GIRI MENANG – Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang intensif di Sungai Dodokan, Jembatan Kembar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, berakhir dengan penemuan jasad Sarafudin (56), warga Segara Katon, yang dilaporkan tenggelam. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu sore, 22 April 2026, sekitar pukul 14.50 WITA, oleh tim penyelam gabungan di dasar sungai, tepat di lokasi terakhir korban terlihat. Penemuan ini mengakhiri pencarian yang mendebarkan dan melibatkan berbagai unsur tim SAR.

Kronologi Peristiwa dan Awal Mula Pencarian

Peristiwa tragis ini bermula ketika Sarafudin, seorang warga lokal yang dikenal kerap beraktivitas di sekitar Sungai Dodokan, diduga terpeleset atau jatuh ke dalam sungai. Laporan mengenai hilangnya Sarafudin diterima oleh Kantor SAR Mataram pada pukul 11.22 WITA pada hari yang sama. Segera setelah laporan diterima, tim reaksi cepat dari Kantor SAR Mataram langsung bergerak menuju lokasi kejadian. Respons cepat ini merupakan bagian dari prosedur standar operasional (SOP) yang telah ditetapkan untuk penanganan insiden darurat, terutama yang melibatkan nyawa manusia di perairan.

Informasi awal yang diterima tim SAR menyebutkan bahwa korban terakhir kali terlihat di sekitar Jembatan Kembar, sebuah lokasi yang cukup dikenal di Kecamatan Lembar. Area ini, meskipun sering dilalui warga dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, juga menyimpan potensi bahaya, terutama bagi mereka yang tidak berhati-hati di tepi sungai. Kedalaman sungai yang bervariasi dan arus yang terkadang tidak terduga menjadi tantangan tersendiri bagi warga maupun tim penyelamat.

Menurut keterangan dari saksi mata yang enggan disebutkan namanya, Sarafudin terlihat berada di tepi sungai pada pagi hari sebelum ia dilaporkan hilang. Tidak ada tanda-tanda khusus atau teriakan minta tolong yang terdengar, sehingga dugaan awal adalah korban terpeleset secara tidak sengaja atau mengalami kondisi darurat medis yang menyebabkannya jatuh ke sungai. Pihak keluarga, yang diliputi kekhawatiran setelah korban tak kunjung pulang, segera melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang, yang kemudian diteruskan kepada Kantor SAR Mataram. Kehilangan seorang anggota keluarga secara mendadak di lingkungan yang akrab tentu menjadi pukulan berat bagi mereka.

Upaya Pencarian dan Penyelamatan Multidimensi

Operasi SAR yang dipimpin oleh Koordinator Lapangan Kantor SAR Mataram, Fuad Hasan, segera melibatkan tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur. Selain Tim Rescue Kantor SAR Mataram, operasi ini juga didukung penuh oleh Polres Lombok Barat, Polsek Lembar, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Lombok Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat, serta partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Sinergi antar lembaga dan keterlibatan komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan dalam upaya pencarian ini.

Tim memulai penyisiran di permukaan air menggunakan satu unit rubber boat atau perahu karet. Penyisiran ini difokuskan pada area sekitar Jembatan Kembar dan sepanjang aliran Sungai Dodokan, memperhitungkan kemungkinan korban terbawa arus. Secara bersamaan, tim juga melakukan pemantauan darat di sepanjang tepi sungai, mencari petunjuk visual atau jejak yang mungkin tertinggal. Medan yang tidak selalu mudah, dengan semak belukar dan bebatuan di beberapa titik, menambah kompleksitas pencarian.

Salah satu teknologi penting yang dikerahkan dalam operasi ini adalah alat deteksi bawah air aqua eye. Alat ini memungkinkan tim untuk memindai dasar sungai dan mendeteksi objek di bawah permukaan air tanpa harus melakukan penyelaman langsung di seluruh area yang luas. Penggunaan aqua eye sangat membantu dalam mempersempit area pencarian, terutama di sungai dengan visibilitas rendah atau kedalaman yang signifikan.

Setelah beberapa jam pencarian yang intensif, fokus operasi diarahkan pada penyelaman. Tim penyelam profesional disiapkan untuk menjelajahi dasar sungai di lokasi terakhir korban dilaporkan hilang (LKP – Last Known Position). Penyelaman adalah tahap paling berisiko dan membutuhkan keahlian khusus, mengingat kondisi sungai yang mungkin berlumpur, arusnya tidak stabil, atau terdapat objek lain di dasar yang bisa menghambat. Peralatan selam lengkap, termasuk tabung oksigen, regulator, dan pakaian selam, menjadi bagian integral dari persiapan ini.

Penemuan Jasad dan Penutupan Operasi SAR

Sekitar pukul 14.50 WITA, upaya keras tim penyelam membuahkan hasil. Jasad Sarafudin berhasil terdeteksi dan dievakuasi dari dasar Sungai Dodokan pada kedalaman sekitar 6 meter. Lokasi penemuan ini mengonfirmasi dugaan awal bahwa korban tenggelam di area tersebut dan tidak terbawa arus terlalu jauh. Proses evakuasi dari dasar sungai dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan jasad korban tetap utuh dan dapat diserahkan kepada keluarga dalam kondisi terbaik.

Setelah berhasil dievakuasi, jenazah korban langsung dibawa menuju rumah duka di Segara Katon untuk diserahkan kepada pihak keluarga. Proses penyerahan ini dilakukan secara resmi, diikuti dengan ungkapan duka cita mendalam dari seluruh tim SAR kepada keluarga yang berduka. Penemuan jasad ini, meskipun membawa kesedihan, juga memberikan kelegaan bagi keluarga yang akhirnya mendapatkan kepastian mengenai nasib anggota keluarga mereka.

Fuad Hasan, Koordinator Lapangan Kantor SAR Mataram, mengonfirmasi penemuan ini dan secara resmi menyatakan berakhirnya operasi SAR. "Korban ditemukan di dasar sungai melalui proses penyelaman di sekitar LKP (Last Known Position). Dengan ditemukannya korban, maka operasi SAR dinyatakan selesai," pungkas Fuad. Pernyataan ini menandai penutupan sebuah misi yang telah mengerahkan sumber daya dan tenaga yang tidak sedikit, menunjukkan profesionalisme dan dedikasi tim penyelamat.

Peralatan yang dikerahkan dalam operasi ini mencakup satu unit Rescue Car sebagai sarana transportasi dan logistik, satu unit Rubber Boat untuk penyisiran permukaan, peralatan selam lengkap, perangkat aqua eye untuk deteksi bawah air, serta peralatan medis dan komunikasi pendukung lainnya. Seluruh peralatan ini memainkan peran krusial dalam memastikan operasi berjalan efektif dan efisien.

Latar Belakang Sungai Dodokan dan Risiko Perairan Lokal

Sungai Dodokan adalah salah satu sungai yang melintasi wilayah Lombok Barat, memiliki peran penting bagi ekosistem lokal dan aktivitas masyarakat. Sepanjang alirannya, sungai ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari irigasi pertanian, sumber air bersih bagi sebagian warga, hingga tempat memancing atau aktivitas rekreasi ringan. Namun, seperti banyak sungai di Indonesia, Sungai Dodokan juga menyimpan potensi bahaya yang seringkali diabaikan.

Karakteristik Sungai Dodokan bervariasi di sepanjang alirannya. Di beberapa titik, sungai ini memiliki kedalaman yang dangkal, namun di area lain, seperti di bawah Jembatan Kembar atau di lekukan tertentu, kedalamannya bisa mencapai beberapa meter dengan arus yang cukup kuat, terutama setelah hujan deras. Dasar sungai yang mungkin berlumpur, licin, dan adanya bebatuan atau puing-puing tersembunyi dapat meningkatkan risiko terpeleset atau terjebak bagi siapa pun yang beraktivitas di sekitarnya.

Insiden tenggelam di perairan, baik sungai maupun laut, bukanlah hal yang asing di Indonesia. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa kasus tenggelam menjadi salah satu penyebab kematian akibat kecelakaan yang signifikan. Faktor-faktor seperti kurangnya kesadaran akan bahaya air, minimnya keterampilan berenang, ketidaktersediaan alat pelindung diri, dan kondisi fisik yang tidak prima seringkali menjadi pemicu utama. Untuk wilayah Lombok Barat, yang dikelilingi oleh garis pantai panjang dan memiliki banyak sungai, edukasi dan kampanye keselamatan perairan menjadi sangat esensial.

Peran Teknologi dan Sinergi dalam Penyelamatan

Keberhasilan operasi SAR ini juga menyoroti pentingnya penggunaan teknologi modern dalam upaya pencarian dan penyelamatan. Perangkat aqua eye, misalnya, telah membuktikan efektivitasnya dalam mempercepat deteksi korban di bawah air. Teknologi ini menggunakan sonar untuk memetakan dasar perairan dan mengidentifikasi objek yang mencurigakan, sehingga tim penyelam dapat langsung fokus pada area yang paling potensial, menghemat waktu dan sumber daya. Tanpa teknologi semacam ini, proses pencarian di dasar sungai yang gelap dan berlumpur akan jauh lebih sulit dan memakan waktu.

Selain teknologi, sinergi antarlembaga dan partisipasi masyarakat juga menjadi faktor penentu. Polres dan Polsek Lembar berperan dalam pengamanan lokasi, koordinasi dengan keluarga, dan penyelidikan awal. Damkar, dengan keahliannya dalam penanganan darurat, turut memberikan dukungan logistik dan personel. BPBD, sebagai garda terdepan penanggulangan bencana daerah, mengoordinasikan bantuan dan sumber daya. Sementara itu, masyarakat setempat memberikan informasi berharga, pengetahuan lokal tentang kondisi sungai, dan dukungan moral yang tak ternilai. Kolaborasi semacam ini menciptakan sebuah sistem tanggap darurat yang komprehensif dan efektif.

Dampak dan Implikasi yang Lebih Luas

Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Sarafudin dan seluruh komunitas Segara Katon. Kehilangan seorang anggota keluarga secara mendadak selalu menyakitkan, dan penemuan jasad, meskipun memberikan penutupan, tidak akan sepenuhnya menghilangkan rasa kehilangan tersebut. Masyarakat lokal turut merasakan kesedihan dan menunjukkan solidaritas mereka kepada keluarga yang berduka.

Dari sudut pandang yang lebih luas, insiden ini kembali mengingatkan akan pentingnya keselamatan di sekitar perairan. Pemerintah daerah, melalui BPBD dan dinas terkait, diharapkan dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya di sungai dan perairan lainnya. Kampanye edukasi mengenai pentingnya tidak beraktivitas sendirian di tepi sungai, penggunaan pelampung bagi mereka yang melakukan aktivitas air, dan pengetahuan dasar tentang pertolongan pertama pada kasus tenggelam, bisa menjadi langkah preventif yang efektif.

Pemasangan papan peringatan di titik-titik rawan, terutama di dekat jembatan atau area yang sering menjadi tempat aktivitas warga, juga bisa menjadi langkah sederhana namun berarti. Evaluasi rutin terhadap kondisi sungai, termasuk potensi sedimentasi atau perubahan arus yang dapat menciptakan bahaya baru, juga perlu dipertimbangkan.

Pada akhirnya, penemuan jasad Sarafudin di Sungai Dodokan adalah sebuah peristiwa tragis yang menyoroti kerentanan manusia di hadapan kekuatan alam dan pentingnya kewaspadaan. Operasi SAR yang cepat dan terkoordinasi menunjukkan komitmen tim penyelamat untuk setiap nyawa yang hilang, namun pencegahan tetap menjadi prioritas utama. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *