PRAYA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, yang dikelola oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), terus menunjukkan geliat pertumbuhan yang signifikan sebagai destinasi pariwisata unggulan nasional. Hingga akhir tahun 2025, nilai investasi kumulatif di kawasan strategis ini telah mencapai angka Rp6,018 triliun, diiringi dengan penyerapan tenaga kerja yang masif hingga 26.002 orang. Pencapaian ini tidak hanya mengukuhkan posisi Mandalika sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Nusa Tenggara Barat (NTB), tetapi juga menegaskan keberhasilan pengembangan ekosistem pariwisata terintegrasi yang mampu menarik minat investor global dan domestik, sekaligus membuka lapangan kerja luas bagi masyarakat sekitar. Latar Belakang dan Visi KEK Mandalika KEK Mandalika diresmikan pada tahun 2014 dan ditetapkan sebagai salah satu dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional, atau yang lebih dikenal sebagai "10 Bali Baru". Berlokasi di pesisir selatan Pulau Lombok, KEK Mandalika dirancang untuk menjadi destinasi pariwisata kelas dunia yang berkelanjutan, memadukan keindahan alam tropis, kekayaan budaya lokal, dan fasilitas modern. Mandat utama ITDC, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengembang kawasan pariwisata, adalah untuk merencanakan, membangun, dan mengelola infrastruktur dasar serta fasilitas penunjang yang diperlukan untuk menarik investasi dan wisatawan. Visi besar di balik pengembangan Mandalika adalah untuk menciptakan pusat pariwisata yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal dan pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan. Konsep pengembangan yang diusung adalah integrated tourism destination, yang mencakup sport tourism, hospitality, area komersial, ruang terbuka hijau, dan fasilitas publik lainnya. Kehadiran Sirkuit Internasional Mandalika, yang menjadi tuan rumah ajang balap motor dunia seperti MotoGP dan World Superbike (WSBK), telah menjadi katalisator utama dalam menarik perhatian global dan mempercepat pengembangan infrastruktur serta fasilitas di kawasan ini. Lonjakan Investasi dan Penciptaan Lapangan Kerja yang Impresif Direktur Operasi ITDC, Troy Waroka, dalam sebuah sesi ngopi santai dengan media di Mandalika pada Jumat (23/5), mengungkapkan bahwa percepatan pengembangan kawasan Mandalika berjalan seiring dengan iklim investasi yang semakin kondusif. Angka investasi kumulatif sebesar Rp6,018 triliun hingga akhir tahun 2025 menunjukkan kepercayaan tinggi dari para investor terhadap potensi dan prospek jangka panjang The Mandalika. "Pertumbuhan kawasan juga tercermin dari peningkatan jumlah pelaku usaha di KEK Mandalika. Hingga Desember 2025, sebanyak 27 pelaku usaha telah menjalankan aktivitas bisnis di kawasan," jelas Troy Waroka. Para pelaku usaha ini mencakup berbagai sektor, mulai dari hospitality (perhotelan dan resor), lifestyle tourism, mixed use development (pengembangan area serbaguna), utilitas kawasan, hingga pendukung motorsport ecosystem. Diversifikasi sektor ini menunjukkan bahwa Mandalika tidak hanya mengandalkan satu jenis pariwisata, melainkan mengembangkan berbagai daya tarik yang saling melengkapi. Masuknya investor tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari berbagai negara maju seperti Singapura, Jepang, Spanyol, Amerika Serikat, dan Maroko. Kehadiran investor internasional ini adalah bukti nyata pengakuan dunia usaha terhadap Mandalika sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia yang menjanjikan. Investasi ini dialokasikan untuk pembangunan hotel bintang lima, resor mewah, vila, area komersial, fasilitas rekreasi, serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya yang secara signifikan meningkatkan nilai dan daya saing kawasan. Dampak positif dari investasi ini sangat terasa pada aspek penciptaan lapangan kerja. Dengan 26.002 orang yang telah terserap sebagai tenaga kerja, KEK Mandalika telah menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi utama di NTB. Angka ini mencakup berbagai tingkatan pekerjaan, mulai dari tenaga konstruksi, staf hotel dan resor, pekerja di sektor layanan pariwisata, hingga pelaku UMKM yang terlibat dalam rantai pasok. Penyerapan tenaga kerja yang signifikan ini tidak hanya mengurangi angka pengangguran lokal tetapi juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. ITDC secara konsisten mendorong penguatan ekosistem investasi melalui peningkatan kualitas destinasi, pengembangan infrastruktur, serta penyediaan utilitas kawasan yang mendukung keberlanjutan Mandalika. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menciptakan pemerataan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia. Dinamika Pertumbuhan Pariwisata dan Peningkatan Konektivitas Selain pertumbuhan investasi, aktivitas pariwisata di The Mandalika juga menunjukkan tren yang sangat positif. Pada periode Januari hingga April 2026, total kunjungan wisatawan ke kawasan ini mencapai 285.003 pengunjung. Angka ini merupakan indikator kuat bahwa Mandalika semakin dikenal dan diminati oleh wisatawan. Lebih lanjut, pada periode yang sama, rata-rata lama tinggal (length of stay) wisatawan meningkat menjadi 2,33 hari, naik dari 1,96 hari pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini sangat krusial karena menunjukkan bahwa wisatawan tidak lagi hanya singgah sebentar, melainkan menjadikan The Mandalika sebagai destinasi utama dengan durasi tinggal yang lebih panjang. Kondisi ini secara langsung memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal, UMKM, dan sektor hospitality di sekitar kawasan, karena wisatawan cenderung membelanjakan lebih banyak uang untuk akomodasi, makanan, hiburan, dan oleh-oleh. Rata-rata okupansi hotel di kawasan juga mencatat peningkatan yang menggembirakan, mencapai 44,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 41,55 persen. Meskipun masih ada ruang untuk pertumbuhan lebih lanjut, tren kenaikan okupansi ini menunjukkan bahwa hotel-hotel di Mandalika semakin ramai dan diminati. Data ini mengindikasikan bahwa upaya promosi dan pengembangan atraksi di Mandalika mulai membuahkan hasil, menarik lebih banyak wisatawan untuk menginap dan menikmati berbagai fasilitas yang tersedia. Peningkatan aktivitas pariwisata di The Mandalika tidak terlepas dari dukungan konektivitas udara yang semakin baik menuju Lombok. Berdasarkan data dari InJourney Airports, total jumlah penumpang di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) pada periode Januari hingga April 2026 mencapai 850.319 penumpang, atau meningkat sekitar 18,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan minat perjalanan ke Lombok secara keseluruhan, yang sebagian besar didorong oleh daya tarik Mandalika. Sementara itu, total pergerakan pesawat juga tumbuh sekitar 35,3 persen dibandingkan tahun 2025, menandakan semakin banyaknya maskapai yang membuka atau menambah frekuensi rute ke BIZAM. Saat ini, berbagai maskapai nasional dan internasional seperti Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia, dan Scoot melayani 11 rute domestik dan 2 rute internasional menuju Lombok. Peningkatan kapasitas dan frekuensi penerbangan ini sangat vital dalam mendukung aksesibilitas wisatawan menuju Mandalika, menjadikan perjalanan lebih mudah dan efisien. Sinergi dan Dampak Lebih Luas bagi Komunitas Lokal Pengembangan KEK Mandalika merupakan contoh nyata sinergi antara pemerintah pusat, BUMN, dan sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, secara konsisten menekankan pentingnya pengembangan destinasi pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Mandalika, dengan penekanan pada konsep integrated tourism destination, sejalan dengan arahan tersebut. Keberadaan KEK ini tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan daerah dari sektor pariwisata, tetapi juga menciptakan peluang bagi UMKM lokal untuk berkembang. Banyak UMKM kini terlibat dalam penyediaan layanan makanan, kerajinan tangan, transportasi, hingga penyediaan akomodasi alternatif bagi wisatawan. Troy Waroka juga menyoroti bagaimana konsep pariwisata terintegrasi ini memadukan sport tourism, hospitality, area komersial, ruang terbuka hijau, serta fasilitas publik. Konsep ini dirancang untuk memberikan pengalaman holistik bagi wisatawan, sekaligus memastikan adanya keseimbangan antara pengembangan komersial dan pelestarian lingkungan serta budaya lokal. Upaya ITDC untuk terus mendorong penguatan ekosistem investasi juga mencakup peningkatan kualitas destinasi, yang berarti tidak hanya membangun infrastruktur fisik tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan di sektor pariwisata. Hal ini memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat. Kronologi Singkat Pengembangan KEK Mandalika Perjalanan Mandalika dari sebuah konsep hingga menjadi destinasi pariwisata kelas dunia tidaklah instan. Berikut adalah beberapa poin penting dalam kronologinya: 2007: Pemerintah Indonesia mencanangkan pengembangan Mandalika sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan. 2011: ITDC (saat itu bernama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia/Persero) diberikan mandat untuk mengembangkan kawasan Mandalika. 2014: KEK Mandalika resmi ditetapkan, memberikan payung hukum dan insentif bagi investasi. 2015-2018: Pembangunan infrastruktur dasar dimulai, termasuk jalan akses, jaringan listrik, air bersih, dan fasilitas penunjang lainnya. 2019: Peletakan batu pertama untuk Sirkuit Internasional Mandalika, menandai dimulainya proyek motorsport tourism yang ambisius. 2021: Sirkuit Mandalika selesai dibangun dan menjadi tuan rumah World Superbike (WSBK) perdana. Beberapa hotel dan resor bintang internasional mulai beroperasi. 2022: Mandalika berhasil menjadi tuan rumah MotoGP Indonesia untuk pertama kalinya, menarik perhatian global dan jutaan pasang mata. 2023-2025: Pengembangan kawasan terus berlanjut dengan masuknya lebih banyak investor, pembangunan fasilitas komersial, dan penambahan atraksi pariwisata. Fokus pada diversifikasi produk pariwisata di luar motorsport. 2026: Data terbaru menunjukkan lonjakan investasi kumulatif dan pertumbuhan wisatawan yang signifikan, mengukuhkan keberhasilan strategi pengembangan ITDC. Prospek dan Tantangan Masa Depan Meskipun telah mencatat banyak kemajuan, KEK Mandalika juga menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan jangka panjang. Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan serta budaya lokal. ITDC dan para investor perlu memastikan bahwa pengembangan dilakukan secara bertanggung jawab, dengan memperhatikan dampak ekologis dan sosial. Inisiatif pariwisata berkelanjutan, seperti pengelolaan sampah yang efektif, konservasi sumber daya alam, dan pemberdayaan masyarakat adat, menjadi sangat penting. Selain itu, diversifikasi atraksi pariwisata menjadi krusial. Meskipun motorsport telah menjadi magnet utama, Mandalika perlu mengembangkan lebih banyak pilihan kegiatan dan pengalaman bagi wisatawan, termasuk ekowisata, pariwisata budaya, wellness tourism, dan wisata petualangan. Hal ini akan mengurangi ketergantungan pada satu jenis atraksi dan menarik segmen pasar yang lebih luas. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata juga harus terus menjadi prioritas, memastikan bahwa layanan yang diberikan kepada wisatawan sesuai dengan standar internasional. Ke depan, ITDC berencana untuk terus memperkuat ekosistem investasi, meningkatkan kualitas destinasi, dan memperluas jaringan konektivitas. Target pasar wisatawan juga akan diperluas, tidak hanya berfokus pada pasar domestik tetapi juga menggarap pasar internasional secara lebih agresif. Dengan fondasi yang kuat dalam investasi, infrastruktur, dan pertumbuhan pariwisata, KEK Mandalika berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu destinasi pariwisata terkemuka di Asia Tenggara, berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat Lombok. Kesimpulan Pencapaian investasi kumulatif sebesar Rp6,018 triliun dan penyerapan 26.002 tenaga kerja di KEK Mandalika hingga akhir 2025 adalah bukti nyata keberhasilan visi pembangunan pariwisata terintegrasi di Indonesia. Didukung oleh peningkatan jumlah wisatawan, lama tinggal, okupansi hotel, serta konektivitas udara yang semakin baik, Mandalika terus memperkuat posisinya sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. Komitmen ITDC untuk terus mendorong penguatan ekosistem investasi, bersama dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan dan mengoptimalkan potensi besar Mandalika di masa depan. KEK Mandalika bukan hanya sekadar kawasan wisata, melainkan sebuah model pengembangan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Post navigation Penyelidikan Mendalam Kasus Dugaan Pembakaran Tiga Santri di Pondok Pesantren Batukliang Berujung Laporan Resmi dan Kematian Satu Korban