Pemandangan di berbagai titik strategis di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam beberapa hari terakhir mencuri perhatian publik. Sejumlah baliho besar yang menampilkan foto Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, H. Rachmat Hidayat, bersama istrinya, Hj. Putu Selly Andayani, terpasang kokoh dengan narasi ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan. Kehadiran baliho ini bukan sekadar alat sosialisasi visual biasa, melainkan telah menjadi diskursus hangat di ruang publik Bumi Gora, memicu berbagai interpretasi terkait peta politik lokal dan gaya komunikasi politik yang diterapkan oleh para tokoh tersebut.

Fenomena pemasangan alat peraga sosialisasi (APS) ini dinilai sebagai bagian dari strategi komunikasi politik yang terukur. Di tengah masyarakat NTB yang memiliki karakteristik religius dan majemuk, pesan yang disampaikan melalui baliho tersebut dianggap mampu menyentuh sisi sosiokultural warga. Hal ini mempertegas langkah PDI Perjuangan sebagai partai politik yang konsisten melakukan kaderisasi dan pengenalan tokoh di luar periode kampanye elektoral yang ketat.

Analisis Akademis: Komunikasi Politik Berbasis Nilai

Dr. Agus, M.Si., seorang pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, memandang pemasangan baliho tersebut sebagai medium yang sarat dengan makna sosial. Menurutnya, dalam perspektif komunikasi politik, tindakan ini adalah upaya untuk menjembatani ideologi partai dengan realitas masyarakat. "Ramadan di Indonesia, khususnya di NTB, telah bertransformasi menjadi peristiwa sosial yang sangat krusial. Penggunaan simbol-simbol keagamaan dalam komunikasi politik adalah bahasa yang paling mudah diterima dan memiliki daya rekat emosional yang kuat dengan konstituen," ujar Agus saat ditemui di Mataram, Minggu (22/2/2026).

Lebih jauh, Agus menekankan bahwa langkah Rachmat Hidayat merefleksikan watak ideologis PDI Perjuangan yang memegang teguh ajaran Soekarno. Dalam pemikiran Bung Karno, seorang pemimpin harus mampu menjadi penyambung lidah rakyat dengan memahami jiwa masyarakatnya, tanpa harus terjebak pada simbol-simbol yang asing bagi ruang sosial setempat. Kehadiran baliho ini ditafsirkan sebagai upaya untuk menampilkan sosok pemimpin yang religius, moderat, dan inklusif.

Konteks Historis dan Kehadiran Tokoh

Hj. Putu Selly Andayani, yang mendampingi Rachmat Hidayat dalam baliho tersebut, bukanlah figur baru dalam panggung politik NTB. Sebagai mantan birokrat dan kandidat yang pernah berkontestasi dalam Pemilihan Wali Kota Mataram pada tahun 2020, Selly memiliki basis massa dan pengenalan publik yang cukup signifikan. Kombinasi antara Rachmat Hidayat—yang merupakan tokoh senior partai—dengan Selly, memberikan dimensi baru dalam strategi branding politik.

Secara sosiologis, kehadiran tokoh non-Muslim dalam narasi besar perayaan hari besar umat Islam merupakan pesan toleransi yang kuat. Rachmat Hidayat dikenal sebagai figur nasionalis yang kerap hadir dalam perayaan hari besar berbagai agama di NTB. Pendekatan ini selaras dengan demografi NTB yang majemuk, di mana kerukunan antarumat beragama menjadi fondasi stabilitas daerah. Agus menambahkan bahwa publik tidak bisa mengabaikan pesan di balik setiap tindakan politik. "Dalam politik, tidak ada tindakan yang bebas dari pesan. Ketika publik menafsirkan ini sebagai langkah menuju Pemilu 2029, itu adalah hal yang sangat wajar karena partai politik memang dituntut untuk terus hadir dan tidak hanya muncul saat musim pemilu saja," tambahnya.

Perspektif PDI Perjuangan: Menjaga Momentum Jangka Panjang

Sebagai partai kader, PDI Perjuangan memiliki tradisi untuk terus menjaga eksistensi tokoh-tokohnya di ruang publik. Pemasangan baliho Ramadan ini dapat dibaca sebagai bagian dari manajemen citra jangka panjang. Dalam konteks politik modern, "konsistensi kehadiran" adalah kunci untuk memenangkan hati pemilih. Pemilu 2029 memang masih beberapa tahun ke depan, namun akumulasi kepercayaan publik dibangun melalui keterlibatan aktif dalam ritme kehidupan sosial masyarakat.

Strategi ini juga sejalan dengan pola kerja partai yang memandang politik bukan sekadar kontestasi kekuasaan lima tahunan, melainkan sebuah proses perjuangan nilai yang berkelanjutan. Dengan terus merawat kehadiran di tengah masyarakat, partai memastikan bahwa visi, misi, dan gagasan yang diusung tetap relevan dan tidak terputus dari aspirasi rakyat.

Rachmat Hidayat dan Selly Andayani Sampaikan Pesan Keberagaman Lewat Baliho Ramadan 

Tanggapan H. Rachmat Hidayat: Antara Nilai, Kemanusiaan, dan Politik

Menanggapi berbagai spekulasi publik, H. Rachmat Hidayat memberikan klarifikasi mengenai motivasi di balik pemasangan baliho tersebut. Anggota Komisi I DPR RI ini menegaskan bahwa langkahnya murni didasari pada penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan dan sosial. Baginya, Ramadan adalah momentum untuk merefleksikan nilai-nilai kesabaran, empati, dan solidaritas yang merupakan intisari dari kehidupan bermasyarakat di NTB.

"Ramadan mengajarkan kita tentang empati. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan ajaran kemanusiaan yang diperjuangkan Bung Karno," ujar Rachmat. Ia secara khusus menyinggung pesan Bung Karno terkait perjuangan kemerdekaan Palestina. Menurutnya, keberpihakan pada Palestina adalah manifestasi dari nilai kemanusiaan universal yang tidak mengenal sekat agama atau bangsa. "Pesan Bung Karno mengenai Palestina adalah tentang keadilan. Itulah semangat yang ingin saya bawa dalam setiap pesan kebaikan yang kami sampaikan kepada masyarakat," lanjutnya.

Rachmat juga menekankan bahwa nasionalisme dan agama tidak pernah bertentangan. Keduanya, menurutnya, harus berjalan beriringan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis. Agama memberikan arah moral, sedangkan nasionalisme menjadi wadah bagi seluruh perbedaan untuk bersatu. Mengenai kehadiran sang istri dalam baliho, Rachmat memandangnya sebagai bentuk kebersamaan keluarga dalam menyebarkan pesan positif. Ia menghargai hak publik untuk memberikan tafsir, namun menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk selalu hadir di tengah rakyat.

Implikasi Sosial dan Politik di NTB

Pemasangan baliho ini memiliki implikasi yang cukup luas dalam dinamika politik NTB. Pertama, ini menjadi sinyal bahwa PDI Perjuangan NTB akan terus mengedepankan gaya komunikasi yang inklusif untuk menjangkau pemilih dari berbagai latar belakang. Kedua, penggunaan baliho di ruang publik tetap menjadi metode yang paling efektif di wilayah dengan jangkauan digital yang belum sepenuhnya merata di pelosok daerah.

Namun, tantangan ke depan bagi para tokoh politik seperti Rachmat Hidayat adalah bagaimana menerjemahkan pesan-pesan dalam baliho tersebut ke dalam kebijakan yang nyata bagi masyarakat. Publik NTB kini semakin kritis dan cenderung melihat tindakan politik sebagai satu kesatuan antara narasi visual dan kinerja nyata.

Jika meninjau dari sisi komunikasi strategis, langkah ini telah berhasil mencapai tahap pertama, yakni "awareness" atau kesadaran publik. Nama Rachmat Hidayat dan Putu Selly Andayani terus terjaga dalam memori kolektif masyarakat. Tahap selanjutnya adalah bagaimana menjaga momentum ini hingga mendekati tahun politik 2029. Pengamat menyarankan agar pola komunikasi ini terus diikuti dengan kegiatan-kegiatan nyata yang bersifat humanis dan menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, seperti program pemberdayaan ekonomi atau advokasi sosial.

Kesimpulan: Politik sebagai Kerja Nilai

Fenomena baliho Ramadan di NTB ini adalah potret kecil dari kompleksitas politik nasional. Di satu sisi, ia adalah bagian dari strategi untuk memenangkan hati publik. Di sisi lain, ia juga merupakan cerminan dari upaya tokoh politik untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan di ruang publik. Rachmat Hidayat, melalui perannya sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, tampaknya ingin menegaskan bahwa politik harus tetap berpijak pada kemanusiaan dan keadilan.

Dengan terus menjaga dialog dengan masyarakat, baik melalui baliho maupun aksi nyata, para aktor politik di NTB dituntut untuk terus adaptif terhadap perubahan zaman. Pemilu 2029 memang masih akan datang, namun bagi partai politik, tidak ada hari tanpa persiapan. Kehadiran di ruang publik yang konsisten, beretika, dan sarat akan pesan kebaikan adalah cara paling elegan untuk membangun kepercayaan rakyat. Pada akhirnya, publik akan menjadi hakim tertinggi yang menilai sejauh mana baliho-baliho tersebut merepresentasikan ketulusan dan pengabdian seorang politisi bagi daerahnya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *