Masyarakat Dusun Golong, Desa Golong, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, diguncang oleh peristiwa tragis yang merenggut nyawa seorang pemuda setempat pada Rabu siang, 9 September. Sugirman, seorang pemuda berusia 24 tahun, ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dalam kamar rumahnya sendiri. Penemuan ini bermula dari kecurigaan pihak keluarga yang kemudian berujung pada duka mendalam bagi warga sekitar. Kejadian ini kembali mengangkat isu krusial mengenai kesehatan mental dan fenomena depresi di kalangan generasi muda yang sering kali luput dari perhatian lingkungan sosial. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, penemuan jenazah korban terjadi sekitar pukul 14.15 WITA. Orang pertama yang menemukan korban adalah kakak kandungnya sendiri, Nurhayati (35). Kehadiran Nurhayati di rumah tersebut awalnya diniatkan untuk tujuan rutin yang sederhana, yakni mengantarkan makanan untuk sang adik. Namun, suasana rumah yang hening dan tidak adanya jawaban saat pintu diketuk menimbulkan firasat buruk bagi sang kakak. Setelah berkali-kali memanggil nama adiknya tanpa hasil, Nurhayati memutuskan untuk memeriksa kamar korban dan mendapati pemandangan yang menghancurkan hatinya. Kronologi Lengkap Peristiwa dan Pesan Terakhir Korban Rangkaian peristiwa memilukan ini disinyalir telah dimulai sejak pagi hari sebelum korban ditemukan. Dari hasil penyelidikan kepolisian melalui penelusuran perangkat komunikasi korban, ditemukan sebuah pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp yang dikirimkan Sugirman kepada Nurhayati pada pukul 09.30 WITA. Pesan tersebut berisi kalimat singkat namun sarat makna perpisahan: "Kak saya jalan lebih dulu". Pesan ini menjadi bukti awal yang sangat krusial bagi kepolisian untuk memetakan kondisi psikologis korban sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Pihak kepolisian memperkirakan bahwa tindakan nekat tersebut dilakukan tak lama setelah pesan singkat itu dikirimkan. Ketika Nurhayati menemukan adiknya dalam kondisi tergantung pada sore harinya, teriakan histerisnya langsung memecah kesunyian dusun tersebut. Warga yang mendengar teriakan minta tolong segera berhamburan menuju rumah korban. Tiga orang warga setempat, yakni Mahdan, Muridun, dan Zohri, dengan sigap membantu menurunkan tubuh Sugirman dengan harapan nyawanya masih bisa diselamatkan. Namun, kondisi tubuh korban yang sudah dingin menunjukkan bahwa bantuan tersebut datang terlambat. Aparat kepolisian dari Polsek Narmada yang dipimpin oleh Kapolsek AKP I Kadek Ariawan segera tiba di lokasi setelah menerima laporan dari warga. Langkah-langkah prosedural langsung diambil, termasuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) untuk kepentingan identifikasi. Tim Inafis dari Satuan Reserse Kriminal Polresta Mataram juga dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan mendalam guna memastikan tidak ada unsur kekerasan atau tindak pidana lain yang terlibat dalam kematian pemuda tersebut. Hasil Pemeriksaan Medis dan Identifikasi Kepolisian Pemeriksaan awal terhadap jenazah dilakukan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas Keru. Berdasarkan pemeriksaan fisik, tim medis menemukan bekas luka jeratan yang konsisten dengan ikat tali pada bagian leher korban. Yang terpenting, tidak ditemukan adanya luka lebam, luka tajam, atau tanda-tanda kekerasan fisik lainnya di sekujur tubuh korban. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa penyebab kematian murni akibat tindakan bunuh diri. Dari analisis suhu tubuh dan kekakuan mayat (rigor mortis), petugas medis memperkirakan bahwa Sugirman telah meninggal dunia sekitar lima jam sebelum ditemukan oleh kakaknya. Estimasi waktu ini berkolerasi erat dengan waktu pengiriman pesan WhatsApp terakhir korban pada pukul 09.30 WITA. Kombinasi antara bukti digital dan temuan medis di lapangan memberikan gambaran yang jelas bagi penyidik mengenai lini masa kejadian tersebut. Kapolsek Narmada, AKP I Kadek Ariawan, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan keluarga korban. "Kami langsung mengamankan TKP, meminta keterangan saksi-saksi di lokasi, serta berkoordinasi dengan petugas kesehatan dan tim Inafis Polresta Mataram untuk penanganan lebih lanjut. Berdasarkan pemeriksaan saksi dan bukti yang ada, korban diduga kuat mengalami depresi berat sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya," ujar AKP I Kadek Ariawan pada Kamis, 10 September. Meskipun prosedur kepolisian biasanya menyarankan otopsi untuk kepastian hukum, pihak keluarga Sugirman menyatakan keberatan. Keluarga mengaku telah mengikhlaskan kepergian korban sebagai sebuah musibah dan menolak dilakukan pembedahan jenazah. Setelah menandatangani surat pernyataan penolakan otopsi, jenazah Sugirman diserahkan kembali kepada keluarga untuk segera diproses secara keagamaan dan dimakamkan di pemakaman desa setempat. Analisis Faktor Depresi dan Fenomena Kesehatan Mental di NTB Tragedi yang menimpa Sugirman di Narmada ini bukanlah kejadian isolasi, melainkan cerminan dari tantangan besar kesehatan mental yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Depresi sering kali disebut sebagai "silent killer" atau pembunuh senyap karena gejalanya yang sering tidak terlihat secara kasatmata oleh orang-orang terdekat. Di lingkungan pedesaan, stigma terhadap gangguan jiwa atau masalah kesehatan mental masih cukup tinggi, yang sering kali membuat penderitanya merasa enggan untuk mencari bantuan profesional atau sekadar bercerita kepada keluarga. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia terus mengalami peningkatan. Di NTB sendiri, tantangan ekonomi, tekanan sosial, dan terbatasnya akses terhadap layanan psikologis di tingkat kecamatan menjadi faktor risiko yang signifikan. Kasus Sugirman, yang baru berusia 24 tahun, menunjukkan bahwa kelompok usia dewasa muda sangat rentan terhadap tekanan psikologis. Pada usia ini, seseorang sering kali dihadapkan pada ekspektasi sosial yang tinggi, baik terkait pekerjaan, ekonomi, maupun masa depan, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada depresi berat. Kurangnya literasi mengenai tanda-tanda depresi membuat lingkungan sekitar sering kali terlambat menyadari kondisi seseorang. Pesan singkat "Kak saya jalan lebih dulu" adalah sebuah bentuk sinyal terakhir (cry for help) yang sering kali baru dipahami maknanya setelah peristiwa terjadi. Hal ini menekankan betapa pentingnya kepekaan terhadap perubahan perilaku anggota keluarga, seperti penarikan diri dari lingkungan sosial, perubahan pola tidur, atau ungkapan-ungkapan keputusasaan dalam percakapan sehari-hari. Urgensi Penguatan Sistem Pendukung Sosial dan Medis Kejadian di Desa Golong ini menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan Pemerintah Provinsi NTB untuk memperkuat layanan kesehatan mental hingga ke tingkat desa. Puskesmas, sebagai garda terdepan layanan kesehatan, perlu dilengkapi dengan tenaga psikolog atau perawat yang terlatih dalam penanganan kesehatan jiwa. Integrasi layanan kesehatan mental ke dalam layanan kesehatan umum di Puskesmas (seperti Puskesmas Keru dalam kasus ini) sangat penting agar masyarakat dapat mengakses bantuan tanpa merasa malu atau terstigma. Selain layanan medis, peran tokoh masyarakat dan tokoh agama di dusun-dusun seperti Dusun Golong sangatlah vital. Edukasi mengenai kesehatan mental perlu disisipkan dalam pertemuan-pertemuan warga agar depresi tidak lagi dipandang sebagai aib atau kurangnya iman, melainkan sebagai kondisi medis yang memerlukan penanganan profesional. Menciptakan lingkungan yang suportif di mana individu merasa aman untuk mengungkapkan kesulitan mentalnya adalah langkah preventif utama dalam mencegah kasus bunuh diri di masa depan. Secara sosiologis, dukungan keluarga merupakan benteng terakhir bagi seseorang yang mengalami depresi. Dalam kasus Sugirman, meskipun kakaknya menunjukkan perhatian dengan mengantarkan makanan, kedalaman depresi yang dialami korban tampaknya sudah mencapai titik di mana ia merasa tidak ada jalan keluar lain. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian fisik saja kadang tidak cukup; diperlukan komunikasi emosional yang mendalam dan deteksi dini terhadap tanda-tanda keinginan mengakhiri hidup. Implikasi dan Harapan ke Depan Kematian Sugirman meninggalkan duka yang mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh warga Desa Golong. Tragedi ini diharapkan dapat memicu dialog yang lebih terbuka mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah masyarakat. Kepergian seorang pemuda di usia produktif adalah kehilangan besar bagi komunitas dan daerah. Ke depan, diharapkan adanya peningkatan program-program pencegahan bunuh diri yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari kepolisian, dinas kesehatan, hingga organisasi kemasyarakatan. Sosialisasi mengenai saluran siaga (hotline) kesehatan mental perlu digencarkan agar masyarakat tahu ke mana harus mencari bantuan saat berada dalam titik terendah. Kasus di Narmada ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik ketenangan sebuah desa, mungkin ada jiwa-jiwa yang sedang berjuang sendirian melawan kegelapan depresi. Masyarakat diharapkan lebih peduli dan tidak meremehkan setiap keluhan atau perubahan perilaku dari orang-orang di sekitar mereka. Kebersamaan, empati, dan penghapusan stigma adalah kunci untuk memastikan bahwa tidak ada lagi pemuda seperti Sugirman yang merasa bahwa "berjalan lebih dulu" adalah satu-satunya pilihan yang tersisa. Pemakaman korban yang dilaksanakan dengan suasana penuh haru di Dusun Golong menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang pemuda, namun sekaligus menjadi titik awal bagi lingkungan tersebut untuk lebih mawas diri dan saling menjaga kesehatan mental sesama warga. Polsek Narmada mengimbau warga untuk segera melaporkan jika menemukan kerabat atau tetangga yang menunjukkan gejala depresi berat agar dapat segera mendapatkan pendampingan dari pihak medis atau dinas sosial terkait. Post navigation Geger Penemuan Jenazah Pria Tanpa Identitas di Taman Teras Udayana Mataram: Polisi Selidiki Penyebab Kematian Melalui Proses Forensik Investigasi Skandal Aborsi Ilegal dan Dugaan Perdagangan Bayi di Mataram: Tim Terpadu Selidiki Keterlibatan Oknum Dokter dan Rumah Sakit Swasta