Dunia pendidikan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, kembali didera kabar duka terkait kelayakan fasilitas belajar mengajar. Pada pertengahan Mei 2026, atap salah satu ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Jerowaru dilaporkan ambruk total setelah sekian lama berada dalam kondisi kritis. Insiden ini menjadi puncak dari akumulasi pengabaian renovasi selama lebih dari satu dekade, sekaligus menjadi pengingat keras akan rapuhnya keamanan bangunan sekolah di wilayah pesisir. Beruntung, peristiwa tersebut terjadi di luar jam operasional sekolah, sehingga tidak ada siswa maupun tenaga pengajar yang menjadi korban jiwa dalam musibah ini. Namun, ambruknya ruang kelas tersebut meninggalkan luka mendalam bagi kualitas pendidikan di wilayah selatan Lombok Timur. Bangunan yang telah lama mengalami pelapukan struktural tersebut akhirnya menyerah pada beban usia dan tekanan faktor lingkungan yang ekstrem. SDN 1 Jerowaru, yang terletak di kawasan yang bersentuhan langsung dengan dinamika cuaca pesisir, telah lama menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius pada bagian atap, kusen, dan dinding. Struktur kayu yang menyangga atap dilaporkan telah dimakan rayap dan mengalami pengeroposan akibat kelembapan tinggi, sementara material dinding bangunan mulai rontok dan sangat rapuh saat disentuh. Kondisi ini sebenarnya sudah lama dilaporkan, namun tindak lanjut nyata dari pihak berwenang tak kunjung terealisasi hingga bencana fisik benar-benar terjadi. Kronologi Kerusakan dan Detik-Detik Ambruknya Bangunan Berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, tanda-tanda kerusakan masif pada ruang kelas I tersebut sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Plafon mulai berjatuhan satu per satu, dan kemiringan atap sudah nampak tidak lazim. Kepala SDN 1 Jerowaru, Muhyi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali menyampaikan kekhawatiran terkait keamanan gedung tersebut. Pada pertengahan Mei 2026, setelah rangkaian cuaca ekstrem berupa angin kencang yang melanda kawasan Jerowaru, struktur utama penyangga atap akhirnya patah. Kejadian ini terjadi pada sore hari saat lingkungan sekolah sudah sepi. Suara gemuruh jatuhnya material kayu dan genting mengejutkan warga sekitar sekolah. Ketika diperiksa keesokan harinya, seluruh bagian atap ruang kelas I telah rata dengan lantai, menyisakan puing-puing kayu yang sudah lapuk dan tumpukan genting yang hancur. Kondisi ini praktis membuat ruangan tersebut tidak dapat digunakan lagi dan membahayakan bangunan di sekitarnya jika tidak segera ditangani secara total. Muhyi menegaskan bahwa kondisi memprihatinkan ini bukan terjadi secara tiba-tiba. "Semua sudah turun, bangunannya di atas. Kondisinya sangat memprihatinkan karena dimakan usia. Sampai saat ini belum ada bantuan perbaikan, meskipun dari Dinas melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) sudah sempat datang melakukan pengecekan beberapa waktu lalu," ujarnya dengan nada kecewa. Kehadiran petugas untuk melakukan survei lapangan ternyata belum menjadi jaminan akan adanya kucuran anggaran perbaikan dalam waktu cepat. Realitas Pahit Fasilitas: Keterbatasan Ruang di Tengah Risiko SDN 1 Jerowaru bukan merupakan sekolah besar dengan fasilitas mewah. Sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas aktif yang harus menampung seluruh jenjang kelas dari kelas I hingga kelas VI. Dengan ambruknya ruang kelas I, beban penggunaan ruangan lain menjadi semakin berat. Pola belajar mengajar terpaksa dilakukan dengan sistem penggabungan kelas atau pembagian waktu (double shift), yang secara pedagogis sangat tidak ideal bagi perkembangan kognitif anak-anak sekolah dasar. Selain ruang kelas, kondisi kantor guru dan kepala sekolah juga berada dalam status "lampu kuning". Ruangan yang seharusnya menjadi pusat administrasi dan koordinasi pendidik tersebut tetap digunakan meskipun kondisinya sudah tidak layak. Dinding yang retak dan atap yang bocor saat hujan menjadi pemandangan sehari-hari. "Masih kita tempati karena memang itu satu-satunya ruangan yang ada," aku Muhyi. Ketiadaan pilihan membuat para guru harus bertaruh nyawa di bawah atap yang sewaktu-waktu bisa menyusul ambruk seperti ruang kelas I. Data internal sekolah menunjukkan bahwa sekitar 120 murid menggantungkan masa depan pendidikan mereka di gedung ini. Dengan jumlah siswa yang mencapai seratusan lebih, hilangnya satu ruang kelas utama merupakan pukulan telak bagi efektivitas proses belajar mengajar. Para siswa kini harus berdesakan, yang tidak hanya mengganggu konsentrasi tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan di lingkungan sekolah yang sirkulasi udaranya mulai terhambat oleh tumpukan puing. Analisis Faktor Lingkungan: Dampak Korosi Pesisir terhadap Bangunan Secara teknis, kerusakan bangunan di SDN 1 Jerowaru dipercepat oleh letak geografisnya yang berada di kawasan pesisir. Wilayah Jerowaru dikenal memiliki karakteristik tanah yang mengandung kadar garam tinggi (salin) dan paparan angin laut yang membawa uap garam secara terus-menerus. Faktor-faktor ini merupakan musuh utama bagi material bangunan konvensional. Pertama, uap garam di udara pesisir mempercepat proses korosi pada elemen logam, termasuk paku dan sambungan besi pada struktur atap. Kedua, kayu yang tidak mendapatkan perawatan khusus atau pelapisan antikarat akan lebih cepat melapuk karena kelembapan udara yang tinggi. Ketiga, tanah yang mengandung garam dapat merusak fondasi bangunan jika tidak menggunakan semen berkualitas tinggi dengan spesifikasi tahan sulfat. Catatan pihak sekolah menyebutkan bahwa selama 12 tahun terakhir, tidak ada renovasi besar (rehabilitasi total) yang dilakukan pada gedung tersebut. Pemeliharaan rutin yang mengandalkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tentu tidak mencukupi untuk melakukan perbaikan struktural sebesar itu. Akibatnya, degradasi material bangunan berlangsung secara progresif tanpa ada intervensi teknis yang memadai untuk memperlambat kerusakan tersebut. Respons Pemerintah dan Urgensi Alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Meskipun pihak UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat telah melakukan pengecekan pasca-insiden, kepastian mengenai waktu pelaksanaan revitalisasi masih menjadi tanda tanya besar. Dalam mekanisme penganggaran pendidikan di Indonesia, rehabilitasi gedung sekolah biasanya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Pendidikan atau melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten. Namun, seringkali terdapat kendala birokrasi dalam penginputan data pada sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Jika tingkat kerusakan tidak dilaporkan secara akurat atau tidak divalidasi oleh dinas terkait, maka anggaran renovasi tidak akan pernah turun. Kasus SDN 1 Jerowaru menunjukkan adanya kesenjangan antara realitas kerusakan di lapangan dengan prioritas penanganan di tingkat pengambil kebijakan. Pihak sekolah kini menaruh harapan besar pada tahun anggaran 2026/2027 agar sekolah mereka masuk dalam daftar prioritas revitalisasi. "Harapan kami bisa segera mendapatkan revitalisasi tahun ini agar kegiatan belajar mengajar bisa kembali normal," tegas Muhyi. Tanpa adanya intervensi segera, dikhawatirkan sisa bangunan yang masih berdiri akan mengalami nasib yang sama, mengingat struktur bangunan sekolah umumnya saling berkaitan. Dampak Psikologis dan Implikasi Terhadap Kualitas Pendidikan Selain masalah fisik, ambruknya ruang kelas juga membawa dampak psikologis bagi para siswa. Rasa trauma dan ketakutan akan bangunan yang runtuh menghantui anak-anak saat berada di dalam kelas. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman (safe space) bagi anak untuk bereksplorasi, justru berubah menjadi tempat yang penuh ancaman. Secara lebih luas, ketimpangan infrastruktur pendidikan antara wilayah perkotaan dan wilayah pesisir/terpencil seperti Jerowaru memperlebar jurang kualitas pendidikan nasional. Bagaimana mungkin standar pelayanan minimal pendidikan dapat tercapai jika sarana dasar seperti ruang kelas tidak tersedia secara layak? Hal ini berpotensi memicu peningkatan angka putus sekolah atau perpindahan siswa ke sekolah lain yang lebih jauh, yang pada akhirnya menambah beban ekonomi orang tua murid. Selain itu, kerusakan tembok keliling sekolah yang juga dilaporkan mulai retak menambah risiko keamanan dari sisi eksternal. Tanpa pagar yang memadai, aset-aset sekolah menjadi rawan pencurian, dan area sekolah bisa dimasuki oleh hewan ternak atau pihak-pihak yang tidak berkepentingan, yang semakin menurunkan kenyamanan lingkungan belajar. Langkah Strategis Menuju Solusi Permanen Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan: Audit Infrastruktur Menyeluruh: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur perlu melakukan audit teknis terhadap seluruh bangunan sekolah di wilayah pesisir, bukan hanya SDN 1 Jerowaru. Hal ini penting untuk memetakan sekolah mana saja yang memiliki risiko serupa akibat korosi air laut. Prioritas Anggaran Darurat: Pemerintah daerah harus memiliki dana darurat (contingency fund) untuk penanganan infrastruktur pendidikan yang mengalami kerusakan total akibat bencana atau pelapukan, sehingga tidak perlu menunggu siklus anggaran tahunan yang panjang. Penerapan Standar Bangunan Tahan Korosi: Untuk wilayah pesisir, pembangunan atau renovasi sekolah harus menggunakan spesifikasi material yang tahan terhadap uap garam, seperti penggunaan baja ringan berkualitas tinggi, kayu yang telah diawetkan, serta cat pelindung khusus. Optimalisasi Dapodik: Pihak sekolah perlu didampingi dalam melakukan pemutakhiran data kerusakan di sistem Dapodik agar sinkron dengan kondisi riil, sehingga verifikasi di tingkat pusat dapat berjalan lancar. Ambruknya atap SDN 1 Jerowaru adalah alarm keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Pendidikan bukan sekadar soal kurikulum dan kualitas guru, tetapi juga soal martabat dan keselamatan anak bangsa yang berada di dalam ruang-ruang kelas tersebut. Masyarakat kini menanti langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk segera membangun kembali SDN 1 Jerowaru, sebelum keterbatasan fasilitas ini memadamkan semangat belajar 120 anak di ujung selatan Lombok tersebut. (adi). Post navigation Tim PMB UNIZAR Hadir di Polda NTB, Dorong Polisi Raih Pendidikan Tinggi Tim Dosen Matematika Unram Dorong Literasi Digital di Lombok Timur Melalui Pelatihan Coding Interaktif Berbasis Scratch bagi Siswa SRMA 38