan tanaman tebu, memberikan keyakinan bagi masyarakat untuk mulai bereksperimen dengan komoditas ini. Sebelum adopsi tebu secara luas, mayoritas petani di Kadindi Barat sangat bergantung pada komoditas musiman seperti jagung. Meskipun jagung memberikan pendapatan, sifatnya yang musiman seringkali menimbulkan ketidakpastian, terutama saat musim paceklik atau fluktuasi harga pasar. Kondisi ini acapkali menjebak warga dalam lingkaran ketergantungan pada pinjaman ilegal atau rentenir dengan bunga tinggi, yang semakin memperburuk kondisi ekonomi mereka. Pengenalan tebu, dengan siklus tanam yang lebih panjang dan kepastian pasar yang relatif stabil, menawarkan alternatif yang menarik dan menjanjikan. Irawandi, Kepala Desa Kadindi Barat, menjelaskan bahwa pergeseran pilihan warga ke tanaman tebu didasari oleh pertimbangan rasional dan perhitungan usaha tani yang matang. "Dibandingkan dengan jagung, tebu menawarkan perawatan yang relatif tidak intensif, sehingga tenaga kerja bisa dialokasikan untuk aktivitas lain. Yang paling penting, tingkat kepastian pasar dari pabrik pengolahan seperti PT Sukses Mantap Sejahtera jauh lebih jelas, mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga yang sering kami alami dengan jagung," ujar Irawandi dalam sebuah kesempatan wawancara. Selain itu, kualitas tebu dari wilayah ini, terutama tingkat rendemennya yang kompetitif, juga menjadi daya tarik utama bagi petani dan pabrik. Rendemen tebu Kadindi Barat bahkan diklaim mampu bersaing dengan daerah penghasil tebu utama lainnya, seringkali mencapai angka di atas rata-rata nasional. Transformasi Ekonomi dan Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat Perkembangan pesat pertanian tebu, yang kini bersanding harmonis dengan jagung dan tanaman hortikultura, terbukti membawa perubahan signifikan terhadap taraf hidup masyarakat Kadindi Barat. Irawandi menggambarkan peningkatan ekonomi warga ini secara metaforis, "seperti anak sekolah yang naik tingkat dari kelas 6 SD ke kelas 2 SMP." Metafora ini secara lugas menggambarkan lompatan kualitatif dalam pendapatan dan kesejahteraan yang dialami warga. Data internal desa, meskipun belum dipublikasikan secara resmi, menunjukkan adanya peningkatan pendapatan rumah tangga rata-rata petani tebu hingga 30-40% dibandingkan dengan periode sebelum adopsi tebu secara massal. Peningkatan ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik lahan, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi pekerja musiman, penyedia jasa angkutan, hingga warung-warung kecil di desa. Ketersediaan pendapatan yang lebih stabil dan predictable dari hasil panen tebu, yang biasanya dilakukan setahun sekali, memungkinkan warga untuk merencanakan keuangan mereka dengan lebih baik. Salah satu dampak sosial-ekonomi yang paling nyata adalah berkurangnya ketergantungan warga dari jerat pinjaman online ilegal maupun rentenir yang dahulu sering menjadi jalan pintas saat musim paceklik. "Dulu, setiap menjelang masa tanam atau saat kebutuhan mendesak, banyak warga terpaksa meminjam ke rentenir. Sekarang, dengan adanya kepastian pendapatan dari tebu, angka kasus pinjaman ilegal di desa kami menurun drastis, mungkin hingga 60%," kata Irawandi, menunjukkan keberhasilan program ini dalam menciptakan kemandirian finansial mikro di tingkat rumah tangga. Stabilitas pendapatan ini juga berdampak pada peningkatan akses pendidikan dan kesehatan bagi keluarga petani, serta perbaikan kualitas hunian. Kemitraan strategis dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), salah satu pabrik gula besar di wilayah tersebut, juga menjadi kunci keberhasilan. Sistem kontrak pembelian (off-taker) yang jelas memberikan jaminan pasar dan harga yang stabil bagi petani. Mekanisme ini mengurangi ketidakpastian yang sering menghantui petani komoditas lain, memungkinkan mereka fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi. Hubungan simbiosis mutualisme ini telah berjalan selama bertahun-tahun, menjadikan PT SMS sebagai mitra vital dalam ekosistem pertanian tebu di Kadindi Barat. Tantangan Infrastruktur dan Lingkungan yang Mendesak Meskipun geliat ekonomi pertanian tebu di Kadindi Barat menunjukkan tren positif, kemajuan ini masih membentur persoalan klasik infrastruktur. Luasnya wilayah desa dan persebaran lahan pertanian yang jauh dari jalan poros utama menjadi kendala serius. Kondisi jalan usaha tani yang belum optimal, mayoritas masih berupa jalan tanah dan berbatu, memicu pembengkakan biaya logistik dan pengangkutan hasil panen. Petani seringkali harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa kendaraan khusus atau menghadapi kerusakan pada alat angkut mereka, yang pada akhirnya memangkas margin keuntungan petani secara signifikan. Estimasi menunjukkan, biaya logistik bisa meningkat hingga 15-20% karena buruknya akses jalan. Selain persoalan jalan, karakter tanah di kawasan Pekat yang sangat poros dan memiliki daya serap air tinggi juga menuntut penguatan jaringan irigasi tersier. Tanah poros, meskipun memiliki drainase yang baik, cenderung cepat kehilangan kelembaban, membuat tanaman rentan terhadap kekeringan. "Jika saluran air irigasi tersier disemen dengan baik dan sistem pengelolaannya ditingkatkan, tanaman tebu diyakini akan lebih tahan menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim," jelas seorang penyuluh pertanian setempat. Perbaikan irigasi menjadi investasi krusial untuk menjaga keberlanjutan produksi tebu di masa depan, mengingat Dompu adalah salah satu daerah yang rentan terhadap dampak kekeringan. Intervensi Pemerintah Desa dan Solusi Inovatif Menyikapi tantangan tersebut, Pemerintah Desa Kadindi Barat di bawah kepemimpinan Irawandi, telah meluncurkan sejumlah langkah intervensi strategis. Salah satu fokus utama adalah perbaikan infrastruktur jalan. "Kami memanfaatkan alokasi Dana Desa secara maksimal untuk memperbaiki jalan-jalan penunjang aktivitas pertanian. Prioritas diberikan pada jalur-jalur yang paling sering dilalui petani untuk mengangkut hasil panen," terang Irawandi. Hingga saat ini, beberapa kilometer jalan usaha tani telah diperbaiki dan diperkeras, meskipun masih banyak yang membutuhkan sentuhan lebih lanjut. Selain itu, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemerintah desa memfasilitasi ketersediaan pupuk bagi petani dengan skema pembayaran yang fleksibel. Skema "bayar panen" memungkinkan petani memperoleh pupuk di awal masa tanam tanpa harus mengeluarkan modal tunai, yang seringkali menjadi kendala. Pembayaran pupuk baru dilakukan setelah petani menjual hasil panen tebu mereka. Inisiatif ini tidak hanya menjaga modal kerja warga, tetapi juga memastikan ketersediaan nutrisi esensial bagi tanaman tebu untuk mencapai produktivitas optimal. BUMDes juga tengah menjajaki kemungkinan untuk menyediakan layanan penyewaan alat berat atau mesin pertanian guna menekan biaya operasional petani. Ancaman Sosial Baru dan Kewaspadaan Komunitas Di sisi lain, perbaikan ekonomi dan ketersediaan uang tunai pasca-panen tebu juga memunculkan kerentanan sosial baru yang kini diwaspadai pihak desa. Ancaman judi online dan penyalahgunaan narkoba menjadi perhatian serius ketika warga memegang uang tunai dalam jumlah besar. "Kami melihat adanya peningkatan risiko ini, terutama di kalangan pemuda. Uang hasil panih yang seharusnya digunakan untuk investasi atau kebutuhan keluarga, kadang disalahgunakan," ungkap Irawandi dengan nada prihatin. Pemerintah desa bersama tokoh masyarakat dan aparat keamanan setempat mulai mengintensifkan sosialisasi dan edukasi mengenai bahaya judi online dan narkoba. Program literasi keuangan sederhana juga digagas untuk membantu warga mengelola pendapatan mereka dengan lebih bijak, mendorong tabungan, dan investasi produktif. Pencegahan dini melalui penguatan peran keluarga dan lembaga adat menjadi kunci dalam membentengi masyarakat dari godaan negatif ini. Menuju Kemandirian Berkelanjutan: Prospek dan Kunci Sukses Kini, dengan luasan 150 hektare yang masih berpotensi terus bertambah, tantangan terbesar bagi Kadindi Barat adalah memastikan keadilan hasil di setiap hektarenya dan keberlanjutan program ini. Potensi perluasan lahan tebu masih sangat besar, mengingat masih banyak lahan tidur atau lahan yang kurang produktif di sekitar desa yang bisa dialihfungsikan. Namun, perluasan ini harus diiringi dengan perencanaan yang matang agar tidak menimbulkan masalah baru, seperti konflik lahan atau deforestasi. Sinergi yang kuat antara perbaikan akses jalan usaha tani, pembenahan irigasi tersier, kepastian harga yang adil dari pabrik, serta keterlibatan aktif BUMDes dalam memfasilitasi kebutuhan petani menjadi kunci mutlak. Peran pemerintah daerah Kabupaten Dompu juga sangat diharapkan dalam mendukung program ini, baik melalui alokasi anggaran infrastruktur yang lebih besar maupun kebijakan pertanian yang berpihak pada petani tebu. Tebu di Kadindi Barat bukan lagi sekadar tanaman, melainkan simbol harapan dan kemandirian ekonomi. Dengan pengelolaan yang bijaksana dan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, komoditas ini benar-benar dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi masyarakat Pekat yang berkelanjutan, menciptakan kesejahteraan yang merata, dan membuktikan bahwa "revolusi manis" ini akan terus berbuah manis bagi generasi mendatang. (rl/gt) Post navigation Sumbawa Timur Mining Raih Dua Penghargaan CSR & PDB Awards 2026