MATARAM – Pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Flores dan Lembata, memasuki babak baru dengan penguatan sinergi antara pemerintah daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTT dan PT PLN (Persero). Langkah strategis ini mengemuka dalam kunjungan konsultasi yang dilakukan oleh Ketua DPRD Provinsi NTT beserta Komisi IV DPRD NTT ke PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) pada Selasa, 12 Mei 2024. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan langkah dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus membangun pemahaman publik yang komprehensif mengenai proyek-proyek geothermal yang tengah digalakkan di Flores. Kunjungan yang berlangsung di Kantor PT PLN (Persero) UIP Nusra ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Dari pihak DPRD Provinsi NTT, hadir Ketua DPRD Ir. Emelia Julia Nomleni, Wakil Ketua Komisi IV Drs. Obed Naitboho, M.Si, Sekretaris Komisi IV Ana Waha Kolin, S.H, serta anggota Komisi IV Antonius D. Mahemba, S.H dan Simson Polin, S.Sos, didampingi oleh jajaran Sekretariat DPRD NTT. Sementara itu, PT PLN (Persero) UIP Nusra diwakili oleh General Manager Rizki Aftarianto beserta timnya. NTT sebagai Pusat Strategis Energi Terbarukan Nasional General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menggarisbawahi pentingnya posisi NTT sebagai salah satu wilayah strategis dalam peta jalan pengembangan energi terbarukan nasional. Ia menyatakan bahwa pengembangan energi panas bumi di Flores merupakan bagian integral dari upaya PLN untuk mewujudkan sistem kelistrikan yang tidak hanya andal, tetapi juga bersih dan berkelanjutan di seluruh wilayah Nusa Tenggara. "NTT memiliki potensi luar biasa untuk menjadi garda terdepan dalam mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia. Kami sangat berharap pertemuan ini dapat menjadi forum diskusi yang konstruktif, di mana kita bisa membahas secara mendalam berbagai inisiatif yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh PLN dalam pengembangan energi panas bumi di Flores. Kolaborasi yang kuat dengan DPRD dan seluruh pemangku kepentingan adalah kunci agar pengembangan energi ini dapat berjalan selaras dengan kebutuhan serta aspirasi masyarakat setempat," ujar Rizki Aftarianto dalam sambutannya. Pernyataan ini mengindikasikan komitmen PLN untuk tidak hanya fokus pada aspek teknis pembangunan infrastruktur energi, tetapi juga pada pendekatan yang inklusif dan partisipatif dengan melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk legislatif daerah yang merupakan representasi masyarakat. Pemerataan Akses Listrik dan Pentingnya Edukasi Publik Ketua DPRD NTT, Ir. Emelia Julia Nomleni, menekankan bahwa pemerataan akses terhadap listrik merupakan salah satu pilar utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Provinsi NTT. Oleh karena itu, pengembangan energi panas bumi, menurutnya, harus diimbangi dengan program edukasi dan penyampaian informasi yang menyeluruh dan transparan kepada masyarakat. "Kami di DPRD selalu berdiri di satu garis yang sama dengan masyarakat. Seluruh upaya pembangunan haruslah berorientasi pada kepentingan dan kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, sangat krusial bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya mengenai pengembangan energi panas bumi di NTT. Penting bagi mereka untuk memahami apa itu energi panas bumi, bagaimana prosesnya, dan apa saja manfaat yang akan dirasakan. Ketika informasi tidak tersampaikan dengan baik, kekhawatiran dan potensi kesalahpahaman akan mudah muncul. Di sinilah peran PLN menjadi sangat vital dalam membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat," tegas Emelia Julia Nomleni. Ia menambahkan bahwa tantangan dalam pengembangan energi panas bumi tidak hanya berkutat pada aspek teknis pembangunan infrastruktur, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pendekatan sosial dan kemampuan untuk menjaga ruang dialog yang terbuka dengan masyarakat. "Yang terpenting adalah bagaimana kita senantiasa membuka ruang dialog. Saya yakin, dengan komunikasi yang baik dan niat tulus, kita akan mampu menemukan titik temu antara kepentingan pembangunan dan kebutuhan masyarakat," tambahnya, menunjukkan optimisme terhadap kolaborasi yang sedang dibangun. Potensi Energi Terbarukan NTT dalam Rencana Jangka Panjang PLN Dalam sesi pemaparannya, PT PLN (Persero) UIP Nusra memaparkan proyeksi pengembangan energi di wilayah Nusa Tenggara berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Rencana ini mencakup pembangunan 132 proyek ketenagalistrikan dengan total kapasitas terpasang mencapai 2.182 MW. Yang menarik, sebanyak 47 persen atau sekitar 1.016 MW dari total kapasitas tersebut akan bersumber dari energi baru terbarukan. Secara spesifik untuk wilayah NTT, potensi energi baru terbarukan yang menjadi fokus pengembangan meliputi: Tenaga Air: Dengan potensi sebesar 48 MW. Panas Bumi (Geothermal): Dengan potensi signifikan sebesar 177 MW. Tenaga Surya: Dengan potensi mencapai 279 MW. Tenaga Bayu (Angin): Dengan potensi sebesar 50 MW. Angka-angka ini menegaskan komitmen PLN untuk diversifikasi sumber energi dan pemanfaatan potensi lokal yang melimpah di NTT, dengan energi panas bumi dan tenaga surya sebagai kontributor utama. Perkembangan Proyek PLTP Ulumbu dan Program TJSL PLN juga memberikan pembaruan mengenai perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Kabupaten Manggarai, yang telah beroperasi sejak tahun 2012. Saat ini, proyek tersebut sedang dalam tahap pengembangan lanjutan melalui pengeboran tujuh sumur baru. Targetnya adalah penambahan kapasitas hingga 40 MW. Jika terealisasi, tambahan kapasitas ini diproyeksikan mampu memenuhi lebih dari separuh kebutuhan listrik di Pulau Flores. Tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur kelistrikan, PT PLN (Persero) UIP Nusra juga memaparkan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang telah dan sedang dilaksanakan di sekitar wilayah pengembangan energi panas bumi. Program-program ini dirancang untuk memastikan bahwa masyarakat di sekitar proyek turut merasakan manfaat dari pembangunan yang dilakukan. Sejak tahun 2020 hingga 2026, PLN telah melaksanakan puluhan program TJSL dan pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah strategis seperti Ulumbu, Mataloko, hingga Atadei. Rangkaian program tersebut mencakup berbagai aspek kebutuhan masyarakat, di antaranya: Pembangunan sarana air bersih yang memadai. Bantuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan dan revitalisasi rumah adat sebagai upaya pelestarian budaya. Pengembangan kelompok tani hortikultura untuk peningkatan ketahanan pangan dan pendapatan. Bantuan penyediaan ternak sebagai sumber mata pencaharian alternatif. Pemberian akses listrik gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Program pengobatan gratis sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Pelatihan keterampilan untuk meningkatkan daya saing dan kemampuan kerja masyarakat. "Kami senantiasa berupaya keras untuk memastikan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar area proyek dapat tumbuh dan berkembang bersama dengan pembangunan yang kami lakukan. Oleh karena itu, pendekatan sosial dan budaya menjadi prioritas utama kami, agar setiap pembangunan dapat berjalan selaras dengan kebutuhan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat setempat," ujar Rizki Aftarianto, menegaskan kembali komitmen PLN terhadap pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada masyarakat. PT PLN (Persero) UIP Nusra menegaskan kembali komitmennya bahwa seluruh proses pengembangan energi panas bumi dijalankan dengan prinsip keterbukaan informasi, mengedepankan pendekatan dialogis, serta memberikan perhatian penuh terhadap aspek sosial dan lingkungan. Menuju Kemandirian Energi dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan Melalui forum konsultasi yang konstruktif ini, PT PLN (Persero) UIP Nusra dan DPRD NTT berharap sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak pengembang dapat terus diperkuat. Diharapkan pengembangan energi panas bumi di NTT tidak hanya mampu menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kemandirian energi di wilayah tersebut, tetapi juga menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. Kolaborasi yang solid ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah di NTT secara optimal demi kesejahteraan masyarakat luas. Post navigation TPID NTB Gelar Rapat Koordinasi Intensif Antisipasi Tekanan Inflasi Jelang Idul Adha, Jaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Aplikasi i-Pubers PT Pupuk Indonesia Revolusi Distribusi Pupuk Bersubsidi di Lombok Barat: Lebih Cepat, Transparan, dan Efisien