MATARAM – Dunia pendidikan dasar di Nusa Tenggara Barat kini tengah menyaksikan sebuah transformasi signifikan dalam metode pembelajaran fisik melalui inisiasi FunFit School Program. Program ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan sebuah desain intervensi sistematis yang mengintegrasikan aktivitas bermain dengan pengembangan fondasi motorik, kemampuan sosial, dan pembentukan karakter siswa sejak usia dini. Berlangsung sepanjang periode Juli hingga Agustus 2026, program pengabdian masyarakat ini menyasar dua institusi pendidikan sebagai model percontohan, yakni SD Negeri 1 Kekait di Kabupaten Lombok Barat dan SD Negeri 24 Mataram di Kota Mataram. Lahirnya FunFit School Program dilatarbelakangi oleh keprihatinan mendalam para akademisi dan praktisi pendidikan terhadap fenomena "sedentary lifestyle" atau pola hidup pasif yang kian menjangkiti generasi muda. Di tengah gempuran teknologi digital dan terbatasnya ruang publik untuk bermain, aktivitas fisik anak-anak usia sekolah dasar mengalami penurunan drastis. Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, seperti meningkatnya risiko obesitas pada anak, tetapi juga menghambat perkembangan keterampilan motorik kasar dan halus yang seharusnya matang di fase usia emas tersebut. Urgensi Aktivitas Fisik di Tengah Krisis Gerak Generasi Alpha Dalam beberapa dekade terakhir, profil aktivitas anak-anak telah berubah secara fundamental. Jika generasi sebelumnya menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan berlari dan bermain di luar ruangan, generasi saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar (screen time). Tim pengabdian FunFit School Program mengidentifikasi bahwa keterbatasan gerak ini berkorelasi langsung dengan penurunan kemampuan interaksi sosial secara langsung. Anak-anak menjadi lebih canggung dalam berkomunikasi, kurang mampu mengelola emosi saat menghadapi konflik, dan seringkali kesulitan dalam bekerja sama dalam sebuah tim. Ketua Tim Pengabdian, Dr. Prayogi Dwina Angga, S.Or., M.Pd., menekankan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab moral dan fungsional untuk mengembalikan hak anak dalam bergerak. Menurutnya, anak usia sekolah dasar pada dasarnya adalah makhluk motorik yang membutuhkan ruang luas untuk bereksplorasi. Ketika ruang tersebut hilang, maka proses tumbuh kembangnya pun akan terhambat. Melalui FunFit School Program, tim berusaha mengintegrasikan kembali elemen bermain ke dalam kurikulum sekolah, baik secara intrakurikuler dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), maupun kokurikuler melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Revitalisasi Permainan Tradisional NTB sebagai Media Edukasi Salah satu keunggulan utama dari FunFit School Program adalah keberaniannya untuk mengangkat kembali kekayaan budaya lokal melalui permainan tradisional khas Nusa Tenggara Barat. Di tengah arus modernisasi, banyak permainan tradisional yang mulai dilupakan oleh generasi muda. Padahal, permainan tersebut menyimpan filosofi pendidikan yang sangat mendalam dan efektivitas fisik yang tinggi. Beberapa permainan tradisional yang diintegrasikan dalam program ini meliputi: Kideng: Permainan yang melatih ketangkasan dan strategi. Bejingklak Batu 5: Sangat efektif untuk melatih koordinasi mata dan tangan serta kemampuan kognitif dalam berhitung dan pengambilan keputusan cepat. Papuk Singgak Batek: Melatih kerja sama tim dan komunikasi antar pemain. Kudung dan Batu Jumpring: Permainan yang menitikberatkan pada keseimbangan dan kekuatan otot kaki. Belompongan dan Manuk Kurung: Mengasah ketajaman insting sosial dan kepatuhan terhadap aturan main yang telah disepakati. Pemilihan permainan tradisional ini bukan tanpa alasan ilmiah. Dr. Prayogi menjelaskan bahwa permainan tradisional secara alami telah mengandung unsur-unsur pengembangan motorik dasar seperti koordinasi, keseimbangan, kelincahan, ketepatan, hingga kontrol gerak. Berbeda dengan olahraga prestasi yang cenderung kaku dan kompetitif, permainan tradisional menawarkan suasana yang lebih cair, menyenangkan, namun tetap sarat akan nilai-nilai kompetisi yang sehat. Pembangunan Karakter dan Keterampilan Sosial Melalui Bermain Terstruktur Dampak dari FunFit School Program tidak hanya berhenti pada keringat dan kebugaran fisik. Aspek psikososial menjadi fokus utama yang ingin dicapai. Dalam setiap sesi permainan, siswa secara tidak langsung diajarkan tentang manajemen diri dan etika sosial. Sebagai contoh, dalam permainan Bejingklak, seorang siswa harus bersabar menunggu giliran sambil memperhatikan teknik temannya. Ini adalah latihan nyata dalam menumbuhkan rasa empati dan menghargai orang lain. "Ketika bermain, anak bukan hanya bergerak secara fisik. Mereka belajar menunggu giliran, menaati aturan yang telah disepakati bersama, bekerja sama dengan rekan setim, mengambil keputusan cepat di bawah tekanan, hingga belajar bagaimana menerima kemenangan dengan rendah hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada," ujar Dr. Prayogi dalam keterangannya pada Kamis, 27 Agustus 2026. Lebih lanjut, program ini menjadi antitesis dari budaya instan yang sering ditawarkan oleh permainan digital. Dalam permainan tradisional, hasil yang dicapai adalah buah dari proses fisik dan strategi yang nyata. Hal ini membangun ketahanan mental (resilience) pada siswa, yang merupakan modal penting dalam menghadapi tantangan di masa depan. Menanamkan Fondasi untuk Masa Depan Olahraga Prestasi Dari perspektif sains olahraga, FunFit School Program merupakan implementasi dari konsep Long-Term Athlete Development (LTAD) atau Pengembangan Atlet Jangka Panjang. Dr. Prayogi menegaskan bahwa prestasi olahraga nasional di masa depan sangat bergantung pada seberapa kuat fondasi motorik yang dibangun pada tingkat sekolah dasar. Indonesia tidak mungkin mencetak atlet-atlet elit jika anak-anak di tingkat akar rumput memiliki kemampuan motorik yang rendah dan literasi fisik yang buruk. "Kita tidak bisa berbicara olahraga prestasi tanpa memperhatikan fondasinya. Fondasi itu salah satunya adalah kemampuan motorik dan kebiasaan bergerak sejak usia dini," tegasnya. Dengan membiasakan anak bergerak aktif melalui cara yang menyenangkan, sekolah sebenarnya sedang melakukan "scouting" atau pemanduan bakat secara natural. Anak yang memiliki koordinasi motorik yang baik sejak dini akan lebih mudah diarahkan ke cabang olahraga prestasi tertentu di masa remaja mereka. Sekolah dipandang sebagai posisi strategis karena mampu menjangkau anak-anak secara berkelanjutan selama enam tahun masa pendidikan dasar. Konsistensi dalam memberikan stimulus fisik melalui FunFit School Program diharapkan dapat menciptakan budaya hidup aktif yang menetap hingga mereka dewasa. Dukungan Pihak Sekolah dan Harapan Keberlanjutan Respon dari pihak sekolah mitra, yakni SDN 1 Kekait dan SDN 24 Mataram, sangat positif. Para guru melihat adanya perubahan atmosfer di lingkungan sekolah. Siswa tampak lebih ceria, tingkat kehadiran meningkat, dan konflik antar siswa di jam istirahat berkurang karena energi mereka tersalurkan ke dalam aktivitas fisik yang positif dan terarah. Para pendidik di sekolah tersebut juga mendapatkan pelatihan singkat mengenai bagaimana memodifikasi permainan tradisional agar tetap relevan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Hal ini penting agar program ini tidak berhenti saat tim pengabdian selesai bertugas, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan di sekolah tersebut. Ke depan, FunFit School Program diharapkan tidak hanya berhenti di dua sekolah tersebut. Harapannya, model ini dapat direplikasi oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pemuda dan Olahraga di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat. Integrasi antara kearifan lokal (permainan tradisional) dan sains olahraga (pengembangan motorik) adalah formula yang tepat untuk membangun generasi emas NTB yang sehat, cerdas, dan berkarakter. Analisis Implikasi: Menuju Sekolah Ramah Gerak Implementasi FunFit School Program membawa implikasi luas bagi kebijakan pendidikan nasional. Pertama, program ini mendukung penuh kurikulum Merdeka Belajar yang mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan menyenangkan. Kedua, program ini menjadi solusi nyata dalam menekan angka kasus perundungan (bullying) di sekolah melalui penguatan ikatan sosial di lapangan bermain. Secara jangka panjang, investasi pada program aktivitas fisik seperti ini akan menurunkan beban biaya kesehatan negara di masa depan. Generasi yang aktif bergerak cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi di masa dewasa. "Kami berharap FunFit School Program menjadi langkah kecil yang dapat memberi dampak besar. Dari permainan, kita membangun kebiasaan bergerak. Dari kebiasaan bergerak, kita membangun anak yang lebih sehat dan percaya diri. Dari fondasi itulah dapat tumbuh generasi yang siap berkembang, termasuk dalam bidang olahraga prestasi," pungkas Dr. Prayogi menutup penjelasannya. Dengan berakhirnya program di bulan Agustus ini, tantangan selanjutnya adalah menjaga konsistensi dan memperluas jangkauan. FunFit School Program telah membuktikan bahwa untuk mencetak generasi unggul, kita tidak selalu harus melihat ke luar atau menggunakan teknologi mahal. Terkadang, jawabannya ada pada akar budaya kita sendiri, yang dihidupkan kembali dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan kasih sayang terhadap tumbuh kembang anak-anak bangsa. Post navigation Inovasi Mahasiswa KKN Unram Transformasi Potensi Ikan Cakalang Menjadi Produk Bernilai Ekonomi di Pringgabaya Lombok Timur Dikpora NTB Klaim Mutasi Kepsek Terkendala Pertek BKN Belum Keluar