Kabupaten Lombok Timur, khususnya wilayah pesisir Pringgabaya, telah lama dikenal sebagai salah satu lumbung perikanan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, tantangan klasik yang dihadapi oleh para nelayan setempat adalah fluktuasi harga dan rendahnya nilai tambah produk perikanan yang dijual dalam kondisi segar. Menanggapi fenomena tersebut, dua mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Universitas Mataram (Unram) mengambil langkah proaktif dengan menginisiasi program diversifikasi produk olahan perikanan. Juliati Al Humaira dan Tri Fatmawati, mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Unram, melakukan sosialisasi dan pelatihan intensif mengenai pengolahan ikan cakalang menjadi bakso ikan di Dusun Ketapang, Desa Pringgabaya.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Dusun Ketapang memiliki potensi sumber daya laut yang luar biasa, terutama komoditas ikan cakalang (Katsuwonus pelamis). Sayangnya, selama ini pemanfaatan hasil tangkapan tersebut masih terbatas pada penjualan mentah atau pengolahan tradisional yang sederhana. Dengan memperkenalkan teknik pembuatan bakso ikan, mahasiswa KKN Unram berupaya menciptakan hilirisasi produk perikanan di tingkat rumah tangga, yang diharapkan mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat pesisir melalui pemberdayaan ibu rumah tangga dan edukasi sejak dini kepada generasi muda.

Konteks Wilayah dan Potensi Maritim Pringgabaya

Kecamatan Pringgabaya merupakan salah satu pusat aktivitas perikanan di Lombok Timur yang memiliki garis pantai strategis. Berdasarkan data geografis, wilayah ini berhadapan langsung dengan Selat Alas, yang merupakan jalur migrasi penting bagi berbagai jenis ikan pelagis besar, termasuk tuna dan cakalang. Melimpahnya stok ikan di wilayah ini sering kali menyebabkan kelebihan pasokan (oversupply) pada musim panen raya, yang berdampak pada jatuhnya harga di tingkat nelayan.

Dalam situasi tersebut, ikan cakalang sering kali hanya dihargai sangat rendah jika dijual dalam kondisi segar. Padahal, secara nutrisi, ikan cakalang mengandung protein tinggi, asam lemak omega-3, serta berbagai mineral penting yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Kurangnya pengetahuan mengenai teknologi pengolahan pangan menjadi hambatan utama masyarakat dalam memaksimalkan potensi ekonomi dari komoditas ini. Kehadiran program KKN MBKM Unram di Dusun Ketapang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan tersebut dengan membawa inovasi yang praktis dan aplikatif.

Kronologi dan Pelaksanaan Program Pelatihan

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni mulai dari 30 Maret hingga 15 Mei 2026. Fokus utama kegiatan dipusatkan di area PT Nusa Raya Aquaculture, yang bertindak sebagai mitra pendukung dalam penyediaan fasilitas dan akses bagi masyarakat. Pendekatan yang dilakukan oleh Juliati Al Humaira dan Tri Fatmawati bersifat partisipatif, di mana warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam setiap tahapan proses.

Program ini menyasar dua kelompok demografis utama: tujuh orang ibu rumah tangga dan sebelas anak usia sekolah dasar. Pemilihan ibu rumah tangga bertujuan untuk menciptakan peluang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) baru di lingkungan domestik. Sementara itu, keterlibatan anak-anak sekolah dasar dimaksudkan sebagai sarana edukasi gizi dan pengenalan potensi daerah sejak dini, sehingga mereka tumbuh dengan kesadaran akan kekayaan sumber daya alam yang mereka miliki.

Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat, 4 September 2026, melalui sesi sosialisasi formal dan praktik langsung. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa menjelaskan secara mendalam mengenai karakteristik ikan cakalang dan mengapa jenis ikan ini sangat cocok diolah menjadi bakso. Tekstur daging cakalang yang padat dan cita rasanya yang kuat memberikan keunggulan tersendiri dibandingkan dengan bakso daging sapi atau bakso ikan jenis lainnya.

Detail Teknis dan Standardisasi Higienitas Produk

Proses pembuatan bakso ikan cakalang yang diajarkan mencakup standar operasional prosedur (SOP) pengolahan pangan yang baik. Tahapan dimulai dari pemilihan bahan baku ikan yang benar-benar segar untuk menjamin kualitas rasa dan keamanan konsumsi. Ikan cakalang kemudian dibersihkan secara menyeluruh, dipisahkan dari tulang dan kulitnya (fillet), lalu diambil daging merahnya.

Daging ikan yang telah difillet kemudian dihaluskan dan dicampur dengan berbagai bahan tambahan, antara lain tepung tapioka sebagai bahan pengikat, telur untuk memperbaiki tekstur, serta bumbu-bumbu alami seperti bawang putih, merica, dan garam. Mahasiswa menekankan pentingnya proporsi campuran yang tepat agar bakso yang dihasilkan memiliki kekenyalan yang pas tanpa menghilangkan rasa asli ikan.

Selain aspek teknis pembuatan, penekanan utama diberikan pada aspek higienitas. Dalam dunia industri pangan, kebersihan alat dan bahan adalah kunci utama. Mahasiswa memberikan edukasi mengenai bahaya kontaminasi silang dan pentingnya menjaga sanitasi selama proses pengolahan. Hal ini sangat krusial mengingat produk bakso ikan adalah produk yang mudah rusak (perishable) jika tidak ditangani dengan standar kebersihan yang tinggi. Setelah adonan terbentuk, proses dilanjutkan dengan perebusan selama 15 hingga 20 menit hingga bakso mengapung, yang menandakan produk telah matang sempurna dan siap dikonsumsi atau dikemas.

Dorong Ekonomi Warga Ketapang, Mahasiswa KKN KKB Unram Sulap Cakalang Jadi Bakso

Analisis Nilai Tambah dan Implikasi Ekonomi

Secara ekonomi, transformasi ikan cakalang menjadi bakso memberikan peningkatan nilai tambah (value-added) yang signifikan. Jika satu kilogram ikan cakalang segar dijual dengan harga pasar yang fluktuatif, pengolahan menjadi bakso dapat melipatgandakan margin keuntungan. Produk olahan seperti bakso memiliki masa simpan yang lebih lama jika disimpan dalam kondisi beku (frozen food), sehingga nelayan dan keluarganya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penjualan harian yang tidak menentu.

Diversifikasi produk ini juga membuka peluang pasar yang lebih luas. Bakso ikan cakalang dapat dipasarkan sebagai camilan sehat, bahan pelengkap masakan rumah tangga, hingga disuplai ke warung-warung makan lokal. Di tengah tren gaya hidup sehat, produk olahan ikan yang kaya nutrisi memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen yang mulai mengurangi konsumsi daging merah.

Secara makro, inisiatif mahasiswa Unram ini sejalan dengan program "Blue Economy" atau Ekonomi Biru yang dicanangkan pemerintah. Program ini mendorong pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan dengan memberikan nilai tambah melalui inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan adanya keterampilan baru ini, Dusun Ketapang berpotensi menjadi sentra pengolahan bakso ikan di Pringgabaya, yang pada gilirannya dapat menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka kemiskinan di wilayah pesisir.

Tanggapan Masyarakat dan Dukungan Institusional

Antusiasme warga Dusun Ketapang terhadap program ini sangat tinggi. Para ibu rumah tangga yang menjadi peserta menyatakan bahwa pelatihan ini memberikan pandangan baru bagi mereka. Selama ini, mereka hanya mengolah ikan dengan cara digoreng atau dibakar untuk konsumsi pribadi. Dengan adanya teknik pembuatan bakso, mereka merasa memiliki modal keterampilan untuk memulai usaha sampingan guna membantu ekonomi keluarga.

Anak-anak sekolah dasar yang terlibat juga menunjukkan ketertarikan yang besar. Melalui praktik langsung, mereka belajar bahwa sains dan keterampilan teknis dapat diterapkan untuk memecahkan masalah nyata di lingkungan mereka. Hal ini diharapkan dapat memicu minat generasi muda untuk menekuni bidang perikanan dan kelautan dengan pendekatan yang lebih modern dan inovatif.

Kesuksesan program ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Mahasiswa KKN MBKM Unram menyampaikan apresiasi mendalam kepada PT Nusa Raya Aquaculture atas penyediaan fasilitas tempat. Selain itu, bimbingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan dukungan dari pihak Universitas Mataram menjadi faktor kunci dalam penyusunan kurikulum pelatihan yang efektif. Kolaborasi antara akademisi, sektor swasta, dan masyarakat ini menjadi model ideal dalam pelaksanaan program pengabdian masyarakat.

Keberlanjutan dan Harapan Masa Depan

Meskipun masa KKN telah berakhir, harapan besar disematkan pada keberlanjutan program ini. Keterampilan yang telah diberikan diharapkan tidak berhenti pada tahap pelatihan saja, tetapi dapat diimplementasikan menjadi unit usaha nyata. Peran pemerintah desa dan dinas terkait di Kabupaten Lombok Timur sangat diperlukan untuk memberikan pendampingan lanjutan, terutama dalam hal perizinan usaha, sertifikasi halal, dan akses permodalan bagi warga yang ingin serius menekuni usaha bakso ikan.

Selain itu, diversifikasi produk tidak harus berhenti pada bakso. Potensi ikan cakalang masih bisa dikembangkan menjadi produk lain seperti abon ikan, nugget ikan, atau kerupuk ikan. Semakin banyak variasi produk yang dihasilkan, semakin kuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir terhadap guncangan pasar.

Inisiatif yang dilakukan oleh Juliati Al Humaira dan Tri Fatmawati adalah bukti nyata bahwa mahasiswa dapat menjadi agen perubahan (agent of change) yang efektif. Dengan membawa ilmu pengetahuan dari bangku kuliah ke tengah masyarakat, mereka telah membantu meletakkan fondasi bagi kemandirian ekonomi di Dusun Ketapang. Transformasi dari sekadar penangkap ikan menjadi pengolah hasil laut adalah langkah besar menuju kedaulatan pangan dan kesejahteraan yang lebih merata di wilayah pesisir Lombok Timur.

Melalui sinergi yang berkelanjutan, tantangan kemiskinan di wilayah pesisir dapat diatasi bukan dengan bantuan instan, melainkan dengan pemberian kail berupa keterampilan dan pengetahuan. Program KKN MBKM Unram di Pringgabaya ini menjadi catatan penting dalam perjalanan pemberdayaan masyarakat di NTB, membuktikan bahwa inovasi sederhana seperti mengubah ikan menjadi bakso dapat memberikan dampak luar biasa bagi masa depan sebuah komunitas.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *