SELONG – Sebuah insiden tragis menggemparkan dunia pariwisata Lombok Timur ketika Hamzanwadi (41), seorang pendaki asal Dusun Dasan Montong Sore, Desa Rempung, Kecamatan Pringgasela, meninggal dunia saat melakukan pendakian di Bukit Savana Dandaun, Sembalun, pada Sabtu malam (4/7). Peristiwa nahas ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memicu kritik keras dari para pelaku industri pariwisata mengenai minimnya aturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas untuk aktivitas pendakian di kawasan perbukitan yang kini kian populer.

Kegagalan Sistem Keselamatan dan Tuntutan Regulasi

Erwin Hidayat, seorang penggiat dan pemerhati pariwisata di Lombok Timur, dengan tegas menyuarakan kekecewaannya. Ia menyoroti bagaimana tren pendakian cepat ke wilayah perbukitan seperti Bukit Savana Dandaun, yang sebelumnya dikenal sebagai destinasi wisata alam yang tenang, kini mendadak menjadi primadona di kalangan pendaki. Namun, lonjakan popularitas ini tidak diimbangi dengan perhatian yang memadai terhadap aspek keselamatan.

"Pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Timur jangan saling melempar tanggung jawab ketika musibah terjadi di kawasan mereka," seru Erwin dengan nada prihatin. Ia menekankan bahwa insiden ini seharusnya menjadi titik balik untuk segera merumuskan dan mengimplementasikan aturan serta regulasi yang mengikat, baik untuk pendakian gunung maupun bukit. "Disinilah diperlukan aturan dan regulasi yang mengikat bagi para pelaku pendakian, baik itu gunung maupun bukit," tegasnya.

Lebih lanjut, Erwin menyoroti kelemahan mendasar dalam sistem pemeriksaan kesehatan bagi para pendaki. Ia berpendapat bahwa selama ini, proses pemeriksaan kesehatan cenderung hanya bersifat formalitas semata, sekadar untuk memenuhi persyaratan administratif. Untuk destinasi wisata bertaraf internasional seperti Sembalun, Erwin menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara riil oleh dokter profesional, bukan hanya sekadar tanda tangan di atas secarik kertas Surat Keterangan Sehat (Suket).

"Selama ini medical check-up hanya tulisan yang tertuang di lembaran kertas saja yang saya lihat, hanya untuk penuhi syarat. Seharusnya medical check-up dilakukan oleh dokter untuk kunjungan destinasi wisata bertaraf internasional, sehingga keterangan dan pertanggungjawaban hasilnya jelas," keluh Erwin. Ia menambahkan bahwa deteksi dini terhadap riwayat penyakit pendaki merupakan aspek krusial yang dapat memberikan rasa aman bagi pemandu (guide) di lapangan dan memastikan mereka memiliki pengetahuan mitigasi yang memadai jika terjadi keadaan darurat.

"Ketika terjadi sesuatu terkait kondisi kesehatan tamunya, maka yang harus bertanggung jawab adalah yang tertera tanda tangannya di dalam Suket tersebut. Medical check-up-nya harus profesional, ditangani dokter langsung, dan mencatat semua hasil pemeriksaan secara riil," ia melanjutkan. Erwin menutup pernyataannya dengan ajakan kepada seluruh pemangku kebijakan, pengelola destinasi, dan masyarakat untuk serius membenahi sistem keselamatan pariwisata. Ia berharap agar nama besar Sembalun di kancah dunia tidak tercoreng oleh kelalaian-kelalaian kecil yang seringkali diabaikan. "Mari bersama-sama berbenah untuk pariwisata Sembalun, Lombok Timur, NTB yang mendunia," pungkasnya.

Kronologi Tragis Menjelang Malam

Kapolsek Sembalun, IPTU Lalu Subadri, memberikan keterangan resmi mengenai kronologi kejadian. Pihak kepolisian telah melakukan monitoring dan koordinasi intensif dengan pengelola Bukit Savana Dandaun sejak Sabtu malam, sekitar pukul 22.00 WITA, segera setelah laporan mengenai insiden tersebut diterima.

Peristiwa nahas ini bermula ketika Hamzanwadi, bersama empat orang rekannya – termasuk Sabri, dan tiga orang anak-anak – melakukan registrasi di basecamp Savana Dandaun melalui jalur Lendakuta pada Sabtu sore, sekitar pukul 16.00 WITA.

Sekitar pukul 17.33 WITA, Hamzanwadi dilaporkan sempat menghubungi istrinya, Agus Alfiani. Dalam percakapan tersebut, Hamzanwadi mengabarkan bahwa kondisinya mulai terasa lelah dan mengalami sesak di dada. Meskipun istrinya telah menyarankan agar ia segera kembali ke basecamp, Hamzanwadi bersikeras untuk melanjutkan pendakian hingga ke puncak, beralasan bahwa ia merasa sudah mencapai setengah perjalanan.

Setibanya di lokasi perkemahan yang dituju dan setelah mendirikan tenda, kondisi Hamzanwadi dilaporkan semakin memburuk. Ia mulai mengalami muntah-muntah. Situasi menjadi lebih mengkhawatirkan setelah salat Magrib, ketika Sabri mendapati anak korban menangis di dalam tenda. Saat diperiksa lebih lanjut, Hamzanwadi ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Tim evakuasi gabungan segera dibentuk dan bergerak cepat. Tim ini terdiri dari Anggota Jaga Piket Polsek Sembalun, Basarnas Pos SAR Kayangan, pengelola Bukit Savana Dandaun, tenaga kesehatan dari Puskesmas Sembalun, serta pihak keluarga korban. Upaya penyelamatan dilakukan untuk membawa korban dari lokasi pendakian menuju basecamp, dengan tujuan segera dilarikan ke Puskesmas Sembalun.

Pendaki Meninggal di Savana, SOP Dikritik

Namun, meskipun tim evakuasi telah mengerahkan segala upaya maksimal, nyawa Hamzanwadi tidak dapat diselamatkan. Belakangan, terungkap bahwa korban memiliki riwayat penyakit sesak napas.

Data Pendukung dan Latar Belakang Kawasan

Bukit Savana Dandaun di Sembalun, Lombok Timur, merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan pemandangan alam yang memukau, terutama hamparan padang savana yang hijau dan menawan. Kawasan ini semakin populer di kalangan pendaki, baik domestik maupun mancanegara, karena menawarkan pengalaman pendakian yang relatif singkat namun menyajikan keindahan alam yang memanjakan mata. Lokasinya yang berada di dataran tinggi memberikan udara yang sejuk dan pemandangan yang luas, termasuk potensi melihat keindahan Gunung Rinjani dari kejauhan.

Popularitas Sembalun sendiri tidak lepas dari statusnya sebagai gerbang utama pendakian Gunung Rinjani, gunung berapi aktif tertinggi di Lombok dan salah satu gunung paling ikonik di Indonesia. Keberadaan jalur pendakian Rinjani yang tersohor menarik ribuan pendaki setiap tahunnya. Namun, seiring waktu, kawasan perbukitan di sekitarnya, termasuk Bukit Savana Dandaun, juga mulai dilirik sebagai alternatif wisata pendakian yang lebih ringan dan aksesibel.

Tren pendakian di perbukitan ini mencerminkan pergeseran minat wisatawan yang mencari pengalaman alam yang lebih singkat dan tidak terlalu menuntut fisik dibandingkan pendakian gunung besar. Sayangnya, peningkatan minat ini tampaknya belum diiringi dengan kesiapan infrastruktur dan sistem keselamatan yang memadai, terutama untuk kawasan yang tidak secara eksplisit dikelola sebagai jalur pendakian gunung resmi namun memiliki daya tarik tersendiri.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Lombok, termasuk di kawasan Sembalun, dalam beberapa tahun terakhir sebelum pandemi. Meskipun data spesifik mengenai jumlah pendaki di Bukit Savana Dandaun sulit diperoleh, tren umum pendakian di NTB menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Ketiadaan regulasi yang spesifik untuk pendakian di perbukitan ini menjadi celah yang rentan terhadap insiden seperti yang dialami almarhum Hamzanwadi.

Reaksi dan Implikasi Lebih Luas

Kematian Hamzanwadi menjadi alarm keras bagi semua pihak yang terlibat dalam industri pariwisata di Lombok Timur. Selain kritik dari Erwin Hidayat, insiden ini juga memicu diskusi di kalangan pelaku pariwisata lokal. Banyak agen perjalanan dan pemandu lokal yang mengakui adanya ketidakjelasan aturan dan kurangnya pedoman standar untuk pendakian di perbukitan.

"Kami seringkali beroperasi berdasarkan pengalaman dan kesepakatan informal. Belum ada SOP yang benar-benar mengikat dan memastikan semua pendaki dalam kondisi prima," ujar salah seorang pemandu yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa banyak pendaki yang datang tanpa persiapan memadai, baik dari segi fisik maupun perlengkapan, dan hal ini menjadi tantangan tersendiri.

Implikasi dari kejadian ini meluas, tidak hanya pada keselamatan pendaki, tetapi juga pada reputasi pariwisata Sembalun dan Lombok Timur secara keseluruhan. Insiden seperti ini dapat menimbulkan kekhawatiran bagi calon wisatawan, yang berpotensi mengurangi minat kunjungan ke destinasi tersebut. Hal ini tentu akan berdampak negatif pada perekonomian lokal yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.

Pihak Balai TNGR dan Balai KPH Rinjani Timur, yang seringkali menjadi pihak yang dikontak terkait insiden di kawasan alam Rinjani, perlu segera mengklarifikasi batas kewenangan dan tanggung jawab mereka terhadap kawasan perbukitan non-gunung yang mulai ramai dikunjungi. Perlu ada koordinasi yang lebih erat untuk menetapkan zonasi pengelolaan dan standar keselamatan yang jelas, termasuk prosedur pemeriksaan kesehatan yang ketat dan terukur, serta penyiapan tim SAR yang responsif.

Pemeriksaan kesehatan yang profesional, seperti yang ditekankan oleh Erwin Hidayat, bukan sekadar formalitas. Ini adalah investasi penting untuk mencegah tragedi yang dapat dihindari. Riwayat penyakit seperti asma, penyakit jantung, atau gangguan pernapasan lainnya dapat menjadi faktor risiko serius saat melakukan aktivitas fisik di ketinggian. Dengan adanya pemeriksaan yang komprehensif oleh tenaga medis profesional, potensi risiko dapat diidentifikasi dan diminimalisir.

Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran para pendaki mengenai pentingnya persiapan fisik, pemahaman medan, dan penggunaan perlengkapan yang memadai. Kampanye edukasi yang digencarkan oleh pengelola destinasi dan pemerintah daerah dapat menjadi salah satu cara efektif untuk menanamkan budaya keselamatan di kalangan pendaki.

Kasus kematian Hamzanwadi di Bukit Savana Dandaun menjadi pengingat pahit bahwa kemajuan pariwisata harus selalu berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran dan implementasi sistem keselamatan yang kokoh. Tanpa regulasi yang jelas, pengawasan yang ketat, dan kesadaran bersama, potensi tragedy serupa di masa depan akan terus mengintai. Sembalun, dengan segala potensinya, berhak mendapatkan penanganan pariwisata yang profesional dan bertanggung jawab demi kelestarian alam dan keselamatan pengunjungnya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *